Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 26


__ADS_3

"Kamu udah makan siang?" tanya Wira seraya membelai lembut kepala Dena yang saat itu berbaring di pahanya.


Dena mendongakkan kepalanya. "Belum, Pa."


"Kok belum?"


"Mau bareng sama Papa. Papa udah makan?"


Wira menggelengkan kepalanya sebagai respon. Sebenernya laki-laki itu sudah selesai makan siang. Namun, karena melihat putrinya yang belum makan, ia berinisiatif untuk berbohong agar nanti tidak mengecewakan putrinya.


"Mau makan apa, hm? Biar nanti Papa suruh Om Steve keluar."


"Beef steak, cichken teriyaki, minumnya ice drink lemon lime. Udah itu aja, Pa." ujar Dena menyebutkan makanan pesanannya.


"Steve." panggil Wira.


"Iya, Tuan. Siap!" Steve langsung berlalu keluar.


"Om Steve patuh banget ya sama Papa." seru Dena bangkit dari baringnya sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Iya dong. Kan Papa gaji, kalau gak digaji mana mau dia." balas Wira sedikit tertawa.


"Tok... tok... tok..."


Dena dan sang Papa saling menatap. Siapa yang baru saja mengetuk pintu?


"Masuk!" titah Wira mempersilahkan tapi tidak kunjung bangkit dari posisinya.


"Mas, ini aku bawakan makanan buat---kamu..." ujar seorang wanita yang baru saja masuk tapi perkataannya terjeda saat melihat seorang gadis yang duduk anteng di atas sofa.

__ADS_1


"Lea? Ada apa ke sini?" tanya Wira menyadari.


"Aku bawakan makan siang buat kamu." jawabnya tanpa basa-basi duduk di samping Dena yang tengah memasang muka sebal.


"Hai, cantik. Apa kabar? Lama tidak berjumpa dengan kamu." sapa wanita yang dipanggil Lea itu, lalu tangannya terulur untuk membelai rambut Dena.


Gadis itu sigap langsung mengelak dengan cara memundurkan kepalanya. Wira hanya diam menyimak, akan terjadi apa setelahnya nanti?


"Kabar gak baik setelah Tante datang ke sini." jawabnya sangat menohok yang langsung membuat Wira seketika ingin tertawa.


Lea, wanita itu hanya tersenyum kaku. Berusaha untuk menekan sabar se-sabarsabarnya.


Untuk mencairkan suasana, Lea menaruh rantang makanan di atas meja lalu membukanya. Wanita itu memang pandai memasak tapi satu hal yang membuat Dena tidak suka. Terlalu agresif dan juga salah satunya wanita matre.


"Dena, lapar gak? Ini Tante bawakan makan siang, kamu makan ya? Tadinya ini buat Papa kamu makanya porsinya sedikit. Tapi gak pa-pa deh bagi dua." tawarnya membuat Dena ikut melirik makanan yang Lea bawakan.


Dena hanya tidak suka orangnya bukan makanannya ataupun barangnya. Ingat itu! Hanya orangnya ya, orangnya. Tekan Dena sekali lagi.


"Lahap banget makannya. Lapar ya? Sampai Papa kamu gak kebagian."


"Iya." jawabnya singkat lalu melirik sinis ke arah Papanya.


Saat sudah makanannya sudah habis, Dena langsung menaruh wadah kotor itu ke atas meja. Kebetulan Steve sudah datang membawakannya makanan pesanannya tadi.


Raut wajah Steve berubah. "Maaf, Tuan." ujarnya menundukkan kepalanya.


"Gak pa-pa, Steve, lagi pula kamu berada di luar." balas Wira memaklumi perasaan sekretarisnya itu yang mengucapkan permintaan maaf karena sudah membiarkan wanita-wanita itu masuk.


"Nona, ini pesanannya tadi." Steve menyerahkan kresek yang di dalamnya pesanan Dena.

__ADS_1


"Makasih, Om." Dena tersenyum.


"Sama-sama, Nona." Steve tidak banyak kata. Ia tau kalau Dena sudah selesai makan. Begitulah kebiasaan Dena kalau bertamu ke kantor Papanya. Akan ada beberapa wanita yang datang sambil membawa makanan. Dena tidak menolak. Ingat bukan perkataannya tadi. Tidak suka orangnya bukan makanannya. Sungguh aneh memang tapi begitulah kenyataannya.


"Tante, udah tau kan selanjutnya apa? Pintunya masih sama tidak berubah. Kalo belum hapal, minta Om Steve buat mengantarkan. Om, mau kan?"


"Siap, Nona!"


Wajah Lea langsung berubah masam, kembali merapikan rantang makanan yang berantakan lalu pamit tanpa permisi. Bahkan wanita itu menabrak bahu Steve yang berdiri tidak jauh dari sofa.


"Wanita ular." umpat Steve pelan yang masih terdengar. Lea mengabaikan, langsung keluar dari ruangan itu.


"Hahahahahhaaaa..." tawa Wira pecah. Sampai-sampai laki-laki itu memegang perutnya yang terasa kram. Lelah hayati menahan tertawa dan sekarang langsung ia lampiaskan.


"Astaga." lanjutnya masih tertawa. Dena hanya terkekeh kecil. Itulah caranya memusnahkan para lintah bulu. Bukan begitu?


"Papa mau makan? Dena suapin ya?" ujar Dena membuka kresek di atas meja. Lalu mengeluarkan pesanannya tadi.


Tawa Wira langsung terhenti. Laki-laki itu menyeka sudut matanya yang terasa basah. Ya, Laki-laki itu sampai menangis dibuatnya. Healing terbaiknya adalah tertawa bercanda bersama putrinya. Satu hal yang sangat menyenangkan tanpa perlu berlibur ke luar.


"Boleh, Sayang." ujar Wira lalu merubah posisi duduknya menjadi menyamping lalu mulai membuka mulut saat Dena menyodorkan suapan demi suapan ke mulutnya. Sesekali gadis itu juga ikut menyiapkan ke mulutnya sendiri. Alhasil anak dan Papa itu kenyang bersama-sama.


.


.


.


ingat ya pesan author, kalo benci sama seseorang itu orgnya aja yg dibenci jgn makanannya ataupun barang-barangny🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2