
Mengerjakan hukuman dengan menyelesaikan 4 dokumen laporan tebal bukan hal yang dibilang mudah. Membutuhkan waktu berhari-hari bila mengerjakannya dalam batas normal. Namun, kali ini berbeda. Cahya seakan mendapatkan sebuah duri tajam yang menghantam tubuhnya. Ia harus rela mengerjakan hukuman yang bosnya berikan.
Tepat saat magrib berkumandang, Cahya meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaki. Bukan hanya tangan, melainkan juga pinggangnya yang terasa encok karena duduk dalam jangka waktu yang lama.
Suasana kantor sudah sepi lantaran jam bekerja telah usai sekitar 2 jam yang lalu. Dan hanya tersisa dirinya saja yang berada di ruangannya.
"Akhirnya selesai juga." gumam wanita itu segera menutup dokumennya dan mematikan layar komputernya. Waktunya tidak banyak, karena ia harus segera memberikan dokumen itu langsung kepada bosnya.
Cahya seakan tersadar kalau saat ini bos galaknya itu masih dirawat di rumah sakit. Apakah Cahya harus membeli oleh-oleh untuk ia berikan? Mungkin itu tidak buruk, ya bisa dikatakan sebagai oleh-oleh jenguk.
Wanita itu lekas menumpukkan dokumen-dokumennya. Ia bersiap-siap untuk pulang ke kost-annya untuk membersihkan diri.
Tepat saat azan isya, ia sudah berada di area rumah sakit sambil membawakan parsel buat, tidak lupa juga ia membawa dokumen-dokumen penting itu. Biarlah nanti dokumen itu akan dikemanakan karena yang terpenting ia sudah memberikannya secara langsung. Awalnya Cahya berniat untuk menitipkan dokumennya kepada Steve. Namun, wanita itu berpikir lagi. Ia tidak mau dipecat karena tidak amanah.
"Permisi, Mbak. Pasien atas nama Wira Pradana Utama ada di ruangan berapa ya?" tanya Cahya kepada resepsionis rumah sakit tersebut. Tidak lupa Cahya memberitahu resepsionis tersebut siapa dirinya agar tidak menimbulkan bahaya yang mengancam. Biasanya kasus tersebut banyak ditemukan, orang yang berniat jahat pun berbohong dan mengatakan bahwa mereka adalah keluarga pasien atau apalan itu.
"Pasien atas nama Wira Pradana Utama ada di lantai 3, ruang VVIP nomor 012."
"Oke. Terimakasih, Mbak."
"Sama-sama."
Langkah kakinya dengan pasti berjalan menuju lift. Cahya menekan tombol angka nomor 3 setelah ia masuk ke dalam lift. Beruntung di dalam lift tersebut hanya ada dirinya saja.
Setelah melewati banyak ruangan, akhirnya Cahya sudah sampai di depan pintu ruangan bosnya dirawat dengan bantuan salah satu perawat yang tidak sengaja kebetulan lewat di sana.
"Tok... tok... tok..."
Setelah empat kali mengetuk dan merasa tidak ada sahutan dari dalam, Cahya terpaksa membuka pintunya. Ruangan tersebut lumayan luas, ya namanya juga ruang VVIP kelas atas.
Baru pertama kalinya Cahya melihat bos galaknya kini berbaring lemah di atas ranjang pasien. Cahya melangkah lebih maju. Ia berdiri tepat di sisi ranjang dengan tangan penuh karena memegang parsel buat dan tas yang berisikan dokumen.
Merasa kalau Wira sudah tertidur lelap, akhirnya Cahya bernafas lega karena tidak mendengar suara-suara dingin nan ketus pria itu. Cahya melirik atas nakas yang kosong lalu melirik ke atas meja yang ternyata sudah penuh dengan oleh-oleh. Terpaksa wanita itu meletakkan parsel buahnya di atas nakas. Lalu ia berganti, mengeluarkan dokumen tersebut dari dalam tasnya yang berbahan kain.
Karena tidak ingin terus-terusan diomeli, Cahya lebih memilih meletakkan dokumen itu tepat di atas ranjang Wira, berdampingan dengan pria itu yang tampak tertidur lelap.
Setelah meletakkan dokumennya dengan aman, wanita itu pun segera beranjak. Lagi pula pria itu sudah tertidur, untuk ia menunggu lebih lama lagi.
Tiba-tiba tubuhnya oleng saat merasakan sebuah tarikan di tangannya. Lantas Cahya pun langsung terjerembab ke atas ranjang yang berukuran lumayan lebar. Beruntungnya tangan Cahya tidak sampai menyentuh sebelah bahu Wira yang tampak diselimuti oleh perban putih dan sedikit tertutupi oleh pakaian pasien.
__ADS_1
"P-pak..." cicit Cahya pelan saat sadar kalau bosnya tidak dalam keadaan tertidur.
"Kamu sudah membangunkan tidur saya. Sekarang kamu harus bertanggungjawab." kata Wira yang kini perlahan membuka matanya. Posisi Cahya yang menunduk membuat jarak diantara mereka sangat dekat.
Seakan tersadar, Cahya langsung berdiri cepat, menyelipkan rambut di belakang telinganya. "Maaf." tutur Cahya dengan suara pelan.
"Saya tidak butuh maafmu. Sekarang kamu harus bertanggungjawab." Cahya semakin bingung karena Wira mengatakan hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
"A-apa?" tanya Cahya terbata.
"Ssttthhh..." pria itu mendesis pelan saat akan beranjak bangkit dari tidurnya. Reflek Cahya yang merasa kasihan langsung membantu pria itu terduduk.
"Tiduran lagi, Pak. Bukannya lukanya belum sembuh ya?" pinta Cahya.
"Ck! Saya itu kebelet, bukan mau nyantai."
"Owh..." Cahya membulatkan mulutnya mengerti.
Saat melihat pria itu kesusahan dengan selang infusnya, wanita itu segera mengambil alih kantong infusnya. Sesaat ia semakin bingung, pria itu dalam keadaan tidak baik-baik saja, jalannya saja sudah pincang dan bahu yang terluka. Masa iya ia membantu Wira ke toilet?
"Biar saya panggilin perawat cowok ya, Pak?" tawar Cahya.
Wira menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Saya bisa sendiri." tolak Wira.
Saat hampir sampai di pintu toilet, Wira hampir saja tersandung kalau saja tidak ada seseorang menangkap tubuhnya. "Bandel." ujar Cahya merasa gemas dengan tingkah pria itu yang tidak ingin dibantu sekalipun ia memanggil perawat laki-laki.
Diam-diam Wira mengulum senyumnya. Hatinya langsung berbunga-bunga. Tersadar akan hal itu, ia langsung menggeleng pelan.
"Bisa?" tanya Cahya saat mereka sudah berada di depan closet.
"Gak tau." balas Wira yang juga sebenarnya bingung. Bahu kanannya terluka, sedangkan tangan kirinya tertancap infus. Kantong infusnya sekarang juga sudah berpindah tangan pada Cahya. Andai wanita itu keluar dan mengembalikan kantong infusnya, bagaimana Wira akan menuntaskan buang air kecilnya?
Cahya memejamkan matanya erat. "Bapak sih ngeyel, tadi udah saya tawarin buat manggil perawat cowok eh malah nolak." omel Cahya yang juga sepertinya terjebak di dalam sana.
"Mereka udah pada pulang kalau cowok. Kalau cewek ada, ya udah, gih kamu panggilin." mendengar itu sontak membuat Cahya melebarkan kedua matanya. Ia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak kalau perawat wanita membantu Wira.
"Saya bakal balik badan." ujar Cahya lalu membalikkan tubuhnya.
"Ngapain? Kamu mau ngintip saya?" tuduh Wira.
__ADS_1
Cahya membalikkan tubuhnya lagi untuk mengambil kantong infus pria itu lalu kembali berbalik badan hingga membelakangi Wira. "Saya bantuin megang infusnya biar bapak gak susah. Lagian siapa juga yang mau ngintip." cibir wanita itu merasa kesal.
Wira hanya terkekeh pelan. Merasa kalau sudah lumayan mudah, pria itu segera menuntaskan apa yang sebelumnya mendesak keluar.
Cahya menahan nafas saat suara air closet terdengar di telinganya. Tiba-tiba wajahnya memerah mengingat itu, ia yang notabene sebagai wanita malah menunggu seorang pria yang ingin buang air kecil.
"Udah." ujar Wira memberitahu. Ia juga membalikkan badannya hingga menghadap Cahya yang masih membelakanginya. Pria itu melihat Cahya yang menundukkan kepalanya. Kemudian perlahan wanita itu berbalik badan.
"Cieee, wajahnya merah. Malu ya? Atau malah pengen?" goda Wira sedikit menundukkan kepalanya.
Cahya yang mendengar itu langsung menatap bosnya sengit. "Bapak kayaknya mau saya pukul bahunya. Biar cepet sembuh."
Wira langsung meringis membayangkannya. Ini saja belum sembuh, masa sudah mau dipukul oleh wanita itu.
"Cepetan, Pak. Saya mau pulang." seru Cahya menghentakkan satu kakinya kesal.
"Makanya bantuin." balas Wira tidak mau kalah. Meminta cepat, sedangkan dirinya saja masih sakit. Aneh.
Setelah melewati perjalanan yang menurutnya panjang, akhirnya Wira sudah kembali ke ranjangnya dan berbaring di sana.
"Itu dokumennya udah saya simpan situ." tunjuk Cahya di sisi ranjang.
"Selesai? Gak asal-asalan kan?" tuduh Wira lagi.
"Saya gak mau dipecat ya! Belum juga kerja satu tahun." balas Cahya mencibikkan bibirnya.
Cahya kembali mengemasi tasnya. Ia akan segera pulang karena jam jenguk sudah hampir habis.
"Saya pulang, Pak. Kalau ada apa-apa panggil dokter atau perawat. Jangan manggil saya!"
Wira langsung tertawa dibuatnya. Apakah ia sebegitu merepotkannya kalau sakit?
"Ya ya ya. Hati-hati." mengucapkan itu membuat sedikit hatinya tidak rela. Apakah ia kesepian? Atau malah tidak rela kalau wanita itu meninggalkannya? Akhirnya Wira memilih kembali tidur setelah kepergian Cahya.
"Terima kasih." lirih Wira sebelum akhirnya memejamkan matanya.
.
.
__ADS_1
.
sama-sama om๐คญ