
Suara derap langkah kaki bersahutan melewati lorong-lorong koridor kantor di tengah ramainya karyawan berlalu lalang. Semua karyawan itu kini hilang kefokusan karena saking terpananya saat melihat tiga orang laki-laki berbeda usia tengah berjalan berdampingan dengan pakaian mereka yang hampir mirip. Yang mereka ketahui dua dari tiga orang tersebut adalah bos mereka dan sekretarisnya. Namun, mereka sama sekali tidak mengenali paras salah satu pria yang sangat belia itu. Dalam hati mereka bertanya-tanya siapakah gerangan pemuda itu?
"Silahkan, Tuan." Steve membukakan pintu ruangan bosnya. Ya, ketiga pria tersebut adalah Wira, Steve, dan yang menjadi bahan perbincangan adalah kehadiran Fairel di antara kedua pria itu.
"Ayo, Rel!" tidak lupa Wira mengajak Fairel masuk ke dalam ruangannya. Fairel hanya mengangguk sambil berdehem singkat.
"Sayang." suara bariton Wira memanggil putrinya yang entahlah berada di mana.
Mendengar suara papanya, gadis yang berada di sebuah ruangan segera berteriak. "Sini, Pa!" balas Dena.
Fairel yang cukup bingung hanya memilih diam karena ini adalah kali pertamanya ia masuk ke dalam ruangan pria itu. Dan persoalan dirinya yang memakai stelan kerja adalah ikut menemani Wira meeting di sebuah restoran. Ya, hari ini adalah hari pertama Fairel diajak ikut meeting bersama pria itu.
Wira juga mengajari dan menunjukkannya bagaimana menjadi seorang pembisnis yang hebat. Yang tentunya ada tekad dan semangat yang kuat.
Fairel yang mengingat momen-momen itu merasa sangat bahagia karena merasa dirinya itu spesial. Dan lebih spesialnya adalah pakaian yang ia kenakan. Fairel menundukkan kepalanya, melihat stelan yang ia kenakan sekarang. Dalam hati ia telah tersenyum. Mengingat momen kala dirinya mendapatkan hadiah dari Dena. Dan yang membuatnya terkejut adalah isi dari hadiah tersebut.
Dena sangat tidak menyangka kalau hadiahnya itu sangat berguna untuk Fairel. Bahkan ia tidak berpikir kalau Fairel akan memakainya dalam waktu dekat sehabis ia memberikan hadiah itu. Saat pertama kali melihat Fairel keluar dari ruang ganti, saat itu juga Dena terpana. Fairel sangatlah berwibawa dan gagah saat memakai kemeja putih yang dilapisi jas hitam polos. Hati Dena rasanya ingin berteriak, bahkan saat itu air liurnya hampir saja menetes kalau saja tidak ada sang papa yang menegurnya.
Dena menyahut panggilan dari papanya. Saat itu juga ia langsung beranjak keluar dari dalam kamar papanya yang ada di dalam ruangan tersebut.
Untuk kedua kalinya Dena dibuat speechless. Ia bahkan tidak bisa berkata lagi saat melihat sosok Fairel yang berdiri tegak sambil kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
"U-udah selesai, Pa?" tanya Dena gugup saat merasa dirinya kini ditatap lekat. Sungguh, membuat hatinya berdebar kuat.
"Iya. Kalian langsung pulang aja ya? Jangan lupa ajak Arel mampir ke rumah." jawab Wira berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil satu dokumen yang terletak di atas meja.
Pria itu kembali lagi mendekati Fairel. "Ini. Kamu harus banyak belajar lagi." tutur Wira memberikan dokumen itu kepada Fairel.
"Baik, Om. Terimakasih."
"Iya. Rel, kamu bisa nyetir mobil?" tanya Wira.
Fairel tersenyum kaku sambil menggelengkan kepalanya kemudian menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Wira menghembus nafasnya berat. "Ya udah, kalian pulang dijemput Pak Haryo aja. Kapan-kapan kamu harus belajar menyetir mobil, Rel."
"Iya, Om." jawab Fairel patuh.
"Ya sudah, sambil nunggu Pak Haryo, kita duduk di sofa dulu. Ayo, Sayang..." Wira merangkul kedua bahu putrinya. Sedangkan Fairel berjalan mengikuti mereka.
Setelah Dena dan Fairel duduk di sofa, Wira bangkit. "Rel, kamu suka kopi?" tanya Wira.
__ADS_1
"Dikit, Om." jawab Fairel tidak enak.
"Bilang aja suka." sahut Wira mulai menjauh dari keduanya karena ia berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu menekan beberapa tombol angka di telfon yang terletak di mejanya.
"Antar kopi dalam waktu 5 menit." setelahnya Wira langsung memutuskan telfonnya yang terhubung kepada office boy.
"Gimana tadi meetingnya, Rel?" tanya Dena mencairkan suasana.
Fairel langsung menatapnya yang sialnya membuat Dena berdebar kuat. "Lumayan." jawab pemuda itu.
"Minggu depan pagi kamu datang ke rumah." pinta Wira saat ia sudah kembali.
"Iya, Om." jawab Fairel yang tidak berani menolak meskipun hati dan pikirannya bertanya-tanya.
"Ngapain nyuruh Arel dateng ke rumah?" sahut Dena bertanya.
"Enggak ada, Sayang."
Gadis itu langsung mendengus kesal. Akhir ini banyak sekali info yang tidak ia ketahui tentang papanya dan Fairel. Entahlah, keduanya benar-benar memiliki privasi yang tidak ingin orang lain tau.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" titah Wira seakan tau kalau itu adalah office boy.
"Hmmm..."
"Diminum, Rel." ujar Wira mempersilahkan Fairel untuk meminum kopinya.
"Makasih, Om." balas Fairel mengambil cangkir itu dan menyeruputnya kecil.
"Dena gak dikasih, Pa?" protes Dena merasa diabaikan.
"Emangnya kamu suka kopi?" sindir Wira sekali lagi membuat Dena mendengus.
Tring
"Pak Haryo udah sampai." beritahu Dena setelah ia membaca pesan yang masuk di ponselnya.
"Ya udah. Papa antar sampai depan."
"Ayo!" pekik Dena merasa bersemangat.
__ADS_1
"Rel?" tegur Wira kepada Fairel yang tampak melamun.
"Eh! Iya, Om." sentak pemuda itu kaget dan cepat menyusul keduanya.
•••
Mobil yang Dena dan Fairel tumpangi kini sudah tidak terlihat lagi di sudut mata Wira. Pria itu segera kembali masuk ke dalam.
Di dalam perjalanan menuju ruangannya, Wira berjalan tepat di belakang kedua wanita yang sedang bergosip dan mereka tidak menyadari kalau bosnya ada tepat di belakang mereka.
"Besok gue sibuk. Emak ngadain acara ibuk-ibuk di rumah."
"Kasian banget lo. Tapi, kayaknya kita sama deh. Besok malam gue juga sibuk. Nih! Laporan keuangan gue belum diserahin ke kepala divisi. Mana waktunya mepet lagi."
"Ya udah, gak papa. Kapan-kapan kita nongkrong. Lo selesain dulu tuh laporan. Bisa abis nanti diamuk Pak Wira kalau lo lalai."
Mereka dengan pedenya berbicara tentang bosnya. Padahal orang yang mereka bicarakan itu ada tepat di belakang mereka.
"Ekhemm..." Wira berdehem guna menyadarkan keduanya.
Sontak dua wanita itu menoleh secara bersamaan. Dapat Wira lihat raut wajah mereka meringis dan tampak ketakutan.
"Ma-af, Pak." mereka menundukkan kepalanya. Wajah mereka langsung pucat pasi, keduanya gelagapan saat menyadari kalau bosnya ada di belakang mereka yang mereka tidak tau entah sejak kapan.
"S-saya pamit, Pak, mau lanjut kerja."
"Sa-y-ya juga, Pak."
Keduanya yang gelagapan justru membuat mereka ling lung dan bahkan menabrak tubuh satu sama lain. Wira sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu para karyawannya. Namun, ada satu hak yang menarik perhatian pria itu.
Wira berjongkok untuk mengambil selembar kartu yang sempat dijatuhkan oleh salah satu karyawannya tadi. Pria itu semakin penasaran. Ia membalikkan kartu tersebut, dan seketika matanya langsung membulat. Diiringi dengan aliran darahnya yang mengalir sangat deras.
Pria itu bahkan sampai mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Dengan nafas tidak teratur, ia langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Pria itu langsung menuangkan air putih ke gelas bersih yang terletak di atas meja. Wira meneguknya dengan kasar.
"STEVE!!!" teriak Wira menggelegar. Membuat Steve yang asik memeriksa jadwal bosnya langsung terjingkrak kaget.
.
.
.
__ADS_1
Khusus tahun baru aku triple up ya🥰 jangan minta lagi. Besok atau lusa baru kita lanjut🙏🏼🤣