
Dena berpikir apakah hari ini hari keberuntungannya ataukah hari kesialannya. Sedikit ia merasa senang sekaligus resah lantaran siang hari ini ia akan pergi ke kantor papanya. Bukan semata-mata inisiatif menjenguk, namun, ini permintaan sang papa. Yang menjadi masalah bukan itu, tapi, yang menjadi permasalahan itu adalah ia pergi bersama siapa. Kalau sendiri ia masih merasa biasa saja, tapi, kali ini ia pergi bersama Fairel.
Sejak pertemuan tidak sengaja mereka di luar gerbang, sampai saat ini keduanya belum bertemu atau saling sapa apalagi berkomunikasi melalui telfon atau chatting. Entahlah, Dena juga bingung dengan perasannya yang sekarang. Waktu berputar begitu cepat sehingga ia merasa hal aneh di dalam dirinya. Yang awalnya begitu akrab dengan Fairel, sekarang malah terkesan menghindar.
Saat ini keduanya berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Haryo. Tampilan Dena saat ini masih mengenakan seragam sekolahnya.
Semalam sang papa memberitahunya untuk menemani Fairel ke kantor. Awalnya Dena menolak. Tapi, papanya beralasan kalau Fairel masih belum mengenal kota Jakarta ini. Sedikit merutuki, kenapa tidak pergi diantar Pak Haryo saja yang sudah jelas-jelas hafal dengan jalanan di kota Jakarta. Dan untuk Pak Haryo, beliau sudah kembali bekerja sejak dia hari yang lalu.
Dena duduk canggung dengan kepala yang menoleh ke arah luar, melihat jalanan kota Jakarta yang lumayan padat. Ia masih mengenakan seragamnya, beda lagi dengan Fairel yang mengenakan pakaian kasual. Hanya kaos hitam polos saja dan celana jeans hitam. Begitu bunyi bel pulang tadi, Dena langsung berjalan ke luar. Saat sudah berada di gerbang, ia melihat mobilnya sudah terparkir di sisi jalanan. Begitu membuka pintu belakang, alangkah terkejutnya Dena saat melihat sosok Fairel yang sudah nangkring di sana. Dena sempat terpesona melihat tampilan pria itu yang sungguh di luar kendalinya.
Diam-diam ekor mata Dena melirik Fairel yang enggan juga membuka pembicaraan. Gadis itu berdehem kecil guna menetralisirkan rasa canggungnya.
"Lo gak ngampus, Rel?" tanya Dena akhirnya buka suara. Ia mengubah posisi duduknya menjadi sedikit menyamping.
Saat itu juga Fairel langsung menoleh yang sialnya membuat jantung Dena berdetak tidak normal. Apalagi melihat tatapan pemuda itu yang sedikit tajam. Dena tak kuasa membalas tatapan itu. Mata tajam, alis yang tebal dan bulu mata hitam sedikit lentik, hidung mancung, serta bibir yang sedikit bervolume.
"Enggak. Gue cuma ngampus malam hari. Siangnya kerja." jawab Fairel masih menatap Dena lekat.
Pak Haryo yang berada di kursi kemudi pun diam-diam melirik dari kaca dashboard. Suasana di mobil itu terasa mencekam, biasanya Pak Haryo yang selalu luwes, kini berbeda. Dia hanya diam, membiarkan pasangan keturunan adam dan hawa itu berinteraksi.
Dena hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O. "Lo kerja apa?" tanya Dena.
"Barista."
"Wahhh! Keren." puji Dena terperangah.
"Masih tahap belajar." ujar Fairel memberitahu. Memang seminggu terakhir ini Fairel sudah mendapatkan pekerjaan sebagai barista di salah satu cafe. Awalnya Fairel hanya ditugaskan melayani dan menyambut para tamu yang baru datang. Dan dalam seminggu itu Fairel masih dalam tahap proses belajar menjadi barista. Dan alhamdulillah sekarang ia sudah bisa diandalkan.
"Cafe kan? Di mana?"
"Gak jauh dari kampus."
"Owh, oke. Kapan-kapan gue mampir ya? Mau nyobain kopi racikan buatan lo." sahut Dena begitu sumringah.
__ADS_1
"Hmmm..." Fairel hanya berdeham singkat sebagai tanggapan.
Dena yang tadinya sempat duduk menyamping kini sudah kembali ke posisi sebelumnya. Selang satu menit menatap ke depan, Dena merasa ada yang memperhatikannya. Dena yang penasaran tidak tahan untuk tidak menoleh. Ia pun menoleh, melihat pemuda di sampingnya tengah menatapnya.
Dena merasa kikuk saat ditatap seperti itu. "Kenapa?" tanya Dena merasa aneh dengan sifat Fairel dari awal hingga sekarang.
Kalau orang lain yang menatapnya seperti itu, mungkin Dena sudah melabraknya dengan segala sifat ketusnya. Namun, apakah Fairel pengecualiannya? Saat merasa dirinya ditatap lekat, Dena merasakan jantungnya berdetak cepat. Nafasnya terasa berhenti di detik itu. Berbeda saat ketika dirinya berdekatan dengan laki-laki lain.
Bukannya menjawab, Fairel malah mendekat kepadanya. Aroma khas dari tubuh Fairel langsung menguar di aroma penciuman Dena. Dena tercekat, ia menahan nafasnya saat Fairel semakin dekat.
Sontak Dena memejamkan matanya dan mengangkat bahunya ke atas. Tangannya meremas ujung roknya guna menyalurkan rasa yang entah lah ia pun tidak tahu itu apa.
"Ada daun." ujar Fairel langsung menjauhkan tangan serta tubuhnya dari Dena. Fairel juga menunjukkan daun kering yang tersangkut di rambut Dena tadi.
"Ah, oh, m-makasihh." Dena berkata sambil memilin ujung roknya.
"Sama-sama." dengan santainya Fairel menyandarkan tubuhnya ke belakang sandaran. Sedangkan Dena saat ini sedang menahan malu, gugup, gerogi dan aneh sekaligus. Semuanya bercampur aduk.
Dalam hatinya, Dena merutuki segala pikiran yang bersarang di kepalanya. Ia pikir Fairel mau apa, eh ternyata cuma mau mengambil daun kering saja! Menyebalkan!
Dena merasa bosan hanya diam duduk saja di ruang kerja milik sang papa. Sedari tadi papanya dan Fairel belum juga masuk ke ruangan. Dena hitung, mungkin sudah satu jam keduanya pergi tanpa niat memberitahu Dena.
Segala cara ia lakukan demi mengusir rasa suntuknya, dari mulai scroll tiktok, nonton film, main game, mengambil foto ruangan itu. Dan masih banyak lagi. Tapi, semuanya tidak membuat rasa bosan Dena hilang. Alangkah bosannya, bahkan tanpa sadar ia tertidur di sofa berukuran panjang dengar layar ponsel yang masih menyala di genggaman tangannya.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Alhamdulillah, lancar, Om. Semoga dipermudahkan."
"Aamiin. Oh ya, kalau pekerjaannya, apa cocok untukmu?"
"Cocok, Om. Alhamdulillah sekarang udah bisa, ya walaupun belum semahir barista senior."
Wira menepuk-nepuk pundak Fairel berulang kali. "Om percaya kamu pasti bisa. Anggap Om sebagai orang tua kamu. Kalau butuh apa-apa silahkan bilang."
__ADS_1
Fairel terdiam seraya mengangguk kecil.
"Om rasa penjelasan tadi pasti kamu paham kan? Pelan-pelan saja, perbanyak belajar."
"Siap, Om."
"Oke, kalau gitu kita balik ke ruangan Om sekarang. Pasti Dena sudah menunggu lama."
Keduanya berjalan beriringan. Pakaian mereka sama-sama hitam, bedanya Wira mengenakan pakaian khas kantor sedangkan Fairel hanya kasual.
Mereka berjalan sambil sesekali mengobrol. Obrolan mereka hanya seputar tentang pekerjaan saja.
Menuju ruangan Wira, kali ini laki-laki itu lebih memilih untuk naik lift umum saja. Mumpung ada Fairel, jadi, Wira mengenalkan beberapa sudut kantornya dan mengenalkan Fairel kepada karyawan lainnya. Sering juga Fairel bertanya bagaimana perjuangan Wira hingga sukses melejit seperti sekarang. Dan Wira pun tidak sungkan untuk membagi ilmunya kepada Fairel.
Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seruan seorang wanita yang rupanya sedang terburu-buru. Berlari cepat hanya karena tidak ingin ketinggalan lift. Karena sekarang dirinya sedang dalam keadaan darurat.
"Tunggu!!!"
"Hahhhhh hahhhh hhhhhh... ma-makasih, P-pak."
Wira hanya meliriknya dengan tatapan tajamnya. Hanya bola matanya saja yang melirik, sedangkan wajah dan tubuhnya tetap berdiri tegak.
Fairel yang bingung hanya menaikkan alisnya ke atas lalu menatap Wira.
.
.
.
aku kira tadi Dena mau dikasih kiss🤣
oh ya, buat yg ada akun tiktok, boleh dong follow akun ku dg nama (Bungsu_Fi)
__ADS_1
Mungkin utk visual novel ini bakalan aku post di sana🤣ternyata seru juga klo di post di tiktok wlw dikit yg liat 🤣