Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 85


__ADS_3

"Makasih ya, Nak. Kalau aja nggak ada kalian, mungkin barang-barang penting di dalam tas ini udah raib." ujar seorang wanita paruh baya korban pencopet tadi.


"Sama-sama, Tante. Lain kali lebih hati-hati ya, Tan. Di luar bahaya." balas Dena sembari tersenyum ke arah wanita itu.


"Oh ya..." wanita itu membuka dompetnya dan ternyataa isinya masih lengkap. Ia mengambil beberapa uang lembaran berwarna biru dan mengunjukkan itu kepada Dena.


"Ini apa, Tan?" tanya Dena dengan dahi yang mengerut lantaran bingung.


"Maaf ya kalau kalian tersinggung. Tante cuma mau kasih ini sebagai imbalan karena udah nolongin Tante. Ambil aja ya, Nak."


Dena mendorong pelan tangan wanita tersebut beserta uangnya. "Udah, simpan aja buat Tante. Kami gak apa-apa kok, ikhlas. Iya gak, Rel?" Dena meminta persetujuan dari pemuda itu. Dan Fairel pun hanya mengangguk.


Wanita tersebut langsung menarik tangannya kaku. "Ya sudah kalau kalian gak mau. Sebagai ucapan terimakasih, Tante boleh mentraktir kalian makan?"


Dena langsung melirik Fairel. Seakan-akan bertanya apakah boleh. Dan tanggapan Fairel yang mengangguk pun membuat gadis itu tersenyum. "Boleh kok, Tan."


"Kita ke restoran di sana ya?" tunjuk wanita itu di seberang jalan di mana ada sebuah tempat makan.


Dena menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu langsung menuntun Dena menyeberangi jalan dengan memegang kedua pundak gadis itu. Lebih tepatnya adalah Fairel yang menuntun mereka karena ia sadar posisinya di sini adalah seorang laki-laki yang selalu memimpin.


"Tante sampai lupa. Nama kalian siapa?" tanya wanita itu saat mereka sudah duduk di salah satu meja di restoran itu.


"Nama saya Dena, Tante. Trus yang cowok itu namanya Fairel." jawab Dena lalu menunjuk Fairel yang duduk di sampingnya.


"Kalau Tante, namanya siapa?" gadis itu bertanya balik.


"Nama Alina, panggil aja Tante Lina. Dia pacar kamu?" pertanyaan wanita yang bernama Alina barusan membuat Fairel yang menyedot minumannya lewat pipet langsung tersedak.


"Hahaha, bukan, Tante. Itu temen saya kok." jawab Dena tertawa renyah menutupi debaran hatinya.


"Kirain. Soalnya Tante lihat kalian mesra banget tadi." baik Dena maupun Fairel langsung tersenyum canggung.


"Enggak kok, Tan. Udah biasa itu." jawab Dena membuat Fairel langsung melirik. Maksudnya sudah biasa apanya? Batin Fairel bertanya-tanya.


Saat itu kebetulan pelayan restoran datang sambil membawa pesanan mereka.


"Ayo, makan dulu. Kalau kurang nanti bilang ya." seru wanita itu mempersilahkan mereka untuk memakam makanan yang sudah dipesan tadi.


"Iya, Tante." Dena menganggukkan kepalanya sopan.


"Rel, makan." sahut Dena pelan setengah berbisik kepada Fairel saat pemuda itu hanya menatapnya tanpa mau menyantap makanannya sendiri.


"Gue gak suka daging." bisik Fairel pelan karena takut menyinggung Lina.


"Kenapa gak bilang dari tadi? Tau gitu tadi pesanannya gak disamain." omel Dena ingin sekali memukul Fairel menggunakan garpu. Ya, memang tadi Fairel menjawab agar makanannya sama dengan makanan pesanan Lina. Sedangkan Dena yang memang menyukai spagetti lebih memilih makanan itu.

__ADS_1


Fairel hanya menatapnya dengan bibir terkatup. "Kenapa makanannya gak dimakan, Nak? Gak enak ya?" Fairel langsung menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Lina.


"Enak kok, Tan. Cuma Arel gak suka daging aja." balas Fairel hati-hati.


"Oalah. Kenapa gak bilang dari tadi, Nak? Ya udah, kamu pesen lagi aja yang berbeda." seru Lina.


Bukan Fairel yang menjawab melainkan Dena. "Eh! Gak usah, Tante. Nanti mubazir. Nanti saya aja yang makan makanan Arel." jawab Dena.


"Udah, gak papa. Kalian pesen aja lagi." sekali lagi Dena menolaknya membuat Lina hanya pasrah. Ternyata berdebat singkat dengan anak muda itu membuatnya kalah.


"Rel, lo mau ini? Tapi, udah gue makan soalnya." tanpa menjawab pertanyaan Dena, Fairel langsung menukar piring mereka. Piringnya yang berisi daging sapi langsung ia tukar ke piring Dena yang berisi spagetti. Sebelum itu Fairel terlebih dahulu memotong daging sapi itu menjadi beberapa potongan kecil.


Tanpa banyak kata Fairel langsung melahapnya makanan milik Dena tadi. Bahkan ia tidak menukar sendok mereka tadi. Membuat Dena melongo melihat Fairel yang tampak lahap memakan makanannya.


Dengan gugup Dena langsung menusukkan garpu ke potongan kecil daging sapi dan menyuapkannya ke dalam mulutnya. Dengan susah payah Dena mengunyah makanannya dan menelannya kasar.


Berbeda dengan Dena yang tampak susah mengunyah makanannya, sementara Fairel kini malah menikmati makanannya. Tanpa disadari oleh Dena, ujung bibir Fairel tertarik sedikit ke atas. Akhirnya ia berhasil membalas perlakuan Dena yang sebelumnya selalu membuatnya susah.


•••


Jari-jari kekar itu tampak bergerak lincah di atas papan papan keyboard laptop. Wajahnya tampak begitu serius mengetikkan banyak tombol di keyboard itu.


Suara ketukan pintu tidak dapat membuatnya terganggu. Lalu tampak seorang pria masuk ke ruangannya dan berdiri tepat di samping meja kerjanya.


Wira langsung menghentikan gerakan jari-jarinya. Pria yang mengenakan kacamata itu langsung melirik sekilas.


"Suruh masuk!" titah pria itu kembali bekerja di papan keyboard laptopnya.


"Baik, Tuan." balas Steve lalu melenggang pergi.


Suara derap langkah kaki khas sepatu wanita terdengar di telinga Wira. Namun, ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Sampai suara derap kaki itu berhenti tepat di depan mejanya. Pria itu masih juga belum menoleh.


"Permisi, Pak. Saya mau memberikan dokumen ini." Cahya meletakkan dokumen itu dengan pelan di atas meja Wira di bagian yang kosong.


"Kalau begitu saya pamit, Pak. Permisi."


"Tunggu!" suara bariton itu mampu membuat Cahya merinding. Ia mengingat saat-saat dulu ketika masuk ke ruangan itu hanya untuk memberikan dokumen.


Cahya menghentikan langkah kakinya dan langsung berbalik pelan. "Ada apa, Pak." tanya wanita itu.


"Kemari!" titah pria itu menjauhkan tubuhnya dari hadapan laptopnya. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang kursi kebesarannya. Pria itu melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja dengan sembarang.


Dengan tubuh yang sudah bergetar karena takut, wanita itu berjalan pelan mengitari meja. Dan sampailah Cahya tepat di samping pria itu. Hatinya bertanya-tanya, ada apa?


"Aaakkkkkkkhhhhh.... Pak!" pekik Cahya terkejut karena tubuhnya langsung oleng karena tarikan pria itu. Alhasil dirinya langsung terjerembab di pangkuan pria itu dengan posisi menyamping.

__ADS_1


"Syutttt! Jangan berteriak." seru Wira pelan.


Plak


Cahya langsung melayangkan pukulan di bahu Wira tepat di bekas lukanya dulu.


"Sakit." keluh Wira menyentuh bahunya. Padahal ia hanya berpura-pura saja untuk mendapatkan perhatian dari wanita itu.


"Gak percaya. Lepas ih! Nanti ada yang masuk!" Cahya memberontak berharap dirinya dilepaskan.


"Jangan bergerak. Aku cuma butuh pelukan." tiba-tiba pria itu menarik tubuhnya lebih dekat dan menjatuhkan kepalanya tepat di dada wanita itu.


Cahya yang melihat itu pun kasihan. Biarlah ia memberikan waktu 5 menit dan setelahnya jangan harap untuk menyentuhnya lagi.


"Udah 5 menit." ujar Cahya sembari berusaha menjauhkan kepala Wira dari dadanya.


Wira masih tidak beranjak, bahkan ia menduselkan wajahnya di sana. "Nanti malam jadi ketemu Mama kamu?" gumam pria itu dengan suara terhadang tubuh Cahya.


"Maunya?"


"Mau kamu."


"Ughhhhh... jangan gini, nanti ada yang masuk." Cahya mencengkram rambut Wira kala kepala pria itu menelusup dengan tidak sopan di dadanya.


Dan benar saja, tidak lama setelah Cahya berkata demikian, Steve langsung menerobos masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Cahya denga reflek mendorong kuat kepala Wira dan langsung bangkit dari pangkuan pria itu. Wira langsung menggerang kesal karena kehadiran Steve yang masuk ke dalam ruangannya tanpa izin.


"S-saya tidak liat, Tuan." spontan Steve membalikkan badannya.


"Kenapa?" tanya Wira tanpa raut wajah bersalah. Sedangkan Cahya kini sudah menunduk malu.


"T-tidak ada, Tuan. Hanya saja ada rekan kerja anda yang ingin bertemu di lobby bawah." jawab Steve tanpa melihat bosnya karena posisinya membelakangi.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap." Wira bangkit dari duduknya untuk mengambil jasnya di gantungan.


Pria itu berjalan mendekati Cahya yang menundukkan kepalanya. "Tunggu aku nanti malam." bisik pria itu sensual. Seketika tubuh Cahya langsung merinding dibuatnya. Dengan gugup ia hanya mengangguk pelan.


"S-saya pamit, Pak." pamit Cahya langsung berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Namun, baru beberapa langkah, tangannya sudah dicekal.


Dengan nakal Wira menarik ujung tali blouse Cahya yang tidak terikat alias talinya terlepas. Wanita itu langsung melotot dan spontan kembali menali tali blousenya yang berada tepat di dadanya.


Dengan wajah yang sudah memerah lantaran malu, Cahya langsung berlari cepat keluar dari ruangan Wira. Sementara pria yang menjadi pelakunya itu hanya terkekeh pelan dengan raut wajah tanpa bersalah sedikitpun.


•••


ketikan di sekolah🤣 buat yg tadi bilang bakal nyamperin aku di kelas, nih aku kasih update walaupun dirimuu tidak menepatii janjiii 🙄

__ADS_1


__ADS_2