Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 56


__ADS_3

Dua minggu sejak kedatangan Fairel dan Dewi di Jakarta, akhirnya mereka sudah diterima di salah satu universitas di Jakarta yang cukup ternama di kalangan masyarakat. Sudah seminggu ini keduanya mulai menginjakkan kakinya di sana, ya walaupun sekarang mungkin masih tahap pengenalan atau masa ospek.


Dua minggu yang lalu, lebih tepatnya tiga hari setelah kedatangan Fairel dan Dewi, Dena merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun secara sederhana. Hanya dihadiri oleh orang terdekatnya saja. Tidak banyak yang ia harapkan, hanya mengharapkan agar orang-orang terdekatnya sayang kepadanya.


Dari sekian kado yang Dena terima, ia paling tersentuh saat melihat kado kecil yang teramat sederhana baginya namun begitu berharga. Berupa gelang tali berwarna hitam polos. Dena sangat menghargai itu. Dan ia juga baru tau kalau hadiah itu berasal dari Fairel. Bagaimana Dena tidak tersentuh coba?


Pulang sekolah kali ini Dena dijemput oleh sopir pribadi di rumahnya yang biasa ia panggil Pak Haryo.


Namun, kali ini Dena meminta Pak Haryo untuk menjemput Dewi yang kebetulan keluar kelas sekitar jam dua-an. Itu sih akal-akalannya saja. Dena ingin sekali bertemu dengan Fairel. Saat sudah tinggal di kost-annya, ia jadi jarang bertemu dengan Fairel. Mungkin bisa dihitung menggunakan jari tangan. Itu juga karena panggilan dari papanya yang meminta Fairel untuk datang ke rumahnya.


Kepala Dena celingukan, melirik kanan kiri dan belakang. Berusaha mencari Dewi. Sebelumnya ia juga sempat mengirim pesan kepada Dewi kalau dirinya sudah berada di depan. Bangunan megah itu sungguh membuat Dena terpukau. Meski bukan satu kalinya ia melihat bangunan megah. Namun, kali ini berbeda.


"Mm, Pak. Tunggu di sini sebentar ya? Dena mau masuk ke dalam sebentar." ucap Dena mengundang tatapan kaget dari Pak Haryo.


"Di luar bahaya, Non. Mending di sini aja." bujuk Pak Haryo.


"Udah, gak apa-apa. Bapak tenang aja, Dena bakal jaga diri kok. Cuman masuk ke dalam aja, bukannya mau masuk ke dalam kuburan."


"Hust! Omongannya, Non. Gak boleh gitu atuh." sontak Dena memukul mulutnya pelan.


"Hehe, enggak kok, Pak. Bencanda Dena tuh, jangan diambil jantung." sebelum keluar dari mobil, Dena sempat menepuk pelan bahu Pak Haryo beberapa kali.


Pak Haryo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak majikannya.


Langkah kaki Dena sedikit masuk ke area kampus itu. Dalam benaknya, apakah dirinya nanti akan menempuh pendidikan juga di sini? Ataukah Dena harus memilih menempuh pendidikan di luar negeri. Walau jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Dena ingin sekali-kali hidup mandiri tanpa pengawasan sang papa.


Saking kagumnya, Dena bahkan sampai tidak sadar kalau dirinya berjalan melewati kumpulan mahasiswa yang nongkrong, duduk di pinggiran anak tangga.


"Hai, Dek. Mau cari siapa?"


"Kyiwww kyiwww, bening banget cuy. Masih SMA ternyata."


"Hooh, panggil gih."


Sontak langkah kaki Dena berhenti, yang malahan berhenti tepat di depan kerumunan mahasiswa itu. Jaraknya lumayan jauh, tapi, Dena masih bisa mendengar bisik-bisik suaranya.

__ADS_1


"Dek, mau ke mana? Abang temenin ya?"


Mendengar itu, Dena hanya mampu menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia menahan malu lantaran saking kagumnya bahkan sampai tidak sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian.


"Saya, Bang?" tanya Dena menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Duduk sini dulu atuh, Dek. Abang-Abang di sini gak jahat kok."


Ya, selain di tempat umum. Tampang-tampangnya memang tidak jahat. Eits, jahatnya seseorang bukan dilihat dari tampang wajahnya ya. Siapa tau kan wajah yang semulanya baik eh malah menyimpan banyak pisau dibaliknya. Begitu juga sebaliknya, yang tampangnya jahat eh malah justru baik seperti malaikat.


Dena hanya maju tiga langkah ke depan, masih menyisakan banyak jarak diantara kerumunan itu.


"Jiakh, masih takut aja sih, Dek. Oh ya, ngomong-ngomong ke sini mau cari siapa? Kakaknya? Abangnya? Atau ayahnya. Hahaha..." teman-temannya yang lain tergelak mendengar celetukan temannya.


Dena mengernyitkan dahinya. "Bukan, Bang. Cuma mau cari temen kok. Kebetulan mahasiwi baru di sini." jawab Dena.


"Ohh begitu. Trus, udah ketemu?" Dena menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu sambilan nunggu temennya, mending kumpul dulu di sini. Kita santai-santai aja sambil kenalan."


"Kok gue sih, Wan? Yang lain aja deh. Udah di posisi wuenak nih, jadi mager."


"Gue gak nerima penolakan ya. Gue hitung sampai tiga, kalau lo gak bergerak juga. Terpaksa gue tendang."


"Ancam, ancam aja teros." dengan terpaksa Roni yang dimintai untuk membeli minuman pun bangkit.


"E-eh, enggak usah repot-repot, Bang. Aku di sini cuma sebentar doang kok, gak lama. Soalnya sopir udah nunggu di depan." sela Dena cepat.


"Udah, nggak apa-apa. Santai aja dulu di sini sambil nunggu temennya datang. Kapan lagi ya kan?"


"Eh, duduk sini dulu. Yo, lo pindah ke belakang." pintanya kepada salah satu temannya yang duduk di sampingnya. Dengan terpaksa Yoan, temannya itu berpindah tempat.


"Sini, sini. Duduk." ujarnya sambil mengibaskan anak tangga itu menggunakan jaketnya. Bukan! Bukan miliknya, melainkan milik temannya yang baru saja ia rampas tadi.


"Yahhh, jaket gue, Wan. Lo mah!" protes temannya.

__ADS_1


"Udah, nanti gue loundry. Tenang aja lo."


Sekarang Dena sudah duduk di anak tangga yang memandang itu. Di sampingnya ada Ridwan, laki-laki yang sedari tadi bicara dengannya.


"Ekhem... ngomong-ngomong, kelas berapa nih?" tanya Ridwan membuka percakapan.


"Dua belas, Bang."


"Oalah, satu tahun lagi berarti mau lulus. Nanti kalau udah lulus mau lanjut di mana? Mending di sini aja deh. Biar kita bisa ketemu terus."


"Huekkkk... suakk, suakkk, lo, Wan." pekik Yoan dari arah belakang. Ridwan hanya diam menahan kesal.


"Belum tau, Bang. Belum diskusi sama papa. Oh ya, abang udah semester berapa?" Ridwan tersenyum kala gadis itu sudah mulai berbaur dengan situasinya.


"Baru semester empat. Oh iya, kita belum kenalan ya. Kenalin nama abang Ridwan, panggil aja bang wawan, pokoknya terserah mau panggil siapa. Dan ini semua teman-teman abang. Yang itu namanya Yoan, di samping kamu itu namanya Galang, yang itu Calvin dan Gio. Trus yang tadi beli minum itu Roni. Semuanya teman-teman abang. Tenang, mereka gak jahat kok. Kalau mereka jahat, bilang aja ke abang biar abang yang kasih pelajaran."


"Abangg satu tambah satu berapa, Bang."


"Aduh, Abang. Meleleh hati adek, Bang."


"Ihhhh, jijikkk. Bang*ke lo pada."


Mata Ridwan langsung menajam. Sedangkan Dena tampak tersenyum menyengir mendengar gombalan dari mereka.


"Nama kamu siapa?" tanya Ridwan menghiraukan pekikan teman-temannya.


"Eh, panggil Dena aja, Bang."


"Oke, Dena. Salam kenal ya, boleh gak abang minta nomor Whatsapp-nya?"


Dena terdiam, ia ragu.


"Oke, mungkin lain kali aja ya. Mungkin kamu juga ragu mau ngasih karena kan kita baru kenal. Gak pa-pa, nanti kita bisa kenal lebih jauh lagi." lanjut Ridwan sembari mengedipkan satu matanya.


Dena langsung tergelak melihatnya.

__ADS_1


"Kamu pasti dari sekolah sebelah kan? Abang juga alumni di sana." Dena hanya menganggukkan kepala. Karena dari awal sampai sekarang, Ridwan lah yang mendominasi. Memberikannya banyak pertanyaan.


__ADS_2