Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 86


__ADS_3

"Papa mau ke mana? Dena ikut ya?" rengek gadis itu yang tampak mengenakan pakaian tidurnya. Sedangkan sang papa kini sudah tampak rapi dan bersiap-siap untuk keluar.


Wira menghela nafasnya panjang. Pria yang sebelumnya berada di pertengahan anak tangga langsung berjalan cepat menuju sang putri yang berdiri di ujung anak tangga.


"Papa cuma sebentar kok. Gak lama, kamu istirahat ya? Nanti pulang mau titip apa?" Wira datang menghampirinya lalu mengusap kepala gadis itu lembut.


"Dena mau ikut." rengek Dena sembari menggelengkan kepalanya. Jujur sana, Dena hanya ingin mengetes kejujuran papanya. Apakah pria itu akan mengatakan yang sejujurnya kepada dirinya ataukah tidak. Dena yang mendapat kabar dari Steve kalau malam ini papanya akan bertandang ke rumah Cahya pun langsung antusias. Namun, ia baru ingat rencana yang akan ia buat.


Wira salah besar karena sudah merahasiakan hal sepenting itu kepada putrinya. Buktinya saja tanpa kejujuran pria itu pun Dena sudah tau karena ia sudah memberikan uang muka kepada Steve untuk menjadi mata-matanya. Dan sekretaris papanya itu langsung bersedia kala Dena mentransfer uang seperti biasanya. Ya bisa dikatakan kalau Steve itu memeras anak bosnya sendiri. Biarlah yang penting dirinya mendapatkan upah atas kerja kerasnya.


Wira memegang kedua bahu Dena, ia sedikit menundukkan tubuhnya untuk mensejajarkan tinggi mereka. "Papa bentar doang kok. Janji deh, papa cuma mau ketemu sama temen lama papa." ujar Wira memberi pengertian kepada putrinya.


"Bener?" tanya Dena menyipitkan kedua matanya.


"Iya, bener kok. Mana bisa papa bohong sama kamu."


"Sekarang papa udah berani bohong sama aku." batin gadis itu. Ia tidak marah, tapi, Dena sedikit kepikiran kenapa papanya merahasiakan hal itu. Tapi, dalam hati Dena berkata mungkin saja papanya butuh waktu. Dena hanya bisa berdo'a semoga semuanya berjalan lancar.


"Ya udah, Dena percaya. Tapi, nanti malam jangan lupa bawa oleh-oleh." sahut Dena.


Mendengar itu membuat Wira langsung tersenyum dan langsung mengacak gemas rambut putrinya. "Pinter, papa gak lupa kok. Papa pamit ya, Sayang?"


"Oke." Dena memejamkan matanya saat pria itu mengecup keningnya singkat.


"Bye, Sayang." Wira melambaikan tangannya sebagai salah pamitan.


"Humm, bye, Papa." balas Dena ikut melambaikan tangannya.


Setelah melihat mobil papanya bergerak menjauh perlahan. Dena langsung masuk ke kamarnya secepat mungkin. Ia mengambil jaketnya dari dalam lemarinya dan memakainya.


Gadis itu langsung mengambil ponselnya cepat dan tampak mengetikkan sesuatu.


"Rel, ke sini sekarang." ujar Dena to the point. Ya, gadis itu menghubungi Fairel.


Tanpa menunggu jawaban dari Fairel, Dena langsung mematikan panggilannya. Ia langsung bergegas keluar kamarnya dan menuruni anak tangga dengan cepat.

__ADS_1


Sesampainya di bawah, ia tidak sengaja berpapasan dengan Bik Marsih.


"Mau ke mana malam-malam gini, Non?" tanya wanita itu sedikit heran melihat tampilan Dena yang masih mengenakan piyama dilapisi jaket denim.


"Dena keluar bentar bareng Arel, Bik. Gak lama kok. Jangan kasih tau papa ya!" Dena menarik telunjuknya di depan bibirnya.


Bik Marsih hanya mengangguk patuh saja lalu menggelengkan kepalanya melihat pola tingkah Dena. Wanita itu tidak terlalu khawatir karena Dena pergi keluar bersama Fairel yang ia tau Fairel akan menjaga Dena dengan sangat hati-hati.


"Dena pamit, Bik. Assalam'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Gadis itu tampak berlari cepat keluar rumahnya. Sekitar 5 menit kemudian terdengar suara mesin motor yang memasuki pekarangan rumahnya. Ya, itu adalah Fairel. Sekitar beberapa yang lalu Wira memberikan hadiah motor kepada Fairel agar pemuda itu bisa bepergian ke mana-mana tanpa menaiki angkutan umum atau ojek. Dan Fairel juga bisa mengantar jemput Dena ke mana pun. Hadiah itu Wira berikan sebagai apresiasi Fairel yang sudah banyak menemaninya menghadiri pertemuan penting atau meeting dengan kliennya.


"Mau ke mana, Na?" tanya Fairel bingung. Ia yang sebelumnya mengerjakan tugasnya di kost-annya langsung terkejut saat Dena menelfon dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Beruntung tugasnya itu hanya sedikit, jadi, Fairel bisa mengerjakan cepat.


"Ikut aja." ujar Dena langsung menaiki motor scoopy berwarna hitam itu.


"Jalan!" Dena menepuk punggu Fairel meminta pemuda itu untuk segera menarik handle gas motornya.


Dena langsung merebut itu dan mengenakan di kepalanya. Namun, saat akan memasang tali helm di bawah dagunya Dena tampak kesusahan.


"Rel, bantuin." sahut Dena setengah merengek.


"Manja banget sih." Fairel lekas turun dari motornya dan berbalik menghadap Dena yang masih duduk anteng di jok belakang.


Klik


"Tuh, bisa. Kenapa jadi susah?"


Dena terdiam cukup lama semenjak Fairel yang mengambil alih tali helm itu dan memasangkan. Matanya yang teduh bertatapan dengan bola mata Fairel yang tajam.


Sesaat Fairel langsung masuk melengos dan langsung menarik tangannya dari bawah dari Dena. Ia kembali duduk di jok belakang dan bersiap untuk menjalankan motornya.


"Pegangan." seru Fairel sesaat sebelum akhirnya menarik handle gas motornya. Dena sontak langsung memeluk Fairel saat pemuda itu mengendarai motornya cukup laju.

__ADS_1


โ€ขโ€ขโ€ข


Berbeda dengan Dena dan Fairel yang baru saja berangkat, kini Wira tampak berdiri gugup di depan sebuah rumah minimalis. Entah kenapa ia menjadi gugup begini.


"Pulang aja." seru Cahya yang berada di sisinya. Pria yang menggenggam tangannya itu tampak gugup dan telapak tangan yang berubah menjadi dingin.


"Kita udah sampai sejauh ini. Mana mungkin aku mundur." Wira menoleh menatap Cahya dalam. Yap benar, keduanya kini berada di depan rumah milik kedua orang tua Cahya.


"Apa kamu udah siap menerima penolakan dari Mama? Ingat, 2 minggu lagi aku akan segera bertunangan. Kalau mama menolak, kamu harus siap-siap melepas aku." ucap Cahya memberi penjelasan.


Wira langsung menggeram kesal. Ia mengeratkan genggaman tangannya. "Pertunangan itu gak akan pernah terjadi." tekan Wira.


"Kita buktikan."


Bukannya meragukan kesungguhan pria itu, namun, Cahya cukup ragu dengan respon ibunya nanti. Mengingat kalau ibunya itu tidak bisa dibantah apalagi kalau keputusannya diganggu gugat. Sungguh! Belum ada yang bisa menaklukkan hati ibunya. Awalnya ia dijodohkan, dan Cahya yang memberontak lebih memilih pergi dari rumah dan melamar pekerjaan. Tepat saat dulu Wira membawa Jihan, Cahya yang sedikit cemburu langsung saja menerima perjodohan ibunya.


Merasa kesal dengan respon Cahya seakan meragukannya, Wira langsung menarik tangan Cahya yang masih berada di dalam genggamannya hingga tubuh mereka bertubrukan.


Tiba-tiba pria itu menarik tengkuk Cahya dan langsung melu*mat bibirnya cukup kasar. Wanita itu sontak memukul bahunya karena terkejut menerima serangan mendadak. Namun, Wira tidak mengindahkan kode dari Cahya. Ia tetap melanjutkan aksinya yang dapat dikatakan sangat nekat.


Cahya tetap memukul bahu pria itu karena menyerangnya cukup kasar. Wira yang sudah dapat meredakan emosinya langsung merubah temponya menjadi lembut. Cahya yang awalnya memukul bahu pria itu pun seakan luluh berganti dengan mencengkram erat bahunya.


Setelah cukup lama menikmati manis di bibir Cahya, Wira langsung melepaskannya dan menyatukan dahi mereka. Nafas keduanya tidak beraturan.


"Jangan pernah katakan itu lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu." lirih Wira yang sudah berjuang sampai saat ini, ia tidak rela untuk melepaskan wanita itu begitu saja. Tekad Wira sudah kuat, ia akan tetap memperjuangkan Cahya apapun yang akan terjadi.


.


.


.


cerita Om Wira banyak anunya ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œga like akoh๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


frekuensi up kita kurangin yah, mau ngejar kontrak cerita Babang Zafri dulu๐Ÿฅฐ

__ADS_1


__ADS_2