Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 51


__ADS_3

Selama tiga hari itu, baik Fairel dan Dewi pun sudah memikirkannya secara matang. Mereka sudah meminta pendapat kepada orang tuanya, beda hal dengan Fairel yang hanya meminta pendapat kepada paman dan bibinya.


Tepat hari ini, keduanya sudah harus memberikan keputusan kepada Wira, apakah mereka menolak ataupun menerima tawaran itu. Jujur, dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Mereka sangat terharu sekaligus senang. Tawaran Wira membuat tekad mereka bangkit untuk menaikkan statusnya yang hanya sebagai warga biasa. Mungkin saja takdir mereka nantinya akan cemerlang.


"Jadi, apa keputusan kalian?" tanya Wira saat Fairel dan Dewi berhadapan dengannya. Di sampingnya ada Dena dan juga Cahya. Sementara kakeknya berada di sawah. Teman-teman mereka yang lain pun tidak ikut.


Dewi mengangkat wajahnya dan menatap mereka satu per satu. Mulai dari Fairel, Dena, Cahya, dan terakhir Wira. Tangannya bertaut erat, keputusan yang dia ambil tidaklah mudah. Tapi, kalau sudah diberi jalan untuk maju, kenapa menolak?


"Dewi berterimakasih pada Om dan semuanya karena udah ngasih kesempatan Dewi buat melanjutkan sekolah. Jawabannya, Dewi menerima tawaran Om itu. Dewi akan berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak membuat Om kecewa." jawab Dewi lalu menghembuskan nafasnya lega karena sudah memberikan jawaban.


Dena langsung memekik senang. Bahkan dirinya langsung menarik Dewi ke dalam pelukannya.


"Alhamdulillah. Om pegang janji kamu. Dan untuk Arel, gimana?" tanya Wira sambil memandang Fairel yang sedari tadi memandang ke depan dengan tatapan kosong.


"Om, apa pantas Arel mendapatkan kesempatan ini? Arel cuma cowok yang nakal dan gak memiliki otak yang encer. Arel takut nantinya akan mengecewakan Om." ujar Fairel akhirnya buka suara.


Semuanya tampak sedikit tegang. Wira menarik nafasnya dalam. Beda lagi dengan Dena yang menahan nafasnya sejenak.


"Kenapa Om kasih kamu tawaran seperti itu? Jawabannya adalah karena Om tau kamu mampu untuk melakukanya. Om kasih tawaran itu juga buat kebaikan kamu, untuk masa depan kamu. Jawabannya tetap ada di tangan kamu. Om kan cuma mau ngasih tawaran." balas Wira memberi sedikit penjelasan.

__ADS_1


Fairel menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya kembali. "Baiklah, Arel akan terima tawaran dari Om. Arel akan berusaha semaksimal mungkin dan bisa membanggakan Om." jawab Fairel dengan sekali tarikan nafas. Eh, sudah seperti mengucapkan ijab qabul aja.


"Om gak nuntut kalian buat membanggakan Om. tapi, Om cuma mau kalian menjalani itu dengan hati yang tulus dan ikhlas. Karena setiap perbuatan yang dilakukan dengan hati yang tulus dan ikhlas itu akan membawa berkah disetiap langkahnya. Percayalah perkataan Om. Karena Om pernah ada di posisi kalian saat ini. Om sempat pesimis, tapi, karena semangat dan perjuangan akhirnya Om bisa sampai di titik ini. Inilah hasil dari ketulusan, keikhlasan, perjuangan, dan semangat."


Fairel tampak menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. Ini pertama kalinya dia diberikan sebuah support yang benar-benar menyentuh hatinya. Seakan-akan ada dorongan di dalam dirinya untuk maju dengan berani. Tidak takut akan kegagalan. Karena setiap kesuksesan pastilah berawal dari kegagalan. Maka, jangan takut untuk gagal, coba lagi sampai titik tertinggi.


"Jadi, semuanya beres ya? Lusa kalian akan ikut Om ke Jakarta. Bawa barang-barang yang penting aja, seperti pakaian untuk tiga hari ke depan."


"Makasih, Om." serentak keduanya.


Wira hanya menganggukkan kepalanya. Keputusan sudah diambil secara matang. Tinggal menunggu hari keberangkatan.


"Horeee, Dena ada teman main di rumah." pekik Dena begitu sumringah. Wira pun ikut tersenyum saat melihat putri kesayangannya begitu gembira.


"Sekarang mending kita nyusul kakek ke sawah. Bantuin kakek panen padi." ujar Wira memberikan saran.


"Dena mau cari belut. Rel, mau ya?" pinta Dena kepada Fairel yang saat ini menatapnya. Tanpa banyak kata Fairel pun mengangguk setuju. Membuat Dena kembali lagi memekik senang. Akhirnya setelah sekian lama dia bisa juga mencari belut.


Sawah yang awalnya sunyi kini terdengar heboh dengan suara tertawaan. Bukan di pertengahan sawah, tetapi di pinggiran sawah yang dekat dengan sungai. Ada juga di pinggiran pematang sawah.

__ADS_1


Yang mencari belut hanya Dena dan Fairel. Sedangkan Dewi dan Cahya hanya berdiam diri di pematang sawah sambil mengamati interaksi keduanya. Kalau Wira, ya jelas tentu membantu kakek Hari memanen pagi. Laki-laki itu membiarkan sang putri bereksplorasi dengan dunia persawahan. Mengenalkan bagaimana rasanya hidup di perdesaan. Bergumul dengan lumpur dan merasakan teriknya matahari.


Setelah beberapa waktu terlewati akhirnya Dena dan Fairel mendapatkan beberapa ekor belut. Ya lumayan untuk menjadi cemilan sore nanti.


"Na." panggil Fairel dengan tiba-tiba. Entah kenapa firasat Dena menjadi tidak enak.


Saat berbalik badan, Dena sudah memekik kaget saat melihat hewan bertubuh lunak dengan panjang yang hampir mencapai delapan meter itu tampak menggeliat di tangan Fairel.


"Huwaaaaaaaa Papaaaaaaa..." teriak Dena mengeluarkan habis suaranya. Bahkan Dewi dan Cahya sampai terperanjat kaget. Suara Dena benar-benar melengking memenuhi area persawahan. Bahkan suaranya sampai memantul.


"Wahahahhahaa..." Fairel sampai tertawa terbahak-bahak. Sudah lama dia tidak menjahili Dena. Dan akhirnya sekarang sampai juga waktunya.


Wira yang tidak jauh berada di dekat mereka langsung berlari pontang-panting. Laki-laki itu khawatir dengan putrinya. Apalagi saat mendengar teriakan histeris Dena. Sedangkan Kakek Hari yang tengah memanen padi dengan Ani-ani hanya menggelengkan kepala.


Ani-ani adalah alat panen padi tradisional yang terbuat dari kayu dengan ukuran 5 X 3 cm dibuat sedikit melengkung. Lengkungan depan dipasang pisau kecil dengan ukuran 3 x 1 cm dan gagangnya terbuat dari potongan bambu kecil yang berfungsi sebagai tangkai yang di selipkan diantara ibu jari dan jari telunjuk. Alat itu banyak ditemui di area perdesaan yang masih memanen padi dengan cara tradisional. Namun, memanen padi dengan cara itu memerlukan waktu yang lama dan pastinya tidak cukup dikerjakan hanya satu orang saja.


"Sayang, kenapa?" tanya Wira benar-benar khawatir. Nafasnya ngos-ngosan seiring dengan dadanya yang turun naik.


"Itu, Arel jahil. Dia serahin Dena cacing tanah." tunjuk Dena pada Fairel yang tertawa puas. Wajahnya dia tutup menggunakan kedua telapak tangannya. Geli!

__ADS_1


Wira yang mendengarnya hanya tercengang tidak percaya. Dia pun kembali untuk memanen padi lagi. Laki-laki itu kira putrinya kenapa-kenapa. Ternyata eh ternyata hanya perkara cacing. Ekspresi Wira benar-benar frustasi. Cahya bahkan sampai terang-terangan menertawakan Wira. Begitu juga dengan Dewi bahkan sampai mengeluarkan air mata akibatnya banyak tertawa karena ulah Dena.


sampai sini dulu ya. Besok InsyaAllah up lagi ๐Ÿค—


__ADS_2