
Hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi semua orang dan semua kalangan. Di mana hari itu adalah weekend, sebagian orang beristirahat dan sebagian bahkan masih berjuang mencari sesuap nasi. Itulah hidup, terkadang roda itu berputar, ada yang di atas dan di bawah. Semuanya itu silih berganti seiring berjalannya waktu.
Hari ini Dena dan Papanya sedang packing. Jadwal berangkat liburan sudah ditentukan yaitu senin besok. Sementara Dena berkemas, Wira pun begitu juga.
"PAPAA!!"teriak Dena menggelegar dari dalam kamar.
Wira yang saat itu tengah membereskan meja kerjanya sontak terkejut dan secepat kilat berlari menuruni anak tangga. Resiko rumah yang megah ya begitu. Tangga kamar dengan anaknya saja sudah beda. Yang satunya di depan dan satunya di belakang.
"Kenapa, Sayang?" tanya Wira khawatir dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Papa kenapa?" tanya gadis itu dengan raut wajah polos. Saat ini ia tengah duduk di atas kasur dan di sampingnya terdapat koper besar dan baju-bajunya masih belum rapi.
"Kamu yang kenapa? Kok teriak-teriak si? Bikin Papa kaget plus khawatir aja." omel Wira menghela nafas.
"Hehe, sorry, Papa. Dena cuman mau minjam handphone Papa aja kok." jawabnya lagi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Astaghfirullah. Punya anak gini amad. Kenapa gak langsung ke kamar Papa aja sih?"
"Mager, Dena mager, Pa. Oh ya, soal jawaban Kak Cahya udah dikasih tau belum sama Papa?" tanya Dena yang kemarin sempat mengajukan tawaran ajakan pergi liburan.
"Udah." jawab Wira simpel.
"Kapan?" pekik Dena.
"Ya semalam."
"Kok Dena gak dikasih tau?" gadis itu sudah cemberut dengan bibir moyongnya.
"Kamu lupa? Kemarin malam aja kamu udah tidur pules, mau bangunin tapi takut."
__ADS_1
Dena hanya menggaruk kepalanya tidak gatal. Kembali ia mengingat tadi pagi, notif panggilan tidak terjawab bejibun di layar utama.
"Udah ingat sekarang?" sindir Wira lagi.
"Hehe..."
"Jadi, gak usah nyalahin Papa lagi. Ini handphone jadi gak? Kalau enggak, Papa mau balik lagi ke kamar."
"Eh! Eh! Jadi dong. Sini hpnya!"
Wira segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikannya pada Dena.
"Makasih, Papa."
"Iya."
Terlihat Dena mengotak-atik ponsel ditangannya. Sejenak ia berhenti dan menatap sang Papa yang masih betah di dalam kamarnya.
Sontak Wira langsung keluar dari kamar putrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Malam menyapa, keduanya terlihat asik bercengkrama di meja makan sebelum menyantap makan malam. Terlihat juga para pelayan tengah menata makanan di atas meja.
"Pa, besok berangkatnya jam berapa?" tanya Dena.
"Pagi, agak siangan dikit sih biar nanti kita berangkatnya nggak grasak-grusuk."
Dena hanya mengangguk paham. Keduanya pun siap menyantap makan malam begitu makanan sudah tertata rapi dan lengkap.
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya, Dena sudah siap. Ia tampak menunggu Papanya.
"Papa! Udah belum? Nanti telat loh." teriaknya dari lantai dasar. Sudah lima menit gadis itu menunggu namun belum ada tanda-tanda datangnya Wira.
Tidak lama setelah itu Wira terlihat turun dengan membawa tas ransel hitamnya. Pria itu hanya membawa beberapa helai baju ganti.
"Lama amat." cibik Dena kesal.
"Tadi Papa di kamar mandi. Biasa panggilan alam." jelas Wira.
"Yaudah, yuk berangkat! Belum lagi jemput Kak Cahya loh, Papa lupa?" selidik Dena sambil menatap tajam.
"Astaghfirullah, maaf Sayang. Beneran lupa." Wira menepuk pelan keningnya.
"Tuh kan, Dena bilang apa juga. Cepetan ayok!"
"Iya, iya." keduanya langsung keluar menuju pintu utama. Lalu langsung masuk ke mobil yang sudah terdapat supir di kursi kemudi. Wira segera mengambil alih barang-barang Dena dan memasukkannya ke bagasi mobil. Kini keduanya sudah duduk di jok belakang bersiap menjemput Cahya lagi.
Tidak lama mobil mereka berhenti di sebuah kost-an. Dena segera turun kemudian mengetuk pintunya dan tidak lama pintu terbuka.
"Kakak udah siap?" tanya Dena meneliti.
"Dek, ini beneran?"
"Iya beneran. Kakak udah siap kan?"
__ADS_1
"Huumm iya. Tunggu, Kakak ambil barang dulu di dalam."
"Jangan lama, Kak."