Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 77


__ADS_3

"Sayang, Papa tunggu di depan ya? Jangan lama." teriak Wira dari balik pintu kamar putrinya. Sebulan sudah berlalu, dan pria itu sudah dinyatakan sembuh total.


"Iya, Papa." balas Dena ikut berteriak. Dari dalam kamar, ia dengan cepat menyambar tas selempangnya yang berukuran kecil. Di dalamnya terdapat barang-barang yang penting baginya termasuk ponselnya.


Weekend kali ini Dena dan sang papa memutuskan untuk jalan-jalan ke luar sekaligus bermain. Hanya berdua, ya kali ini mereka benar-benar akan menghabiskan waktu bersama. Awalnya Dena ingin mengajak Dewi, namun, sahabatnya itu menolak dengan alasan tidak ingin menganggu waktu mereka. Begitu juga dengan Fairel yang akhir-akhir ini sangat sibuk. Selain bekerja di cafe, sekarang pemuda itu juga sudah perlahan mulai belajar tentang bisnis. Ya, tawaran yang diberikan Wira waktu lalu diterima olehnya.


Dengan langsung cepat Dena berlari menuruni anak tangga hingga kini ia sudah berada di lantai bawah. Gadis itu juga berlari keluar, di mana papanya sudah menunggunya sejak lima menit yang lalu.


"Selesai." ujar Dena dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Ayo!" seru Wira mengajak putrinya masuk ke dalam mobil yang berbeda dari biasanya. Mobil yang biasa ia kenakan untuk pergi ke kantor kini sudah rusak parah akibat kecelakaan itu. Dan sekarang ia sudah menggantinya dengan yang baru dan dengan warna yang berbeda.


"Mau makan dulu atau langsung main?" tanya Wira sambil fokus menyetir mobilnya.


"Belanja." bukannya memilih salah satu di antaranya, Dena malah mengatakan pilihan yang tidak di daftar yang papanya sebutkan.


Wira hanya menggeleng. Ia pun memacu mobilnya membelah jalanan yang lumayan padat karena hari ini weekend.


Sekitar 45 menit berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah mall. Wira segera memarkirkan mobilnya dengan rapi. Keduanya pun langsung turun dan berjalan masuk ke dalam mall tersebut.


"Abis belanja baru kita ke play ground." Dena menganggukkan kepalanya antusias. Ia berlari pelan menuju sebuah pusat toko perbelanjaan pakaian.


Gadis itu benar-benar antusias dalam memilih pakaian untuknya.


"Pa, Pa, ini cocok gak?" tanya Dena sambil menyesuaikan baju ke depan tubuhnya.


Wira hanya menganggukkan kepalanya.


"Pa, kalo yang ini?" Dena kembali menunjukkan satu set pakaian khas remaja kepada papanya.


"Hummm..." Wira hanya berdehem. Dena tidak memperdulikan respon papanya itu. Jujur, kalau setiap ia mengajak sang papa berbelanja pakaian, responnya selalu sama. Alasan yang pria itu berikan adalah cocok. Semuanya cocok dan pas di badan Dena.


Setelah 20 menit memilih, akhirnya Dena mendapatkan 4 pasang pakaian untuk dirinya, dan Dena juga memilih 2 set pakaian untuk Dewi. Ya, anggap saja ini adalah hadiah darinya karena Dewi selalu membantunya.


"Kita ke sana!" tunjuk Dena ke seberang toko pakaian laki-laki setelah mereka membayar belanjaan Dena tadi. Wira bagaikan bodyguard yang selalu berdiri di dekat putrinya.


Kebiasaan Dena yang habis berbelanja keperluannya adalah memilihkan pakaian untuk sang papa. Karena menurut Dena, papanya itu adalah tipe pria yang malas jika urusan memilih pakaian. Semua pakaian Wira selalu Dena yang memilihkan. Dan Wira hanya manggut saja jika disodorkan pakaian oleh putrinya.

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam toko tersebut, Dena langsung berjalan cepat menuju jejeran baju kemeja. Ia mengambil satu kemeja putih polos dan langsung menyodorkannya kepada papanya, lebih tepatnya ia sendiri yang meneliti apakah kemeja tersebut cocok ataukah tidak.


"Gak cocok." ucap Dena setelah dua kali memberikan kemeja yang berbeda.


"Nah! Ini aja pas."


"Pa." panggil Dena membuat Wira menundukkan kepalanya menatap putrinya yang berada jauh di bawahnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Wira.


"Emmm... itu..." Dena menundukkan kepalanya serta ujung kedua jari telunjuknya saling bersentuhan. "Dena boleh gak pilihin satu set pakaian buat..."


"Buat?" ulang Wira.


"Itu, Pa." balas Dena bingung mau berkata.


Wira yang melihat itu langsung peka. Karena berdasarkan pengamatannya, akhir-akhir putrinya itu dekat dengan Fairel. "Ya udah, ambil aja."


"Serius?" Dena menatap papanya terkejut.


"Iya. Bilang aja itu hadiah dari papa." Wira mengacak pelan rambut putrinya.


Wira yang melihat putrinya bersemangat seperti itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Capek?" tanya Wira menyeka keringat di dahi putrinya. Sehabis mereka berbelanja, keduanya langsung bermain di play ground yang masih terletak di lantai yang sama.


Dena menganggukkan kepalanya lesu. Jujur, tenaganya sudah terkuras cukup banyak. Ia meneguk minuman botol di tangannya hingga habis tidak tersisa.


"Pa, Dena laper." adu Dena sambil memegang perutnya yang keroncongan.


Wira berdehem sambil berpikir di mana mereka akan makan siang. "Papa tau."


โ€ขโ€ขโ€ข


Wira membelokkan mobilnya di sebuah restoran cepat saji. Ia menolah ke samping, melihat putrinya yang mengamati tempat itu.


"Ayo, Sayang!" ajak Wira setelah membuka sabuk pengamannya.

__ADS_1


Pria itu langsung turun dan dengan cepat mengitari mobilnya untuk membukakan pintu kepada sang putri.


"Thankyou, Papa." ucap Dena merasa diratukan.


"Sama-sama, Sayang."


"Mau makan apa?" tanya Wira setelah memilih meja untuk mereka tempati.


"Ini aja." Dena menunjukkan KFC dengan paket lengkap nasi.


Wira segera memanggil pelayan di restoran tersebut. Setelah mencatat menu pesanan keduanya, pelayan itu langsung pergi.


"Pa, itu bukannya tante Jihan ya?" tanya Dena sambil menunjukkan meja di pojok.


Wira langsung mengikuti arah pandang putrinya. Ia juga melihat hal yang sama dengan apa yang Dena lihat. Penglihatan Dena tidak salah lagi. Ya memang itu Jihan. Dan Wira juga tau kalau pria di hadapannya itu adalah pria yang sama dengan yang Jihan ceritakan.


"Tante Jihan sama siapa, Pa?" tanya Dena begitu penasaran.


Wira menggerakkan tangannya meminta agar putrinya mendekat. Dena langsung mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah papanya. "Itu ayah dari bayi yang tante Jihan kandung." bisik Wira jujur.


"Serius?" Dena benar-benar terkejut dibuatnya.


"Iya." jawab Wira berbisik pelan.


"Dena kayak pernah liat loh, Pa. Itu bukannya cowok yang waktu itu ngobrol sama Kak Cahya?" bisik Dena membuat Wira terdiam. Wira mengingat waktu lalu, memang ia melihat Cahya mengobrol dengan seorang pria. Namun, Wira tidak tau bagaimana wajah pria tersebut.


"Kamu serius? Gak salah liat kan? " tanya Wira kembali berbisik.


"Mata Dena itu tajam ya, dan Dena juga masih muda. Jadi, gak gampang lupa kayak papa." sindir Dena membuat Papanya menatapnya tajam.


"Sembarangan ngehina orang tua sendiri. Mau papa sita semua kartu atm kamu?" ancam Wira membuat putrinya langsung bertekuk lutut. Buktinya Dena langsung meminta maaf dan menyengir.


"Papa ih! Tapi, beneran loh, Pa. Dena gak boong. Kalo bener itu cowok yang sama, Dena jadi kasian sama kak Cahya kalau mereka ada hubungan." apa yang Dena pikirkan kini malah sama dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Memang, hubungan batin antara anak dan ayah itu tidak bisa diragukan lagi.


.


.

__ADS_1


.


sita aja om kartu ATM dena ๐Ÿคฃ


__ADS_2