Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 46


__ADS_3

Malam harinya Dena mengajak Papanya dan Cahya untuk bersantai di luar villa. Setelah tadi siang Cahya juga berusaha memberikan sedikit nasehat kepada bosnya dan akhirnya berhasil.


Asap mengepul dan di atas tungku pembakaranitu terdapat jagung di atasnya. Dena dengan setia mengipasi jagung itu hingga benar-benar matang. Sementara Wira tampak memainkan alat musik gitar, ya rupanya duda beranak satu itu sangat pandai dalam bermain gitar. Tidak disangka bukan?


Cahya? Wanita itu ikut membantu Dena, menyiapkan wadahnya dan sesekali bergantian mengipasi jagung yang dibakar saat Dena merasakan pegal.


Tiba-tiba Wira berhenti bermain gitar dan meletakkan gitar itu di samping kursinya.


"Lusa kita pulang ya?" ucap Wira. Dena langsung menghentikan pergerakannya dan meminta Cahya untuk melanjutkan mengipasi jagung.


"Cepet banget, Pa?" tanya Dena dengan sedikit ketidakrelaan kalau mereka pulang cepat.


"Mau ke kampung Kakek. Sekalian tangung udah di sini."


Iya, memang mereka pergi berlibur di pulau Kalimantan dan di provinsi yang sama dengan kampung Kakeknya.


Mata Dena langsung berbinar terang. Dia sampai speechless. Senyumnya langsung melebar dan tanpa aba-aba gadis itu langsung memeluk lengan Papanya.


"Seneng banget? Ada apa nih?" tanya Wira menggoda putrinya.


Sontak Dena tersenyum menyengir sambil menatap wajah Papanya.


"Gak pa-pa. Dena cuman kangen sama Kakek aja, Pa."


"Beneran cuma kangen sama Kakek? Atau ada sesuatu?"


"Sesuatu apa? Papa ihh!" ujar Dena manyun.

__ADS_1


Sementara itu Cahya tampak terdiam, tangannya terus bergerak mengupasi panggangan, namun, pikirannya entah ke mana. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau Dena memanggilnya.


"Kak!" sentak Dena membuat Cahya tersadar.


"Kenapa, Dek?"


"Kakak melamun? Mikirin apa?" tanya Dena penasaran.


"Nggak kok, gak mikirin apa-apa. Oh ya, lusa Kakak langsung pulang aja ya? Kamu kan mau ke tempat Kakek dulu."


"Kok gitu, Kak? Kakak harus ikut lah!" Dena merengut lantaran Cahya mengatakan dirinya akan pulang tanpa ikut bersama Dena dan Papanya ke kampung Kakek.


"Kakak gak enak, Dek. Lagian nanti pasti ganggu kalau di sana." jelas Cahya memberi alasan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Begitu sampai di kampung halaman sang Kakek, Dena sudah merentangkan tangannya lebar sambil menghirup udara desa yang begitu sejuk dan segar.


Setelah melalui beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga. Wira tampak kerepotan memegang dua koper dan satu tas milik Cahya. Putrinya itu sungguh cerewet memintanya sekaligus membawakan barang milik Cahya. Katanya sebagai laki-laki itu harus bertanggungjawab.


"ASSALAMU'ALAIKUM, KAKEK!!!" teriak Dena di ambang pintu. Bahkan dia sampai mendapat teguran dari Papanya. Namun, gadis itu tidak menggubrisnya sama sekali. Dia terus berteriak sambil mengucap salam.


Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki paruh baya dengan rambutnya yang terdapat uban.


"Wa'alaikumsalam. Eleh elehh, cucu Kakek ini beneran?" Kakek Hari sampai mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Iya dong." balas Dena dengan khasnya sambil merentangkan kedua tangannya lagi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, cucu kakek datang juga." balas Kakek lalu menyambut pelukan cucunya dan beberapa menit kemudian melepaskannya.


"Pa. Assalamu'alaikum, Pa. Maaf Wira baru sempat jenguk Papa. Papa sehat?"


Wira langsung mendekat, mencium punggung tangan ayahanda tercinta dan langsung memeluknya erat.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah Papa sehat. Iya, gak pa-pa. Kamu pasti sibuk di sana." balas Kakek sambil menepuk-nepuk pelan punggung kekar itu. Putra satu-satunya yang kini sudah sukses.


Wira melepaskan pelukan dan menatap lama wajah ayahnya. Tampak jelas sekali keriput yang menemani laki-laki paruh baya itu.


"Dateng kok gak bilang? Tau gitu Kakek bisa masak banyak buat kalian. Oh ya, ini siapa?" tanya Kakek baru sadar ada wanita asing yang berdiri di belakang mereka. Dan Dena pun bahkan hampir saja lupa.


"Karyawan Wira di kantor, Pa, sekaligus teman Dena." jelas Wira membuat Kakek Hari mengangguk-angguk.


Cahya berdiri canggung berada di tengah-tengah keluarga kecil itu. "Assalamu'alaikum, Cahya, Kek." ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Kakek Hari.


"Wa'alaikumsalam, iya. Semoga betah ya di sini."


"Eh! Ayo masuk duli. Kalian pasti capek. Oh ya, di sini kamar cuma ada dua. Nanti Dena biar sama Cahya."


"Iya, Kek. Ayo, Kak, kita ke kamar, istirahat dulu. Besok baru Dena ajak jalan-jalan bareng Kakek sama Papa." tiba-tiba gadis itu menarik tangan Cahya pelan. Cahya pun hanya tersenyum paksa lalu pamit sopan.


.


.


.

__ADS_1


maaf ya kalo alurnya sedikit berantakan, soalnya otakku juga udah berantakan ๐Ÿ˜‚


__ADS_2