Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 74


__ADS_3

Kabar tentang Wira yang mengalami kecelakaan langsung tersebar di penjuru kantor. Banyak karyawannya yang menjenguknya yang dirawat di rumah sakit.


Pagi hari sekali Dena juga sudah pulang karena ia harus masuk sekolah. Awalnya Dena ingin meminta izin kepada gurunya untuk absen hari ini. Tapi, sang papa menolak. Ya, hubungan antara anak dan papa itu lumayan membaik meskipun sifat Dena yang masih sedikit cuek.


Semalam saat ia mendengar kabar tentang papanya yang kecelakaan, Dena langsung bertandang ke rumah sakit saat itu juga. Bahkan ia sampai bermalam di rumah sakit. Semalaman itu juga papanya tidak sadarkan diri, dan terbangun saat dini hari. Dena yang melihat itu langsung lega. Namun, ada secuil hatinya yang masih kesal kepada sang papa. Ya biar bagaimana pun juga papanya itu sungguh tidak peka.


Sepulang sekolah, Dena langsung berganti pakaian. Bahkan ia tidak sempat untuk makan siang karena pikirannya hanya tertuju kepada sang papa. Kali ini Dena pergi sendirian diantar oleh Pak Haryo. Dewi dan Fairel yang mendengar kabar itu cukup terkejut. Dan mereka bahkan meminta untuk ikut bersama Dena. Namun, Dena langsung menolak. Katanya tidak ingin menggangu pekerjaan keduanya. Alhasil mereka memutuskan untuk menjenguk di malam hari saja.


Luka yang dialami Wira lumayan parah. Wira mengalami keretakan tulang di bagian bahunya serta kaki yang memar karena terjepit pintu mobil. Semalam saat perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju kencang dan langsung menabraknya. Mobilnya terseret lumayan jauh.


Dan setelah ditangani oleh pihak polisi, katanya si pengemudi truk tersebut dalam keadaan mabuk.


Di ruangannya terdapat buah-buahan serta bunga pemberian karyawannya yang menjenguknya tadi pagi. Mereka hanya bisa mendoakan kalau bosnya itu segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.


Kali ini Dena tidak sendirian dalam menjaga papanya karena sudah ada Jihan yang sedari pagi berada di ruangan tersebut.


Dena yang diajak mengobrol hanya bisa menyahut sebisa mungkin karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Dena masih tidak bisa percaya kalau papanya sudah melangkah begitu jauh. Jujur, Dena sangat kecewa. Ia hanya bisa menyembunyikan perasaannya itu.


"Dena, mau ini, Sayang?" tawar Jihan sembari menyodorkan potongan apel di dalam piring kecil.


Dena hanya menggelengkan kepalanya menolak. Sesaat ia terdiam.


"Papa harus nikahin Tante Jihan secepatnya." seru Dena buka suara.


Perkataan Dena barusan membuat Wira tersedak liurnya sendiri. Dan Jihan, wanita itu juga membelalakkan matanya kaget.


"Why?" tanya Dena yang bingung melihat respon keduanya. Di pikirannya, bukankah keduanya saling mencintai? Hingga tanpa sadar sudah ada buah hati di dalam kandungan Jihan.


"Kamu ngomong apa?" tanya Wira setelah menormalkan keterkejutannya.


Dena mengangkat sebelah alisnya ke atas. "Dena bilang, papa harus segera nikahin Tante Jihan." ulang Dena yang merasa gemas.


Bukannya menjawab, Wira malah melirik Jihan. Keduanya saling bertatapan dengan pandangan yang entahlah Dena sangat bingung itu. Memang urusan orang dewasa itu sangat ribet. Banyak sekali pertanyaan yang jawabannya tidak ada. Mereka hanya berputar di roda yang sama.


"Begini, Sayang... kami, Tante sama papa kamu udah mutusin kalau gak ada yang namanya cinta sesama orang dewasa." sahut Jihan yang menjelaskan.


"Maksudnya?" kali ini Dena benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran orang dewasa.

__ADS_1


"Papa gak bisa nikahin Tante Jihan."


"Kok?" sentak Dena kaget. "Papa mau lari dari tanggung jawab papa?"


Kedua kalinya Wira melirik Jihan. Dena yang melihatnya hanya mampu memutar otak.


"Tanggung jawab apa?" bukannya menjelaskan, Wira malah membuat sang putri berada di lingkaran bulat yang menyebalkan. Bukannya mendapat jawaban, malah mendapat pertanyaan.


"Tante Jihan hamil kan? Dan itu anak papa." tebak Dena.


"Pfttt!!"


"Eh! Maaf, maaf." Wira tidak bisa lagi menahan tawanya. Jadi, penyebab Dena marah gara-gara ini? Pikirnya. Pantas saja waktu lalu Dena berkata yang mengangkut pautkan kepada mendiang mamanya.


"Dena pikir, selama ini papa sangat mencintai mendiang mama."


Wira masih mengingat percakapan Dena waktu lalu. Pantas saja.


"Kok ketawa?!" cetus Dena merasa sebal.


"Dari semenjak papa mengenal Tante Jihan, papa sama sekali gak pernah menyentuhnya apalagi berbuat yang macam-macam. Dan bayi yang dikandungnya itu bukan anak papa. Papa sama tante Jihan udah mendiskusikan ini. Kami sepakat untuk tidak menikah karena nyatanya gak ada cinta diantara kami berdua. Papa cuma sayang kepada tante Jihan dan menganggapnya sebagai adik. Cinta dan sayang papa hanya sebatas kakak kepada adiknya. Begitu juga dengan Tante Jihan."


Nafas Dena langsung tercekat. Jadi, selama ini ia hanya salah paham? "K-kenapa gak dari awal papa jelasin?" tanya Dena bergetar.


"Papa kan emang mau jelasin. Kamunya aja yang ngambekan. Jadi, sekarang masih ngambek?" goda Wira menatap putrinya dengan kerlingan matanya.


Dena langsung mendengus dan memalingkan wajahnya ke samping.


Tiba-tiba terbesit satu pertanyaan yang kini membuat Dena penasaran. Ia memandang Jihan dengan penuh harap. "Jadi, ayah dari bayi yang tante Jihan kandung siapa?" tanya Dena begitu penasaran.


Jihan terdiam dengan kepala menunduk. Jujur, ia sangat tidak suka dengan situasi ini. Di mana ia ragu untuk mengatakan siapa ayah dari bayi yang ia kandung sekarang.


"Sayang, mau kan bantu tante Jihan? Kamu cukup bantu jagain bayinya aja dan papa yang akan bantu cari siapa ayahnya. Paham, Sayang?" Wira berusaha mengalihkan pembicaraan agar Jihan nyaman dengan situasi sekarang.


Dengan antusias Dena menganggukkan kepalanya. "Oke, Pa." mendengar itu membuat Jihan bisa bernafas lega. Ia memandang Wira dengan tatapan mata seakan berkata terima kasih. Wira yang melihat itu menganggukkan kepalanya.


"Jadi, Dena bakal punya adek?" tanya Dena antusias.

__ADS_1


"Ya. Sekarang kamu adalah calon kakak. Ayo kita bantu Tante Jihan."


"Ayo!" pekik Dena antusias. Bahkan ia tertawa lepas. Sekarang, hati yang sempat kusut itu kembali lurus. Dena merasakan lega di hatinya. Bersyukur kalau papanya tidak salah mengambil keputusan.


Dena lebih memilih diam tentang kehamilan Jihan. Meskipun banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan. Tapi, Dena kembali berpikir. Bukankah tidak seharusnya ia ikut campur urusan orang dewasa?


•••


"Pa, Dena masih penasaran sama tante Jihan." lirih Dena yang berbaring di samping papanya. Ranjang yang berukuran lumayan lebar itu cukup untuk Dena menyempil. Satu tangannya memeluk tubuh kelar papanya. Tidak terlalu erat, karena mengingat bahu papanya masih dalam tahap penyembuhan.


"Udah, gak usah kepo. Urusan orang dewasa susah. Mending kamu pulang aja, besok kan harus sekolah." ujar sang papa menolehkan kepalanya.


"Ih! Dari tadi disuruh pulang mulu." balas Dena cemberut.


"Loh! Kan emang gitu. Ini udah mau malam. Mending kamu pulang, istirahat kerjain pr. Pr nya ada nggak?" tanya Wira menyadarkan Dena. Buktinya gadis itu langsung melebarkan bola matanya.


Ia melirik takut ke arah papanya. "Ada, hehe. B-besok mau dikumpulin." sahut Dena menyengir.


"Tuh kan! Pulang ya? Ke sininya besok aja sepulang sekolah."


"Tapi, siapa yang bakal jagain papa? Tante Jihan aja udah pulang. Trus juga eh, tadi katanya Dewi sama Fairel mau ke sini. Tapi, enggak jadi. Mereka bilang ada urusan mendadak."


"Gak papa. Bilang ke mereka, santai aja. Lagian papa bentar lagi sembuh kok. Cuma nih bahu yang lama sembuhnya."


"Dena pengen di sini." rengek gadis itu menunjukkan wajah manisnya.


"Gak mempan, gak mempan. Pulang sana. Telfon dulu Pak Haryo, suruh dia jemput kamu."


"Papa ihhhh!!!" Dena merengek begitu papanya tidak memperbolehkannya menginap di rumah sakit. Akhirnya ia hanya pasrah saja.


.


.


.


jangan salah paham dulu sama papa Wira🥰Papa Wira orangnya setia kok🤣tuh aja udah dijelasin 😁😁

__ADS_1


__ADS_2