Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 62


__ADS_3

Langkah kaki Dena terus maju ke depan membuat punggung Fairel benar-benar mentok ke dinding. Matanya cukup was-was saat melihat tingkah Dena yang begitu berani masuk ke kawasan toilet. Ya walaupun toilet umum, tapi, Dena benar-benar berani.


"Lo kenapa, Rel?" tanya Dena dengan lirih. Jarak keduanya begitu dekat hingga Dena dapat merasakan hembusan kasar nafas Fairel.


"E-enggak." balas Fairel terbata. Ia sampai menahan nafasnya sejenak karena gugup.


"Semenjak lo pindah ke Jakarta, gue ngerasa lo berbeda, Rel. Lo berbeda, bukan Arel yang dulu suka jail trus receh. Lo sebenarnya kenapa, Rel? Ada masalah? Trus juga beberapa hari yang lalu pas gue pulang sekolah. Pas gue dateng, lo langsung pergi. Gak ada nyapa-nyapa gue. Gue ada salah sama lo?" keluarlah sudah uneg-uneg Dena yang selama ini ia pendam. Tentang kenapa sifat Fairel belakangan ini sangat berbeda dengan Fairel yang dulu ia kenal. Fairel yang suka jail dan receh.


Nafas Fairel langsung tercekat. Rupanya tingkahnya belakangan ini disadari oleh Dena. Fairel memalingkan wajahnya ke samping dan membuang nafas kasar lalu kembali meluruskan pandangannya, menatap manik mata Dena yang saat ini tidak lepas darinya.


"Gue rasa ini semua gak ada sangkut pautnya sama lo. Dan gue harap kita jangan terlalu dekat."


"Tapi, apa masalahnya, Rel? Lo gak mau temenan sama gue lagi? Kenapa?" lirih Dena serasa sesak saat Fairel berkata demikian.


Fairel memalingkan wajahnya ke samping, memutuskan kontak mata mereka begitu saja. "Gak ada masalah sama sekali. Gue cuma pengen gitu aja. Memang seharusnya kita gak boleh terlalu dekat kan? Lo dan gue... itu berbeda. Harusnya lo ngerti, Na."


"Berbeda? Beda dari mananya, Rel? Sekarang gue tanya. Apa yang bikin lo berpikir kalau kita berbeda? Tatap gue, Rel. Tatap mata gue!" tekan Dena sekali lagi meminta Fairel untuk menatap matanya.


Pertanyaan yang sebenarnya cukup mudah untuk dijawab, namun, terasa sulit bagi Fairel. Sebenarnya ia kenapa? Ada apa?


Fairel pun menatap manik mata Dena yang memancarkan sebuah kekecewaan. Mungkinkah Dena kecewa terhadap ucapannya tadi? Ingatkan Fairel bahwa ucapannya itu hanyalah ucapan biasa.


"Dengerin, Na. Gue sadar, dan seharusnya lo lebih sadar akan hal ini. Gue ke Jakarta dan tinggal di sini itu berkat papa lo. Dan gue gak mau ngecewain beliau. Gue juga gak mau dibilang serakah, Na. Harusnya lo sadar dari awal kalau pertemanan kita itu hanya sia-sia. Gue gak mau dicap sebagai orang yang gak tau berterima kasih. Gue di sini udah bersyukur banget, bisa dibiayain sekolah sama papa lo, bisa dicariin tempat tinggal yang layak, dan bahkan gue dicariin lowongan pekerjaan."


"Gak seharusnya gue berteman sama lo. Apalagi status lo sebagai anak dari Om Wira. Orang yang sangat berarti buat gue."


Kali ini Fairel lah yang mengeluarkan uneg-unegnya. Tentang alasannya menghindari Dena. Tentang semua hal yang bersangkutan dengan Dena. Ia berharap semoga keputusannya ini sudah tepat.


"Siapa yang bilang kalo lo orang yang gak tau berterima kasih? Siapa?" tanya Dena dengan lantang.


"Lo gak perlu tau itu siapa." potong Fairel.


"Dengan sikap lo kayak gini malah bikin lo sebagai orang yang gak tau berterima kasih? Bukankah gue ini anak papa Wira yang lo barusan lo bilang sebagai orang yang sangat berarti di kehidupan lo? Cara lo salah dengan menghindar. Harusnya lo berpikir gimana caranya buat jadi orang yang bisa membalas jasa-jasa orang yang udah ngebantu elo."


"Cara lo salah besar, Rel. Coba deh lo pikir!" balas Dena tak mau kalah.


Fairel terdiam sejenak. Sesaat kemudian ia menatap Dena. "Gue emang salah. Harusnya gue bisa bikin Om Wira bangga. Dan harusnya gue ngejagain lo sebagai bentuk balas budi dari jasa-jasa yang telah Om Wira kasih."

__ADS_1


Mendengar itu membuat Dena terdiam. Apakah benar hanya sebagai bentuk balas budi dari jasa-jasa papanya? Jawaban Fairel sangat jauh dari ekspektasinya. Dena hanya mampu tersenyum saja, berusaha menutupi kekecewaan hatinya. Mungkin memang seperti ini caranya agar bisa berdekatan dengan Fairel. Ya, mungkin?


"Nice! Gue harap lo bisa ubah pemikiran lo barusan." balas Dena.


Keadaan yang awalnya memanas pun bisa mencair dengan Dena yang harus merelakan apa yang ada di pikirannya. Berpikir kalau Fairel dekat dengannya benar-benar tulus tanpa adanya nama orang lain yang sebagai alasan kedekatan mereka.


"Sama satu lagi. Gue cuma pengen nanya, kenapa tadi lo langsung pergi? Padahal kan gue belum ngasih komentar tentang racikan kopi elo." tanya Dena mengubah topik pembicaraan agar Fairel tidak terjebak dengan pembicaraan tadi.


Mendengar itu langsung membuat Fairel kembali kalang kabut. Alasan apa yang harus ia berikan kepada Dena. Tiba-tiba ide di kepalanya langsung muncul membuat Fairel sedikit tenang.


"Gue kebelet." jawab Fairel sembari menyugar sisi rambut sebelah kanannya ke belakang.


Mata Dena langsung menyipit. Alasan Fairel sangatlah jauh dari ekspektasinya. Kebelet? Apa bukan cemburu?


"Owh." Dena hanya ber'oh iya saja dari pada urusannya nanti memanjang.


"Soal yang lo denger tadi--"


"Gak gak denger apa-apa." sela Fairel cepat.


"Masa? Kalo lo gak denger apa-apa, gak harus motong perkataan gue kan?" kali ini mata Dena menyipit, menginterogasi Fairel.


"Gue udah jawab kok."


"Lo jawab apa?" ujar Fairel spontan. Sesaat ia menyadari perkataannya. Fairel menutup mulutnya rapat disertai mata tertutup. Menandakan bahwa dirinya berbohong dengan perkataannya tadi.


Bibir Dena berkedut. Ia menatap Fairel dengan tatapan menyebalkan. "Kalo lo gak denger apa-apa. Kenapa lo bisa tau?"


Fairel langsung membuka kedua matanya, namun, masih saja menghindari kontak mata dengan Dena. "Gue gak sengaja denger." jawabnya.


"Owh. Bilang aja kalo lo denger. Pake bilang gak denger apa-apa segala. Keliatan banget tau gak!"


"Haa? Apanya yang keliatan?" tanya Fairel sudah was-was. Takut kalau Dena mengetahuinya cemburu? Ataukah lainnya?


Dena menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa." Dena mundur ke belakang, memberi jarak yang lumayan jauh di antara mereka.


"Gue ke depan dulu. Lo jangan lama-lama di sini, ingat, lo itu barista. Tuh pelanggan pada ngomel." tutur Dena sebelum akhirnya meninggalkan Fairel sendirian di toilet.

__ADS_1


Selepas kepergian Dena, Fairel sangat merutuki bibirnya yang asal ceplos. Jadinya ia sangat malu.


Sedangkan Dena yang dalam perjalanan kembali ke mejanya hanya tersenyum menyungging. Tingkah Fairel yang kalang kabut justru membuatnya harus keceplosan. Tentang jawaban ungkapan Ridwan tadi, sebenarnya Dena menolaknya. Ia hanya ingin menguji Fairel saja.


Flashback on


"Kamu mau gak jadi pacar aku, Na?" ucap Ridwan membuat penghuni di meja nomor lima itu langsung terbelalak dan reflek menyemburkan kopi dari mulutnya.


Byurrr


Kali ini si Roni lah yang menyemburkan airnya. Membuat wajah Yoan langsung basah seketika. Dan saat itu juga kebetulan Fairel sudah melarikan diri. Membuat Dena kepikiran dan ingin sekali cepat menjawab ungkapan Ridwan.


"Ish! Lo jorok banget sih, Ron. Jijik gue... " ringis Yoan sambil mengelap wajahnya menggunakan tisu yang tersedia di meja mereka.


"S-sorry, Yo. Gue gak salah denger kan? Si Ridwan lagi kena angin apaan dah!?" balas Roni meminta maaf.


Yoan tidak membalas, ia tampak menahan kekesalannya akibat perbuatan Roni barusan. Alhasil wajahnya terkena semburan air dari dalam mulut Roni. Sangat menjijikkan!


Sedangkan Dewi yang berada di samping Dena langsung terbelalak kaget. Tidak menyangka kalau Ridwan sangat blak-blakan.


Sementara Dena? Ia yang sudah kebal terhadap ucapan itu hanya tertawa renyah.


"Hahaha... Bang, kalo becanda jangan kelewatan." sahut Dena sembari tertawa renyah.


"Gue gak becanda, Na. Tatap wajah aku! Apa aku becanda?" Dena menatap wajah Ridwan yang tampak tidak seperti bercanda. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Nah kan! Aku gak becanda, Na. Kamu mau gak jadi pacar aku?" ulang Ridwa akan ungkapannya.


Kali ini Dena berhenti tertawa. Ia tersenyum menyengir. Bingung mau mulai dari mana. "Maaf, Bang. Aku cuma anggap Abang sebagai teman aja dan sebagai kakak. Jadi, maaf sekali lagi. Aku harap dengan jawabanku ini Abang bisa ngerti, bahwa bukan aku satu-satunya cewek yang ada di sini. Masih banyak cewek yang mau sama Abang, Dewi juga ada kok, Bang. Kalau mau silahkan, tapi, jangan sampai nyakitin dia."


"Aku pamit ke toilet dulu, semuanya. Bentar kok." saat itu juga Dena langsung meninggalkan teman-temannya.


Flashback off


.


.

__ADS_1


.


maaf ya baru bisa up. Kemarin bablas selonjoran sampai lupa mau up😅pas malamnya mau up eh malah mata yg ga bisa diajak kompromi alhasil milih tidur aja soalnya akhir² ini mataku suka merem🤭🤭


__ADS_2