Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 96


__ADS_3

"Arel!!!" sentak Dena terkejut begitu tangan yang menutup mulutnya terlepas. Pelakunya adalah Fairel. Gadis itu berusaha melepaskan cekalan erat tangan Fairel.


Ingatkan Dena kalau sekarang dia masih dalam mode marah. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya saat tau bahwa yang menariknya ke belakang gorden hingga tidak ada sedikit pun cahaya yang menyelinap masuk. Hanya ada bayang-bayang cahaya saja yang menyilau. Lalu, kenapa Dena bisa tau bahwa itu Fairel? Jelas dia tau karena Dena sangat hafal wangi tubuh Fairel.


"Lepas!" Dena menggerakkan pergelangan tangannya dengan gerakan memutar.


"Enggak!" ujar Fairel dengan nada menekan. Membuat Dena merasakan aura berbeda dari pemuda itu.


"Kalo lo gak mau lepasin, gue bakal teriak!" ancam Dena menatap Fairel tajam. Namun, respon pemuda itu hanya santai, seakan-akan omongan Dena hanya angin lalu.


"Coba aja." tantang Fairel.


"Lo nantangin? Oke! Gue bakal teriak sekarang juga."


"Silahkan." balas Fairel santai.


"Tolo...hmppttt..."


Fairel langsung menarik pinggang Dena dengan sebelah tangannya tanpa mau melepaskan cekalan tangan Dena. Karena gemas, pemuda itu langsung membungkam Dena dengan bibirnya. Membuat sepasang bola mata indah itu melotot terkejut.


Karena terkejut membuat tubuh Dena mematung, dia bagaikan patung yang dipajang di toko-toko pakaian. Dena merasa ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat tidak ingin dia rasakan.


Melihat keterdiaman Dena membuat Fairel bertindak lebih. Awalnya ia hanya ingin menempelkan bibirnya saja sebagai bungkaman untuk Dena. Namun, saat mengingat gadis itu yang tampak akrab dengan laki-laki lain membuat hatinya panas. Apalagi tadi, apa-apaan Dena dirangkul dengan mudahnya. Apakah Fairel cemburu sekarang?


Fairel mengabaikan satu pasang mata yang menatapnya dengan bola mata membesar. Fairel memejamkan matanya. Sejenak dia terdiam sambil meresapi dan mengingat apa yang dia perbuat sekarang. Seakan-akan ada air mancur yang menyirami tubuhnya. Terasa sejuk dan tenang.


Setelah terdiam selama beberapa detik, Fairel mulai menggerakkan bibirnya perlahan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Fairel langsung melahap benda kenyal yang sedang ia cicipi sekarang. Ya, anggap saja Fairel sedang mencicip menu penutup acara ini.


Pergerakan Fairel membuat Dena terbuai akan kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. Katanya berubah menjadi teduh, tidak ada pancaran keterkejutan lagi. Untuk beberapa waktu kedepannya Dena terbuai akan rasa yang Fairel berikan.


Fairel mulai merasakan tubuh Dena melemah bagaikan jelly. Tubuh gadis itu tidak lagi menegang saat pertama kalinya. Fairel yang melihatnya pun melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Dena. Dia tau kalau saat ini Dena sudah pasrah dan sedikit terbuai.


Dena hanya bisa pasrah sekarang. Dia memang terbuai. Gadis itu membuka sedikit bibirnya saat merasakan gigitan kecil di bibir bawahnya. Fairel tidak sepolos itu!


Keduanya terlena dan tenggelam dalam balutan hangat. Entah apa yang ada di pikiran keduanya. Saat sudah sadar nanti, mungkin mereka akan saling canggung atau malah marahan.


Seakan tersadar, Dena langsung mendorong tubuh Fairel saat merasakan sesapaann pemuda itu semakin kuat dan berubah menjadi liar. Dena hanya takut kebablasan.

__ADS_1


Nafas keduanya terengah, kepala mereka menunduk. Fairel menatap wajah Dena dibalik cahaya remang-remang. Tanpa kata Dena mendorong tubuh Fairel dan langsung berlari meninggalkannya.


Fairel terdiam kaku sembari menyaksikan kepergian Dena. Tangannya telurur menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa basah akibat pertautan mereka tadi. Dia menyunggingkan bibirnya tersenyum. Tidak menunggu lama Fairel langsung keluar dari balik gorden itu untuk mencari keberadaan Dena.


•••


Fairel berlari menuju pelaminan yang sudah didekorasi sangat cantik. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Para tamu undangan sudah semakin sepi. Fairel melihat Wira yang saat itu tampak duduk di kursi bersama Cahya di sampingnya. Di kedua sisinya juga tampak ada Kakek Hari yang duduk sendirian dan di sisi satunya ada Alina dan sang suami yaitu ayah Cahya.


Fairel langsung menghampiri keduanya.


"Maaf, Om. Ada liat Dena gak?" tanya Fairel to the point.


Alis Wira terangkat ke atas. "Dena? Memangnya di belakang nggak ada?" tanya pria itu.


"Udah Fairel cari, Om. Tapi, Dena gak ada di sana."


Wira mulai cemas. Dan kecemasannya itu disadari oleh istrinya.


"Tadi kamu ketemu Dena?" sahut Cahya.


Cahya langsung tersenyum menatap Fairel. Wira yang melihatnya langsung melirik istrinya dengan tatapan protes. Seolah-olah tidak rela istrinya memberikan senyum kepada orang lain apalagi itu laki-laki.


"Coba kamu cari di sana." tunjuk Cahya di ujung panggung pelaminan. Di sana memanglah sedikit gelap karena memang tempatnya tidak dipakai.


"Oke. Makasih ya, Tante. Kalau gitu Fairel cari Dena dulu. Makasih juga, Om."


Cahya menganggukkan kepalanya. Berbeda dengan Wira yang tampak masam. Melihat itu membuat Cahya mengulum senyum. Sudah tua kenapa masih suka cemburu. Pikirnya.


"Nanti malam aku kasih hadiah." bisik wanita itu membuat Wira langsung sumringah. Ada-ada saja!


Sementara itu, Fairel tampak mengikuti perkataan Cahya tadi. Dia mencoba mencari di ujung panggung pelaminan, yang mana itu adalah penghubung menuju bagian samping rumah.


Fairel tersenyum saat melihat sosok gadis yang tampak duduk melamun di kursi kayu memanjang. Fairel mendekatinya langsung ikut duduk di sana.


Seakan menyadari bahwa ada orang yang datang, Dena menoleh. Matanya kembali lagi melotot.


Saat akan bangkit dan bersiap-siap untuk pergi, dengan cepat Fairel bergerak menarik tangan gadis itu sehingga membuat keseimbangan Dena limbung yang menyebabkan dirinya terjatuh di pangkuan Fairel.

__ADS_1


"Lepas!" gadis itu memberontak meminta untuk dilepaskan.


"Enggak. Tunggu sampai lo jawab pertanyaan gue."


"Nanya ya tinggal nanya. Ngapain pake acara tarik-tarikan segala." ketus Dena memalingkan wajahnya malu.


"Gak tau apa ya jantung gue gak aman gini!"


Tidak ingin membuat Dena semakin marah dengannya, Fairel langsung melepaskan Dena. Dengan syarat gadis itu tetap duduk di sampingnya. Dena pun hanya menurut saja.


"Lo marah?" tanya Fairel.


"Ngapain marah." sewot Dena.


"Nah! Itu marah."


"Enggak!"


"Iyadeh. Kalo gak marah kenapa ketus?"


"Gak tau!"


"Soal tadi... gue minta maaf. Gue khilaf, Na. Sorry."


Dena menyunggingkan bibirnya sebelah. Setidaknya dia tau sekarang bahwa perlakuan Fairel tadi adalah khilaf! Iya khilaf!


"Gue yang harusnya minta maaf. Gue terlalu bodohh hingga terlarut ke dalamnya."


"Na, gue gak ada maksud apa-apa. Gue cuma gak suka liat lo akrab dengan cowok lain."


"Apa masalahnya? Itu mantan-mantan gue."


Nyali Fairel langsung ciut.


Fairel tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Dena membuka suaranya. "Kalo gak ada pembicaraan lagi, mending lo pergi. Gue mau sendirian." usir gadis itu.


Fairel terdiam di tempatnya sambil berpikir kalimat apa yang akan dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2