
"Dengerin dulu penjelasannya. Kita gak bakalan tau cerita yang asli kalau enggak dengerin cerita yang sebenarnya dari orangnya langsung. Perlu lo tau, Na. Masalah orang dewasa itu belibet yang gak bakal ada ujungnya. Banyak anak remaja yang pengen cepet tumbuh dewasa, padahal mereka gak tau kehidupan orang dewasa itu gak semudah yang mereka pikir. Terlalu banyak teka-teki yang harus dipecahkan. Bahkan sekalipun jawabannya gak ditemukan. Susah, Na. Kita sebagai anak remaja harusnya berpikiran kritis tentang itu." nasehat Fairel saat sudah mendengar curhatan Dena. Gadis itu juga sudah mulai tenang setelah menumpahkan keluh kesahnya kepada Fairel.
Untuk menenangkan Dena, Fairel dan Dewi membawanya ke sebuah taman. Dena dan Fairel tampak duduk berdampingan sementara Dewi pergi membeli minuman untuk mereka. Entahlah, apa yang dipikirkan Dewi saat ini hingga ia llah keluar membeli minuman. Seharusnya yang menenangkan Dena adalah dirinya. Tapi, Dewi kembali berpikir. Mungkin saja Dena butuh teman curhat dari orang yang berbeda. Bahkan sampai saat ini pun Dewi belum juga kembali.
"Gue takut, Rel. Apa yang lo bilang barusan emang bener. Masalah orang dewasa itu susah buat dipahami. Gue bingung mau ngapain." lirih Dena menundukkan kepalanya.
"Nah! Sekarang gak usah dipikirin. Yang dipikirin tuh hari ini, kita udah rencanain hang out dari beberapa hari yang lalu. Masa batal gitu gara-gara lo cengeng." Dena langsung mengerucutkan bibirnya kala Fairel mengejeknya.
"Janji gak cengeng lagi?" ujar Fairel dibalas anggukan kepala oleh Dena dengan ragu.
"Ini Dewi ke mana sih? Perasaan udah lama deh dia keluar." sahut Fairel yang melihat sekelilingnya.
"Mungkin lagi ketemu sama pacarnya." balas Dena ngawur.
Kening Fairel langsung mengernyit. "Emang Dewi punya pacar?" tanya pemuda itu penasaran.
"Enggak tau." balas Dena dengan polos. Ia mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Rel." panggil Dena yah tiba-tiba ingin membicarakan hal yang cukup serius.
"Apa?" balas Fairel.
"Menurut lo gimana kalo nanti setelah lulus, gue lanjutin studi gue di luar negeri?" tanya Dena sambil mengusap-usap dagunya menggunakan jari telunjuknya.
Fairel sontak mengubah posisinya hingga ia duduk menyamping menghadap Dena. "Lo pengen lanjut di sana?" Fairel cukup terkejut mendengar apa yang Dena katakan barusan.
Dena menganggukkan kepalanya. "Iya. Gue udah kelas 12 kan ya. Bentar lagi ujian semester dan kayaknya gue perlu mikirin ini mateng-mateng. Menurut lo gimana?"
"Ekhemm..." Fairel berdehem singkat untuk meredakan kekeringan di tenggorokannya. "Oke-oke aja sih. Tapi, emangnya lo udah yakin 100 persen?"
"Iya kok. Gue pengen hidup mandiri. Gak lucu kan seorang Dena tuh manja mulu. Gue juga kepikiran, gue tuh kayak kelewat manja. Iya gak sih?" ujar Dena meminta saran dari Fairel.
"Tapi, gue lebih suka lo manja, Na." lirih Fairel nyaris tidak terdengar.
"Haaa? Lo ngomong apaan, Rel? Gue budeg keknya." serbu Dena yang seperti mendengar Fairel berkata.
Secepat mungkin Fairel menggelengkan kepalanya. "Gak ada, Na. Mungkin lo salah denger." sangkal pemuda itu cepat.
"Iya deh." balas Dena pasrah karena tidak puas dengan jawaban Fairel.
Disaat Fairel terdiam, disaat itulah tiba-tiba muncul ide di kepala Dena yang membuatnya tersenyum. Fairel yang melihat perubahan drastis ekspresi Dena langsung bergidik ngeri.
"Rel." panggil Dena.
"Dalem." bales Fairel.
__ADS_1
"Gue pengen ngomong." seru Dena dengan mantap.
"Ngomong aja." balas Fairel.
"Katanya, senyum sambil nafas tuh nggak bisa." ujar Dena membuat Fairel bertambah bingung dengan sikap Dena. Gadis itu bahkan meminta izin kepadanya untuk ngomong dengannya.
"Terus?" balas Fairel mencoba memutar otaknya yang tiba-tiba buntu.
"Coba deh." pinta Dena.
Fairel yang penasaran pun langsung mempraktekkan apa yang Dena katakan barusan. Ia menarik kedua ujung bibirnya ke atas sembari bernafas.
"Tuh kan manis banget." pekik Dena yang langsung tertawa membuat otak Fairel konek seketika. Ia bahkan sampai salah tingkah karena Dena yang menggombalinya. Jantungnya apakah aman? Fairel rasa tidak.
"Lo salah!" sahut Fairel setelah berhasil menormalkan detak jantungnya.
"Apanya yang salah?" sekarang kebalikannya Fairel lah yang membuat otaknya berputar.
"Salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah."
Blush
Dena menggigit pipi bagian dalamnya. Ia menahan senyum. Kenapa mereka jadi balas-balasan gombal begini?
"Lo nggak capek apa, Rel?" ujar Dena merasa skakmat.
"Lo nggak capek ganteng terus, Rel?"
"Hahahaa, udah ah, Rel. Gue sampe lupa tadi mau ngomong apaan." ya, awalnya yang ingin mengobrol serius eh malah bablas gombal.
"Ngomong apa?" tanya Fairel mengubah ekspresinya.
"Gak tau. Kayaknya udah lupa deh. Soalnya yang gue inget itu cuma lo."
"Na. Lo pengen digantung di atas tiang listrik gak?" Fairel yang salah tingkah tidak dapat lagi membendung semuanya hingga ia lebih memilih mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak tenggelam di obrolan yang sangat receh.
Dena lekas menggeleng cepat. "Enggak mau, Rel. Tiang listrik itu nyetrumnya ke saraf. Bisa-bisa gue lumpuh."
"Gak apa-apa kali, Na. Sekali-kali."
"Mati gue, Rel, trus lo makan ayam."
"Kalo kita mati bareng gimana?" gurau Fairel.
"Gak pa-pa. Gue ikhlas lahir batin." balas Dena menunjukkan ekspresi lucunya.
__ADS_1
"Kita pulang aja, Na. Gak jadi hang out." Fairel bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi. Namun, perkataan Dena justru membuatnya tidak tahan untuk tidak mengejar Dena.
"Maksudnya pulang bareng anak-anak ya, Rel."
"Nana!!" teriak Fairel langsung berlari mengejar Dena yang kini malah melarikan diri saat menyadari kalau Fairel akan mengamuk.
"Hahhaaa, becanda, Rel." tawa Dena pecah sembari ia berlari menghindari kejaran Fairel. Terjadilah aksi kejar-kejaran di sepanjang area taman yang dipenuhi oleh anak-anak remaja dan anak kecil.
â¢â¢â¢
"Sorry, Na. Gara-gara aku, kita jadi gak jadi hang out bertiga. Ini tuh semua gara-gara cowok resek itu." adu Dewi merasa bersalah karena perjanjian mereka dibatalkan. Jadilab Dena hanya berjalan-jalan bersama Fairel sementara Dewi malah tenggelam ditelan batu.
"Gak papa, Wi. Nikmati waktumu sekali-kali bareng cowok. Aku tau kamu pasti kesepian kan?" ledek Dena membuat bibir Dewi mengerucut sebal.
"Lagian aku juga gak sengaja nabrak dia sampe tuh minuman jatoh. Tapi, kenapa dia lebay banget sampe minta ganti rugi. Mana mau di ganti minumnya kagak mau, malah minta ganti rugi nemenin dia jalan-jalan." curhat Dewi ingin sekali menangis.
Dena menggerakkan kakinya ke kanan dan ke kiri. "Mungkin dia beneran serius, Wi. Coba aja buka hati." saran Dena langsung dibalas celengan kepala oleh Dewi.
"Aku gak mau patah hati, Na. Ntar malah nyesel karena udah nyia-nyiain waktuku yang lumayan berharga. Aku di sini tuh mau menimba ilmu, bukan malah nyari cowok."
"Terserah aja deh, Wi. Aku dukung semua keputusanmu."
"Pinter. Makanya jangan bawel. Oh ya, turun ke bawah yuk!"
Dena menggelengkan kepalanya. Jujur, ia masih sakit hati dengan sang papa. Sepulang dari luar tadi, Dena bahkan langsung masuk ke kamarnya. Ia juga tidak menemui keberadaan sang papa di rumah.
"Kamu belum makan. Ini udah malam, Na."
"Tau, Wi, ini malam. Tuh langit aja udah gelap."
Tok... tok... tok
"Makan malam sudah siap, Non."
"Nah! Tuh mungkin bibik manggil buat nyuruh makan malam. Ayok keluar!" Dewi bahkan menarik tangan Dena pelan.
"Ihhh! Gak mau, Wi. Duluan aja."
"Gak! Gak! Harus sekarang."
Dena harus pasrah saat ia ditarik menuju lantai bawah. Wajah Dena langsung menekuk saat sudah sampai di dapur, ia melihat papanya yang duduk anteng di kursi meja makan. Bahkan pria itu melambaikan tangannya meminta Dena untuk duduk di sampingnya. Dena memalingkan wajahnya, bahkan ia tidak menuruti permintaan sang papa yang memintanya untuk duduk di sampingnya. Dena bahkan duduk di kursi paling ujung, sangat berjauhan dengan kursi papanya.
.
.
__ADS_1
.
udah gombalnya neng? ð€£ð€£