
Kringgggggggggggg
Suara bel pertanda istirahat telah berbunyi nyaring memenuhi lingkungan sekolah dengan jangka waktu cukup panjang. Semua murid yang berada di kelasnya langsung berhamburan begitu guru yang mengajar meninggalkan kelas. Dena masih duduk sambil merapikan buku-bukunya lalu memasukkan ke dalam tas.
Tak
Pandangan Dena langsung terarah ke depan begitu mendengar suara benda yang bersentuhan dengan mejanya.
"King." sapa Dena melihat seorang pemuda yang berdiri tepat di depan mejanya dengan tangan yang memegang botol minuman.
"Hai, apa kabar?" tanya pemuda itu yang dipanggil King oleh Dena. Tepatnya namanya sih Kingafiqq yang biasa dipanggil King.
"Alhamdulillah, baik. Lo ngapain ke sini?" tanya Dena cukup gelisah.
"Salah ya gue jenguk MANTAN?" ujarnya penuh penekanan.
Dena hanya terkekeh kecil. Cukup menarik baginya. "Gak salah sih. Tapi, emangnya lo mau diinterogasi sama Papa gue? Emangnya kemaren gak kapok?" goda Dena tersenyum mengerling.
"Gak pa-pa lah. Kan sekarang kita udah gak ada hubungan. Kata Papa lo temenan gak pa-pa." balas Kingafiqq.
Ya, Kingafiqq adalah mantan Dena yang ketiga. Dan sampai sekarang Dena tengah menyandang status jomblo. Putusnya hubungan mereka ya biasa lah ya yang pastinya ada sangkut pautannya dengan Wira, sang Papa yang over posesif itu.
"Ya ya ya ya." Dena memutar bola matanya jengah.
Kingafiqq menyodorkan minuman yang ia simpan di meja tadi. "Buat lo."
Mata Dena memicing. Menatap mantan ketiga itu penuh curiga.
__ADS_1
"Jangan su'udzon gitu lah. Aman ini kok, nih buktinya masih bersegel. Mau sekalian gue bukain gak?" ucapnya lalu langsung membuka botol minuman soya yang masih bersegel.
Sesaat kemudian dia menyodorkan minuman itu pada Dena yang tentunya sudah dibuka.
"Makasih." ujar Dena sembari menerima minuman itu, meneguknya dua kali lalu kembali menutupnya.
"Kok cuman dikit? Minum lagi dong, lo kan suka minuman soya."
Dena menggeleng pertanda penolakan. Soya, minuman favorit gadis itu. "Nanti aja gue abisin. Sekarang gue gak haus."
"Owh, gitu. Sekarang mau ke kantin?" tanya Kingafiqq yang dibalas anggukan oleh Dena. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya.
"Bareng ya? Kebetulan gue juga mau ke kantin. Traktir deh!" ujarnya memberi tawaran.
"Bener? Yaudah, ayo!" Dena begitu bersemangat mendengar kata traktir.
Kingafiqq hanya terkekeh pelan. Rasanya masih ada sedikit rasa yang tertingal dihatinya. Ya katakan saja pemuda itu belum move dari mantannya yaitu Dena.
Sesampainya di kantin, Dena langsung mengambil duduk di pojokan sembari menunggu Kingafiqq memesan makanan. Sambil menunggu, tampak Dena mengambil ponsel dari saku rok abunya.
Fokusnya teralihkan saat Kingafiqq datang kembali dengan memegang dua mangkok berlogo ayam.
"Nih! Mau batagor apa siomay?" tanya Kingafiqq memberi pilihan.
"Dua-duanya, hehe." jawab Dena menyengir.
"Gak diet? Tumben. Biasanya aja cuman satu tapi kenapa sekarang jadi dua?"
__ADS_1
"Enggak lah. Ngapain juga diet-dietan. Yang ada malah jadi triplek."
"Yaudah, nih! Makan aja dua-duanya nanti gue pesen lagi."
"Eh, beneran?" jawab Dena sumringah.
"Iya iya. Cepetan, sebelum gue yang makan nih."
"Eh, eh. Jangan dong." Dena langsung merebut dua mangkok itu, menjauhkannya dari Kingafiqq.
"Ck! Dasar cewek. Rakus." cibiknya yang sayang masih terdengar.
"Ck! Dasar cowok. Tamak." balas Dena yang tidak perduli lalu memakan makanannya dengan lahap.
.
.
.
Seusai bel pulang berbunyi, Dena langsung keluar dari kelasnya. Menemukan mobilnya yang sudah terparkir di sisi jalan depan sekolah. Gadis itu langsung masuk tanpa basa-basi lagi. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Rasanya sedikit lelah namun tidak membuat semangatnya surut.
"Pak, antar Dena ke kantor Papa ya?" pinta gadis itu sembari menepuk pelan bahu sang supir.
"Siap, Non! Langsung ke kantor Tuan atau pulang ke rumah dulu. Non kan belum ganti baju trus makan." ucap Pak Haryo, sang supir yang selalu mengantarkan dirinya ke mana-mana.
"Langsung aja, Pak. Bajunya biarin aja trus kalo soal makan mah tenang. Biar nanti di kantor Papa aja."
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu, Non."
Kedatangan Dena nanti ke kantor Papanya cukup mendadak. Entah angin apa yang membuat gadis itu ingin sekali berkunjung ke kantor Papanya. Ia juga tidak mengabari Papanya kalau ia akan berkunjung setelah sepulang sekolah. Biarlah ini menjadi sedikit kejutan. Hehe.