Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 90


__ADS_3

Dena memegang erat baju Fairel di bagian pinggangnya kala pemuda itu melesatkan motornya membelah jalanan. Dena semakin baper saat pemuda itu menarug jaketnya untuk menutupi paha Dena karena gadis itu memakai rok. Takut-takut melayang terkena angin dan jadilah Dena sodakoh paha.


"Gak bilang kalo mau belanja?" ujar Fairel menolehkan kepalanya sebentar ke belakang lalu kembali fokus ke depan.


"Bilang ke siapa?" tanya Dena heran.


"Gue lah. Tau gitu tadi kan bisa barengan. Gue juga abis keluar buat beli peralatan sekolah."


"Emangnya lo gak kerja?" tanya Dena.


"Toko lagi tutup." jawab Fairel berbohong. Karena yang sebenarnya itu...


"Ooo..." Dena hanya membulatkan mulutnya saja.


Tiba-tiba Dena meremas kuat baju Fairel karena nyeri di perutnya datang tiba-tiba. Fairel yang merasakan itu langsung memelankan laju motornya.


"Kenapa?" tanya pemuda itu penasaran sekaligus khawatir.


"Perut gue sakit, Rel." jawab Dena jujur.


"Kita cari wc umum."


"Eh! Jangan!" seru Dena cepat membuat alis Fairel naik ke atas.


"I-ini bukan sakit perut mau e'ek." lanjut Dena memelankan suaranya.


"Terus?"


"Enggak ada." jawab Dena.


Fairel yang tidak mau membuat Dena tidak nyaman pun hanya mengangguk saja.


•••


Malam harinya Dena tampak lebih rapi dari biasanya karena sang papa tiba-tiba mengajaknya makan malam di luar. Awalnya Dena sedikit bingung karena itu terlalu dadakan. Namun, karena sedikit paksaan dari sang papa akhirnya membuat Dena mengiyakan saja. Sebenarnya ia malas pergi ke luar, selain malas, perutnya juga nyeri.


Dena tampak menggandeng lengan sang papa ketika mereka tiba di sebuah restoran. Wira, papanya itu membawanya ke sebuah private room di restoran itu. Saat tiba di depan pintu, Dena menghentikan langkahnya, membuat gandengan tangannya terlepas.


"Kenapa?" tanya Wira heran.


"Enggak. Di dalam ada siapa?" tanya balik Dena.


"Liat aja nanti."


"Ish!" Dena berdecak sebal. Karena kesal tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, alhasil gadis itu mencubit lengan sang papa lalu melarikan diri masuk ke dalam ruangan itu diiringi dengan tawanya karena sudah merasa puas.


Dena tidak menyadari kalau saat ini dirinya menjadi pusat perhatian dari dua orang wanita di dalamnya. Saat menoleh, Dena langsung mematung. Senyum di bibirnya langsung surut.Sementara itu salah satu dari dua wanita melihatnya dengan raut wajah terkejut.

__ADS_1


Saat itu juga sang papa datang sambil memasang wajah kesal karena tingkah sang putri yang membuatnya gemas.


"Dena gak salah masuk kan, Pa?" tanya gadis itu melirik sang papa.


Wira menggelengkan kepalanya sebagai respon. Ia mendekatkan dirinya kepada sang putri lalu memegang kedua bahu Dena dan menuntunnya untuk duduk di kursi kosong. "Enggak, ayo duduk dulu." ucap pria itu.


Setelah duduk, Dena memberanikan diri menatap salah satu wanita tersebut. Wanita itu melemparkan sebuah senyuman kepada Dena. Melihat itu pun membuat Dena tersenyum kaku. Lalu gadis itu melirik ke sebelah wanita itu.


Sama halnya dengan wanita tadi yang juga melemparkan senyum kepada Dena. Seketika gadis itu dibuat bingung karena melihat tiga orang dewasa tersebut hanya berdiam diri tanpa mau membuka obrolan.


"Dena laper." seru gadis itu merasa canggung karena merasakan aura dingin di sekitarnya.


Sontak kedua wanita itu langsung menyodorkan buku menunya kepada Dena. "Ayo, pilih yang banyak." ucap keduanya serentak. Kedua wanita itu pun saling pandang.


Wira yang sedari tadi diam pun memasang wajah bingung karena melihat kedua wanita itu seperti sangat antusias memberikan buku menu kepada putrinya. Bahkan mereka sampai rebutan satu sama lain.


Dena bingung untuk mengambil buku menu yang mana. Karena tidak ingin menolak salah satunya, alhasil Dena lebih memilih mengambil buku menu di hadapan sang papa dan dengan cepat membukanya. Gadis itu melihat buku menunya dengan posisi buku menu menghalangi wajahnya.


Sekarang Dena mengerti semuanya. Siapa salah satu wanita itu.


Tring


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan cepat Dena meletakkan buku menu itu di atas meja dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk mengecek ponselnya. Satu pesan masuk melalui aplikasi WhatsApp.


Saat setelah membaca pesan itu, Dena langsung mendongakkan kepalanya menatap salah satu wanita tersebut.


Tring


Kedua orang berbeda gender yang sedari tadi diam pun memandang bingung. Kenapa kedua perempuan berbeda generasi itu tampak sibuk dengan ponselnya masing-masing. Bahkan suara notifikasi ponsel mereka saling bersahutan.


Awalnya ekspresi keduanya biasa-biasa saja. Namun, kini Dena sudah mengeluarkan ekspresi senyumnya. Sang Papa langsung menatapnya dengan segudang penuh tanda tanya.


"Papa, panggilin pelayannya." seru Dena melirik papanya sejenak.


Wira langsung tersentak dan dengan cepat memanggil pelayan di restoran itu melalui telfon. Lalu tidak lama satu orang pelayan datang sambil membawa buku catatan.


Setelah mencatat semua pesanan empat orang itu, pelayan tersebut langsung berpamitan.


Sekarang Dena sudah kembali menguasi situasi itu. Ia pun sudah tidak lagi memainkan ponselnya lagi. Gadis itu menatap sang papa dengan tatapan penuh intimidasi membuat Wira seketika gugup. Namun, pria itu lekas menguasi gugupnya agar tidak terlalu terlihat.


"Papa enggak mau jelasin apa-apa ke Dena?" tanya gadis itu dengan nada menekan.


"Ekhemm..." pria itu lekas berdehem lalu membetulkan kerah jasnya. "Kita makan dulu, itu makanannya udah datang." balas pria itu lalu menunjuk ke arah pintu di mana para pelayan sudah datang sambil membawakan semua pesanan mereka.


"Oke." jawab gadis itu mengalah. Sesaat mereka saling diam karena sedang menyantap makan malam mereka.


Waktu berjalan begitu cepat. Meja yang awalnya dipenuhi oleh makanan pun seketika kosong tidak ada di tempat karena sudah dibawa oleh pelayan restoran.

__ADS_1


"Dena perlu penjelasan." gadis itu melipat kedua tangannya di dadanya lalu bersandar di sandaran kursi. Seolah-olah di sini dia adalah bos yang sedang memberi pengarahan kepada anak buahnya.


Wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengannya seketika melipat senyumnya.


"Enggak ada yang mau ngomong?" ujar gadis itu lagi.


"Oke, Dena pikir ini nggak ada apa-apa. Ini cuma makan malam biasa aja kan? Kalau gitu Dena mau pulang." gertak gadis itu dengan cara membereskan tasnya dan bersiap untuk bangkit. Namun, sebelum itu dengan cepat Wira mencegat tangannya lalu menarik gadis itu agar duduk di tempatnya.


Wira menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya memandang wajah sang putri dalam dan penuh kasih sayang. "Papa nggak tau mau bilang apa. Intinya... apa kamu mau kalau Kak Cahya menjadi ibu sambung kamu?" ucap Wira dengan hati-hati.


Seketika suasana sunyi. Dena yang sudah tau dari awal pun lekas mengambil perannya.


"Kapan?" tanya gadis itu tanpa mau mengubah posisinya.


"Dalam waktu dekat." balas papanya.


Dena memutar kepalanya sedikit ke samping di mana ada Cahya duduk tepat di seberang papanya. Lalu, pandangan Dena kini teralih kepada wanita paruh baya yaitu ibu Cahya.


Kembali Dena melihat papanya. "Kapan?"


"Apanya, Sayang?" tanya Wira bingung.


"Kapan Papa menjalin hubungan dengan Kak Cahya?"


"Itu..."


"Dena cuma mau butuh jawaban, bukan penjelasan!" potong gadis itu cepat. Seketika Wira mengatupkan bibirnya rapat.


"Sebulan yang lalu." jawab Wira menundukkan kepalanya. Pria yang terkenal dingin dengan penuh percaya diri itu langsung menjadi seekor kucing saat berada di hadapan putrinya.


"Sebulan yang lalu?" Wira menganggukkan kepalanya.


"Itu terjadi sebulan yang lalu, dan Papa baru kasih tau aku sekarang?" kini Dena bahkan mengubah kalimatnya. Semula yang memanggilnya dirinya dengan namanya sendiri kini bahkan berubah.


"Maaf." hanya satu kata yang bisa Wira ucapkan.


"Sebulan itu sangat singkat. Dan bagaimana bisa Papa jatuh cinta sama dia?" Dena melirik Cahya sengit.


Wira mengangkat wajahnya. "Jaga ucapannya, Sayang." tegur Wira.


"Terserah! Aku udah kecewa sama Papa. Papa bukan Papa yang dulu, apa-apa suka cerita sama aku dan saling terbuka. Sekarang, bahkan Papa udah berani bohong di depan aku. Pertama kalinya Papa bohong sama aku? Aku bener-bener kecewa."


"Aku enggak setuju!"


.


.

__ADS_1


.


maaf ges, aku dukung Dena✋✋✋


__ADS_2