Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 54


__ADS_3

Dengan hati terpaksa dan tidak rela Wira mengendarai mobilnya menuju kost-an tempat Cahya tinggal. Rasanya sungguh tidak sudi untuk menjemput bawahannya itu. Eits, laki-laki itu lupa kalau sekarang bukanlah termasuk jam kantor. Kalau bukan karena rengekan dari putri kesayangannya, mana mau dirinya.


Dengan mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, Wira memutar setirnya. Berhenti tepat di pinggir jalanan depan tempat kost-an. Laki-laki itu ragu untuk keluar ataukah tidak. Namun, karena mengingat waktu akhirnya laki-laki itu mengalah saja daripada nantinya harus mendapatkan siraman rohani dari putrinya. Ya, lebih baik seperti itu. Tingkah Dena dan rengekannya mengingatkan Wira akan mendiang istrinya. Dulu mendiang istrinya itu juga sangat manja. Jadi, wajar kalau tingkahnya menurun kepada putrinya. Tanpa sadar Wira sudah berjalan menjauh dari mobilnya dan sekarang dirinya sudah berada di depan pintu kost-an Cahya yang tertutup. Area kost-an itu didominasi oleh para perempuan.


"Hei, Pak! Mau apa ke sini?" tiba-tiba Wira dikejutkan akan suara cempreng khas emak-emak yang memenuhi gendang telinganya. Wira bahkan sampai mengelus dada istighfar lantaran terkejut dibuatnya.


Tampak dari ujung kost-an ada emak-emak yang berdiri sambil berkacak pinggang. Penampilannya ya seperti biasa, daster panjang dibawah lutut, rambut cepol seperti gaya penyanyi yaitu soimah. Suaranya memang bisa dibilang mirip. Sama-sama cempreng dan blak-blakan. Apalagi suara tawanya yang menggelegar.


Wira menebak bahwa emak-emak itu adalah pemilik dari kost-an yang Cahya tempati saat ini. Dirinya berjalan mendekat, berusaha untuk menjalin silahturahmi karena takut nantinya dituduh macam-macam.


"Maaf, Bu. Ibu pemilik kost-an ini?" tanya Wira hati-hati, takut menyinggung perasaan emak-emak itu.


"Iya, kenapa memangnya?" tanya ketus wanita itu.


"Begini, Bu. Kedatangan saya ke sini hanya ingin menjemput karyawan saya yang kebetulan menyewa kost-an milik Ibu. Saya ada keperluan sebentar."


"Siapa?" tanya emak-emak itu dengan suara soprannya, atau yang biasa dikenali suara tinggi.


Wira terkejut bukan main. Kalau sudah begini dia akan jera. Tidak akan mau lagi datang ke tempat ini untuk kesekian kalinya.


"Namanya Cahya, Bu." jawab Wira pelan.


"Haaa? Apa? Gak kedengeran lah suaramu ini. Kalau ngomong yang jelas bah! Coba kau ulangi!" titah wanita itu dengan galak. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang sepertinya tidak bisa diajak bersilahturahmi.


Karena mendengar suara ribut-ribut dari luar, semua penghuni yang menempati kost-an itu pun keluar. Beruntung tidak ramai karena memang rata-rata dari mereka bekerja. Begitu merasa dirinya diperhatikan, Wira menjadi risih. Apalagi mata mereka memandangnya dengan tatapan penuh kagum. Seakan-akan tatapan itu ingin menyeretnya masuk ke dalam. Wira bergidik ngeri, seumur-umur baru pertama kalinya dirinya seperti dikeroyok begini. Memang the power of emak-emak.


Rata-rata yang menempati kost-an itu adalah perempuan muda yang belum menikah.


"Kiwww kiwww... Mas, ada perlu apa ke sini?"

__ADS_1


"Halo, tampan. Mau masuk gak? Kali aja mau ngopi-ngopi."


"Ma Syaa Allah, ganteng sekali ciptaanmu."


Begitulah suara-suara yang otomatis masuk ke gendang telinga Wira. Dia sungguh sangat malu diperhatikan begitu. Apalagi yang memperhatikannya itu rata-rata perempuan. Makhluk spesies yang suka menggoda para lelaki tampan. Ya kalau tidak tampan jangan harap mau digoda! Dilirik aja enggak, apalagi disenyumin. Yang ada malah disinisin sambil digosipin.


"Di sebelah mana ya, Bu? Namanya Cahya." terang Wira ingin sekali cepat pergi.


"Oh, Cahya. Itu di dua kamar sebelum ujung. Awas! Jangan berani-berani masuk." ancam pemilik kost-an itu.


"Nah, itu anaknya nongol juga. Hei! Sini kau." semuanya saling pandang karena mereka bingung siapa yang dipanggil. Wira pun tidak berani untuk membalikkan badannya, takut dengan tatapan wanita-wanita itu.


"Aish. Dasar wanita! Cahya, kau ke sini!" titahnya lagi membuat Wira memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Nafasnya langsung terdengar lega, akhirnya orang yang dicari-cari akhirnya muncul juga.


"Pergi sana! Awas, jangan masuk ke dalam!" ketus emak-emak itu akhirnya berbalik badan. Setelah mendapatkan izin, Wira mulai berjalan hati-hati menuju kost-an Cahya yang sialnya malah berbalik arah. Dirinya harus berjalan melewati para wanita yang kepalanya nongol dari balik pintu. Sahutan-sahutan terlontar kepadanya. Wira menutupi kupingnya erat-erat.


Saat sudah sampai di depan kost-an Cahya, kening wanita itu langsung berkerut. Dia bingung kenapa bosnya ada di tempat ini? Apakah ada keperluan dengan para wanita yang menghuni salah satu dari kost-an di sini?


Wira langsung berdiri tegak sambil memasang wajahnya seperti biasanya. Sok dingin dan sok cuek. "Ituu..." Wira menghentikan ucapannya membuat Cahya semakin bingung saja.


"Kenapa, Pak?"


"Ituuu..." rasanya lidahnya kelu untuk berbicara. Antara gengsi dan malu bersatu padu.


"Kalau gak niat ngomong ya udah. Saya masuk nih, Pak." gertak Cahya merasa jengah.


"Begini, intinya ini bukan permintaan saya. Tapi, permintaan Dena. Dia meminta kamu untuk datang ke rumah."


Sejenak keduanya terdiam. Cahya yang mendengarnya langsung tertawa pelan.

__ADS_1


"Ada yang lucu?" seru Wira memasang wajah sinis.


"Hahaha, ngomong itu aja susah, Pak, Pak. Udah kayak mau mimpin perang." ledek Cahya membuat Wira merasa kesal.


"Jangan banyak protes. Cepat siap-siap. Ini perintah!" titah Wira seakan-akan dirinya bos. Ya, memang bos.


"Sebenarnya perintah bapak itu tidak harus saya patuhi ya. Tapi, karena ini permintaan Dena, ya oke, saya mau."


"Makanya cepat! Saya gak suka perempuan yang bertele-tele."


"Lagian, yang mau sama bapak siapa? Gak ada juga." lirih Cahya saat dirinya akan masuk ke dalam kost-annya.


Setelah bersiap-siap, lalu mereka langsung bergerak berangkat pulang ke kediaman Wira. Namun, sebelum itu Wira mampir sebentar ke sebuah toko es krim. Di sana banyak sekali macam-macam es krim, ada juga coklat batangan, permen. Ya, bisa dibilang tokonya menjual cemilan yang banyaknya pelanggan perempuan yang membeli.


Sementara itu Cahya tetap stay, menunggu di dalam mobil. Tidak lama kemudian Wira kembali datang sambil membawa satu kresek berukuran sedang. Dia tidak hanya membelikan untuk putrinya saja, melainkan untuk orang di rumah.


"Saya boleh minta satu, Pak? Mumpung banyak." pinta Cahya.


"Gak boleh. Itu hanya untuk anak remaja saja. Perempuan dewasa gak cocok." tolak Wira memberi alasan yang sangat berbanding terbalik.


"Pelit." cibik Cahya pelan. "Satu aja, Pak. Saya takut kempunan. Ntar kesandung semut gimana, Pak?" Wira ingin sekali mengorek habis ini kepala wanita itu. Mana ada kesandung gara-gara semut. Dan apa lagi katanya. Kempunan? Sangat kuno sekali, ya walaupun dirinya juga sedikit mempercayai kata tersebut yang katanya memiliki makna tersirat bagi orang-orang zaman dulu.


"Gak akan kesandung. Saya ikat kamu pakai borgol biar gak bisa kesandung." balas Wira yang akhirnya langsung fokus berkendara setelahnya.


.


.


.

__ADS_1


ikat pakai borgol dong om🤣 cuss, maap ya kalau ceritanya ini mungkin bakalan banyak ke cerita papanya dena. di sini aku mau nuntasin dikit selipan ceritanya biar nanti alurnya gak bikin berantakan kisah dena dan fairel yang berjuang untuk bersatu karena adanya tembok yang menghalangi mereka buat bersatu🤭


__ADS_2