Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 82


__ADS_3

Setelah dua jam lebih mereka pergi ke lapangan arena tempat biasa orang-orang melakukan sirkuit balap mobil, akhirnya mereka semua sudah kembali pulang. Rupanya Fairel cukup mudah dalam menyetir mobil. Ya, meskipun dirinya masih membawanya dalam kecepatan pelan. Tapi, sejauh ini perkembangan Fairel cukup baik. Wira juga tidak perlu susah-susah untuk mengajarinya karena baginya Fairel cepat tanggap.


Mereka berempat sampai di kediaman Wira tepat pada pukul setengah sebelas.


"Rel." panggil Wira setelah keluar dari mobil yang ia kendarai. Mobil yang mereka pakai adalah mobil yang biasa digunakan Pak Haryo untuk mengantar jemput Dena.


"Iya, Om?" tanya Fairel.


Wira langsung melempar kunci mobilnya. Dan Fairel reflek menangkap kunci mobil yang pria itu lempar kepadanya. "Cuci mobil. Selangnya ada di situ ya." tunjuk Wira tepat di samping depan garasi.


"Dena. Kamu bantu Arel ya, Sayang?" pinta Wira kepada putrinya.


"Siap, Papa. Eh ya, Kak Cahya gimana?" tanya Dena melirik Cahya.


"Ya masuk dong ke dalam. Kalian bersihin mobil itu dulu, kalau udah bersih baru boleh masuk." jawab Wira kejam sekali. Giliran anak sendiri dilarang masuk rumah, eh wanita asing malah disuruh masuk.


Dena yang mendengarnya langsung menatap curiga papanya karena tidak biasanya pria itu bersikap baik kepada Cahya. Matanya meneliti setiap inci tubuh papanya dengan tatapan mengintimidasi. Dena semakin curiga saat mendengar perkataan papanya barusan. Tidak salah kan pria itu mengajak Cahya masuk ke dalam? Biasanya keduanya suka sekali bertengkar atau adu mulut. Namun, kali ini Dena sangat heran dibuatnya.


Wira yang ditatap seperti itu langsung gugup. Ya, pria itu belum juga memberitahu tentang hubungannya dengan Cahya yang sudah membaik. Dan bahkan Wira sempat mengutarakan isi hatinya tepat seminggu yang lalu. Ia belum ada waktu yang tepat untuk memberitahu putrinya. Dan Wira berencana untuk memberikan kejutan.


Tidak ingin mendapat tatapan penuh curiga dari putrinya, pria itu langsung melenggang masuk. Sesaat, ia berhenti dan berbalik karena melupakan sesuatu.


Wira berbalik langsung menarik tangan Cahya dan membawanya masuk ke dalam.


"PAPA, PAPA PUNYA HUTANG SAMA DENA." teriak Dena. Entahlah, prasangkanya benar atau tidak. Intinya kalau itu benar terjadi, Dena sangatlah amat senang.


"Anak gadis gak boleh teriak." tegur Fairel yang sedari tadi menjadi pendengar.


"Eh!" Dena langsung tersentak. Ia melirik Fairel yang entah kapan sudah berada di sampingnya.


"Jangan bengong. Ayo!" ajak Fairel mengkode menggunakan kepalanya.


Fairel yang disuruh mencuci mobil pun tidak keberatan sama sekali. Malahan dirinya cukup senang karena dirinya bisa bermanfaat bagi orang-orang terdekatnya. Hatinya bertambah senang kala yang menemaninya mencuci mobil adalah Dena.


Dena beberapa kali mendengus kesal. Ia bukannya tidak mau menemani Fairel mencuci mobil. Jangankan menemani mencuci mobil. Menemani seumur hidupnya pun ia mau. Batinnya tersenyum malu.


Selain itu, Dena juga beberapa kali tertangkap bengong. Ia menggosok spons yang berbusa itu di tempat yang sama dalam waktu yang cukup lama. Pikirannya melayang kepada papanya. Dena harus bertanya tentang itu. Tapi, setelah bertanya, gadis itu tidak mendapatkan jawaban. Apakah ia harus melakukan hal yang serupa seperti dulu? Meminta Steve untuk memberinya banyak informasi tentang papanya. Ingat! Itu tidak gratis. Dena sangat kesal saat tau kalau Steve itu mata duitan. Beruntungnya saldo di rekeningnya selalu terisi disetiap bulan. Jadi, Dena tidak lah miskin-miskin amat untuk merogoh kocek membayar upah kepada Steve.


"Na." entah sudah keberapa kalinya Fairel memanggil, namun, tidak ada sahutan sama sekali.


Fairel yang gemas langsung mengambil busa yang berada di dalam ember dan menyerahkan busa itu tepat di kedua pipi Dena.


Dena yang merasakan benda dingin dan basah langsung tersentak kaget. Ia melirik Fairel yang menjadi pelakunya.

__ADS_1


"Arelllll!!!" teriak Dena menggelegar.


"Hahahhaaa..." tawa Fairel langsung pecah. Ia bahkan sampai menunduk memegang perutnya yang terasa kram.


"Jail banget lo ya." gertak Dena merasa tidak terima. Ia juga melakukan hal yang sama, mengambil busa dari dalam ember dan melumurkannya di wajah Fairel.


Fairel yang berjongkok pun tidak bisa mengelak lagi. Ia menggunakan kedua lengannya sebagai pelindung wajahnya.


"Bisa-bisanya lo giniin gue hem? Nih liat pembalasan gue!" Dena langsung menyerbu Fairel tanpa ampun. Bahkan rambut Fairel sudah basah dengan air sabun yang menyebabkan rambutnya berbusa seperti digosok menggunakan sampo.


"Hahahaa... udah, Na, udah. Gue nyerah beneran." ujar Fairel langsung menyerah. Tubuh Fairel sudah berlumur busa dan pakaiannya juga basah.


Dena yang mendengar kalimat itu langsung berhenti menyerang Fairel. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya dan tersenyum puas. Gadis itu berkacak pinggang di hadapan Fairel yang masih berjongkok di bawah.


Fairel menurunkan kedua tangannya yang sebelum ia gunakan sebagai pelindung wajahnya. Pemuda itu bangkit dengan lemas karena Dena menyerangnya habis-habisan. Fairel langsung tersenyum smrik kala sebuah lampu terang muncu dari balik kepalanya.


"Udah ya? Mending kita siram aja langsung. Lagian, udah semuanya kan dicuci?" tanya Fairel mencoba menarik perhatian Dena agar gadis itu lupa dengan perkelahian mereka.


"Udah kok. Itu selangnya ambil sini, puter dulu krannya." pinta Dena menunjukkan kran yang tidak jauh dari mereka.


"Oke." balas Fairel berjalan cepat mengambil selang itu, tidak lupa juga ia memutar krannya hingga airnya perlahan mengalir.


"Atas lagi, Rel."


"Nah iya." setelah bagian atas kap mobilnya sudah bersih, Fairel beralih ke sisi bagian kanan, tempat Dena berdiri.


"Gantian." Fairel memberikan selang itu kepada Dena.


Gadis itu langsung menurut. Ia mengarah selang tu hingga airnya mengalir deras ke arah sisi mobil sebelah kanan. Diam-diam Fairel menginjak selang yang menyentuh permukaan tanah hingga air yang awalnya mengalir deras kini malah berhenti. Fairel tersenyum jahat saat melihat Dena tampak kebingungan.


"Kenapa, Na?" tanya Fairel dengan raut wajah polos.


Dena mendongakkan kepalanya lalu memperlihatkan selang yang ia pegang. "Kok mati, Rel?" tanya gadis itu heran.


"Mana, sini gue liat." pinta Fairel mengulurkan tangannya.


"Nih!" Dena memberikan itu. Fairel tampak melihatnya secara seksama.


"Mata gue burem. Coba lo liat." Fairel mengarahkan selang itu ke wajah Dena. Dena tidak menduga itu pun langsung memegang selangnya menggunakan sebelah tangannya.


Fairel yang melihat Dena sudah lengah pun mengangkat kakinya dari keran itu lalu siap-siap menutup kupingnya.


"ARELLLL!!!! LO MAU MATI YAA!!" teriak Dena reflek mengarahkan ujung selang itu ke arah lain. Nafasnya langsung mengap-mengap. Tangannya juga reflek meraup wajahnya kasar saat air itu langsung memercik ke wajahnya dengan tidak sopan.

__ADS_1


Fairel sudah mengambil aba-aba untuk berlari. Dena yang melihatnya langsung mengejar Fairel, tidak lupa ia membawa keran itu dan mengarahkannya kepada Fairel. Sontak Fairel bagaikan terkena air hujan yang jatuh langsung dari langit. Badannya ikut basah seiring dengan Dena yang mengejarnya sambil mengarahkan selang itu. Beruntungnya selangnya memiliki ukuran cukup panjang hingga Dena bisa membawanya cukup jauh.


Keduanya berkeliling sudah dia kali putaran. Nafas Fairel juga sudah terengah. Ia berlari menuju mobil yang selesai dicuci dan berkeliling di sama menghindari tangkapan Dena.


Namun, keberuntungan tidak memihak Fairel. Ia tersandung ke tanah, beruntungnya pemuda itu langsung cepat bertindak. Ia lebih dulu mendaratkan telapak tangannya agar lututnya tidak mencium permukaan tanah yang dapat memungkinkan lututnya mengalami lecet. Alhasil ia langsung terduduk di atas permukaan tanah yang ditumbuhi banyak rumput-rumput hijau.


"Mampus lo, Rel. Beneran gue bunuh." seru Dena mulai mengeluarkan taringnya.


"Na, Om Wira manggil." potong Fairel mencoba membohongi Dena.


"Gak akan. Lo tuh, isshhhh... gemessss bangettt gueee..." Dena meletakkan sembarang keran airnya lalu langsung bergerak cepat menjambak rambut tebal milik Fairel. Tangan-tangan lentiknya mulai meremas rambut pemuda itu dan sedikit menariknya. Ia benar-benar dibuat gemas dengan tingkah Fairel. Sudah cukup dirinya dikerjai.


Sontak Fairel berteriak keras dan menangkap pergelangan tangan Dena. "Akkkkkkhhhh... sakit, Na. B-beneran ini sakit loh." adu Fairel membuat jambakan Dena terlepas. Ia menatap Fairel yang memang meringis sambil memegang rambutnya yang terasa panas, seakan-akan akar rambutnya mau tercabut semua.


"B-beneran?" tanya Dena khawatir. Sumpah, gue gak sengaja. Batinnya menggigit bibir bawahnya.


Fairel mengusap-usap rambutnya. "Tapi boong. Hahhaaa..." sambung pemuda itu lagi.


Ekspresi Dena sudah berubah menjadi datar. Ia bersiap-siap untuk kembali menyerang Fairel. Namun, sebelum itu terjadi, Fairel sudah menangkap kedua pergelangan tangannya. Dorongan tangan Dena cukup kuat hingga membuat tubuhnya tidak bisa menahan untuk tidak terjerembab ke belakang. Alhasil punggung Fairel langsung terjatuh, posisi tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Fairel membuat gadis itu ikut tertarik.


Brukkk


"Aaaakkkhhhh..." Dena memekik kaget. Ia memejamkan matanya kuat.


Dan yang mengejutkannya lagi adalah Dena merasakan sebuah benda kenyal yang menempel di keningnya. Seketika tubuhnya bergetar. Darahnya berdesir disertai jantungnya yang berdebar kuat. Dena juga merasakan debaran jantung di bawahnya, apakah itu jantung Fairel yang juga ikut berdetak tidak karuan?


Dena mendongakkan kepalanya untuk melihat Fairel yang sudah menjadi matras untuknya. Pergerakan dari Dena malah membuat bibirnya berada tepat di depan bibir Fairel. Hanya berjarak berapa centi saja, dan seandainya Dena bergerak maju, maka pertemuan keduanya tidak dapat terelakkan.


Fairel cukup dibuat jantungan oleh gadis itu. Apalagi posisi mereka saat ini. Fairel mematung bagaikan manekin.


"Na, udah, Na. Ntar ada yang liat." seru Fairel menyadarkan Dena. Dengan cepat gadis itu bangkit dari atas tubuh Fairel. Begitu juga dengan Fairel yang langsung berdiri. Sesaat keduanya terdiam canggung.


Dena menggerakkan jarinya patah-patah menunjuk Fairel. "B-baju lo basah, Rel. Lebih baik bersih-bersih dulu di dalam." ucap Dena gugup.


"Ah, iya. A-ayo..." balas Fairel menggerakkan tangannya tidak beraturan. Jujur, ia merasakan perasaan aneh di dadanya.


.


.


.


tidak henti hentinya aku ngoceh-ngoceh di akhir cerita 🤣semoga aja kalian gak bosen yah🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2