Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 97


__ADS_3

Hari pertama dengan suasana hati yang berbeda, Dena tampak tersenyum di sepanjang sarapannya. Berbeda dengan sang papa yang kini tampak tidak baik-baik saja.


"Mau yang mana, Sayang?" tanya Cahya menawarkan berbagai macam sarapan kepada Dena.


"Itu aja, Kak." saking bahagia Dena, dia bahkan tidak memikirkan untuk membuat panggilan lain kepada ibu sambungnya.


"Kak?" sahut Wira menegur putrinya.


"Eh! Terus Dena panggil apa dong?" tanya gadis itu bingung.


"Mama bisa kan?" balas Wira.


Dena terdiam sejenak. Dia menatap wajah sang papa lalu berganti menatap Cahya. Dena menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Cahya beranggapan bahwa Dena belum siap menerima kehadirannya.


"Walaupun Mama udah pergi lama, tapi, Dena nggak mau ada orang yang menggantikan posisi Mama."


Sesaat suasana hening. Mungkin mereka terkejut dengan respon yang diberikan oleh Dena.


Gadis itu mengangkat wajahnya menatap Cahya.


"Bunda. Dena panggil Kak Cahya Bunda. Mulai sekarang dan seterusnya." ucap Dena pelan menatap Cahya dengan senyuman tulusnya.


•••


Di halaman rumah Dena tampak masih berantakan karena dekorasi pelaminan yang belum juga dirapikan. Bahkan banyak sampah-sampah yang berserakan di sana. Membuat mata tidak enak memandangnya. Hari ini juga petugas kebersihan datang untuk membersihkan halaman rumah Dena. Itulah resiko jika mengadakan resepsi di kediaman sendiri. Pasti rumah dan halamannya akan kotor dan berantakan.


Tampak petugas kebersihan berlalu lalang sambil memungut sampah-sampah yang berserakan. Sebagian ada yang membereskan alat-alat perlengkapan.


"Dena, ambil itu, Sayang." Kakek Hari menunjukkan sampah-sampah yang berserakan di dekat cucunya.


"Iya, Kek." gadis itu dengan sigap mengerjakan perintah sang kakek. Karena ingin halaman rumahnya cepat bersih, semua orang di kediaman Dena tampak turut serta membersihkan. Bahkan tuan rumah mereka juga ikut turun tangan.


Setelah menguras tenaga yang cukup besar, akhirnya mereka menyelesaikan pekerjaan itu saat menjelang siang hari. Para petugas kebersihan juga sudah pergi dari kediaman Dena.


"Kalian gak mau liburan? Bukannya Dena juga udah selesai ujian semester?" tanya kakek Hari saat mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Wira terserah Dena aja, Pa. Kamu gimana, Sayang?" sahut Wira kepada putrinya.


"Mau. Dena mau liat menara Eiffel." ucap gadis itu tanpa beban.


Wira, Cahya, dan Kakek Hari menatapnya terkejut. Ya bagaimana tidak terkejut, sekalinya Dena berkata malah membuat mereka hampir jantungan. Tidak salah kan gadis itu meminta liburan ke Paris?


"Serius ke luar negeri? Gak kejauhan?" tanya sang papa masih dalam mode terkejut.


Dena menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Gimana? Papa setuju kan?" ujar gadis itu berharap.

__ADS_1


Wira melirik Cahya. "Papa sih terserah kalian. Papa ngikut aja. Lagian kita juga jarang kan liburan ke luar negeri?"


"Bunda, gimana?" Cahya selalu speechless ketika Dena memanggilnya Bunda. Panggilan yang masih asing di telinganya.


"Gak masalah. Bunda ngikut aja." Cahya mengelus rambut Dena pelan.


"Yesss... Dena mau berangkat besok lusa. Kakek juga ikut kan?" gadis itu menatap kakeknya.


"Haha, kejauhan, Sayang. Kakek udah tua, mending di rumah aja sambil selonjoran. Dari pada nanti pinggang kakek encok kan?" Dena menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan sang kakek. Ya memang, Paris itu jauh. Dan kalaupun mereka membawa Kakek Hari, pasti nanti beliau akan mengeluh sakit-sakitan karena fisiknya sudah tak lagi muda.


"Ya udah deh. Lain kali aja kalo kita liburan deket." balas gadis itu pasrah.


Ting tong


Tiba-tiba sebuah suara menyapa telinga mereka. Ternyata suara itu adalah suara bel rumah.


Cahya bergegas bangkit untuk membukakan pintu. Namun, pergerakannya langsung ditahan oleh Dena.


"Biar Dena aja. Bunda duduk yang tenang sambil ngomongin soal liburan kita."


"Oke." balas Cahya menurut saja.


Dena langsung beranjak menuju pintu depan. Siapa sih siang-siang bolong bertamu?


Ceklek


"Na--"


Brak!!


Dena langsung menutup kasar pintu rumahnya sehingga suaranya terdengar sampai ke ruang tengah. Dena menatap sebal pintu di hadapannya yang tertutup. Diam-diam Dena meniup poninya lalu langsung pergi dari sana.


Kedatangan Dena yang memasang wajah sebal membuat keluarganya menatap heran. Lalu tidak lama kemudian suara bel terdengar lagi. Gadis itu mendengus kasar.


Tanpa mengucapkan satu kata pun, gadis itu langsung pergi. Dia berjalan cepat menuju kamarnya. Hatinya terasa dongkol.


Sedangkan di lantai bawah, Wira tampak berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, pria itu cukup terkejut dengan kehadiran seorang pemuda yang berdiri di depan pintu.


"Loh, Arel. Kapan sampai?" tanya Wira.


Fairel tersenyum singkat menatap pria itu. "Barusan kok, Om." bohong pemuda itu.


"Ayo masuk! Tadi yang datang itu juga kamu?" Wira langsung mengajak pemuda itu masuk ke dalam.


"Ganggu ya, Om?" tanya Fairel tidak enak hati.

__ADS_1


"Enggak kok. Kamu datangnya telat, harusnya dari tadi pagi. Kan bisa tuh bantuin beres-beres di depan." gurau Wira membuat Fairel tersenyum sembari menggaruk kepalanya tidak gatal.


Wira langsung membawa Fairel ke ruang tengah. Dimana di sana masih ada Cahya dan Kakek Hari yang tampak mengobrol.


"Duduk, Rel."


"Iya, Om. Makasih."


"Apa kabar, Kek??" tanya Fairel mengambil duduk di sebelah Kakek Hari.


"Alhamdulillah, baik, Rel. Kamu juga gimana kabarnya? Lama gak pulang ke kampung ya? Waktu itu ada Paman dan Bibi kamu bertanya."


"Alhamdulillah, Arel juga baik, Kek. Hehe, iya. Sekarang Arel belum sempat jenguk Paman dan Bibi. Belum ada persiapan soalnya."


"Kamu masih komunikasi kan sama mereka?"


"Masih, Kek. Terakhir itu tiga hari yang lalu."


"Nanti kalau mau pulang ajak Dewi juga. Kasian, dia juga mungkin kangen sama orang tuanya."


"Iya, Kek."


"Eummmh... Om, Tante, Kek. Kedatangan Arel ke sini cuma mau ketemu Dena. Kalau boleh tau, Dena-nya ada?" tanya Fairel tidak basa-basi lagi.


"Tadi yang bukain pintu kan Dena. Trus kenapa kamu gak dibolehin masuk?" tanya Wira membuat Fairel bingung berkata. Yang dia lakukan hanyalah menyengir.


"Kamu gak bikin anak Om nangis kan?" selidik Wira menatap Fairel dengan tatapan penuh intimidasi.


"Enggak kok, Om." secepat mungkin Fairel menggelengkan kepalanya.


"Baguslah. Om sebenernya bingung, dari semalam kalian kayak marahan. Ada apa?"


Tanpa sadar Fairel meneguk ludah kasar. Dia grogi. Mau menjawab apa lagi? Apa dia harus jujur sejujurnya?


Melihat ketidaknyamanan Fairel membuat Cahya mengerti, segera dia mengalihkan perhatian keduanya. Wanita itu mengelus lengan suaminya pelan, seolah-olah mengkode agar tidak terlalu menekan Fairel. Tidak lihat saja wajah Fairel yang sudah kaku malah ditambah kaku lagi.


"Dena ada di kamarnya. Sebentar ya, biar dipanggil dulu."


"Mau kemana?" tanya Wira posesif.


"Cuma ke kamar Dena bentar." jawab Cahya merasa gemas dengan tingkah pria itu bak anak kecil yang menempel setiap waktu. Mengingat kekesalannya semalan dan tadi pagi membuat Cahya berpikir kalau suaminya itu memiliki kepribadian ganda.


.


.

__ADS_1


.


Dena comeback 😌 ngantuk banget sebenernya ini ditambah lemes🤣🤣sorry ya kalo lama up. Soalnya tuh anu banget 😌 hapalan numpuk jadinya gito🤣🤣🤣


__ADS_2