
Part bucin bertebaran!!!
"Masalahnya itu ada di bapak. Bapak gak harus ikut campur urusan saya." Cahya memalingkan wajahnya ke samping. Jujur, ia bingung dengan situasi yang ia hadapi sekarang. Pertentangan antara hati da logikanya membuatnya ingin sekali menghilang dari permukaan bumi.
"Kenapa?" tanya Wira dengan nada putus asanya.
Wanita itu kembali menatap Wira dengan tatapan nanarnya. "Saya tidak pernah sekalipun ikut campur di urusan bapak. Tapi, kenapa bapak selalu ikut campur dengan urusan saya? Salah saya apa? Bapak selalu saja bersikap semaunya." teriak Cahya mengeluarkan uneg-unegnya. Matanya sudah mengembun, tinggal menunggu waktunya tetesan itu mengalir di pipinya.
"K-karena... karena..."
"A-ku..."
"Udah lah, Pak. Kalau tidak ada urusan lagi, saya lebih baik pergi dari sini." Cahya melepas paksa cekalan di tangannya yang cukup erat.
Namun, langkah kakinya berhenti saat mendengar pengakuan pria itu.
"K-karena a-ku mencintaimu..."
Deg
Cahya mematung. Satu kalimat yang berhasil membuat oksigen di sekitarnya habis. Ia membalikkan badannya. Senyuman menyungging ia tunjukkan.
"Omong kosong. Saya juga mau bilang kalau bapak itu egois. Bapak serakah yang mau mendapatkan dua wanita sekaligus. Bapak tidak pernah berpikir sekalipun bagaimana perasaan wanita. Dan baru saja bapak mengatakan cinta kepada saya? Apa bapak gila?! Apa bapak tidak cukup dengan satu wanita? Bapak juga bilang kan, kalau tidak ada pria yang tidak menginginkan darah dagingnya sendiri. Tapi, perkataan bapak barusan seolah hanya omong kosong."
"M-maksudnya?" tanya Wira lirih.
"Bapak lupa? Bapak lupa dengan calon istri bapak? Heh. Bukankah dia sedang mengandung anak bapak?"
Wira terdiam. Sejenak ia langsung sadar. "Maksud kamu Jihan?"
"Saya tidak tau namanya. Intinya, mulai sekarang, bapak jangan ikut campur urusan saya lagi."
Wira menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Membuat Cahya bingung, mereka sedang berdebat dan bisa-bisanya pria itu tersenyum disaat hatinya sedang panas.
Pria itu langsung bergerak cepat. Ia menarik tangan Cahya hingga wanita itu tertarik ke tubuhnya. Belum sempat Cahya memprotes, tiba-tiba tubuhnya langsung didorong ke dinding. Pria itu menekannya, tidak memberikannya dirinya ruang sedikitpun.
"Biarkan saya pergi, Pak." lirih Cahya mulai menitikkan air matanya. Ia tidak tau kenapa hatinya menjadi kacau seperti ini.
__ADS_1
Tangan yang awalnya memegang tangan Cahya kini berpindah ke pipinya untuk menyeka air mata yang perlahan mengalir deras. Wanita itu sontak menepis tangannya, membuat pria itu semakin tersenyum.
Kedua tangannya ia angkat dan menyentuh kedua sisi pipi Cahya hingga wanita itu mendongak menatapnya.
"Maaf, Sayang. Izinkan aku untuk mengisi nama perempuan lain selain dirimu. Aku janji, namamu akan tetap ada meskipun ada nama wanita lain di hidupku." batinnya sebelum akhirnya ia melepaskan landasannya tepat di atas bibir wanita itu.
Bola mata Cahya langsung melebar saat tau apa yang pria itu lakukan terhadapnya. Tangannya langsung mendorong dada bidang pria itu agar segera menjauh dari tubuhnya. Namun, bukannya menjauh, pria itu malah semakin menekan tubuhnya ke tembok. Membuatnya pasrah karena memberontak pun rasanya sia-sia karena tenaga pria itu lebih kuat darinya.
Wira melepaskan bibirnya yang awalnya hanya menempel di bibir wanita itu. Ia menyatukan kedua dahi mereka. "Jihan adikku. Mana mungkin aku berlaku tidak senonoh. Dan satu hal lagi, anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak dari pria yang akan bertunangan denganmu. Cukup mengejutkan bukan?"
Bibir Cahya masih terkatup rapat. Jujur, hari ini ia mendapat banyak sekali kejutan yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Termasuk ungkapan hati pria di hadapannya ini.
Tangannya terulur menyentuh bibir Cahya yang terkatup rapat. Ia mengusapnya pelan, membuat darah wanita itu berdesir hebat. Wanita itu akui bahwa ini adalah ciuman pertamanya yang akhirnya ia berikan kepada atasannya diumurnya yang ke-25 tahun. Memang cukup mustahil, tapi, itulah kenyataannya.
Wira yang merasakan keterdiaman Cahya membuatnya kembali melangkah maju. Ia kembali mempertemukan kedua bibir mereka, lebih tepat Wira lah yang memulai. Tangannya yang kekar awalnya berada di kedua sisi pipi Cahya kini bergerak ke atas hingga tangannya berada di tengkuk wanita itu. Wira menekannya seiring dengan bibirnya yang bergerak pelan.
Kedua mata yang awalnya terbuka kini terpejam. Cahya cukup dibuat luluh oleh perlakuan pria yang usianya jauh darinya. Tangannya yang awalnya terjuntai kini terangkat menyentuh pinggang pria itu dan meremas jasnya erat.
Ruangan yang awalnya memanas karena perdebatan kini berubah menjadi panas karena gai*rah keduanya yang mulai memuncak. Wira melu*mat habis bibir merah alami Cahya. Ia semakin menekan tubuhnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
Karena merasa wanita itu tidak bereaksi, Wira menggigit bibir bawahnya pelan dan tangannya semakin menekan tengkuk wanita itu. Reflek Cahya membuka bibirnya yang membuat Wira mendapatkan peluang lebih. Lidahnya menerobos masuk, mengabsen tiap sudut bibir Cahya dengan panas.
Nafas mereka terengah saat Wira melepaskan luma*tannya yang cukup panas. Ia menatap Cahya yang tampak menundukkan kepalanya ke bawah. Tangannya langsung menyentuh dagu wanita itu dan mengangkatnya hingga Cahya mendongak menatapnya. Wira langsung mengunci kedua bola mata Cahya yang tampak sayu dan teduh.
"First kiss?" lirih Wira yang mendapat anggukan kecil oleh Cahya. Pipi wanita itu juga merah merona. Wira sudah menebaknya karena melihat respon Cahya yang hanya diam saat ia menciumnya. Cahya adalah wanita kedua yang ia sentuh setelah mendiang istrinya. Wira tidak menepis kalau saat ini gai*rahnya mulai bangkit setelah 17 tahun lamanya sejak ia ditinggal oleh sang istri. Saat berdekatan dengan wanita lain, Wira malah tidak merasakan sengatan listrik yang membuat darahnya berdesir. Ajaibnya lagi Cahya lah wanita kedua yang membuat ia merasakan sengatan listrik itu.
Melihat Cahya mengangguk pelan, membuatnya tersenyum. Wira mengangkat dagu Cahya, ia kembali mendekatkan bibirnya dan menyatukannya lagi. Cahya juga tidak memungkiri kalau rasa nyaman itu mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia memang menyukai pria itu sejak lama. Tapi, ia lebih memilih untuk memendamnya.
Kali ini, Cahya tidak tinggal diam. Ia juga tampak membalas ciuman panas pria di hadapannya itu meskipun gerakannya dibilang kaku karena ini adalah hal yang tabu untuknya. Tangannya langsung ia lingkarkan di leher Wira. Wira langsung mendekapnya erat, melingkarkan satu tangannya di pinggang Cahya dan menekannya ke tubuhnya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Sedangkan tangannya yang satunya mendekap punggung Cahya erat hingga dadanya bersentuhan dengan dada wanita itu. Tangannya mengelus pelan punggung belakang Cahya dengan gerakan turun naik. Cahya yang diperlakukan seperti itu tanpa sadar mele*nguh pelan. Mengeluarkan suara indahnya yang membuat pria itu kini kian bersemangat. Seolah-olah rasa dahaganya hilang dalam sekejap karena disiram oleh air yeng mengalir.
Cukup lama keduanya bertukar rasa hingga akhirnya pria itu mengangkat tubuh Cahya dan menggendongnya ala koala. Ia berjalan pelan menuju rak buku yang dipenuhi oleh susunan buku. Ia menekan tombol yang tersembunyi di dekat tumpukan buku tanpa mau melepaskan tautan bibir mereka. Setelah pintu itu terbuka, Wira langsung masuk ke dalamnya dengan Cahya yang berada dalam gendongannya.
Pria itu menutupnya kembali, setelah merasa aman. Ia langsung menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas kasur. Pria itu menindihnya dengan satu tangan sebagai topangan agar tidak terlalu menekan tubuh Cahya dengan bobot tubuhnya.
Jari-jari lentik itu langsung bergerak membuka satu kancing jas Wira dan melepaskannya dibantu oleh pria itu. Jari-jarinya juga bergerak semakin nakal, ia menarik dasi pria itu hingga terlepas lalu dilanjut dengan membuka satu kancing kemeja teratas pria itu dan dilanjut dengan kancing kedua hingga kancing yang terpasang di kemeja itu terbuka semua. Suara-suara indah nan erotis itu mulai terdengar kala bibir pria itu berlabuh di leher jenjangnya yang mulus. Ia menggigit dan mengisapnya pelan hingga menimbulkan bekas berwarna ungu kebiru-biruan.
"Pakhhhh..." panggil Cahya mati-matian menahan des@hannya agar tidak keluar. Namun, perlakuan lembut pria itu mampu membuat pertahanannya goyah. Tangannya reflek meremas rambut tebal Wira saat kepala pria itu bermain-main di lehernya.
__ADS_1
Pria itu mengangkat wajahnya hingga ciumannya di leher wanita itu terlepas. Keduanya saling bertatapan dengan mata yang sayu. Wira mengulurkan tangannya menyentuh dahi wanita itu lalu menyeka keringatnya.
"Kenapa, hm?" tanya Wira mengeluarkan suara bassnya.
Cahya tampak menormalkan nafasnya yang tidak beraturan. Tangannya mengusap lembut rahang pria itu. Ia terdiam saat merasakan ada yang berbeda di pangkal pahanya. Hal yang sama juga Wira rasakan, ia melirik ke arah bawahnya lalu menatap wanita itu nakal.
"Mesum!" Cahya langsung menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Sungguh, ia merasakan malu sekarang. Belum lagi saat ia mengingat cumbuan panas mereka saat berada di pintu tadi.
"Sana ihh!" wanita itu mendorong dada bidang Wira agar pria itu segera bangkit dari atas tubuhnya.
Wira malah menggelengkan kepalanya. Dengan nakal ia menekan tubuhnya membuat wanita itu memekik karena merasa geli saat merasakan tonjolan itu sangat terasa di pahanya.
"Bapakkkk!!!" pekik Cahya memukuli dada bidang itu.
Wira langsung terkekeh. Ia menangkap kedua tangan yang memukulinya itu menggunakan satu tangannya. Pria itu membawa tangan Cahya untuk ia kecup. Cahya bisa merasakan benda kenyal itu mulai mengecapi punggungnya tangannya.
"Dihhh? Om om gak ingat umur!" sindir Cahya.
Bukannya marah, Wira malah tersenyum dan melakukan hal yang sama lagi. "Om om ini masih tampan. Banyak kok yang suka." Cahya langsung meringis geli mendengar ucapan pria itu yang teramat percaya diri. Ya, memang Cahya akui kalau apa yang dibilang pria itu benar. Meskipun umurnya berada di angka 38, namun, wajah dan tubuhnya masih tampak seperti diusia dua puluhan.
"Iya, iya. Sana ih minggir. Geli tau!" seru Cahya menggerakkan tubuhnya agar pria itu segera beranjak. Namun, tingkah Cahya malah justru sukses membuat Wira mendesis.
"Jangan gerak, Sayang. Kamu membangunkan singa tidur." sontak Cahya mematung dengan bibir yang terkatup.
"Makanya minggir." titah Cahya.
"Nanti. Sekarang aku mau tanya." ujar Wira mengubah ekspresinya ke mode serius.
"Apa?" tanya Cahya bingung.
.
.
.
buat mak, disarankan jgn baca yah😌ini tuh khusus loh buat yg udh dewasa😌😌
__ADS_1
tp btw, udh telat ya? 🤣harusnya kasih tau di awal jgn di akhir 🤣😭😭