
Sehabis acara makan-makan, Dena meminta Papanya untuk mengajaknya berkeliling sembari menyapa para karyawan. Begitulah kebiasaannya saat berkunjung ke kantor sang Papa. Lagi pula Papanya tidak terlalu sibuk jadi masih bisa diajak berkeliling. Kalaupun sibuk, Wira malah memprioritaskan putrinya, pekerjaan kantornya biasa ia serahkan pada Steve yang selalu membantunya.
"Pa, Om Steve lagi sibuk ya?" tanya Dena yang saat itu mereka berada di dalam lift.
"Iya. Tadi Papa suruh ngerjain beberapa berkas. Kenapa tanya-tanya soal Om Steve?"
"Enggak sih, Pa. Dena cuman tanya aja. Oh ya, beneran Om Steve belum punya pacar, Pa?"
"Papa gak tau soal itu. Mending kamu tanya langsung aja ke orangnya. Yang selama ini Papa liat sih dia belum pernah ngenalin pacarnya ke Papa."
"Kasian jones, sama kayak Papa. Ups!" ledeknya yang langsung saja menutup mulutnya menggunakan salah satu tangannya. Menatap Papanya dengan tatapan meledek.
Wira gemas dibuatnya. Laki-laki itu langsung menjepit hidup Dena menggunakan tangan kanannya. "Nakal kamu ya? Giliran ada cewek yang dateng ke Papa malah kamu usir. Gimana Papa gak jomblo coba, hem?"
Dena langsung melepaskan tangan Papanya yang bertengger manis di ujung hidungnya. "Gimana Dena gak ngusir coba. Lha wong modelannya sama semua. Makanya Dena usir, coba kalo engga udah Dena sayang-sayang tuh." celetuknya.
"Memangnya kamu mau yang modelan kayak gimana?" Wira malah bertanya. Laki-laki itu juga harus mendiskusikan hal terkait statusnya saat ini. Diizinkan alhamdulillah, tidak diizinkan pun tak apa.
Dena berpikir, gadis itu meletakkan jari telunjuknya ke dagunya sambil menggerakkannya. "Gimana ya? Emangnya Papa mau yang modelan kayak gimana?" Dena balik bertanya.
"Kok tanya Papa sih? Kan kamu yang mau." sekali lagi Wira menarik hidup gadis itu gemas.
"Dena juga gak tau, Pa. Liat aja nanti ya?"
"Hummm... oke deh. Tuh udah sampai bawah nih." ujar Wira menyadarkan bahwa mereka sudah berada di lantai bawah. Pintu lift langsung terbuka dan keduanya langsung keluar dengan Dena yang menggandeng lengan Papanya.
"Ayo, Pa. Kita keliling!" ajaknya dengan begitu antusias dan semangat.
"Iya, ayo!" balas Wira mengikuti langkahnya.
Kedatangan sang bos membuat semua karyawan menunduk hormat dan mengerjakan pekerjaannya dengan sedikit gerogi karena diperhatikan. Bukan apa-apa, mereka hanya sedikit tidak nyaman, terlebih mereka seperti dikekang padahal tidak. Bosnya itu hanya mengikuti permintaan putrinya.
"Papa, jangan liat kayak gitu. Mbak mbak di sini pada takut." tegur Dena sedikit peka.
"Jadi, Papa harus liat kayak gimana. Gini... apa gini... atau, Papa gak usah ngeliat aja ya trus pakai tongkat."
"Ih! Papa bukan orang buta ya! Buta warna iya. Hahaha..."
Tawa Dena menggelegar membuat suasana sedikit cair. Para karyawan hanya bisa melihat sisi berbeda dari bosnya itu. Kalau Wira datang sendirian atau bersama Steve sudah dipastikan para karyawan yang kerjanya tidak becus pasti kena omel. Sementara kalau datang bersama putrinya itu akan berubah 360 derajat. Menatap tajam sedikit saja sudah ditegur oleh putrinya apalagi kalau ngomel-ngomel sambil banting berkas.
"Yaudah, yuk, Pa! Kita ke ruangan sebelah. Mau ngintip mas-mas ganteng yang lagi kerja. Hihihi serius jadi keliatan maco mereka." Dena cekikikan saat melihat tatapan tajam dari Papanya.
"Becanda, Papa. Jangan bengong, ayok!" Dena menarik tangan Papanya keluar dari ruangan staff. Meninggalkan para karyawan yang menghela nafas lega kemudian melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Kamu gak capek?" tanya Wira yang dibalas celengan kepala oleh Dena.
"Dena mau ke ruangan administrasi." pinta Dena melanjutkan langkahnya. Ruangan yang yang memiliki ruang lebih kecil dari pada ruangan staff biasa. Begitu masuk, terlihat karyawan bangkit dari duduknya lalu menundukkan kepalanya hormat.
__ADS_1
"Lanjutkan pekerjaan kalian. Saya hanya ingin memantau sebentar." ujar Wira dengan wajah datarnya.
Dena kembali berkeliling. Meneliti pekerjaan setiap karyawan sembari mengoreksi sedikit. Gadis itu telihat aktif, sangat pintar hingga membuat karyawan di ruang itu terlihat menyengir saat mendapati dirinya yang sedikit salah namun masih bisa diatasi. Mungkin efek diperhatikan oleh sang bos jadi membuat mereka grogi.
Semuanya terlihat tidak berani menoleh kanan kiri samping maupun belakang. Apalagi belakang yang sudah jelas-jelas bos mereka berdiri meneliti.
Wira mendekati putrinya sambil berbisik. "Papa ke toilet dulu ya, Sayang? Kamu tunggu di sini aja dulu, gak lama kok palingan sebentar." bisiknya pelan yang tidak terdengar oleh siapapun kecuali mereka berdua. Takut mengganggu konsentrasi karyawannya.
Dena hanya mengangguk iya sambil menunjukkan jari jempolnya sebagai respon.
Terdengar suara helaan nafas lega dari semua karyawan di sana. Hanya ada beberapa orang bahkan tidak sampai belasan ataupun sepuluh orang.
"Karyawan baru ya, Mbak?" tanya Dena melihat sosok asing yang jarang ia lihat namun terlihat familiar di matanya.
Sontak karyawan itu menoleh ke belakang. Terlihat ekspresi dua manusia itu kaget.
"Loh... Kakak? Kerja di sini?" tanya Dena terkaget-kaget.
"Iya. Kamu kok bisa ada di sini, Dek? Kakak sampai kaget loh kirain siapa tadi."
Cahya, ya ternyata karyawan baru itu Cahya. Karyawan yang tadi berpapasan dengan Dena saat gadis itu ke ruangan Papanya. Pantas tidak terlihat asing ternyata eh ternyata.
"Hehe, iya, Kak." ujar Dena tanpa menjawab pertanyaan Cahya.
"Udah kelar?"
"Gak pa-pa sih. Tanya aja kok, Kak. Pengen ngobrol sama Kakak soalnya."
"Oalah. Kalau gitu Kakak kerjain ini dulu ya? Dikit lagi kok kamu tunggu aja duduk di sana." tunjuknya ke sebuah kursi yang kosong.
"Iya, Kak."
Benar saja, tidak sampai lima menit wanita itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Lalu memanggil ketua bagian administrasi di ruangan itu untuk izin sebentar menemani Dena. Awalnya ketuanya tidak memberi izin. namun saat Cahya menunjuk Dena, wanita itu langsung mendapat persetujuan tanpa banyak pertanyaan.
Keduanya tampak duduk saling berhadapan di luar ruangan.
"Kak, tadi Kakak ke ruangan atas ya? Ada apa?"
"Iya, Dek. Tadi Kakak ada bikin kesalahan sedikit. Bisa diatasi kok."
"Pas Kakak keluar kayaknya frustasi banget deh? Diapain sama bos Kakak?" tanya gadis itu kepo. Lebih tepatnya kepo dengan sikap Papanya tadi. Apakah mengamuk atau bahkan menghukum?
Huft! Cahya menghembuskan nafasnya panjang.
"Tapi, jangan bilang ini ke siapa-siapa ya?" Dena hanya mengangguk patuh.
"Bos Kakak galak banget." Cahya menjeda beberapa detik lalu melanjutkan. "Dia marah-marah sambil ngelempar berkas. Kakak tau kalau Kakak salah, udah bikin kesalahan tapi gak sampai fatal kok. Kamu tau kan Dek? Kalau Kaka itu karyawan baru di sini. Pas waktu di bandara Kakak kan ada bilang kalau gak sengaja liat bos. Nah itu! Kakak baru aja kerja seminggu lebih."
__ADS_1
Dena mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ternyata begitu sikap Papanya dalam mendisiplinkan karyawan. Niat baik ingin mengajarkan.
"Mana dingin lagi. Udah gitu matanya tajam banget. Udan kayak silet. Omongannya pedes jutek, cuek. Ih! Kakak kesel jadinya. Coba aja kamu ada di sana, Dek. Kakak beneran mau ngebejek mukanya itu." saking seriusnya bercerita, Cahya sampai tidak sadar bahwa ada seorang laki-laki di belakangnya yang tengah menatap dirinya datar.
Dena bahkan tidak berani untuk berbicara karena sedari tadi ia menahan tawa. Tidak tau saja kalau bos yang Cahya jelek-jelekkan itu adalah Papanya yang super posesif dan protektif.
Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin setelah ini Dena akan tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat ekspresi Papanya di belakang sana. Ya, Wira baru saja kembali ke ruangan administrasi untuk menjemput putrinya. Eh, menemukan putrinya di luar ruangan tengah mengobrol dengan karyawannya yang tadi ia marahi.
"Kak."
"Iya, Dek. Kenapa?"
"Kakak. Tuh!" Dena mengkode.
"Apa, Dek?'
"Ghemmm..."
Suara itu? Batin Cahya sambil berbalik.
"Eh! Hehe, Bapak. Maaf, Pak. Saya keluar dari ruangan sebentar, ini langsung mau masuk kok." Cahya meringis lalu bersiap-siap untuk melarikan diri masuk kembali ke dalam ruangan.
"Gak sekalian keluar dari kantor ini?"
Duarrr!!
"Keputusan ini tepat kan, Sayang? Denada Ayudia Utami?"
"Iya, Pa."
Duarrr!!!
"Pa--pa...??"
Dena cekikikan sendiri dibuatnya. Oke, mulai hari ini detik ini menit ini jam ini, Dena akan sedikit memberi olahraga jantung untuk kenalan barunya.
Brukkk
"Yahhh. Pingsan. Papa sih! Bantuin, Pa, bawa ke ruangan Papa. Ish! Papa meresahkan." gadis itu dibuat khawatir karena Cahya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
.
.
.
mau tanya nih. Boleh kan nyelipin kisah Papanya Dena mumpun Dena ny blm ketemu ama Fairel lagi? Boleh dong ya masa engga🤣
__ADS_1