
Sehabis acara makan-makan, kini semuanya berkumpul di ruang tamu di rumah Kakek Hari. Selain sekedar berkumpul, mereka juga tampak berbagi cerita. Sedangkan Wira dan Cahya yang sebagai orang dewasa hanya menjadi pendengar saja. Maklum saja, saat mendengar isi cerita anak-anak muda, mereka langsung tidak jadi untuk menimbrung. Hal yang mereka bahas tentulah yang pertama adalah kisah cinta-cintaan. Bukan hal yang asing lagi kan?
Saat bosan dengan cerita tentang hati, mereka malah berpindah topik ke arah pendidikan. Nah itu baru bener.
"Gue lanjut ke Bandung." ujar Rafael dengan sumringah.
"Gue Surabaya."
"Sama." sahut Dicky akan perkataan Risty membuat gadis itu melotot tidak terima.
"Lo, jangan ngintilin ngapa!" seru Risty tak suka.
"Suka-suka gue, duit juga duit gue. Wlek!" Dicky tidak mau kalah.
"Arel, Dewi, Anna. Kalian lanjut mana?" sambung Wira akhirnya ikut menimbrung.
"Kalau Dewi langsung kerja aja, Om." jawab Dewi cepat.
"Kalau Anna terserah ngikut siapa. Kayaknya langsung mau nikah aja." celetuk Anna sontak mengundang perhatian semuanya. Sedangkan yang menjadi bahan perhatian hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya tidak gatal.
"An, Lo... masih waras kan?" tanya Risty membuat Anna menatapnya tajam.
"Ya iyalah gue masih waras. Ngadi-ngadi lo pada." sarkas Anna.
"Lagian omongan lo itu aneh!" sambung Dewi.
"Hehehe, dari pada kerja. Mending langsung nikah aja, cari suami yang kaya raya." belum apa-apa Anna sudah membayangkan.
__ADS_1
Semua yang mendengarnya pun hanya tertawa. Belum lagi Wira yang sampai geleng-geleng kepala. Apalagi dengan Cahya. Di umurnya yang sudah menginjak usia dua puluh lima tahun juga belum mendapatkan pencerahan. Apalagi mereka yang umurnya masih sekecil biji jagung. Sangat rawan! Memang jodoh itu tidak memandang siapa dan usia. Hanya Tuhanlah yang menentukan takdir cinta itu akan berlabuh di mana.
"Kalian, semuanya dengar ya. Ok cuma mau kasih tau kalian sesuatu. Menikah itu bukanlah perkara yang mudah. Kebanyakan anak-anak muda itu kalau capek atau putus asa pasti mikirnya mau menikah aja. Itu kebanyakan perempuan sih ya. Jangankan perempuan, laki-laki pun juga ada. Mereka berpikir kalau menikah itu adalah sesuatu hal yang mudah. Tinggal serumah, tidur satu kasur, sarapan bersama, tertawa bersama. Tapi, nyatanya tidak semudah itu. Om cuma kasih saran, menikahlah jika kalian sudah memiliki umur yang matang dan segala persiapan yang matang juga. Mungkin umur tidak menentukan. Kalian bisa liat kan, tuh kakak kalian, Cahya. Dia sudah tua, tapi, belum juga menikah. Nah, sekarang kalian buka pikiran dan wawasan kalian lebar-lebar bahwa menikah itu bukan hal yang mudah. Banyak rintangan dan kerikil yang harus dilalui. Banyak tuh diluaran sana mereka nikah muda ujung-ujungnya pisah. Karena apa? Ya bisa jadi karena pikiran mereka masih labil, belum memahami arti pernikahan yang sesungguhnya. Jika kalian merasa jatuh cinta, silahkan. Tapi ingat! Cinta kalian jangan sampai membuat kalian buta. Itu pesan Om. Diingat ya?" tutur Wira panjang lebar.
Dari sekian panjangnya ucapannya tadi, hal yang paling mencolok adalah nama Cahya. Sang pemilik nama langsung mendelik kesal lantaran namanya ikut terseret-seret.
"Bapak! Nama saya kok dibawa-bawa sih?" protes Cahya tidak terima. Mentang-mentang umurnya sudah dua puluh lima tahun dan bosnya itu dengan seenaknya mengatai dirinya. Katanya umur bukan permasalahan. Mau tua, mau muda, kalau sudah waktunya mendapat jodoh ya mau digimanakan lagi. Itu juga termasuk dalam hal ajal. Mau tua, mau muda, kalau sudah dipanggil mana bisa negosiasi lagi. Dan mana ada orang yang mau meninggal dirinya malah bernegosiasi dengan malaikat pencabut nyawa.
"Mas, Mas, tolong tunda dulu ya. Saya masih mau makan bakso." apakah seperti itu negosiasinya? Tidak ada!
"Apa? Itu kan hanya perumpamaan saja." balas Wira tidak mau kalah.
"Tapi, gak nama saya juga kali, Pak, yang dijadiin perumpamaan. Ini namanya pencemaran nama baik, bapak bisa saya laporkan ke polisi atas kasus pencemaran nama baik." terang Cahya mengulang kalimatnya.
"Kamu yang saya laporkan nanti. Atas kasus pemfitnahan. Mana buktinya kalau saya mencemarkan nama baik kamu?"
"Aduhhh aduhhh... Papa, Kak Cahya, stop! Dena pusing dengernya. Kalau mau berantem tuh di sawah noh luas. Sekalian mau adu jongos juga gak pa-pa. Gak masalah Dena, asal jangan bikin Dena pusing." lerai Dena merasa frustasi.
Sontak Wira dan Cahya langsung terdiam. Namun, mata mereka terus bertatapan tajam. Ya bisa dibilang perang lewat mata.
"Lanjutin." ujar Dena kepada teman-temannya. Akibat pertengkaran Wira dan Cahya tadi, obrolan mereka menjadi terhenti.
"Oh ya. Mending Dewi bisa ikut Dena ke Jakarta." sahut Wira berpendapat. Seharian bersama dengan teman-teman putrinya membuat Wira sedikit hafal wajah masing-masing.
"Ngapain ikut Dena ke Jakarta, Om?" tanya Dewi.
"Om tau pasti kamu pengen banget kan kuliah? Dan sekarang Om akan kasih kamu tawaran. Kamu kuliah Om biayain, asalkan kamu harus rajin dan berusaha semaksimal mungkin. Untuk awalan Om akan tanggung semua biayanya. Tapi, nanti di pertengahan akan Om carikan kamu pekerjaan sampingan. Kamu bisa ambil waktu kuliah malam, lalu pagi sampai sore kerja. Bagaimana?"
__ADS_1
Dewi menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar ragu.
"Kamu akan tinggal di rumah Om sampai kapanpun kamu mau." lanjut Wira.
"Wi, mau ya?" bujuk Dena yang sekarang sudah merasa bahagia karena nantinya dirinya akan ada teman.
"Mmmm... gimana ya, Om, Na?" ujar Dewi ragu.
"Silahkan di pikir-pikir dulu. Om akan kasih kamu waktu tiga hari, dan setelah tiga hari itu kamu harus jawab untuk kepastian apakah kamu mau atau tidak. Om, Dena, dan Kak Cahya pulang ke Jakarta, kamu akan ikut."
"Dewi pikir-pikir dulu ya, Om, sambil bicarain ini sama Ibu."
"Silahkan."
"Dan untuk Anna dan Arel, kalian juga bisa ikut. Kalian bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi dengan syarat yang Om kasih tadi. Dan untuk Arel, Om tidak izinkan kamu untuk tinggal di rumah Om. Tapi, Om akan carikan kamu tempat tinggal atau kost-an. Kalian juga akan Om carikan tempat kerja, sama seperti Dewi."
"Maaf, Om. Bukan maksud Anna buat nolak. Alhamdulillah orang tua Anna mampu untuk membiayai pendidikan Anna sampai selesai." balas Anna menolak secara halus. Bukan ingin sombong, tapi, memang itulah kenyataanya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Dan mungkin ini penawaran ini hanya untuk Dewi dan Arel. Seperti Dewi tadi, Rel, Om kasih kamu batas waktu tiga hari. Silahkan kalian diskusikan bersama orang tua kalian."
Penawaran yang Wira berikan bukanlah main-main. Dia benar-benar serius untuk memberikan tawaran itu. Bukan untuk menyombongkan diri bahwa dirinya memiliki harta yang berlimpah, tapi, memang itu kenyataannya. Selain itu, Wira juga ingin membantu anak-anak muda yang ingin bersekolah lebih tinggi, tapi, tidak mampu untuk melanjutkannya karena keterbatasan biaya. Asalkan rajin, tekun, dan berusaha maksimal, In Syaa Allah Wira akan membantu sebisa mungkin.
.
.
.
__ADS_1
Hai hai hai👋lama tak berjumpa wkwk🤣ramaikan kolom komentar yagesya. Mungkin novel ini agak sedikit panjang babnya dan mungkin juga membutuhkan waktu yang lama, bisa dilihat kan dari alurnya. intinya di sini aku selaku author yang menulis cerita pengen kalian semua para pembacaku memberikanku support supaya novel ini bisa lanjut. maaf kalau terkesan nuntut, tapi emang nuntut kok🤣🤣ciusan deh. Suport dan semangat kalian itu berarti banget buat aku🥺