Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 83


__ADS_3

Berbeda dengan perkelahian Dena dan Fairel yang melibatkan selang air yang membuat keduanya basah kuyup. Kini pria yang berstatus papanya itu malah asik mengobrol dengan wanitanya. Semua para pelayannya ia depak ke rumah belakang. Ya, Wira meminta agar semua pelayan di rumahnya itu segera pulang. Bukannya apa, Wira hanya tidak ingin orang lain melihatnya bak abg yang baru jatuh cinta. Tak hanya itu, Wira juga takut nantinya tidak bisa bermesraan bersama Cahya saat wanita itu terjun langsung ke dapur, memasak makan siang untuk mereka semua.


Sebelumnya saat pria itu mengajak Cahya masuk, ia terlebih dahulu membersihkan diri. Lalu setelahnya langsung meminta Cahya juga ikut membersihkan diri karena mereka baru tiba dari luar. Eits, jangan salah paham. Cahya mendapat izin dari Wira untuk memakai kamar mandi Dena. Dan satu hal yang membuat Wira merasakan kalau bayang-bayang mendiang istrinya selalu memperhatikannya. Pria itu memberikan baju kepada Cahya sebagai baju gantinya karena wanita itu tidak membawa baju ganti. Bukan, bukan itu! Yang membuat Wira tersenyum adalah saat melihat pakaian yang dulunya dikenakan mendiang istrinya kini dikenakan oleh Cahya.


Mengingat hal itu membuat Wira tersenyum. Ada setitik air matanya yang luruh mengingat momen-momen langka saat bersama istrinya dulu. Air matanya kini adalah air mata kebahagiaan. Rupanya sang istri mengizinkan dirinya untuk merasakan cinta setelah sekian lamanya ia menduda.


Tanpa sadar pria itu berjalan mendekat. Cahya yang sedang asik memotong sayuran pun sampai terjingkrak kaget saat dua buah tangan kekar memeluk pinggangnya posesif. Hampir saja pisau tajam mengenai jarinya.


Cahya langsung memberontak. Hal itu justru membuat pelukan di perutnya semakin erat. "Pak, masih ada orang." tegur wanita itu bahkan sampai menghentikan aktivitasnya.


"Udah nggak ada. Udah aku suruh pulang ke rumah belakang." balas Wira dengan nada pelan. Ia menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Cahya membuat wanita itu menggelinjang karena merasa geli.


"Iya, tau. Tapi, masih ada Dena sama Fairel. Pasti mereka udah selesai nyuci mobilnya." sahut Cahya sambil berusaha melepaskan pelukan pria itu.


"Masih lama. Satu lagi, jangan panggil aku Pak. Itu terkesan sangat asing."


"Lahhh, biasanya juga manggil Pak gak protes. Sekarang malah protes, yaudah ganti aja jadi Om. Om, mau ya?" Cahya sedikit terkekeh saat mengatakan itu.


"Coba panggil sekali lagi kalau berani." geram Wira.


"Om. Om Wira, ingat umur, Om. Udah tua, gak cocok."


Wira langsung mendengus kesal. "Aku juga manusia. Kamu pikir aku ini robot?" balas pria itu kesal.


"Dulu suka marah-marah gak jelas. Sekarang udah ada perkembangan ya, Om. Jadi ngambek-ngambek gak jelas. Udah tua, gak malu apa sama anak sendiri yang udah gede." perkataan Cahya justru memancing kekesalan Wira. Tiba-tiba pria melepaskan pelukannya dan berjalan mundur. Memang benar apa yang dikatakan Cahya itu benar. Dan sekarang Wira langsung sadar. Secara tidak langsung, wanita itu sudah menolaknya dan juga mengatakan kalau pria itu bukanlah termasuk tipenya. Wajahnya langsung murung, ia tidak berani menatap wajah Cahya.


Cahya yang melihat itu pun langsung terenyuh. Ternyata apa yang dikatakan Steve memanglah benar. Steve mengatakan kalau bosnya itu adalah pria malang yang kehilangan orang yang sangat ia cintai. Tidak aneh lagi kalau melihat Wira bersikap dingin di luar. Dan ketika berada di dalam, pria itu akan berubah menjadi seekor kucing. Aslinya Wira adalah pria yang manja jika berada di tangan wanita yang tepat. Ia hanya bersikap dingin agar dirinya aman dan juga pria itu sadar bukan hanya dirinya saja yang ia jaga, melainkan sang putri yang masih belia. Mengingat Dena adalah gadis yang manja, jadi lah Wira harus memperlakukan putrinya sebaik dan selembut mungkin.


Cahya yang tersadar kalau ucapannya menyakiti hati pria itu langsung meletakkan sayuran yang tersisa sedikit di tangannya. Wanita itu berjalan mendekat. Namun, pria itu malah melangkah mundur. Ia hanya takut akan kembali ke jurang kegagalan. Langkah kakinya terus berjalan mundur seiring dengan Cahya yang melangkah maju. Sampai akhirnya tubuhnya mentok di meja dapur yang terletak berhadapan dengan kompor.

__ADS_1


Cahya menggerakkan tangannya menyentuh tangan Wira. Wanita itu menggenggamnya dan membawanya di tengah-tengah mereka. "Maaf." ucapnya terdengar tulus, lalu tidak lama Wira merasakan benda kenyal itu menempel di punggung tangannya. Wira masih tidak berani mengangkat wajahnya. Ia hanya ingin tau bagaimana cara wanita itu meluluhkan hatinya.


Tangan Cahya langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajah pria itu lalu mengangkatnya. Ada bekas tetesan air mata di sana yang membuat hati Cahya seolah teriris, apakah perkataannya sangat menyakitkan? Padahal wanita itu bercanda.


Wanita itu berjinjit yang seketika membuat tubuhnya sedikit meninggi ke atas. Dengan tangan yang masih memegang kedua sisi wajah Wira, ia langsung mendaratkan satu kecupan singkat di sebelah kanan pipi pria itu. Lalu ia lanjutkan lagi mengecup di sebelah kiri. Cahya sempat berhenti dan menjauhkan wajahnya sedikit. Ia menatap ragu, lalu akhirnya memberanikan diri untuk mengecup bibir pria itu. Hanya kecupan singkat! Tidak disertai dengan campuran cuka. Kata reader.


"Masih ngambek?" tanya Cahya setelah menjauhkan wajahnya. Dan respon pria itu tetaplah sama, ia hanya terdiam dengan bibir yang terkatup rapat.


Karena tidak mendapat jawaban dari Wira, Cahya segera menjauhkan tubuhnya. "Oke, aku lanjut masak dulu." saat tubuhnya sudha berbalik, tapi, tangannya langsung ditarik. Tubuhnya langsung menempel ke tubuh Wira saat pria itu menariknya.


"Apa?" Cahya melayangkan tatapan protes. Ia sudah membujuk, dan hasilnya tidak ada. Malahan ia yang malu karena bersikap agresif.


Melihat tatapan kesal dari wanitanya, Wira justru tersenyum singkat kemudian langsung meraih tengkuk Cahya. Pertemuan bibir mereka tidak dapat terelakkan lagi. Cahya yang terkejut langsung membulatkan matanya. Ingatkan dia kalau mereka masih berada di dapur, dan mungkin saja nanti Dena dan Fairel malah datang tiba-tiba dan memergoki perbuatan nakal mereka.


Tiba cukup membuatnya terkejut, Wira malah tidak perduli itu. Biarlah nanti sang putri memergoki mereka. Intinya sekarang ia dapat menyalurkan rasa kekesalannya tadi.


Wira mendekap tubuh Cahya erat dan menekan tengkuk wanita itu lebih kuat. Pria itu langsung mema*gut lembut bibir Cahya yang selalu menjadi candunya. Perlahan Cahya luluh, ia memejamkan matanya sambil menikmati rasa aneh yang menjalar di tubuhnya.


Sedangkan dari ruangannya yang sama namun hanya tempatnya yang berbeda. Tampak sepasang mata lentik menyaksikan tontonan yang menurutnya cukup nakal. Entah sudah lama ia berdiri di ujung anak tangga itu. Tangannya langsung merogoh saku celananya yang sedikit basah dan langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa angka di panggilan telfon.


"Om. Dena punya tugas buat, Om. Tenang aja, transferan aman."


Tutt


Gadis itu langsung memutuskan panggilannya setelah menelfon dengan suara yang sangat pelan. Takut menganggu aktivitas dua orang dewasa yang berada di dapur.


"Papaku, Sayang. Tunggu aja kejutan dariku." Dena tersenyum menyeringai menatap papanya yang kini malah asik bermesraan.


Tiba-tiba tatapannya langsung menggelap saat sebuah tangan menutupi kedua matanya. "Stttt..." bisik seseorang itu mengkode Dena agar tidak berteriak.

__ADS_1


"Arel." Dena cukup terkejut dengan kehadiran Fairel yang masih dalam keadaan yang sama dengannya. Ya, gadis yang baru selesai menemani Fairel mencuci mobil itu langsung masuk ke rumah setelah perkelahian serunya bersama Fairel. Namun, saat akan menuju kamar, ia malah mendengar suara obrolan lalu dilanjut dengan adegan yang tidak seharusnya ia lihat. Ingatkan Dena kalau saat ini dirinya sudah cukup dewasa. Sudah masuk dalam batas usia. 17 tahun bukan?


"Ngapain ngintip?" bisik Fairel juga ikut melihat ke arah dapur.


"Cih! Lo juga ngintip. Ngapain negur gue." kesal Dena.


"Udah. Ayo kita pergi dari sini. Gak baik buat mata." Fairel langsung menarik pelan tangan Dena, membawa gadis itu keluar rumah.


"Arell ihh! Gue masih pengen liat." protes Dena begitu polosnya.


"Liat apa?" tatapan tajam Fairel berikan setelah mereka berada di luar rumah. Bukannya takut, Dena malah menyengir.


"Gue juga pengen hehe. Kiss me, Arel!" pinta Dena memajukan bibirnya. Fairel yang melihat itu langsung meneguk ludah kasar. Jakunnya reflek bergerak naik turun. Dena yang melihatnya justru tersenyum.


"Lama-lama otak lo geser." seru Fairel mengedarkan pandangan ke arah lain.


"Ayo lah, Rel. Satu kali aja. Ya ya ya..." rengek Dena manja. Ia hanya ingin menggoda Fairel saja.


"Simpan aja buat lain kali." balas Fairel membuat Dena mengerucutkan bibirnya. Dalam hatinya ia tertawa puas karena sudah membuat Fairel panas dingin.


.


.


.


alo gaes, izinkan aku selingkuh dari Dena dan Fairel ya🤣


__ADS_1


nih, mampir dunk🥺🥺🥺masih anget loh baru diangkat dri kuali🤣 ini tuh cerita Babang Zafri, anak dari Om Zaf ama Ceisya. Ditunggu loh ya notipnya 😗🤗😘🥰


__ADS_2