Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 29


__ADS_3

Ayo sebelum baca like dulu😥sedih liat readers yang silent 😥like aja author udh seneng apalagi yg baca, makasih banyak malahan🥰😘😘


.


.


.


Hari-hari berlalu, jika ditanya apakah Dena merindukan suasana kampung Kakeknya? Ya, sudah jelas. Siang itu setelah sepulang sekolah Dena langsung masuk ke kamarnya, gadis itu bahkan enggan keluar. Makan siangnya pun diantar ke kamarnya.


Gadis itu membolak-balikan ponsel pintarnya sembari berpikir. "Kalo ditelfon... bakal diangkat gak ya?" gumamnya.


Sibuk berperang dengan isi kepala akhirnya gadis itu memutuskan untuk menelfon teman jauhnya.


Tuttt tuttt


Masih berdering. Panggilan kedua kalinya baru diangkat. Dena segera menyalakan loudspeaker.


"Halo."


"Dena? Maaf, tadi gue lagi di kamar mandi." suara Dewi terdengar di seberang sana.


"It's okay. Lama gak ketemu, gue kangen banget sama kalian. Kalo aja gak sekolah, udah tinggal di sana gue." ujar Dena.


"Sama, gue juga kangen. Liburan nanti lo ke sini lagi kan?"


"Insya Allah kalo gak ada kendala gue pasti ke sana. Oh ya, yang lain bareng lo gak?" tanya Dena berbaring sambil melihat langit-langit kamarnya.


"Nggak nih. Lo mau ngobroo juga sama mereka? Kalo gitu biar gue panggil deh."


"Boleh sih."


"Okedeh. Gue matiin nih ya telfonnya. Nanti kita video call aja di wa."


"Oke."

__ADS_1


Tutt


Panggilan dimatikan oleh Dewi. Dena tersenyum membayangkan. Tiba-tiba bayangan Fairel muncul di kepalanya. Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur menyentuh kalung yang terpasang indah di lehernya. Kalung itu pemberian Fairel saat mereka mencari oleh-oleh waktu itu.


"Tok... tok... tok..."


Dengan cepat Dena bangkit berjalan menuju pintu lalu membukanya. Di sana ada seorang pelayan yang mengantarkan makan siangnya.


"Permisi, Non. Ini makanannya." ujar pelayan di rumah Dena sambil menyodorkan nampan.


Gadis itu langsung mengambilnya membawanya masuk. "Oh iya. Makasih ya, Bik. Kalo gitu Dena masuk lagi ya?"


"Silahkan, Non. Bibik juga mau ke belakang. Selamat makan, Non Dena."


"Iya, Bik."


Dena membawa nampan itu ke meja belajarnya lalu duduk dan bersiap untuk menyantap makan siangnya itu.


Saat baru menyuapkan beberapa sendok ke mulutnya tiba-tiba suara dering ponselnya berbunyi di atas kasur. Dena bangkit dan langsung menyambar ponselnya itu lalu mengangkat panggilan video dari temannya.


"Sorry lama, Na. Soalnya tuh yang cowok pada pules tidurnya, susah dibangunin." ucap Dewi meminta maaf.


"Ada nih! Tuh kan..."


"Hai, Na. Apa kabar? Makin cakep aja." sahut Anna memuji sambil melambaikan tangannya.


Dena tersenyum membalas lambaian tangan Anna. "Gue baik. Lo... kalian gimana kabarnya? Kangen banget asli."


"Sama, baik juga. Tapi, noh si Fairel lagi demam."


"HAH!!???" Dena terbengonng sekaligus kaget.


"Iya, Fairel. Nih sekarang lagi di rumahnya."


"S-serius?" tanya Dena khawatir.

__ADS_1


"Iya serius. Lo mau ngomong sama dia? Ada sih di kamarnya lagi selimutan."


Dena tampak berpikir, sesaat kemudian ia mengangguk.


Di seberang sana, Dewi membawa ponselnya masuk ke dalam kamar Fairel. Di dalam kamarnya ada Dicky dan Rafael yang menjaga. Pantas tidak terlihat Dicky dan Rafael saat berada di luar.


"Rel." panggil Dewi.


"Hmmm?" Fairel bergumam sembari merapatkan selimut yang membungkus di tubuhnya. Di saat-saat seperti ini ia sangat beruntung karena ada teman-teman yang menjenguknya, Dicky dan Rafael rela bermalam di rumahnya demi merawat temannya itu, meskipun ada Paman dan Tantenya di rumah.


"Dena mau ngomong sama lo."


"Hmmm... apa?" tanyanya dengan suara serak. Dena diam menyimak melihat Fairel di dalam selimut karena saat ini Dewi mengarahkan kamera belakang.


"Dena mau ngomong."


"Mau gak nih? Kalo nggak mau gue matiin." lanjut Dewi lagi.


"Hmmm, iya iya." mata pemuda itu terbuka memperlihatkan matanya yang sedikit merah. Badannya panas tapi malah menggigil.


Fairel mengambil ponsel yang disodorkan oleh Dewi. Masih dalam posisi berbaring menyamping Fairel mengambil alih panggilan.


"Hai, Na." sapanya dengan wajah sayu.


"Hai juga, Rel. Lo sakit?"


"Sedikit meriang." jawabnya.


"Udah minum obat?"


"Udah kok tadi siang."


"Jadi, lo izin dong sekolahnya?" pertanyaan itu terlintas di pikiran Dena.


"Iy--"

__ADS_1


"Sekolah. Udah tau sakit malah maksain. Tadi pagi sebenernya udah mendingan. Tapi, karena kecapean jadi naik lagi suhu badannya." jelas Dicky menyela ucapan Fairel.


Tidak tau saja di seberang sana, Dena tengah menatap intens. Khawatir tentu saja.


__ADS_2