
"Kakek, ini obatnya." Dena menunjukkan sebutir obat kapsul kepada sang kakek.
"Kok ke sini? Kenapa gak langsung pulang?"
Dena menghembuskan nafasnya panjang lalu menaruh kembali gelas air minum saat kakeknya sudah meminum obat.
"Dena mau ngerawat kakek sampai sembuh."
"Kakek udah sehat kok."
"Sehat apanya? Makan aja masih disuapin." sang kakek langsung terkekeh mendengarnya.
"Itu kan kamu yang maksa."
"Kek." panggil Dena.
"Iya, Sayang?"
"Kakek harus sehat terus ya? Kakek harus melihat Dena sukses nanti." ditatapnya wajah yang sudah keriput itu dengan wajah sendu.
Kakek Hari langsung meraih tangan Dena dan menggenggamnya. "Setiap orang yang hidup pasti akan kembali lagi ke penciptanya. Kakek sudah tua, wajar kakek sakit-sakitan. Kakek sebenarnya juga enggak mau sakit-sakitan gini. Mungkin Tuhan sedang menghapus dosa-dosa kakek."
"Jangan gitu, Kek." lirih Dena dengan bola mata berkaca-kaca.
"Kakek sayang sama kamu. Kakek cuma minta kamu untuk jaga kesehatan. Nanti kalau kakek udah nggak ada di sini, kamu harus tetap bahagia. Kakek cuma mau melihat senyum kamu, bukan air mata."
"Kek." bibir Dena bergetar. Gadis itu meraih jari jemari kakeknya dan meletakkannya di sebelah pipinya.
"Jangan menangis. Kakek akan berusaha untuk bertahan. Temani hari-hari kakek dengan senyumanmu, bukan tangisan. Oke?"
Air mata Dena menetes perlahan. Ia menganggukkan kepalanya. Dikecupnya tangan yang sudah keriput itu. "Dena bakalan temenin kakek setiap hari. Jangan protes kalau Dena datang ke sini tiap waktu."
"Jangan. Bukannya kamu udah mau ujian kelulusan?" Dena mengangguk.
"Belajar yang rajin. Raih cita-cita kamu. Jangan sampai ada seseorang yang merusak tekad kamu. Mau liat menara Eiffel kan?" Kakek Hari tersenyum.
Dena menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak jadi. Dena bakal lanjut di sini aja nemenin kakek."
"Kok gitu? Jangan jadiin kakek sebagai penghalang untuk meraih cita-cita kamu."
"Pokoknya Dena mau di sini aja nemenin kakek. Titik!" ujar gadis itu tanpa bantahan.
"Iya, iya. Jangan cemberut gitu dong. Katanya mau senyum tiap hari. Sekarang kok cemberut?" goda sang kakek semakin membuat Dena memberengut kesal.
"Kakek harus janji." ujar Dena.
"Janji apa, hm?" tanya sang kakek menatap sang cucu heran.
"Kakek harus janji untuk nemenin Dena. Kakek harus janji jangan tinggalin Dena lagi. Cukup Mama dan Nenek aja yang ninggalin Dena. Kakek jangan."
Hati Kakek Hari langsung berdenyut mendengarnya. Lihatlah. Sebegitu hancurnya Dena dan hanya ia pendam sendiri. Bagaimana hancurnya gadis itu saat orang-orang tersayangnya meninggalkannya untuk selamanya. Dena tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Apakah gadis itu begitu mendambakan bagaimana rasanya mendapat curahan kasih sayang dari seorang ibu?
"Iya, Sayang. Kakek janji."
"Makasih, Kek."
"Sama-sama, Sayang." Dena langsung berhamburan memeluk kakeknya yang saat itu bersandar di tumpukan bantal.
"Maaf jika tidak menepati janji ini, Sayang. Kakek akan berusaha dan berjuang untuk terus ada di sisimu."
•••
"Hai."
__ADS_1
"Ummm..."
"Kenapa senyum-senyum gitu! Awas loh ntar kesambet."
"Do'anya mah gitu!"
"Hahaha... jangan cemberut. Nanti tambah jelek."
"Arell ihhh!!"
"Lucu sih. Udah, udah, jangan mewek gitu. Jadi gak nih jenguk kakek? Gue udah bawain buah-buahan nih." ucap Fairel menghentikan perdebatan mereka.
"Jadi lah! Lo sih rese!"
"Iya, iya. Gue salah. Maapin ya?"
"Enggak mau!" Dena menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan memalingkan wajahnya.
"Gemes." tanpa diduga, Fairel mencubit kedua pipi Dena lalu langsung melarikan diri sebelum mendapat amukan dari gadis itu.
"ARELLLLL!!!"
"SINI!" Fairel malah berteriak kembali. Membuat Dena mendengus sambil berjalan mendekati Fairel.
"Rese!"
Bugh
"Aduh! Sakit, Na. Kok dipukul sih?" Fairel mengusap-usap lengannya pelan setelah mendapat satu pukulan dari Dena.
"Rasain!" gadis itu langsung merebut helm di tangan Fairel dan memakainya sendiri lalu disusul dengan dirinya yang naik ke jok belakang.
"Ututututu... kesel nih?" goda Fairel menoleh ke belakang. Namun, kepalanya yang sudah terpakai helm itu langsung digeplak oleh Dena.
Sesampainya mereka di rumah sakit, keduanya langsung menuju ruangan inap kakek Hari.
Begitu sampai di sana, mereka sudah disambut oleh Wira dan juga Cahya yang kebetulan memang menunggu kedatangan mereka.
Teruntuk Dewi, gadis itu memang sudah lama pindah dari rumah Dena dan sekarang tinggal di tempat kost tidak jauh dari kost-an milik Fairel. Dan Dewi juga sudah menjenguk kakek Hari tadi sore bersama Dena.
"Hai, Kek." sapa Fairel.
"Eh, Arel. Ke sini bareng Dena ya?" tebak kakek Hari.
"Hehe, iya. Semoga kakek cepat sembuh ya supaya bisa ngumpul lagi."
"Aamiin." sahut mereka kompak.
"Oh iya, Arel juga bawain kakek buah nih." Fairel meletakkan kresek berisi buah-buahan di atas nakas.
"Gak usah repot-repot lah, Rel. Di sini juga udah banyak buah. Cukup kamu datang aja kakek udah senang. Tadi juga Dewi jenguk kakek, cuma karena dia mau kerja, jadinya pulang cepat."
"Dewi juga tadi bilang gitu ke Arel. Titip salam katanya, semoga kakek cepat sembuh."
"Wa'alaikumsalam. Aamiin."
"Kamu udah makan, Rel?" ujar kakek Hari bertanya.
Fairel menganggukkan kepalanya. "Udah kok, Kek."
"Alhamdulillah kalau gitu."
"Duduk dulu, Rel. Kita ngobrol santai." seru Wira sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Iya, Om." jawab Fairel menurut.
•••
Selesai dari menjenguk kakek Hari, Fairel langsung pulang dengan membawa Dena untuk ia antar sampai ke rumah.
"Na."
"Iya?" Dena menjawab dengan sedikit berteriak karena suaranya berlawanan dengan terpaan angin.
"Mau mampir nggak?" tawar Fairel.
"Haaa??"
"Mau mampir nggak?" ulang Fairel dengan pertanyaan yang sama.
"Oh, terserah." balas Dena.
"Okee!" balas Fairel tidak kalah berteriak.
Tidak lama setelah Fairel menawarkan untuk mampir, pemuda itu ternyata membawa Dena ke sebuah pedagang kaki lima yang terletak di tepi jalan.
"Kita ke sana."
"Oke." Dena hanya menurut saja.
Keduanya duduk saling berhadapan di kursi yang telah disediakan sambil menunggu pesanan.
"Bentar lagi ujian ya??" tanya Fairel membuka topik pembicaraan.
Dena hanya mengangguk menanggapi.
"Udah belajar?"
"Lagi proses."
"Nanti lulus mau kemana?"
"Masih bingung." jawab Dena.
"Bingung kenapa?" tanya Fairel dibuat heran.
"Gue bingung mau kemana. Mau lanjut di sini atau di luar negeri. Awalnya gue mau ke luar negeri. Tapi, setelah tau kondisi kakek, gue jadi ragu buat lanjut di sana." saat ini Dena tengah merasakan kebimbangan di hatinya. Hatinya berkata ingin lanjut belajar di luar negeri, namun, pikirannya masih tentang sang kakek.
"Gue saranin lanjut di sini aja. Kan udah gue bilang kalo dunia luar itu gak baik apalagi cewek kayak lo ini. Sendiri lagi. Lebih baik kan di sini, udah jelas aman ada yang jagain." omel Fairel.
"Gitu ya?"
Fairel menganggukkan kepalanya yakin.
"Gue pikir-pikir dulu deh. Sekalian juga gue mau mastiin sesuatu."
"Apa?" tanya Fairel penasaran.
"Kepo!" cibir Dena meledek.
.
.
.
siapin kapalnya karam dong🤣 kita ngejar end ya, ini hampir di penghujungan. Abis ini selesai, aku mau selesain yg lain dulu. Kalo yg lain udah bener² clear, aku bakal lanjutin kisah Dena dan Fairel tapi di lapak dan judul yg berbeda. Ada yg setuju gak nih??
__ADS_1
Cover dan judul udah siap loh🤣 spoilernya juga udah aku bikin 🤫