Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 18


__ADS_3

"Diem, Na. Jalannya yang kalem." pemuda itu menarik tangannya agar Dena berjalan diam tanpa banyak tingkah.


"Eh! Eh..." gadis tersentak kaget, pasrah saat dirinya dibawa ke samping pemuda itu.


"Diem, Na!" titahnya menatap Dena tajam dan dalam membuat gadis itu mati kutu dibuatnya. Lagi pula ia salah apa? Tatapan yang akhir-akhir ini selalu membuatnya melayang.


Sementara teman-temannya yang lain sudah cekikikan melihat Dena diperlakukan seperti itu. Langsung saja Dena melayangkan tatapan tajam kepada teman-temannya itu yang sudah berani mentertawakannya. Mereka langsung kicep, pura-pura tidak melihat.


Setelah beberapa menit berjalan kaki akhirnya mereka sampai di sebuah perkebunan. Perkebunan Kakek Hari yang menanam segala macam sayuran dan buah-buahan. Ada sebagain yang sudah siap untuk dipanen dan sebagiannya belum.


Berjalan sedikit menyusuri perkebunan. Begitu melihat tanaman hijau yang buahnya hijau bulat besar, Dena langsung memekin senang. Berlarian mendekati buah itu yang asik berbaring di tanah subuh.


"Aaaaakkkkk... Kakek, Dena mau ini!" pekik Dena langsung memegang buah itu.


Semuanya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dena yang antusias. Memang benar gadis itu sangat menyukai buah semangka. Selain rasanya yang manis, buah berkulit hijau itu sangat menyegarkan. Apalagi kalau yang baru saja dikeluarkan dari dalam kulkas.


"Emangnya udah mateng itu?" tanya Kakek sembari mendekat, mengecek buah semangka yang sangat besar.


"Udah, Kek. Bener kan?" tebak Dena saat Kakeknya meneliti.


Kakek langsung mengangguk mengiyakan.


"Ayo, Kek, ambil." pinta Dena dengan wajah yang berbinar.


"Iya, sabar, Sayang. Kakek ambil parang dulu." ujar Kakek lalu mengambil parangnya yang sempat ia simpan di dekat tanaman kacang panjang.


"Nih!" ujar Kakek memberikan buah semangka kepada cucunya.


"Yeayyyy... makasih, Kakek." ucapnya dengan semangat mengambil buah itu dan langsung memegangnya.


"Liat nih! Gede kan. Pasti manis." gadis itu memamerkan semangkanya pada teman-temannya.

__ADS_1


"Wuih! Iya, keknya. Bagi dong, Na." ujar Dewi ikut memegang semangkanya.


"Sabar dong. Kan belum dibuka. Eh ya! Ky, pinjem parang sama Kakek gih." pinta Dena pada Dicky.


"Oke, bentar." jawab Dicky menurut, lalu meminjam parang pada Kakek Hari.


Tidak lama Dicky kembali dengan memegang parang Kakek Hari. "Ini siapa yang mau ngebukanya?" tanya Dicky sambil menatap buah semangka itu.


"Gue aja. Sinih!" Fairel langsung merebut parang di tangan Dicky dan langsung meminta Dena untuk memberikan semangkanya.


Begitu dibelah, warna merah khas buahnya langsung membuat Dena ingin meneteskan ludahnya. Sejak kecil Dena sangat suka dengan buah itu. Di rumahnya, buah semangka tidak pernah absen di dalam kulkasnya.


"Eh! Eh. Bentar, bentar. Biar gue yang ngeresmiin." ujar Dena menepis tangan Anna yang mau mengambil duluan.


"Etdah. Sama aja kali, Na. Sama-sama makannya juga nanti." cetus Anna menatap Dena jengah.


"Hehe, beda rasa kalo udah jadi yang keberapa. Yang pertama dong enak." balasnya yang memang betul adanya.


"Ummmm... manis, manis. Ayo! Makan, makan. Gue udah nyobain nih."


"Gimana, gimana? Enak kan?" tanya Dena sambil tersenyum.


"Gak diragukan lagi rasanya. Mantap!" puji Anna mengacungkan jari jempolnya.


Mereka semua menikmati buah semangka hasil petikannya tadi. Sementara Kakek tengah nemantau kebunnya.


"Besok kalian ikut gue ya?"


"Ke mana?" tanya Dewi.


"Beli oleh-oleh."

__ADS_1


Seketika suasana menjadi redup. Mereka baru ingat bahwa lusa adalah jadwal kepulangan Dena.


"Ayo dong. Jangan sedih gitu. Kapan-kapan gue ke sini lagi kok." hibur Dena mencairkan suasana.


"Yaudah deh. Besok kami ikut."


"Makasih, teman-teman."


"Hmmm..."


.


.


.


Keesokan harinya sesuai rencana, Dena sudah rapi begitu juga dengan Kakek Hari. Mereka akan pergi ke pasar untuk berbelanja. Untuk hari ini Kakek membawa motornya yang jarang dipakai.


Keempat gadis itu asik berkeliling di sebuah pasar tradisional yang biasa menjual barang-barang dan makanan seperti kue, atau makanan tradisional khas daerah Kalimantan.


Mereka singgah disebuah toko yang menjual kain tenun dan batik. Para gadis tampak asik memilih motif yang menurut mereka bagus. Setelah berbelanja kain, mereka singgah di toko kue.


"Ini aja ya, Sayang?"


"Huumm... boleh, Kek. Tahan lama kan?" tanya Dena ikut mencermati.


"Tahan kok. Biasa tahan sampai seminggu." ujar Kakek yang diangguki oleh pemilik toko.


"Baiklah, Pak. Saya ambil yang ini, ini, dan ini ya, Pak?" ujar Dena menunjukkan.


"Baik, Dek. Tunggu sebentar ya?"

__ADS_1


"Na, mau ini ga?" Fairel mendekati Dena sambil mengunjukkan sebuah kalung yang ia bawa dari toko pernak-pernik. Kalungnya simpel, aksesoris buah berbentuk D, seperti nama Dena.


"Wahhhh! Cantik banget, Rel." ujar Dena takjub, tidak menyangka seorang Fairel bisa juga memilih kalung yang sangat indah.


__ADS_2