Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 89


__ADS_3

"Maaf, Tante. Nanti Dena ganti uangnya." ucap Dena penuh penyesalan. Di satu sisi ia juga beruntung karena bertemu dengan Alina. Coba bayangkan saja kalau tidak Alina di sisinya. Mungkin saja Dena sudah malu setengah mati lantaran tidak membayar uang belanjaannya. Jangankan uang, ponsel saja tertinggal di dalam mobil. Kalau ada ponselnya, Dena masih bisa membayar melalui aplikasi pembayaran online.


"Gak usah. Anggap aja Tante lagi sedekah." balas Alina.


"Tapi, Dena gak enak, Tante. Masa ngutang sih." gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal.


Sontak Alina langsung tertawa melihatnya. "Ini bukan hutang. Kan udah Tante bilang, anggap aja sedekah. Lagian belanjaan kamu gak banyak kok."


"Oh ya, kamu pulang bareng siapa?" tanya Alina mengalihkan topik pembicaraan.


Dena menggelengkan kepalanya. "Gak tau, Tante. Ponsel Dena juga ketinggalan." jawab gadis itu putus asa. Bagaimana mau pulang, uang sepeserpun saja ia tidak memegangnya.


Tiba-tiba Dena merasa tidak enak di perutnya. Seketika gadis itu langsung teringat. "Tante, kayaknya Dena perlu ke toilet." ucao gadis itu sudah mewanti-wanti.


"Ah ya, kalau gitu ayo Tante temenin."


"Eh! Gak usah Tante. Itu deket kok." tolak Dena lalu menunjukkan sebuah toilet umum di dekat toko belanja.


"Ya udah, Tante tunggu kamu di taman ya."


"Oke, Tante. Kalau gitu Dena pamit bentar." jawab gadis itu lalu langsung berlari pelan menuju toilet umum sambil membawa barang belanjaan karena Dena memerlukan barang itu.


Tidak sampai 15 menit Dena sudah selesai dengan urusannya. Beruntungnya tadi Dena memakai rok dan sengaja gadis itu memilih warna gelap, jadi noda darah akibat bocor tidak mengenakan pembalut itu tidak terlalu nampak di rok bagian belakangnya.


Gadis itu akhirnya bernafas lega. Sesuai perkataan Alina tadi, Dena menghampiri Alina yang duduk di bangku taman yang berada tidak jauh dari toko perbelanjaan.


"Udah?" tanya Alina ketika Dena menghampirinya. Dena menganggukkan kepalanya.


"Duduk sini!" Alina menepuk-nepuk pelan bangku kosong di sampingnya.


Dena pun mengangguk lalu menuruti permintaan Alina.

__ADS_1


Keduanya terdiam sejenak. Dena memandang wanita paruh baya itu yang tampak sedikit melamun menatap lurus ke depan.


Dena yang merasakan kecanggungan itu akhirnya tidak tahan untuk mengeluarkan suaranya.


"Tante..."


"Tante boleh cerita?" ucap Alina menoleh menatap Dena. Bahkan wanita itu juga mengubah posisi duduknya menjadi menyamping.


Dena yang melihatnya bisa merasakan kalau hati wanita itu tidak baik-baik saja. Entah apa Dena tidak tau alasannya.


"Silahkan, Tan." jawab Dena.


Tampak Alina menarik nafasnya dalam sebelum berkata. "Tante punya anak perempuan. Sekarang dia sudah dewasa. Tante bingung, apa Tante terlalu egois sehingga dia semakin menjauh dari Tante? Tante mau mendengar pendapat dari kamu." ucap Alina pelan memandang kosong hadapannya.


Dena menggaruk kepalanya tidak gatal. Jujur, sebenarnya ia juga bingung. Dena yang notabene baru berusia 17 tahun malah dimintai mengeluarkan pendapatnya tentang urusan orang dewasa.


"Maaf, Tante. Dena belum mengerti masalah orang dewasa." jawab Dena jujur.


Alina langsung menatapnya. Wanita itu menumpukkan kedua tangannya di atas kedua tangan Dena yang berada di pahanya. "Gak apa-apa. Tante cuma mau minta pendapat dari kamu aja. Karena yang Tante tau kalau seusia kamu ini suka berkata jujur."


"Sedari dulu Tante selalu memaksanya untuk mengikuti perkataan Tante. Saat sudah beranjak dewasa, Tante mengenalkannya kepada seorang laki-laki untuk dijadikan sebagai calon suaminya. Awalnya dia menolak, tapi, Tante terus memaksanya. Sampai akhirnya dia memilih pergi saat Tante pengumumkan kapan pertunangannya."


"Saat dia sudah berkata ingin menerima pertunangan itu dan bahkan pertunangan itu akan segera terjadi. Tiba-tiba dia membawa seorang laki-laki. Tante akui laki-laki itu berani karena berbicara langsung kepada Tante permasalahan niatnya ingin melamar anak Tante. Tapi, karena pertunangannya segera terjadi, dan undangan juga sudah dibagikan, akhirnya Tante menolak niatnya."


"Menurut kamu bagaimana? Apa yang harus Tante lakuin? Tante bingung."


Dena terdiam sembari mencerna setiap kalimat yang diucapkan Alina. "Dena bukan orang dewasa, Tante. Menurut pendapat Dena, memang benar kalau Tante itu sedikit... egois." ucap Dena memelankan kalimatnya di akhir.


"Jangan ragu untuk mengeluarkan pendapat kamu. Tante gak bakalan marah kok." sahut Alina tersenyum melihat kejujuran Dena.


"Tante gak seharusnya memaksa anak Tante. Apalagi dia udah tumbuh dewasa. Karena setiap orang itu punya pilihan. Kapan dan di mana dia akan memilih. Sebagai orang tua, Tante hanya cukup mendukung keputusan terbaiknya. Jangan terlalu mengekangnya karena itu akan berakibat buruk. Anak bisa menjauh dari orang tuanya dan menganggap orang tuanya itu jahat. Bahkan akibat yang lebih buruk itu mungkin mereka nggak menganggap kita sebagai orang tua."

__ADS_1


"Kalau dia terjatuh, Tante cukup kasih bahu dan pelukan Tante untuk menguatkannya. Karena yang Dena tau, perempuan itu sangat rapuh. Dena sering kok. Tapi, Dena punya Papa. Dena selalu punya Papa yang mengerti. Kalau Dena salah, Papa gak marah, tapi selalu menasehati dan memberikan saran. Kalau Dena sedih, Papa selalu berusaha buat ngehibur Dena agar tetap tersenyum."


Dena tersenyum saat menceritakan Papanya kepada orang lain. Gadis itu sangat bangga karena memiliki seorang papa yang luar biasa.


Alina yang mendengarnya bahkan sampai tidak sadar meneteskan air matanya. Jawaban Dena sangatlah murni dari hatinya sendiri. Setiap perkataan sangat jujur dan mampu membuat wanita itu sadar bahwa peran ibu sangatlah penting.


"Kalau Mama?" tanya Alina tersenyum melihat Dena yang antusias menceritakan papanya.


Saat itu juga Dena menundukkan kepalanya ke bawah. "Dena punya Papa yang juga bisa menjadi Mama." gadis itu mendongakkan kepalanya menatap langit cerah. "Mama pasti bangga sama Papa karena Papa bisa membesarkan Dena sendirian sampai saat ini." lirih gadis itu masih terdengar.


Mendengar itu membuat Alina tidak enak hati. Ternyata di balik senyuman manis itu terdapat satu luka tajam di dalamnya. Pastinya di balik tawa itu ada kesedihan, dan iri melihat anak lainnya yang memiliki seorang ibu.


"Maaf, Tante..." Alina menjeda perkataannya.


Dena kembali menundukkan kepalanya melihat Alina. "Gak apa-apa, Tante. Dena cukup bahagia sekarang." gadis itu tersenyum.


Wanita paruh baya itu langsung menarik tubuh Dena masuk ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap punggung belakang Dena pelan.


Kik kik


Ya, anggap saja seperti itu suaranya saat seseorang membunyikan klakson motornya tepat di hadapan mereka yang sedang berpelukan.


Keduanya sontak melepaskan pelukan hangat itu lalu menatap ke depan di mana ada seorang pengendara motor tengah menatap mereka.


"Pacar kamu?" tanya Alina menggoda, menatap Dena dengan kerlingan matanya.


Wajah Dena langsung memerah, ia menundukkan kepalanya. Meskipun dalam hatinya sedikit bingung kenapa ada Fairel di depannya.


.


.

__ADS_1


.


double up๐Ÿ˜


__ADS_2