Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 31


__ADS_3

"PAPA!! CEPETAN, NANTI DENA TELAT BERANGKATNYA..." teriak seorang gadis yang berdiri di ujung tangga menuju kamar Papanya.


"PAPA!" panggilnya sekali lagi.


"Iya, Sayang. Bentar, Papa nyari dokumen Papa dulu. Aish! Di mana sih naruhnya?" balas Wira juga ikut berteriak, lalu memelankan suaranya di ujung kalimatnya.


Dena yang penasaran akhirnya menaikan anak tangga dengan sedikit berlari. Kemudian membuka kamar Papanya yang sudah seperti kapal pecah. Sebagian dokumen-dokumen berserakan di lantai.


"Astaghfirullah, Papa!" ucapnya menggelengkan kepala sembari berkacak pinggang.


"Iya, Sayang. Maaf, kamu berangkat aja dulu sama Pak Haryo." balas Wira sibuk sendiri.


"Papa nyari apa sih?" tanya Dena ikut berjongkok membuka dokumen-dokumen penting.


"Nyari dokumen Papa itu loh, Sayang. Yang mapnya warna biru."


"Ini bukan sih?" tanya Dena menyerahkan sebuah map persis berwarna biru.


"Mana, Sayang? Oh ya, ini dia!" pekik Wira sedikit lega.


"Dih! Barang segede itu gak keliatan. Mata Papa udah rabun ya? Perlu Dena temenin nanti ke rumah sakit?" ledek Dena mengejek Papanya sendiri.


"Maaf, Sayang. Tadi Papa kan ribet jadi gak keliatan."


"Ckckck! Ayo, Pa. Berangkat sekarang, nanti telat."


"Iya, Sayang. Ayo!"


Papanya itu sudah seperti ling-lung. Belum lagi wajahnya yang sedikit pucat membuat Dena urung memarahinya. Setelah adegan dokumen hilang itu, keduanya langsung berangkan meninggalkan rumah.


Sepanjang perjalanan, Dena diam melihat Papanya yang sedikit kerepotan. Laki-laki itu sibuk dengan laptopnya bahkan di dalam perjalanan.


"Papa ngerjain apa sih?" tanya Dena ikut mengintip.

__ADS_1


"Ini, Sayang... semalam Papa lupa nyalinnya ke flashdisk." ujar Wira menoleh sebentar.


Dena hanya mengangguk-angguk. Setelahnya tidak sampai 5 menit Wira telah menutup laptopnya lagi sambil menghembuskan nafasnya lega.


Dena yang melihat itu sontak mendekat, menaruh telapak tangannya tepat di atas dahi sang Papa. Wira hanya memandang putrinya bingung.


"Kamu ngapain, Sayang?"


Kembali Dena tarik tangannya dari dahi Papanya lalu duduk ke posisi semula. "Enggak. Cuman mau ngecek Papa aja soalnya pucat."


"Pucat? Masa sih? Tapi Papa baik-baik aja loh. Emang sih sedikit lemes." ujarnya memelankan suara.


"Tuh kan. Nanti di kantor minum obat ya langsung? Biar nanti Dena telfon Om Steve."


"Gak pa-pa, Sayang. Gak usah. Papa gak pa-pa kok, mungkin efek begadang semalam."


"No penolakan, Papa!"


Tidak terasa mobil telah berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang masih terbuka. Dena segera meraih tangan Papanya manyalim.


"Huuum, Pa. Papa juga. Dena masuk ya? Assalam'alaikum, Papa. Love you."


"Wa'alaikumussalam, Sayang. Too."


Selepas kepergian Dena masuk ke area sekolah, Wira menghembuskan nafasnya lega.


"Tuan gak pa-pa?" tanya Pak Haryo di kursi depan.


"Nggak, Pak. Cuman sedikit pusing saja."


"Kalau sakit mending istirahat di rumah saja, Tuan. Jangan memaksakan diri." saran Pak Haryo.


"Iya, Pak." Wira hanya mengiyakan. Hari ini memang ia sedikit lemas, efek bergadang semalam mengerjakan pekerjaannya. Belum lagi pagi ini ia mendapat kabar bahwa kontrak kerja samanya dengan perusahaan RC telah dibatalkan karena direbut oleh perusahaan saingannya. Membuatnya sedikit emosi, belum lagi pemilik perusahaan itu adalah musuh bebuyutannya.

__ADS_1


"Sudah sampai, Tuan."


"Ah ya! Terima kasih, Pak. Saya duluan."


"Baik, Tuan."


Wira mulai memasuki gedung pencakar langit itu. Semuanya menundukkan kepala hormat melihat bos mereka. Terutama Steve yang sudah menunggu kedatangannya.


"Bagaimana perkembangan selanjutnya, Steve? Apakah perusahaan RC akan tetap membatalkan kerja samanya? Apakah tidak bisa dinegosiasikan?" tanya Wira yang sibuk dengan tab ditangannya. Keduanya berjalan dengan langkah lebar.


"Mungkin saja, Tuan. Semalam saya sudah berusaha, tapi, syarat yang mereka berikan itu..."


"Apa?" Wira menghentikan langkahnya tiba-tiba menunggu lanjutan perkataan Steve.


Steve mendekat, lalu berbisik.


"APA!!?"


"Maaf, Tuan. Itu syarat yang mereka berikan."


Wira memijit pelipisnya, kepalanya pening. "Apakah hanya itu satu-satunya cara?"


"Tidak ada pilihan lain, Tuan."


"Baiklah. Nanti aku pikirkan lagi."


"Baik, Tuan."


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Wira berdiri di depan lift khusus sembari menunggu lift itu terbuka. Bersamaan lift disebelahnya juga terbuka.


Bruk


"M-maaf, P-pak."

__ADS_1


Wira memandang karyawannya dengan tatapan tajam. Badannya yang kekar ini masa tidak terlihat? Apakah dia rabun?


Beruntung tadi barang-barang penting yang Wira pegang sudah ia serahkan pada Steve. Sedangkan karyawannya itu menunduk sembari merapikan berkasnya yang sempat terjatuh tadi.


__ADS_2