Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 48


__ADS_3

Suara kicauan burung, ayam berkokok, ditambah dengan embun yang menetes dari ujung daun adalah persatuan padu yang khas di daerah perdesaan. Rasanya sungguh adem, sejuk, dan fresh. Air sungai yang mengalir begitu terdengar. Suara dedaunan dari pepohonan tinggi saling bersahutan.


Jalanan aspal yang sedikit rusak menjadi saksi bagaimana Dena menjelajahi perdesaan Kakeknya. Ditemanu dengan sang Papa dan Cahya, mereka berjalan kaki, berkeliling sesekali menyapa para warga. Kedatangan Wira sungguh membuat sebagian warga ikut senang. Sudah lama mereka tidak melihat sosok Wira yang kini sudah sukses di kota sana.


"Hai Pak Somat. Masih inget sama saya gak?" sapa Dena begitu melihat bapak-bapak pemilik pohon mangga.


"Dena ya? Waduh, kapan ke sininya? Bapak pangling loh liat kamu, makin cantik aja deh. Eh! Ini juga ada Wira. Apa kabar?" balas Pak Somat sedikit terkejut dengan kedatangan mereka.


"Alhamdulillah, baik, Mang. Mamang juga apa kabar? Sehat ya di kampung." sahut Wira sambil berjabat tangan dengan Pak Somat.


"Alhamdulillah, sehat juga. Kalian kapan ke sini?"


"Baru kemarin sore datang, Mang. Sekarang baru bisa nyapa warga di sini."


"Oalah gitu toh. Kapan-kapan main ya ke rumah Mamang. Istri Mamang juga baru melahirkan."


"Wahh! Udah lahiran, Pak? Wuih, kapan-kapan Dena jenguk deh. Cewek atau cowok, Pak?" potong Dena dengan antusias. Masih ingat kan dengan istri Pak Somat dulu yang sempat mengidamkan belut? Dan Dena lah yang menjadi korbannya. Mencari belut? Ah, itu pengalaman terindahnya.


"Cowok. Silahkan, silahkan. Bapak tunggu kedatangannya, kalau bisa ajak juga temen-temennya tuh."


"Siap, Pak." ujar Dena mengacungkan jari jempolnya.


"Eh ya, ini siapa?" tanya Pak Somat menyadari ada wanita asing berada di dekat Dena.


"Dena lupa. Kenalin ini temen Dena, Pak. Biasa, kali ini Dena ajakin liburan ke sini, hehe." gadis itu menjawab sambil menunjukkan cengiran khasnya.


"Oalah, kalau gitu selamat datang buat Neng. Semoga betah dan tidak kapok kalau liburan ke sini."


Cahya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak Somat.

__ADS_1


"Terima kasih atas sambutannya, Pak." ucap Cahya ramah.


"Sama-sama, Neng."


Seusai menyapa Pak Somat, mereka kembali melanjutkan perjalanan, berkeliling di desa kecil itu. Tidak terasa sinar matahari pagi pun sudah muncul, embun yang semulanya melapisi dedaunan kini perlahan cair dan turun ke bawah.


Sesekali mereka berhenti sebentar untuk istirahat sejenak lalu kemudian melanjutkan lagi.


Selama perjalanan, Dena belum menemukan tanda-tanda keberadaan teman-temannya. Apakah mereka molor di liburan ini?


"Pa, kita ke sana ya?" tunjuk Dena di sebuah jembatan yang menghubungkan ke persawahan.


"Boleh." jawab Wira hanya menurut.


"Temen kamu yang mana?" tanya Wira sambil memandangi pemandangan yang sudah lama dia tinggalkan. Semuanya tidak berubah, hanya terdapat sedikit perubahan saja, termasuk daerah persawahan yang semakin luas. Serta terdapat gubuk-gubuk kecil di tengah persawahan sebagai tempat peristirahatan warga kalau sedang letih.


Dena terlihat menggandeng lengan Cahya. Wanita yang digandengnya itu tampak banyak terdiam, hanya mengeluarkan suara saja sesekali. Mungkin karena terlalu menikmati pemandangan hingga lupa mengekspresikannya melalui kata-kata.


"Besok Papa mau temenin Kakek ke sawah?" tanya Dena mendapatkan anggukan kepala dari Papanya.


"Kamu juga mau ikut?" tawar Wira.


"Hehe, enggak. Dena males, mending besok Dena ajak Kak Cahya main ke rumah temen-teman. Iya kan, Kak?" Dena menatap Cahya yang saat itu masih terfokus melihat sawah.


"Eh! Iya." jawab Cahya sedikit tersentak.


Setelah berkeliling di daerah sawah, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang. Matahari juga sudah lumayan terik menyinari desa itu dengan sinar yang cerah, tidak begitu terik dan panas karena pembawaan perdesaan itu rindang.


"Dena! Itu lo?"

__ADS_1


Dena yang merasa namanya dipanggil langsung terkesiap dan langsung memutar tubuhnya ke belakang.


"Dewi?" gadis itu berlari meninggalkan Papanya dan Cahya menuju Dewi. Dena begitu senang, senyumnya tidak pernah luntur.


"Ihhhh kangen bangetttt!!" rengek Dena memeluk Dewi begitu erat.


"Kaget gue, Na. Gue kira bukan lo, eh ternyata emang bener itu lo." seru Dewi ikut senang.


"Kapan datengnya? Kok gak bilang?'


" Kan biar surprise gitu, Wi. Gimana gimana? Kaget gak?" jawab Dena menyengir. Pelukan mereka sudah terlepas.


"Kaget banget, sampe mau loncat ke sungai." ujar Dewi ngawur.


"Yang lain mana?" tanya Dena yang begitu merindukan teman-temannya.


"Gak tau, mungkin di rumah. Lo ke sini sendiri?"


"Enggak, noh bareng sama Papa dengan Kak Cahya."


"Siapa?"


"Temen. Hehe, udah dewasa sih."


.


.


.

__ADS_1


sekedar curhat, ini aku nulisnya masih di sekolah di jam istirahat kedua🤣


__ADS_2