
Tepat di hari kenaikan kelasnya, Dena dinyatakan naik kelas. Gadis itu juga mendapat peringkat kedua di kelasnya dengan nilai yang sangat memuaskan.
Liburan sudah ditetapkan, 2 minggu lebih dimulai dari hari pembagian rapor. Terkhusus hari ini sang Papa yang menjemputnya. Memang acara pembagian rapor itu tidak wakilkan oleh orang tua siswa atau pun walinya.
"Yuhuuu, selamat atas prestasinya, Kak. Aku ikut seneng liatnya." sapa Deri adik kelasnya.
"Yoi. Makasih, Der. Selamat juga ya?"
"Iya, Kak."
Arya yang berada di samping Deri pun ikut menyapa, dan memberi ucapan selamat untuknya.
"Selamat, Kak. Semoga prestasinya lebih dari ini." sahut Arya mengulurkan tangannya.
"Iya, makasih, Ar. Selamat juga buat kamu." balas Dena menjabat uluran tangan Arya.
Awal-awalnya mereka sempat canggung. Memanggil satu sama lain dengan sebutan lo-gue. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi rasanya tidak sopan memanggil sebutan lo-gue pada Kakak kelasnya. Jadi, mereka pun mengubah panggilan yang lo-gue menjadi aku-kamu. Terdengar sedikit sopan untuk Kakak tingkatnya.
"Sama-sama, Kak."
"Gimana kalo abis ini kita liburan? Tempatnya yang deket-deket aja." ujar Deri memberi saran.
"Pikir-pikir dulu deh." jawab Dena agak ragu. Selain itu ia juga merencakan untuk liburan ke kampung Kakeknya untuk yang kedua kalinya.
"Okedeh kalo gitu. Nanti kalo udah siap tinggal kabarin ya? Biar nyiapin barang-barangnya lebih awal."
"Sip deh. Eh ya, duluan ya soalnya udah ditungguin di depan?" Dena melirik layar ponselnya. Notif pesan dari Papanya terpampang di layar kunci.
"Bareng, Kak. Kita juga mau pulang kok. Ya gak, Ar?" Deri menatap Arya yang diangguki oleh temannya.
"Yaudah, yuk!" Dena langsung bergegas dan diikuti oleh keduanya di belakang.
Langkah kakinya sediki cepat, bahkan terkesan berlari. Tangannya ia lambaikan sambil memperlihatkan rapor di tangannya.
"PAPA!!" teriak Dena bahagia. Senyumnya lepas, beberapa siswa diantaranya melihat dirinya bingung. Dena hanya mengabaikan itu.
__ADS_1
"Eh, anak Papa. Gimana hasilnya?" tanya Wira sembari mengelus pucuk kepalanya.
Dena tersenyum lebar, sedikit mendongak untuk melihat wajah Papanya. "Hasilnyaaa... Dena dapet peringkat 2, Pa." bisik gadis itu sedikit berjinjit.
"Wahhh! Anak Papa hebat! Selamat ya, Sayang? Semoga kedepannya lebih baik lagi. Tapi, Papa bangga banget sama kamu." Wira langsung menghadiahi dengan sebuah pelukan hangat yang disambut oleh Dena.
"Makasih. Ini juga berkat Papa kok yang udah ajarin Dena belajar. Dena juga bangga punya Papa sehebat dan sekeren Papa Wira." balas Dena.
"Oh ya, kamu mau liburan ke mana?" tanya Wira sembari menyebutkan satu per satu nama tempat liburan.
"Dena mau ke kampung Kakek, Pa?"
"Tumben. Pertama kali aja terpaksa?"
"Sekarang kan nggak lagi."
"Jangan dulu ya? Mending kita ke Bali, gimana Sayang?" Wira menolak permintaan putrinya.
"Bali? Emmmm... yaudah deh." jawab Dena pasrah yang tidak ingin egois.
"Haa? Lusa, Pa? Yang bener, apa gak kecepetan?" tanya Dena sedikit shock. Matanya sampai sedikit melebar lantaran terkejut.
"Iya, Sayang. Serius kok lusa kita berangkat. Kenapa? Kamu gak setuju?"
"B-bukan gitu, Pa. Dena cuman kaget dikit aja kok, gitu. Kenapa mendadak banget?"
"Ini gak mendadak kok. Jauh-jauh hari udah Papa siapin makanya Papa langsung bilang ini ke kamu." jawab Wira mengelus kepala Dena memberi pengertian.
"Kak Cahya ikut?" tanya Dena. Siapa tau kan Papanya mengajak dan ia tidak bosan sendirian saat liburan.
"Kamu maunya gimana? Terserah kamu aja, Sayang, senyamannya."
"Yaudah, ajak aja ya, Pa?"
"Iya, iya."
__ADS_1
"Oke."
Keduanya sudah siap memasuki mobil. Namun, suara seseorang menyeru di belakangnya.
"Hai, Om."
Keduanya berbalik badan dan melihat dia orang pemuda yang berdiri tegak berdampingan.
"Oh ya, siapa?" tanya Wira.
"Hehe, temennya Kak Dena, Om." jawab Deri cengengesan.
"Oh, bener Sayang?" tanya Wira memastikan.
"Bener, Pa. Adik kelas Dena kok." jawab Dena.
"Oalah. Salam kenal kalau gitu. Saya Papanya Dena." seru Wira memperkenalkan dirinya. Kalau untuk teman Wira tidak mempermasalahkan itu asal putrinya nyaman, senang dan tentunya aman.
"Iya, Om. Saya Deri, dan disamping saya ini Arya. Salam kenal juga, Om."
Kedua pemuda itu mendekat lalu menyalami tangan Wira sopan.
"Baiklah. Kalau gitu saya pamit dulu. Kalian juga harus pulang, jangan keluyuran tidak jelas."
"Baik, Om." jawab Deri sementara Arya hanya diam saja. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu. Hanya dirinya dan Tuhan lah yang tau.
"Ayo, Sayang." ajak Wira menuntun Dena masuk ke dalam mobil.
Selepas kepergian Dena dan Papanya, Deri menatap Arya yang terbengong.
"Muda banget Papanya, bro. Gue kira tadi itu sugar daddynya." celetuk Deri serta tertawa.
"Ngaco banget lo, Der. Yok pulang sekarang." Arya langsung meninggalkan dirinya sendirian.
"Ish! Tunggu ngapa, Ar. Jangan cepet-cepet jalannya napa!?" teriak Deri mengejar Arya yang sudah jauh meninggalkannya.
__ADS_1