
Tidak terasa hari demi hari sudah terlewati. Melewati banyaknya rintangan yang datang silih berganti. Setelah melewati tangisan air mata, akhirnya tiba waktunya bahagia.
Betapa bahagianya Dena kala dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Tersenyum, tertawa, dan bahkan tangisan. Mereka selalu ada di sisi Dena.
Gadis itu memandang lurus ke depan, menatap sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja. Ia tersenyum. Bayangan sosok kakeknya jelas nyata di ingatannya. Dena tidak lupa bagaimana sentuhan lembut tangan yang sudah keriput itu di kepalanya.
"Happy graduation my Princess."
Dena langsung mengalihkan pandangannya menatap sang papa yang berdiri di hadapannya sambil membawa kue ulang tahun. Ya, hari ini adalah hari kelulusan Dena setelah tadi pagi menghadiri acara kelulusan di sekolahnya.
Hanya pesta kecil sebagai ucapan selamat kepadanya karena sudah melewati masa putih abu dengan baik. Mungkin banyak kenangan yang hanya bisa dikenang namun tidak bisa diulang. Banyak peristiwa yang bisa diambil hikmahnya bukan sisi buruknya.
"Tiup lilinnya, Sayang." tegur sang papa kala dirinya melamun.
"Eh iya." secepat mungkin gadis itu meniup lilin yang tertancap di atas kue hingga apinya padam.
"Yeayyy..."
Suara tepukan tangan gemuruh terdengar bersahutan memenuhi ruangan tersebut. Ruangan dimana dipenuhi oleh kalangan remaja.
Sebagai rasa syukurnya, Wira membuat acara kecil-kecilan dan mengundang semua teman satu kelas Dena. Lumayan banyak yang hadir, dan hanya beberapa saja yang tidak bisa ikut.
Acara pembuka dan kata sambutan dipimpin langsung oleh Wira. Setelah pembukaan dan sedikit pidato, kini tiba saatnya dimana acara inti dimulai. Kalangan remaja bebas bercengkrama satu sama lain dan bercerita tentang indahnya masa sekolah mereka selama 3 tahun ini.
Dena juga tampak ikut bergabung bersama teman-temannya. Sementara keluarganya berkumpul di tempat yang berbeda.
Dena mulai gelisah. Beberapa kali ia tampak melihat jam di pergelangan tangannya. Pergerakannya itu jelas dilihat oleh teman-temannya.
"Kenapa, Na?" tanya salah satu diantara mereka.
"Ah enggak. Itu lagi nunggu temen." kilah Dena. Ya, memang gadis itu sedang menunggu kedatangannya Fairel dan yang lainnya. Dena sengaja mengundang beberapa temannya yang tidak termasuk teman satu kelas. Mereka adalah rombongan Ridwan dan kawan-kawan.
"Cowok??"
Dena hanya mengangguk.
"Kenalin ya, Na. Siapa tau ada yang cocok." mendengar itu langsung membuat Dena mendelik seketika.
"Ada kok, liat aja ya nanti." balasnya dengan senyuman terpaksa. Entah kenapa saat temannya berkata seperti itu, seakan ada rasa berbeda di hatinya. Pikirannya langsung tertuju pada Fairel. Membayangkan kalau pemuda itu digoda oleh teman-teman perempuannya.
"Eh, eh, gue ke sana dulu ya? Kalian nikmatin acaranya."
"Oke. Thanks ya."
"Byee..."
"Dahhhh."
Dena langsung berpindah tempat. Ia berjalan menuju ambang pintu restoran. Namun, belum ada tanda-tanda munculnya kedatangan rombongan lainnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dena memilih untuk menemui orang tuanya.
"Dewi dan yang lainnya udah datang?" tanya Cahya begitu putrinya menghampiri mereka.
Dena menggeleng lesu.
"Mungkin jalan macet. Duduk dulu sini." Dena menuruti perkataan bundanya.
"Oma kenapa?" tanya Dena kepada ibu dari Cahya sekaligus neneknya.
"Oma cuma ngantuk, Sayang." jawab Alina yang memang sudah tampak kelelahan.
"Gak apa-apa kalau Oma mau pulang trus istirahat." seru Dena.
"Oma tunggu aja sampai selesai. Lagian teman-teman kamu belum datang semuanya."
"Masalah itu gak apa-apa, Oma. Oma istirahat aja di rumah. Opa, ajak Oma pulang tuh. Kasian, Oma keliatan capek banget."
"Udah, nurut aja sama cucu." sahut Rudi, kakeknya.
"Tuhh. Opa aja ngerti."
"Ya udah deh. Kalau gitu Oma sama Opa pulang dulu ya?"
__ADS_1
"Iya, tadi kan Dena udah suruh pulang." ujar Dena blak-blakan.
"Kamu ini." Wira yang gemas dengan tingkah putrinya langsung menyentil dahi Dena membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Tuh temen-temen kamu udah pada datang." sahut Cahya menyadarkan keduanya.
Dena langsung melongos meninggalkan papanya begitu saja.
•••
Gelak tawa terdengar di ruang berbeda yang jauh dari kerumunan.
Dena, Fairel, Dewi, Ridwan, Roni, Yoan, Galang, Calvin, serta Gio. Mereka berkumpul di satu meja yang sama.
"Yank, jangan marah lagi dong. Beneran, kemarin cuma kecelakaan kecil doang." Ridwan tampak menempel di dekat Dewi. Sedangkan Dena, Fairel, dan yang lainnya sudah memasang wajah geli. Sementara Dewi tampak memejamkan matanya meringis dalam hatinya.
"Mereka berantem?" tanya Dena tampak kegelian melihat tingkah bucin Ridwan.
Mereka langsung menganggukkan kepalanya.
"Kok bisa?" tanya Dena penasaran.
"Jadi, kemarin itu kan Dewi nitip makalahnya ke Roni. Nah, si Roni ini rada o'on. Mau aja ngasih makalah Dewi ke Ridwan. Tau lah si Ridwan itu udah bucin, dia bawa tuh makalah Dewi kemanapun dia pergi sampai akhirnya makalah Dewi jatoh ke got. Jadinya ngamuk dah tuh cewek." sahut Calvin menjelaskan.
"Owh, gitu." Dena mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit geli memang, namun, ia tahan karena tidak ingin membuat sahabatnya kesal. Jelas tampak guratan kesal di wajah Dewi, wajahnya berubah masam.
Dena sebenarnya dibuat cukup penasaran antara hubungan Dewi dan Ridwan yang diprediksinya masih belum jelas statusnya. Saat ditanya, Dewi selalu mengalihkan pembicaraannya.
"Yank..." wajah Ridwan memelas.
"Yankkkkk..." rengekannya makin panjang membuat Dena ingin muntah mendengarnya.
"Apasih?!" ketus Dewi tanpa mau melihat lawan bicaranya.
"Suttttt..."
"Na."
Dena lekas menoleh ke samping.
Dena yang mengerti langsung bangkit dari duduknya tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Mau kemana?" protes gadis itu saat tangannya ditarik ke luar restoran melalui pintu samping.
Fairel tidak menjawab, melainkan terus menarik tangan Dena menuju tempat yang sepi akan keramaian.
"Ngapain ke sini?" tanya Dena.
"Syutttt..." Fairel menempel jari telunjuknya tepat di depan bibir Dena, membuat gadis itu mengatupkan bibirnya rapat.
"Liat ke atas." pinta Fairel.
Dena mendongakkan kepalanya melihat langit-langit malam. Gadis itu terperangah cukup terpana dengan apa yang ia lihat sekarang. Bintang berbentuk sebuah rasi bintang.
"Waaahhhh... ini indah banget, Rel." celetuk Dena tersenyum dibuatnya.
"Iya. Cantik." balas Fairel. Namun, matanya bukan tertuju pada bintang-bintang. Melainkan tertuju pada Dena. Gadis itu masih belum menyadarinya karena masih terpana dengan bintang di langit.
"Lo tau dari mana?"
Secepat kilat Fairel mengalihkan pandangannya saat Dena menoleh ke arahnya. Gugup langsung menyerangnya.
"Tadi gak sengaja liat pas di jalan." kilah Fairel.
Dena mengangguk percaya dengan apa yang dikatakan oleh Fairel.
"Bintang yang di sana, keliatan gak?" Fairel menunjukkan satu bintang yang tampak kesepian, lalu ada bintang kecil di sampingnya.
"Yang mana?" tanya Dena mengedarkan pandangannya mencari bintang yang dimaksud Fairel.
"Itu tuh, di sebelah kanan."
__ADS_1
Dena menggelengkan kepalanya sebagai pertanda ia tidak dapat melihat bintang itu.
Fairel menghembuskan nafasnya panjang. Perlahan, ia mendekat. Berpindah posisi menjadi di belakang tubuh gadis itu. Tiba-tiba Fairel meraih tangan kanan Dena dan mengarahkannya ke udara, lebih tepatnya menunjukkan bintang yang ia maksud.
"Di sana. Itu adalah Mama dan Kakek lo." ucap Fairel. pelan.
Dena tidak sadar bahwa Fairel sudah ada di belakang tubuhnya. Apalagi jarak keduanya sangat dekat sehingga Dena bisa merasakan nafas hangat Fairel di sebelah pipinya.
"Rel." panggil Dena lirih. Ia tampak menikmati kehangatan yang diberikan oleh pemuda itu.
"Hmmm..." Fairel hanya bergumam. Sebelah tangannya sudah ia turunkan dari udara, tapi, tautan tangan mereka belum terlepas juga.
"Kalau seandainya gue pergi, apa gue sama seperti dua bintang itu. Jauh dari kerumunan?" tanya Dena. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu sehingga ia bisa menanyakan hal yang Fairel pikir itu aneh.
Fairel tampak terdiam. Perlahan tangannya menelusup di pinggang Dena. Posisinya tampak seperti memeluk gadis itu.
"Kalau seandainya lo pergi, gue akan selalu ada kemanapun lo pergi." ucap Fairel.
Dena langsung membalikkan tubuhnya, otomatis tangan Fairel terlepas. "Kalau lo yang pergi?" tanya Dena.
Ditatapnya wajah cantik itu lekat. "Gue gak akan pergi jauh. Biarpun nanti gue pergi, gue tau jalan pulang. Yang bawa gue ke sini itu lo, otomatis gue pasti kembali ke orang yang sama."
"Gue jadi ragu buat lanjut sekolah di luar negeri."
"Hmm?" kedua alis Fairel terangkat ke atas.
"Apa gue bisa jauh dari orang-orang yang gue sayang?"
"Setelah gue pikir-pikir, gak ada salahnya buat lanjut di sana."
"Kenapa?" kini giliran Dena yang bertanya.
"Gue tarik kata-kata gue. Gue ngebolehin lo pergi ke sana. Tapi, jangan lupa dengan jalan pulang.Sekarang, gue bakal dukung lo. Raih dan kejar cita-cita yang lo impikan. Jangan lihat ke belakang, teruslah lihat ke depan."
"Kata Papa, gue udah diterima di salah satu universitas di sana."
"Itu bagus."
"Dan kemungkinan gue berangkat dua minggu lagi. Sebenernya gue berat buat ninggalin rumah, tapi, ini impian gue."
"Gue tau." tangan kiri Fairel terangkat ke udara, perlahan ia bergerak. Melabuhkan tangannya di sisi rahang Dena. "Lo pergi hanya sementara, bukan untuk selamanya." lanjutnya sembari mengelus pipi gadis itu menggunakan jari jempolnya.
"Gue punya sesuatu buat lo." Fairel menurunkan tangannya. Beralih merogoh sakunya.
Awalnya Dena memandangnya bingung.
"Ini. Tadi gue beli ini di pedagang kaki lima." Fairel mengeluarkan dua buah kalung bertali hitam dengan inisial nama sebagai perniknya.
"Wahhh..." Dena langsung mengambil dua kalung itu dari tangan Fairel.
"Bagus gak?" tanya Fairel tersenyum menatap gadis itu yang tampak antusias.
Dena langsung menganggukkan kepalanya.
"Lo bisa ambil satu, satunya buat gue."
Dena mengangkat dua kalung itu dan menelitinya detail. "Gue pilih ini." Dena memberikan kalung yang tidak ia pilih kepada Fairel.
Pemuda itu bingung karena yang Dena berikan adalah inisial namanya yaitu D. Berarti Dena memilih inisial nama F?
"Kebalik, Na." ujar Fairel namun mendapat gelengan kepala dari gadis itu.
"Sengaja. Gue pakai yang F, dan lo makai yang D."
"Pasangin dong, Rel." pinta Dena seraya membelakangi Fairel.
Diam-diam pemuda itu mengulum senyumnya. Iya, dirinya salah tingkah.
"Oke." jawabnya lalu mengambil kalung dari tangan Dena dan memakaikannya di leher gadis itu.
Dena membalikkan tubuhnya menghadap Fairel. "Lo juga?"
__ADS_1
"Biar gue sendiri aja."
"Oke."