
Dua hari ke depan akhirnya tiba, di mana Dena akan pulang ke Jakarta. Kali ini bertambahnya formasi dua orang, yaitu Fairel dan Dewi. Keduanya sudah memantapkan hati untuk memperjuangkan pendidikan di negeri orang. Rasa gugup tentulah ada karena ini adalah kali pertamanya mereka datang ke Jakarta. Tempat kawasan metropolitan di mana banyak gedung-gedung pencakar langit di sana dan termasuk wilayah padat kendaraan.
Perjalanan yang mereka tempuh lumayan lama. Mungkin sekitar kurang lebih dua jam di udara dan sekitar tiga empat jam-an di darat.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju kediaman Dena. Sepanjang perjalanan Fairel dan Dewi tampak terdiam, mengagumi indahnya kota Jakarta. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, dan juga banyak tempat-tempat indah yang mereka lihat sekilas. Rasa senang pun membuncah, namun, dibalik kesenangan itu ada sebuah rasa yang sulit untuk mereka ungkapkan. Mobil mereka penuh. Di jok depan ada Wira dan supir rumahnya. Dan di jok belakang ada Dena, Cahya, dan Dewi. Sementara Fairel berada di jok paling belakang sendirian bersama dengan barang-barang bawaan mereka. Hanya dua tas berukuran sedang saja yang mereka bawa yang isinya hanya baju dan beberapa barang penting.
"Untuk hari ini Om akan izinkan kamu tinggal di rumah Om selagi mencari tempat tinggal yang cocok untuk kamu. Dan untuk Dewi sudah pasti nanti akan menetap." ujar Wira di keheningan mereka.
"Iya, Om." jawab Fairel dan Dewi serentak. Perlu diingatkan bahwa keduanya memiliki hubungan sepupuan.
"Besok, Om langsung daftarkan kalian ke Universitas di Jakarta. Jadi, nanti silahkan kalian kasih berkas-berkas kalian untuk pendaftaran." sekali lagi baik Fairel maupun Dewi hanya mengangguk patuh. Lagi pula mereka belum tau menahu.
Sedangkan Dena dan Cahya memilih untuk diam menyimak saja. Mau ikut ngobrol pun rasanya tidak akan nyambung. Mengingat mereka tidak ada urusan dengan itu. Tidak terasa perjalanan mereka sudah menempuh waktu sekitar empat jam setengah dari bandara.
"Pak, nanti jangan lupa berhenti di kost-an saya." seru Cahya merasa tempat tinggalnya sudah dekat. Yup, Cahya tinggal di kost-an, dia memilih tinggal sendiri dibandingkan tinggal bersama kedua orang tuanya. Lagi pun jarak antara kantor tempat bekerja dengan rumahnya itu lumayan jauh. Jadi, Cahya memutuskan untuk menyews kost-an saja. Wanita itu akan pulang setiap dua minggu satu kali.
"Jangan!" potong Dena cepat.
"Kenapa, Dek?" tanya Cahya mengerutkan keningnya bingung. Begitu juga dengan Wira yang sampai menoleh ke belakang.
"Hehe, enggak. Kakak ikut Dena aja, nanti pulangnya diantar Papa. Ya, Kak?" pinta Dena penuh harap.
"Enggak usah, Dek. Lagian ini udah mau sampai kok, takutnya nanti malah bolak-balik, kan capek." terang Cahya menolak dengan halus.
Mendengar penolakan dari Cahya membuat Dena tidak kehabisan akalnya. Dirinya langsung mengeluarkan ekspresi wajahnya yang pastinya akan membuat Cahya meleleh.
__ADS_1
Begitu melihat ekspresi wajah Dena, Cahya langsung memalingkan wajahnya ke luar. Kenapa dirinya tidak tega saat melihat anak dari bosnya itu merengek kepadanya.
"Kak, mau ya? Sekali aja." bujuk Dena lagi sembari menggoyangkan lengan Cahya pelan.
"Sayang, kalau orang gak mau jangan dipaksa. Takutnya malah nanti membuat dia risih." namun, tiba-tiba suara sang Papa yang bertentangan dengannya berhasil membuat Dena melirik ke arah sang Papa dengan raut wajah sulit diartikan.
Posisi tubuh yang awalnya menyamping kini duduk tegak sambil tangan dilipat ke dada serta memasang wajah datar yang malah membuatnya semakin lucu.
"Oke, kalau nggak mau juga nggak pa-pa. Gak maksa juga." ujarnya dengan pandangan lurus ke depan.
Dewi yang menjadi pendengar setia pun melirik ke arah Cahya dengan ekspresi tidak enak. Namun, sayangnya perkataannya barusan tidak mendapatkan kepekaan dari Papanya dan Cahya. Bahkan Cahya benar-benar diturunkan tepat di depan kost-an tempatnya tinggal. Wanita itu mulai menyadari gelagat aneh dari anak bosnya. Padahal tadi ceria-ceria saja. Dan bahkan Dena tidak mengantarkan Cahya sampai ke kost-annya.
Selang setengah jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah masuk ke halaman kediaman Nessa. Rumah megah yang memiliki dua lantai itu sukses membuat Fairel dan Dewi terperangah takjub. Sangat megah, menurut mereka. Ya bagaimana tidak, wilayah perkotaan dan wilayah perdesaan itu sangat berbeda. Mulai dari jalanan hingga lingkungan sekitar. Di kediaman Dena ini sudah termasuk komplek jajaran orang berada. Bisa dilihat saat memasuki gang komplek yang tampak banyak rumah megah berjejeran rapi.
Begitu mobil berhenti, Dena langsung turun tanpa mengajak yang lainnya. Gadis itu langsung masuk ke dalam dengan raut wajah masam.
"Udah, nggak pa-pa. Nanti biar Om yang membujuknya. Ayo, silahkan masuk. Barang-barang kalian jangan lupa dibawa masuk." laki-laki itu keluar dari mobil sambil mempersilahkan keduanya.
Fairel dan Dewi keluar bersamaan sambil mengeluarkan barang-barang mereka. Berdiri tegap di halaman kediaman Dena dengan raut wajah terpukau.
"Kenapa bengong di situ, ayo masuk!" tegur Wira saat keduanya malah melamun di depan kap mobil.
Keduanya tersentak kaget, dan langsung berjalan cepat menyusul Wira.
"Assalam'alaikum." seru mereka saat baru memasuki rumah. Begitu masuk, mereka sudah disambut oleh Bik Marsih yang menjabat sebagai art di rumah Dena. Umurnya sudah tidak lagi muda tapi, tubuhnya masih bugar untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang begitu luas dan dibantu dengan art lainnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Tuan." sambut Bik Marsih mendunduk sopan.
"Dena mana, Bik?" tanya Wira halus, karena Bik Marsih seumuran dengan mendiang ibunya. Jadi, Wira sudah menganggapnya sebagai seorang ibu.
"Sudah naik ke atas, Tuan. Wajahnya masam, kalau boleh tau kenapa ya?" tanya Bik Marsih.
Wira hanya menghela nafas panjang. "Cuma masalah kecil aja kok, Bik. Nanti biar saya yang bujuk." balas Wira yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bik Marsih, tidak mau bertanya banyak karena takut lancang.
"Oh ya, Bik. Ini, anak-anak yang saya bawa dari kampung saya. Mereka akan tinggal di sini, untuk yang cowok cuman hari ini aja kok. Besok sudah saya carikan tempat tinggal baru. Kamar tamu di lantai bawah sudah Bibik bersihkan kan?" tanya Wira yang memang sebelumnya sudah menyuruh Bik Marsih untuk membersihkan kamar tamu di lantai bawah.
"Aman, Tuan. Semuanya sudah bersih." jawab Bik Marsih membuat Wira tersenyum puas karena kinerja Bik Marsih ini tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, Wira tidak tanggung-tanggung memberikan gaji yang lumayan besar.
Sedangkan Fairel dan Dewi tampak banyak mengamati ruang tamu di kediaman Dena. Mereka cukup paham, karena Dena berasal dari kalangan berada. Mereka membayangkan nantinya akan sukses juga seperti Wira, yang membangun rumah semegah ini dari hasil kerja sendiri.
"Tolong antarkan keduanya ya, Bik. Saya mau ke kamar dulu, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Dan untuk kalian, semoga betah dan selamat datang di rumah Om. Anggap saja sebagai ruang sendiri ya, Dewi, Arel. Bik Marsih yang akan mengantarkan kalian, dan kalau butuh apa-apa silahkan panggil dia. Om mau ke kamar duluan karena ada yang harus Om kerjakan."
"Iya, Om. Terimakasih."
"Iya." Wira langsung beranjak menuju lantai atas yang tangganya berbeda saat menuju kamar Dena.
"Mari, Non, Den. Silahkan ikut Bibik." ucap Bik Marsih kepada keduanya yang berdiri tegak sambil menenteng tas milik keduanya.
.
.
__ADS_1
.
huy huy, di sini dimulai kehidupan mereka yang sesungguhnya. Cerita ringan ya, gak mau konflik berat-berat๐