
"Hai." sapa Dena saat ia sudah berada di depan gerbang sekolah.
"Langsung ke hotel aja ya?" lanjut gadis itu langsung mendapat kerlingan mata nakal dari Fairel.
"Abang masih di bawah umur, Dek. KTP aja baru tahun kemarin bikin." goda Fairel menaik-naikkan kedua alisnya.
Blush
Wajah Dena langsung memerah bak kepiting rebus. Bayangkan saja bagaimana perasaannya saat ini saat digoda oleh cowok yang ia kagumi.
"Apa sih!?" sangkal gadis itu menundukkan kepalanya.
Fairel yang melihatnya hanya bisa menahan senyum. "Ayo Abang antar sampai tujuan, Dek. Dijamin bakalan aman." ucap Fairel melawak.
"Ihhhh! Jangan manggil Abang, geli gue." pekik Dena heboh.
"Hahaha, becanda, Dek. Ayo naik!" masih menahan malunya karena Fairel memanggilnya adek, Dena langsung berjalan mendekati motor Fairel dan naik ke jok belakang.
"Pegangan yang bener." seketika Dena membatu saat Fairel meraih tangannya dan meletakkannya tepat di perut Fairel.
Saat akan kembali menarik tangannya, tapi, dengan cepat Fairel menahan itu. Kini ia mulai menarik handle gasnya hingga motor itu berjalan pelan. Satu tangan memegang stang motor dan satu tangannya memegang kedua tangan Dena yang berada di perutnya.
Fairel tidak tau saja kalau saat ini Dena tengah mencoba menata hatinya yang terasa jedag jedug. Tangannya tiba-tiba mendingin diiringi dengan debaran jantungnya yang terasa cepat.
"Gimana tadi di sekolah." tanya Fairel menoleh ke belakang sebentar.
"Kayak biasanya." jawab Dena.
"Tadi temen-temen nelfon gue." sambung Fairel lagi.
"Temen-temen yang mana?" tanya Dena bingung.
"Temen-temen kita. Dicky, Rafael, Anna, Risty." Dena meringis geli saat Fairel mengucapkan kata "kita".
"Oh ya? Gue udah lama gak kontakan sama mereka, yang paling sering sih cuma sama Dewi." ingin rasanya Fairel menyentil dari Dena. Ya jelas gadis itu sering kontakan dengan Dewi, lha wong mereka saja tinggal satu rumah.
__ADS_1
"Mereka nitip salam. Katanya kalo ada waktu luang mereka bakal hubungin lo."
"Wa'alaikumsalam. Nanti kalo liburan semester ajak aja mereka. Setuju nggak?"
"Ngikut aja. Emangnya lo enggak ikut study tour gitu? Biasanya kan tiap tahun sekolah pasti ngadain study tour." sahut Fairel.
"Di sekolah gue emang ngadain tiap tahun. Dan itu kayaknya emang khusus buat kelas akhir. Di kelas akhirnya pasti bakalan milih-milih buat lanjut ke Universitas mana. Ya itung-itung kenalan ama lingkungannya."
"Lo nggak mau ikut?"
"Pengen sih. Tapi, pasti yang dikunjungi itu-itu aja. Gue udah bosen kalo keliling Jakarta atau sekitarnya. Maunya sih di luar gitu, lebih asik."
"Lo mau lanjut di luar?" tanya Fairel sedikit terkejut.
"Masih dipikirin dua kali. Gue pengen sekali-kali jadi mandiri. Enggak bergantungan mulu sama Papa. Dan gue juga pengen nyari sensasi baru tinggal di negeri orang."
"Di luar lebih bahaya, Na. Lebih luas dan lebih bebas dari yang di sini." ucap Fairel seakan tidak rela. Bukan sekali dua kali Dena mengatakan ingin lanjut kuliah ke luar negeri. Tapi, entah kenapa saat melihat kesungguhan gadis itu membuat Fairel khawatir.
"Gue bisa jaga diri kok. Lagian gue ke sana juga mau nuntut ilmu, bukan nyari suami." balas Dena ngelantur.
"Iya bisa jaga diri. Tapi, gak selamanya lo bisa aman di luar sana. Lo gak tau gimana dunia luar itu gimana, sangat kejam. Apalagi lo itu cewek. Dan parahnya lagi mau pergi sendiri."
"Lo itu kenapa sih, Rel? Kayak enggak setuju gitu gue mau lanjut di luar." protes Dena merasa Fairel itu aneh.
Fairel tidak menjawab, melainkan ia mencari tempat pemberhentian yang tepat agar ia bisa berbicara dengan Dena. Setelah menemukan tempat yang pas dan tentunya aman, Fairel langsung menghentikan laju motornya. Pemuda itu tampak turun dari motornya diikuti dengan Dena yang menatap bingung.
Fairel membalikkan tubuhnya menatap gadis itu. "Gue bukan enggak setuju kalo lo mau lanjut di luar. Tapi, gue khawatir. Gue khawatir kalo lo kenapa-kenapa. Apalagi lo nanti sendiri di sana. Gue khawatir, Na." kata Fairel sambil memegang kedua bahu Dena.
Gadis itu langsung menatapnya tajam. Seolah-olah mencari jawaban lewat tatapan mata Fairel. "Lo khawatirin gue sebagai apa? Adik? Saudara? Teman?" tanya Dena membuat Fairel jelas kelabakan.
"Ya jelas gue khawatirin lo karena lo itu sahabat gue. Bisa habis gue digorok Om Wira dan yang lainnya kalo gue nyakitin elo." entah kenapa ucapan Fairel barusan membuat hati Dena berdenyut nyeri. Sebegitu berharapnya kah dirinya hingga Dena merasakan kecewa atas jawaban yang Fairel berikan?
"Sahabat ya? Cuma sahabat." ucap Dena pelan menatap bola mata Fairel nanar. Tidak ada lagi senyuman dan kecerian di sana, melainkan tatapan kecewa. Dena tidak menyalahkan Fairel karena di sinilah dia yang salah sudah menaruh hatinya kepada pemuda itu.
Fairel menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
__ADS_1
Dena tersenyum sinis. Ia membuang wajahnya dari hadapan Fairel. "Sebaiknya kita langsung ke hotel. Gue gak mau telat dan kejutannya jadi hancur berantakan." jujur saja, ia bukan takut kalau acaranya hancur berantakan, karena di sinilah hatinya yang hancur berantakan. Fairel tidak mengerti perasaannya sama sekali.
"Oke." dengan santai Fairel menjawab. Ia langsung naik ke atas motornya lagi diikuti dengan Dena. Tidak seperti tadi, tidak ada acara peluk-pelukan atau pegang-pegangan saat berkendara. Keduanya terdiam canggung selama perjalanan menuju hotel.
•••
Wira yang saat itu memilih lembur langsung terkejut saat mendapat telfon dari pelayan di rumahnya bahwa sang putri belum juga pulang sedari berangkat sekolah tadi. Dengan cepat ia menutup laptopnya lalu menyambar jas kerja yang ia sampirkan di sandaran kursi. Lalu dengan langkah tergesa ia berlari keluar dari ruangannya.
Saat melewati lantai divisi administrasi, tidak sengaja ia bertabrakan dengan Cahya yang saat itu juga seperti sedang terburu-buru. Wajah keduanya sama-sama terlihat panik.
"Kamu kenapa?" tanya Wira kepada Cahya yang malam itu juga harus lembur menyelesaikan pekerjaannya.
Nafas Cahya terdengar memburu. "M-mama..." ucap wanita itu terbata.
"Kenapa dengan Mama kamu?" tanya Wira khawatir.
"I-itu..." Cahya menjeda perkataannya saat Wira memotong ucapannya.
"Kita cari sama-sama." potong Wira cepat.
"Maksudnya?" tanya Cahya bingung.
"Dena belum pulang dari tadi pagi." nafas Cahya langsung tercekat. Kenapa? Kenapa kedua wanita yang mereka sayangi hilang bersamaan?
Karena tidak ingin memperlambat waktu, akhirnya keduanya langsung bergerak cepat menuju lantai bawah. Keduanya langsung berlari menuju parkiran.
"Mau cari di mana? Ini udah larut." Wira langsung menatap jam di pergelangan tangannya. Benar, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Pria itu begitu menyesali kenapa dirinya bisa kebablasan hingga mengabaikan sang putri. Wira menangis dalam hatinya. Andai Dena tidak ditemukan, maka ia akan membenci dirinya sendiri.
"Kita pulang ke rumahku dulu." ucap Wira dibalas anggukan kepala oleh Cahya.
Pria itu langsung menginjak pedal gasnya hingga mobil itu bergerak cepat, namun, masih dalam batas lalu lintas.
.
.
__ADS_1
.
hampir end🙏🏼tolong kerahkan jempol kalian🤣