Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 88


__ADS_3

Tampak Dena meringkuk di atas kasur empuknya sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Ya, seperti biasanya gadis itu akan mengalami masa bulanan di mana ia harus menahan rasa nyeri di perutnya. Bahkan naf*su makannya hilang. Waktunya hanya ia habiskan meringkuk kesakitan di atas kasur.


Tangannya memukul-mukul pelan perutnya kala rasa nyeri itu datang tiba-tiba lalu disusul seperti air yang mengalir di bawah sana.


Suara ketukan pintu dari luar sana membuatnya terpaksa bangkit dari tidurnya. Dengan langkah pelan dan tubuh sedikit menunduk, ia berjalan untuk membukakan pintu.


"Iya, Bik?" ucap Dena saat membuka pintu kamarnya dan melihat Bik Marsih di depan pintu.


"Minumannya, Non." Bik Marsih menyodorkan segelas wedang jahe hangat kepada Dena. Melihat itu Dena menarik ujung bibirnya ke atas. Baginya, Bik Marsih itu sudah seperti neneknya karena mengingat usianya tidak jauh beda dari sang kakek. Setiap Dena kedatangan tamu bulanan, saat itu juga Bik Marsih lah yang selalu merawatnya.


"Masuk, Bik." ajak Dena membuka lebar pintunya.


Keduanya pun masuk dengan Dena yang berjalan di belakang Bik Marsih. Setelah meletakkan minuman di atas nakas, Bik Marsih pun bersiap untuk berpamitan ke belakang.


"Non, bocor ya?" tanya Bik Marsih mengedarkan pandangannya ke arah sprei kasur yang terdapat noda merah di sana.


Dena langsung membolakan kedua matanya. Sontak ia meraba celana bagian belakangnya yang terasa sedikit lengket. Gadis itu langsung meringis.


"Iya deh kayaknya, Bik." balas Dena menyengir. Tidak ada yang namanya malu lagi karena hal seperti itu sudah biasa ketika di depan Bik Marsih. Berbeda dengan pelayan lainnya, Dena akan merasa sangat malu.


Bik Marsih langsung tersenyum. "Ya sudah, ini spreinya biar bibik cuci dulu di belakang. Non ganti aja di kamar mandi." ucap Bik Marsih bersiap untuk menarik sprei kasur milik Dena. Namun, gadis itu langsung bergerak cepat menariknya.


"Hehe, biar nanti Dena aja, Bik." sela Dena menolak.


"Biar bibik aja, Non."


"Bik..." rengek Dena memelas membuat wanita berusia kepala enam itu hanya menghela nafasnya pasrah.


"Kalau gitu bibik balik ke belakang dulu ya? Nanti kalau butuh apa-apa panggil aja."


"Siap, Bik." jawab Dena cepat.


Setelah melihat Bik Marsih melangkah pergi, Dena langsung bergerak cepat menuju lemarinya untuk mengambil pembalutnya. Namun, gadis itu tidak menemukan satu pun barang yang sangat penting bagi seorang perempuan.


Menyadari itu, Dena langsung berlari cepat keluar kamarnya untuk meminta bantuan kepada Bik Marsih. Beruntungnya Bik Marsih masih berada di anak tangga, membuat Den langsung berteriak memanggilnya.


Merasa dipanggil, Bik Marsih langsung bergegas menaiki anak tangga lagi. Sesampainya di hadapan Dena, wanita itu langsung bertanya.


"Ada apa, Non?" tanya Bik Marsih.


Dena tidak langsung menjawab. Melainkan hanya menyengir. "Hehe... bik, ada stok pembalut gak?" tanya Dena.


Bik Marsih terdiam sejenak sambil mengingat-ingat. "Kalau bibik mah gak punya, Non. Tapi, kalau yang lainnya mungkin ada. Tunggu sebentar ya, biar bibik tanya."


"Oke, Bik." Dena menunjukkan jarinya yang membangun huruf O. Gadis itu masih menunggu dengan gusar di ambang pintu kamarnya.


Tidak lama kemudian Bik Marsih datang menghampirinya. "Aduh, Non. Yang lainnya juga gak ada. Katanya udah kehabisan stok." ujar Bik Marsih membuat raut wajah Dena langsung berubah lemas.

__ADS_1


"Ya udah deh, Bik." lirih Dena.


"Tunggu sebentar ya, Non. Biar bibik beli di warung depan." ucap Bik Marsih namun langsung ditolak oleh Dena.


"Jangan, Bik. Warung depan apanya, itu mah terlalu jauh." ya, memang di kawasannya itu sedikit jarang ditempati oleh warung-warung kecil.


"Gak apa-apa, Non. Sekalian bibik belanja."


"Belanja apa, Bik? Belanja bulan ini kan udah?" Bik Marsih yang mendengarnya langsung skak mat.


"Udah, bibik gak perlu khawatir. Biar Dena aja yang keluar."


"Udah, bibik balik aja ke belakang." potong Dena cepat saat Bik Marsih baru akan membuka suaranya.


Akhirnya Bik Marsih mengalah saja dari pada nantinya berdebat dengan anak majikannya. Ya walaupun itu tidak mungkin karena baginya Dena itu sangat baik. Sangat menghormati orang tua.


Selepas obrolan singkat itu, Dena langsung masuk ke kamarnya dengan langkah lesu. Karena tidak memiliki banyak waktu, Dena dengan cepat langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Gadis itu berdoa semoga nanti saat ia berbelanja celananya tidak tembus dari noda darah karena ia tidak memakai pembalut.


•••


Dena keluar dari mobilnya lalu melambaikan tangannya ke arah kaca jendela mobil saat Pak Haryo melanjukan mobilnya perlahan. Awalnya Pak Haryo bersedia menunggu, namun, karena paksaan dan desakan dari Dena, akhir Pak Haryo memilih mengalah.


Gadis itu langsung memasuki area perbelanjaan. Karena terburu-buru membuat Dena tidak terlalu memperhatikan sekitarnya. Alhasil dirinya tidak sengaja menabrak orang yang juga sedang berbelanja di sana. Membuat barang-barang belanjaan orang tersebut berjatuhan ke bawah.


Brukkk


Karena sama-sama berjongkok memungut barang belanjaan itu membuat keduanya tidak melihat paras satu sama lain. Berulang kali Dena mengucapkan permintaan maaf karena kecerobohannya yang tidak fokus dengan sekitarnya.


"Maaf sekali lagi, Buk." ucap Dena lalu memberikan belanjaan orang tersebut yang terjatuh karena ulahnya.


Dena mendongakkan kepalanya untuk melihat wanita tersebut. "Loh, Tante?" sentak Dena kaget.


"Loh, ini bukannya Dena ya?" keduanya sama-sama terkejut karena pertemuan tidak terduga mereka.


Dena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Maaf ya, Tante. Dena tadi buru-buru jadinya nabrak Tante deh." ucap gadis itu meminta maaf yang kesekian kalinya.


"Udah, gak apa-apa kok. Lagian Tante juga gak kenapa-kenapa. Oh ya, kamu mau beli apa?" tanya wanita paruh baya itu.


Dengan malu-malu Dena menjawab kalau kedatangannya di sana untuk membeli keperluan pribadinya. Wanita paruh baya itu langsung ber'oh saja sambil terkekeh kecil melihat tingkah Dena yang menurutnya sangat lucu.


"Mau Tante temenin?" tawar wanita itu. Dena menganggukkan kepalanya pelan.


Keduanya berjalan beriringan, beruntungnya jarak rak satu dan yang lainnya lumayan jauh. "Tante udah selesai belanjanya?" tanya Dena di sela-sela langkah kaki mereka.


"Udah kok. Tadi sebenernya mau ke kasir. Eh, ketemu kamu."


"Hehe, iya." jawab Dena menyengir.

__ADS_1


"Ke sini sama siapa?"


"Tadi diantar sama sopir, Tan. Tapi, Dena suruh pulang aja karena takut lama nunggunya." jawab Dena.


"Kalau Tante sama siapa ke sini?" lanjut gadis itu.


"Sendiri aja kok. Maklum, udah ibuk-ibuk." jawab wanita paruh baya itu tertawa pelan.


Dena hanya menganggukkan kepalanya kecil. Setelah sampai di rak khusus barang pribadi perempuan, Dena langsung mengambil beberapa pack pembalut siang dan malam untuk stoknya agar kedepannya ia tidak kehabisan lagi.


"Cuma itu aja?"


Dena menganggukkan kepalanya karena memang ia hanya berbelanja satu barang.


"Kita ke kasir."


Keduanya berjalan bersamaan menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.


"Struk belanjaannya satuin aja, Mbak."


Seketika Dena tersentak kaget. "Eh! Eh! Gak usah, Tante. Biar Dena bayar sendiri aja." tolak Dena cepat.


"Gak apa-apa. Hitung-hitung buat ucapan terima kasih."


"Waktu itu kan udah, Tante. Jadi, sekarang, biar Dena bayar sendiri aja. Bukannya nolak, Dena cuma gak mau ngehutang sama orang." di kalimat terakhirnya Dena sedikit menyengir menampilkan deretan giginya yang putih rapi.


"Yahhh. Ya udah deh, Tante gak maksa lagi." balas wanita paruh baya itu pasrah. Dena menganggukkan kepalanya.


Setelah wanita paruh baya itu membayar belanjaannya, kini waktunya Dena untuk membayar.


"Totalnya 58.500, Kak."


Dena menganggukkan kepalanya lalu segera membuka tasnya. Namun, Dena sempat kebingungan karena tidak melihat tas yang sebelumnya ia bawa.


"Tadi kan di mobil." batin Dena meringis karena untuk kedua kalinya ia ceroboh. Sudah menabrak orang, kini malah tasnya tertinggal di mobil tadi. Dena sangat merutuki sifatnya kali ini. Bisa Dena katakan bahwa hari ini adalah hari yang paling siaal.


Melihat Dena yang tampak kebingungan membuat Alina, wanita paruh baya itu tersenyum. Ia kembali menyodorkan kartu ATM nya kepada penjaga kasir.


"Belanjaan gadis cantik ini, Mbak." ucap Alina tersenyum melihat wajah Dena memerah karena malu.


.


.


.


ada yang kangen Dena gak nih? atau ada yang kangen aku wkwk🤣🤣🤣

__ADS_1


maaf ya baru bisa up 🙏🏼seperti biasanya aku lagi kena angin malas hehe🤣🤣🤣


__ADS_2