
Dena baru saja menampakkan wajahnya di rumah saat malam tiba, bukan malam. Lebih tepatnya larut malam, karena ia sampai di rumahnya pukul setengah 10.
Gadis itu berjalan dengan santai memasuki kediamannya yang saat ini sudah dalam keadaan gelap, hanya ada cahaya temaram berasal dari ruangan tertentu. Dena sama sekali tidak merasa takut dan bersalah kala pulang larut malam.
Saat baru akan menaiki anak tangga menuju kamarnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara bariton dari seorang pria yang bersandar di tembok dekat tangga tersebut. Memang Dena menyadari itu, namun, ia berusaha untuk bersikap bodoamat.
"Ke mana aja baru pulang?" suara bariton itu membuat Dena menghela nafas panjang. Namun, ia masih terdiam, tidak mau menjawab pertanyaan pria itu.
"Apa kamu udah enggak anggap kehadiran Papa di sini?" tanya Wira berjalan mendekati putrinya.
Dena memberanikan diri menatap wajah sang Papa yang tampak sedikit marah karena melihat dirinya pulang larut malam. Ini bukan sekali dia kali, namun, itu terjadi sudah seminggu belakangan ini.
Dena langsung tersenyum getir mendengarnya. "Seharusnya aku yang tanya gitu. Apa Papa anggap aku sebagai anak?"
Wira tampak memejamkan matanya sejenak dengan kepala mengadah ke atas. Pria itu berusaha untuk menekan sabarnya. Ia tau ia salah. Tapi, kenapa Dena mendiamkannya seperti ini? Sungguh! Pria itu tidak sanggup kala putri kesayangannya mendiamkannya lebih dari 3 hari semenjak kejadian malam lalu.
"Tolong jangan mendiamkan Papa, Sayang. Oke, Papa tau Papa salah. Tapi, kamu gak seharusnya mendiamkan Papa gini." jelas Wira merasa sangat frustasi.
"Terus aku harus gimana? Apa aku diam trus seolah-olah semuanya gak terjadi apa-apa? Papa nyakitin hati aku! Papa udah buat aku kecewa!" ujar Dena menaikkan sedikit suaranya. Air matanya sudah menggenang membuat pandangan buram.
Wira menatap putrinya teduh. "Papa harus gimana lagi agar kamu enggak marah lagi?" tanya Wira melembutkan suaranya. Semarah-marahnya pria itu, sungguh, rasanya ia tidak rela untuk membentak putrinya apalagi menaikkan nada bicaranya. Karena setiap melihat wajah sang putri, ia juga bisa melihat wajah mendiang istri yang sangat amat ia cintai. Wajah Dena dan segala tingkah dan sifatnya itu sangat mirip dengan mendiang mamanya dulu.
"Tanya sama diri Papa sendiri. Dena udah capek. Dena mau ke kamar sekarang." ujar gadis itu sudah mulai kembali menyebutkan namanya sendiri. Tidak lagi memanggil dirinya dengan sebutan "aku".
Wira hanya menatap sang putri tercekat saat gadis itu perlahan hilang dari penglihatannya. Pria itu hanya bisa menggeram. Mau marah pun tidak bisa karena ia tau di sini adalah letak kesalahannya, bukan putrinya.
Sedangkan Dena yang sudah masuk ke dalam kamarnya langsung merosot ke belakang pintu. Air matanya mengalir pelan menyusuri kedua pipinya.
"Dena hanya sedikit kecewa sama Papa. Maafin Dena, Pa. Sebentar lagi ini selesai." lirih gadis itu segera menyeka air matanya.
•••
"Kamu mau ke mana lagi, Sayang?" tanya Wira saat melihat putrinya kembali keluar setelah hanya mengganti seragam sekolahnya. Pria itu rela pulang awal hanya untuk bertemu putrinya. Namun, yang ia bayangkan tidak sesuai ekspektasinya.
"Mau keluar." jawab gadis itu cuek.
__ADS_1
Wira berjalan mendekati sang putrinya dan memegang kedua bahunya. "Kamu baru aja pulang, kenapa mau keluar lagi? Papa bela-belain loh pulang awal." ucap pria itu pelan. Dena memalingkan wajahnya ke samping, karena jujur, ia gampang luluh saat mendengar ucapan sang papa yang begitu lembut.
"Dena gak ada nyuruh Papa buat pulang awal."
"Tapi, kan..." perkataan pria itu langsung terhenti kala putrinya langsung menyerobot.
"Papa minggir!" Dena mendorong tubuh papanya yang sempat menghalangi akses jalannya.
Gadis itu langsung berlari keluar rumahnya meninggalkan Wira yang menatapnya sedih.
Didiamkan oleh putrinya sendiri membuat kepercayaan diri Wira runtuh. Karena yang selalu menjadi penyemangatnya adalah Dena, putrinya sendiri.
Merasa waktunya akan sia-sia hanya berdiam diri di rumah, akhirnya pria itu memutuskan untuk kembali lagi ke kantornya. Ya hitung-hitung nanti ada yang menenangkan perasaannya yang masih kacau.
Sesampainya di kantornya, Wira langsung berjalan cepat memasuki ruangannya. Sebelum itu ia sempat berpesan kepada Steve agar memanggil Cahya ke ruangannya.
Mendapat panggilan mendadak seperti biasanya membuat Cahya langsung menyudahi pekerjaannya dan langsung beranjak dari tempatnya untuk menemui bosnya yang juga merangkap sebagai kekasih hatinya.
Sesampainya Cahya di dalam, ia melihat Wira yang duduk dengan posisi kepala menunduk di kursi kerjanya. Karena khawatir wanita itu langsung berjalan cepat mendekati Wira.
Pria itu hanya menggeleng. Ia menarik pinggang Cahya agar semakin dekat dengannya. Lalu tanpa aba Wira langsung memeluk tubuh Cahya. Kepalanya ia benamkan di perut rata wanita itu
"Masih sama?" tanya Cahya lagi. Wira hanya menganggukkan kepalanya. Dengan setia dan penuh kelembutan Cahya mengusap-usap rambut tebal milik kekasihnya.
"Sebaiknya kita akhirnya aja hubungan ini." sontak Wira menjauhkan wajahnya dan menatap Cahya marah. Bisa-bisanya wanita itu berkata dengan mudahnya agar hubungan mereka berakhir.
"Maksud kamu apa?!" tanya Wira marah.
Cahya menundukkan sedikit tubuhnya sehingga wajah mereka berhadapan. "Lebih baik begitu dari pada Dena tersakiti. Lagi pula pertunanganku sudah dibatalkan." jawab Cahya mengelus pelan rahang tegas pria itu.
"Enggak bisa." tegas Wira memasang wajah marahnya.
Cahya menghela nafasnya berat. Sungguh! Ia merasa mereka berada di posisi yang rumit. Saat orang tua Cahya sudah menyetujui, kini malah Dena yang tidak setuju.
"Harus bisa. Mungkin kita gak ditakdirkan untuk bersama." bujuk Cahya menatap bola mata Wira lekat.
__ADS_1
"Enggak! Kamu cuma milik aku!" geram Wira yang tidak tau lagi dengan jalan pikiran Cahya saat ini.
"Dan kamu milik Dena. Aku gak sejahat itu untuk menyakiti putrimu sendiri. Aku menyayangi dia. Tolong jangan buat dia kecewa." lirih Cahya.
"Aku menyayangi kalian. Dena hanya perlu waktu untuk menerima ini semua. Tolong jangan tinggalkan aku." Wira menatap Cahya dengan bola mata berkaca-kaca.
Wira takut dan sedikit trauma ditinggalkan oleh orang-orang yang ia cintai. Sudah dua kali Wira merasakan sakit saat ditinggalkan untuk selama-lamanya Saat pertama sang istri, membuatnya sangat terpukul. Ia juga harus merawat putri mereka seorang diri. Lalu tidak lama setelah kepergian istrinya, Wira juga merasakan hidupnya seperti tidak ada pijakan lagi saat mengetahui ibunya meninggal. Dua orang wanita yang sangat ia cintai pergi meninggalkan untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, sekarang Wira sangat ketakutan. Ia tidak mau lagi merasakan sakit.
Melihat ketulusan di mata Wira membuat hati Cahya berdetak kencang. Sungguh! Apakah ia rela meninggalkan pria itu? Apakah Cahya akan rela jika pria itu dimiliki oleh wanita lain?
Cahya mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat dahi pria itu. "Aku nggak akan meninggalkan kalian." ucap Cahya pelan menatap Wira dengan ketulusan.
•••
Sementara di tempat lain tepatnya di sebuah gedung hotel, ruangan yang awalnya bersih rapi itu kini mulai berantakan. Bukan berarti berantakan karena barang-barang berserakan. Namun, melainkan berantakan dalam arti dipenuhi oleh riasan dan dekorasi yang sangat indah.
"Dena gak tega liat Papa, Oma. Kasian." ucap Dena curhat kepada wanita paruh baya yang akan menjadi neneknya.
"Tahan, Sayang. Katanya kan besok hari terakhir, trus malamnya udah enggak." balas Alina sambil mengelus lengan Dena pelan.
"Huft!! Ayo semangat, Oma." pekik Dena mengangkat tangannya ke udara. Alina yang melihatnya pun terkekeh pelan.
"Semangat dong, Rel." Dena menyenggol lengan Fairel yang saat itu berdiri di sampingnya.
"Iya, iya. Ini dari tadi udah semangat. Cuma capek aja dikit abis jadi cicak." balas Fairel.
"Hehe, ntar gue pijitin deh." Dena menyengir menatap Fairel. Fairel hanya tersenyum dibuatnya. Tidak apa lah menjadi babu, yang penting bersama Dena. Pikirnya.
.
.
.
mau tanya nih, penting loh ya. Sebelumnya aku ada cantumin nama asli Dena gak di sini? 🤔di part sebelumnya atau di part awal gitu. Jawab ya, kalo engga ada bilang aja engga soalnya ini penting demi kelanjutan kisah si Dena 🤣🤣
__ADS_1