Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 36


__ADS_3

Hari berganti, bulan pun berganti. Tidak terasa kini Dena sudah mau memasuki ujian semester akhir di kelas 11. Gadis itu juga sudah belajar dari awal-awal agar nantinya tidak kalang kabut saat hari H.


Mumpung hari minggu, ia berniat untuk menetralisirkan otaknya yang terasa konslet. Selesai mandi dan sarapan, Dena melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar Papanya.


"PAPAAA! TEMENIN DENA AYOK KELUAR. AJAK KAK CAHYA SEKALIAN YA? TITIK NO DEBAT!" teriak gadis itu dengan suara melengking.


Sontak Wira membuka pintu kamarnya dengan terpaksa. "Astaghfirullah, Sayang. Jangan teriak-teriak gak baik, ini bukan hutan loh?"


"Hehe, udah ayok! Jangan pake lama, Dena tunggu di depan. Eh ya. Sekalian aja jemput Kak Cahya di kost-annya."


Ngomong-ngomong perkara Cahya, mereka sudah lumayan dekat. Weekend biasa liburan bersama walau ke tempat-tempat terdekat. Tidak jarang Dena memaksa wanita itu agar menginap di rumahnya.


"Besok udah ujian. Kenapa masih mau keluar sih?" tanya Wira di dalam perjalanan.


"Eh! Bukan berarti gak boleh liburan ya! Lagian tuh Dena udah belajar keras dari awal. Semoga aja dapet peringkat umum trus biar dapet beasiswa kuliah." balas Dena berharap.


"Lah kok? Kenapa lebih milih beasiswa? Papa bisa kok biayain kuliah kamu."


"Bukan gitu, Pa. Dena mau nyobain aja gitu jadi anak biasa."


"Emang selama ini kamu bukan anak biasa? Anak ultraman ribut?"


"Astagaa, Papa. Gak gitu juga kali. Kan perumpamaan gitu."


"Fokus aja dulu sekolahnya, Sayang. Biar soal kuliah itu urusan belakang. Intinya jalani aja yang sekarang, jangan dulu mikirin masa depan. Mungkin aja yang kita pikiran itu gak sesuatu ekspektasi?" ucap Wira menasehati.


"Iya, Papa. Dena ngerti kok."


"Oh ya. Bentar lagi kamu ulang tahun kan. Sweet seventeen harus meriah dong ya? Mau kado apa dari Papa?"

__ADS_1


Dena termenung sebentar. Ia saja sampai lupa akan hari ulang tahunnya yang ke-17 tahun. Kalau tidak diingatkan oleh Papanya mungkin saja terlewat olehnya.


"Dena kangen Kakek, Pa. Kangen temen-temen di kampung." alibinya yang lebih tepatnya rindu dengan Fairel. Ucapannya terdengar lirih. Wira yang tidak mengetahui persoalan teman-temannya sepertinya harus menanyakan hal itu kepada Kakek.


"Papa ajak aja Kakek ke sini? Nanti kalau gak mau kita pakai cara yang lebih ekstrem."


"Emang bisa?" tanya Dena antusias.


"Bisa dong. Apasih yang enggak bisa Papa lakuin."


"Ada kok. Contoh, pertama---Papa takut sama belakang, kedua Papa takut petir, ketiga---"


"Stop stop stop! Iya, Papa tau itu. Jangan diungkit dong, Papa kan malu jadinya. Masa laki-laki setampan dan sekeren ini takut sama belakang. Gak banget ya kan?"


"Hahahahaa... itu buktinya Papa kan?"


"Ada kok. Barusan Dena chat. Ayo, Pa!" ajak Dena lalu keluar dari mobil setelah melepas seatbeltnya.


Tok tok tok


"Gak ada kali. Kita berangkat aja ya sekarang?"


"Ada kok." jawab Dena tetap tenang.


Tidak lama pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita yang kini sudah rapi dengan pakaiannya yang lebih santai.


"Maaf, Dek, nunggunya lama." ujar Cahya memasang raut wajah tidak enak hati.


"Gak apa-apa kok, Kak. Udah ya? Berangkat sekarang yuk!"

__ADS_1


Dena menarik tangan Cahya.


"Duluan, Pak." Cahya menganggukkan kepalanya saat berpapasan dengan sang bos yang tersingkirkan.


Sesampainya di dalam mobil, Wira menghela nafas sekali lagi dibuatnya.


"Oke, biar Papa ynag jadi supir untuk kalian." ia tersenyum terpaksa kemudian membawa laju mobilnya pelan.


"Bukannya besok ujian? Kenapa malah ngajak jalan?" seru Cahya bertanya pada Dena yang kini bermanja dengannya.


"Emang iya, Kak. Gak boleh ya?" jawab Dena dengan mimik wajah memohon.


"Bukannya gak boleh. Tapi---yaudah deh."


"Nah! Gitu tuh, Dena suka kan jadinya, gak ada yang ngelarang."


Tujuan awal adalah mall. Memangnya di mana lagi selain tempat itu yang membuat beban sedikit berkurang? Kalau sultan mah iya, yang tidak bagaimana? Mungkin malah tambah beban pikiran.


"Mau nyari apa, Sayang?" tanya Wira tepat saat selesai memarkirkan mobilnya.


"Mau shoping! Dena mau abisin uang Papa, hehe."


"Tujuh turunan juga gak bakalan habis, Dek, Dek. Lha wong Papanya pengusaha kaya." lirih Cahya yang masih terdengar di telinga Wira.


Seharian ia habiskan berkeliling di semua area mall. Untung semuanya muda, kalau tua sudah encok pinggangnya. Wkwk.


Mereka pulang tepat pada pukul 5 sore. Hari ini Dena benar-benar menghabiskan waktunya dengan berkeliling dan shoping. Bahkan bagasi mobil saja sampai tidak muat, dan berujung mengambil tempat di kursi depan.


Malamnya waktunya gadis itu belajar sembari mengingat-ngingat materi yang sudah ia pelajari sebelumnya. Jadi, tidak terlalu tegang. Apalagi yang suka dengan sistem kebut semalam. Rasanya asli enak, paginya malah nyalahin soal-soal yang dianggap susah padahal sendiri yang malas belajar. Iya kalau otak encer kalau tidak? Bisa berabe hasil nilai ulangan di bawah 4.

__ADS_1


__ADS_2