
"Biasa, balapan mereka. Malam-malam bukannya istirahat, kalem, adem ayem di rumah eh malah buat hingar bingar. Untung agak jauh dikit dari perumahan warga." potong Risty cepat sebelum Fairel menyelesaikan ucapannya.
"Lo... weh! Keterlaluan lo, Rel. Ckckck!!" Dena berdecak seraya menggelengkan kepalanya.
"Apa? Itu udah jadi kebiasaan gue, hobbi gue, hidup gue. Nggak ada yang bisa ngelarang itu." balas Fairel ketus. Dena tersentak kaget. Kenapa pemuda itu jadi seperti ini? Tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Risty, Dewi, dan Anna langsung menarik tangan Dena sedikit menjauh dari para laki-laki.
"Jangan kaget. Dia emang gitu orangnya kalau udah ada yang nyinggung, biarpun itu dikit sih." bisik Dewi memberitahu.
"Iya. Gue saranin lo jangan berani nyinggung dia. Bisa berabe, pohon cabe aja dibuat mati."
Plakkk
"Adoii! Sakit, Wi!" Risty mengelus lengannya karena ditimpuk oleh Dewi.
"Orang lagi serius, lo malah becanda." ketus Dewi membuat temannya itu nyengir.
"Lagian, lo sih kebiasaan." sambung Anna menggeleng kepala.
"Kenapa emangnya dengan Arel?" tanya Dena sembari melihat drama kocak di hadapannya.
"Lo akan tau dengan sendirinya nanti. Kami gak mau cerita, takut nanti dia tau, bahaya kalo udah ngamuk." seloroh Dewi.
"Ada apa sih?" gadis itu sungguh penasaran.
"Na, mau balik gak lo? Cepetan, ntar gue tinggal!" teriak Fairel.
"Eh! Gue balik dulu ya? Udah diteriakin noh! Besok kita ketemu lagi. Kalo perlu ntar malam aja kalian ke rumah Kakek, pada tau kan?" ujar Dena.
"Iya, tau tau. Udah, balik sonoh. Ntar lo ditinggal kasian nanti kalo ditinggal, nangis darah lo." ledek Risty mendapat tatapan tajam dari para sahabatnya.
__ADS_1
"Hehe, iya. Gue becanda, tau kok. Matanya pada jangan gitu, ntar lepas gue gak tanggung ya?"
Dena berlari mendekati Fairel yang menunggu dirinya. Sesampainya di sana ia mendapat pertanyaan.
"Ngomongin apa kalian? Kayaknya seru banget sampe lupa mau pulang?"
"Enggak ngomongin apa-apa kok. Yaudah, balik yuk! Udah mau magrib nih nanti Kakek nyariin." Dena langsung naik ke kursi belakang tanpa permisi.
"Pegangan!"
"Iya, Rel, nih udah."
Dena terus memikirkan sifat Fairel tadi yang berubah dengan cepat. Hingga ia tidak sadar kini mereka telah sampai di depan rumah Kakek Hari. Ternyata si Kakek baru saja pulang dari rumah warga.
"Loh! Baru sampai, Cu?" tanya Kakek kaget.
"Hehe, jalan-jalan sebentar, Kek." Dena nyengir.
"Nggak deh. Udah mau magrib, nanti dicariin sama bapak mau ke masjid." senakal-nakalnya Fairel, pemuda itu tidak lupa akan kewajibannya. Dia selalu pergi ke masjid untuk sholat berjamaah.
"Huummm... oke deh."
"Kakek, Arel pamit ya?" pamit pemuda itu.
"Iya. Hati-hati, awas nabrak!" peringat Kakek sambil tertawa.
Selepas kepergian Fairel, Dena dan sang Kakek langsung masuk ke dalam. Suasana rumah gelap karena mereka baru saja sampai jadi belum menghidupkan saklar lampu.
Dughh
"Aduhhh! Kek..." gadis itu meringis saat jari jempol kakinya terbentur kaki kursi di ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa, Cu?" tanya Kakek khawatir.
"Hehe, kena kursi, Kek. Sakit..." gadis itu nyengir sembari meringis, sampai-sampai gadis itu berjongkok memegang jempol kakinya yang terasa berdenyut.
"Gak pa-pa kan?" ucap Kakek lalu menghidupkan saklar lampu dan jrenggg... suasana rumah langsung terang seketika meski hanya di ruang tamu saja, belum lagi kamar, dapur, dan wc.
"Gak pa-pa, Kek. Aman kok." jawab Dena yang kini merasa jempol kakinya sudah baikan.
"Syukurlah. Yaudah, Kakek mandi dulu ya? Mau siap-siap ke masjid. Nanti kamu mau ikut atau sendiri aja di rumah?" tanya Kakek berjalan menuju dapur untuk menghidupkan saklar lampu di sana.
"Ikut, Kek. Dena gak mau sendirian malam-malam kalo di rumah." jawab Dena cepat.
"Iya deh. Kakek dulu yang mandi, kamu cepetan mandinya nanti takut telat." tegur Kakek.
Saat sang Kakek sudah selesai mandi, Dena langsung berlari menuju kamar mandi. Gadis itu langsung mandi dengan cepat. Tidak keramas, hanya badannya saja.
"Cu, mandinya udah belum?" tanya Kakek yang kini sudah rapi dengan sarung dan baju kokonya, tidak lupa juga kopiah yang sudah melekat di kepala sang Kakek.
"Iya, Kek. Nih udah selesai kok." jawab Dena lalu keluar dengan pakaian lengkapnya.
"Bentar, Kek. Dena ambil mukena dulu di dalam kamar." dengan cepat gadis itu berlari menuju kamarnya, mengambil mukena lalu memasangnya. Sehabis mandi ia juga sudah wudhu.
"Yuk, Kek!" ujar Dena dengan penampilannya yang berbeda.
"Cucu Kakek memang cantik, persis seperti Mama-mu dulu." puji Kakek melihat penampilan sang cucu.
"Hehe, iya dong, Kek. Dena kan selalu cantik, gak pernah tuh jelek kecuali kalo nangis. Nangis aja Dena masih terlihat cantik." ujar gadis itu dengan pedenya.
"Baru juga Kakek puji ehh udah terbang ke langit." seru Kakek yang hanya dibalas cengiran oleh Dena.
Dena dan sang Kakek berjalan kaki menuju masjid yang tidak jauh berada di sana. Lebih tepatnya sih seperti surau soalnya tidak terlalu besar. Biasa, untuk warga beribadah di sini. Apalagi anak-anak muda yang suka nongrong kalo sehabis jamaah.
__ADS_1