
"Astaghfirullah." gadis itu sampai istighfar dibuatnya. Melihat empat orang pemuda yang saling bentrokan, saling memukul satu sama lain.
Sesampainya di sana mereka sudah disuguhi pemandangan yang wow. Siapa lagi kalau bukan Fairel dan Dicky yang bertengkar dengan Tino, anak kampung sebelah dan beberapa temannya.
"Raf, lerai woy. Kenapa lo diem aja sih." geram Anna melihat Rafael yang malah berdiam diri.
"Udah gue coba lerai tapi masih aja ngeyel." balas Rafael membela diri.
"Woyyy! Arel, Dicky. Udahan, stop!" teriak Risty yang geram.
Bughh bughh
"Bang*sat." maki Fairel membalas pukulan Tino.
"Cemen banget lo pada. Udah kalah balapan kok malah bawa pasukan." teriak Dicky yang juga ikut membalas pukulan lawannya.
"Mati aja lo, Rel!" ujar Tino yang masih menyerang.
"Lo yang mati gi*la. Setan lo."
Bugh bughh
"Shhtttt..." Fairel meringis saat satu pukulan mendarat di wajah tampannya.
Tidak terima dengan perlakuan Tino, Fairel membalas dengan membabi buta. Di sinilah sisi lain dari seorang Fairel. Tidak mau kalah, kuat, tangguh. Berani nyari masalah dengannya berarti sama juga dengan menggali kuburan sendiri. Itulah yang dialami Tino sekarang, dia harus bertanggungjawab atas apa yang telah dia perbuat. Menumpahkan bensin dikobaran api yang menyala.
"Rel, udah, Rel, stop!" teriak Rafael mencoba menarik Fairel, namun ia malah didorong hingga terjungkal ke belakang.
"Adohh! Pinggang gue sakit an*jir."
"Lo gak pa-pa, Raf?" tanya Anna membantu Rafael berdiri.
"It's okay. Gak pa-pa kok, cuman nyeri aja dikit." jawab Rafael yang sudah berdiri sambil membersihkan celananya yang kotor.
"Na, gimana ini?" tanya Dewi khawatir.
"Lo tanya gue? Sama aja, gue juga gak tau cara misahinnya gimana."
__ADS_1
"Ya apa kek gitu. Panggil warga deh buat misahin mereka."
"Sok panggil." ujar Dena.
"Tapi, ini kan lapangan bola. Jauh dari tempat warga, keburu mati mereka yang ada." kata Dewi dengan gila.
"Kalo gak dipisahin mereka makin mati, Dewiiiiii."
"Ihh! Ribed deh urusan cowok gak kelar-kelar. Jadi cewek kek sekalian, berantemnya main jambak-jambakan. Gak kaleng-kaleng wak." sambung Risty.
Nafas mereka memburu, menatap sengit. Fairel menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Masih kuat lo?" ejek Tino yang membuat Fairel naik pitam.
Pemuda itu maju untuk menghajar Tino lagi. Sementara Dicky sudah berjongkok dan lawannya sudah terkapar di rerumputan.
"Mati aja lo!"
Grep
"Plis, Rel. Berhenti!"
Fairel menghentikan aksinya yang ingin menyerang Tino lagi. Tubuhnya mematung saat dua tangan melingkar erat di perutnya, menahannya.
"Eh! Dena... kok dia udah di situ aja?" tanya Dewi bingung.
"Mana gue tau." balas Risty yang juga heran.
"Berhenti, Rel. Udahan ya? Jangan berantem lagi." lirih Dena yang kini mendekap erat Fairel dari belakang.
"Lepasin!" ujar Fairel datar.
Dena menggeleng kepalanya menolak. "Ga. Gue gak akan lepasin sebelum lo berhenti."
"Biarin gue ngehajar orang yang sok jagoan ini. Biar dia mati sekalian."
"Plis, Rel. Gue mohon. Jangan kayak gini. Lo lagi emosi, jangan sampai berakihat fatal. Jangan kayak bocah, Rel."
__ADS_1
Bagaikan tersiram air dingin, emosi Fairel langsung mereda. Pemuda itu hanya menatap Tino dengan aura permusuhan.
"Lo balik. Ini bukan kampung lo. Kalo lo masih ada di sini, siap-siap aja ngelawan gue."
"Ck! Gue gak takut.... cabut guys."
Tini beserta teman-temannya pulang dengan keadaan tubuh yang lebam akibat pukulan. Sebenarnya mereka sedikit takut melihat aura dari seorang Fairel.
Dena melepaskan dekapannya. Gadis itu rupanya sedikit mengeluarkan air mata, dengan cepat ia menyekanya.
Fairel membalikkan badannya menghadap Dena, gadis satu-satunya yang bisa langsung membuat emosinya mereda. Ini adalah pertama kalinya Fairel mengalah, membiarkan lawannya pergi sebelum ia bertindak lebih.
"Lo nangis?" tanya Fairel sambil meneliti wajah Dena.
Sontak gadis itu mengalihkan pandangannya ke samping, menghindari kontak mata dengan pemuda itu. "Nggak. Gue gak nangis. Tadi cuman kelilipan debu aja." sanggah gadis itu mencari alasan.
"Beneran?"
"Iya. Lo terluka, Rel. Sakit ya?" tanya Dena mengalihkan pembicaraan.
"Enggak kok. Udah biasa kok jadi gak sakit. Shttttt... jangan sentuh, Na."
"Tadi katanya gak sakit. Pas gue sentuh kok meringis. Lo boong banget sih, Rel."
"Disentuh makanya sakit. Kalo gak disentug mah gak berasa sakitnya."
"Alasan! Sini, gue ibatin lukanya."
"Gak usah, Na. Biarin aja nanti juga bakalan sembuh." tolak Fairel.
"No debat. Lo bilang ini bakalan sembuh sendiri? Gak bisa Fairel. Udah deh gak udah cerewet." gadis itu langsung menarik tangan Fairel meninggalkan tempat itu.
"Ke rumah lo ya, Wi?" tanya Dena yang sudah berdampingan dengan teman-temannya.
"Boleh kok. Yaudah, yuk!" balas Dewi mengiyakan. Lagian rumahnya juga sepi jadi mereka sedikit lebih leluasa.
Semuanya langsung bertandang ke rumah Dewi. Hanya membutuhkan waktu lima menit mereka sudah sampai. Risty juga ikut memapah Dicky yang kelihatan lemah kehabisan energi.
__ADS_1
Wajah keduanya penuh dengan lebam akibat pukulan. Dicky lah yang paling banyak sementara Fairel hanya sedikit karena pemuda itu cukup mengimbangi lawan mainnya. Biarpun bekas pukulan di wajah Dicky yang terbanyak, namun dia sudah memenangkan perkelahian.