Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 95


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Hari dimana status Wira akan berubah, pria itu tidak lagi menyandang gelar duda. Begitu pula dengan Cahya yang sudah lepas dari gelar lajangnya.


Saat Wira sedang mengucap ijab qabul di ruang depan, sedangkan Cahya masih berada di dalam kamar. Cahya ditemani dengan Dena, Dewi, dan Vina-sepupu dari Cahya.


Dena sedari bangun pagi tadi sudah senyum-senyum dengan wajah berseri-seri. Sebentar lagi akan ada yang menemaninya di rumah, ada yang menyiapkan sarapan ketika pagi hari, dan ada yang membangunkannya dengan penuh kasih sayang. Dena sangat amat menanti itu.


Setelah menyelesaikan ujian semester pertama, akhirnya Dena bisa bernafas lega. Disaat semua orang menyiapkan acara pernikahan sang papa, berbeda dengan Dena yang malah disuruh belajar dan tidak boleh ikut campur saat persiapan itu. Alhasil dirinya terus berada di dalam kamar sembari berkutat dengan buku-buku pelajaran.


"Tenang." Vina, sepupu Cahya mengusap-usap bahu wanita itu yang tampil cantik dengan kebaya yang melekat di tubuhnya. Belum lagi ditambah dengan riasan make up. Membuat sisi berbeda dari Cahya menonjol jelas. Wanita itu semakin bertambah cantik saja.


Cahya mencoba menarik nafasnya dalam lalu dihembuskannya pelan untuk mengurangi rasa geroginya. Ya bagaimana tidak gerogi, ini adalah hari sakralnya. Dimana ada seorang pria yang menyebutkan namanya dalam ijab qabul. Terasa mimpi, tapi, itu nyata.


Dena menoleh ke arah Dewi dan melempar senyumnya.


"Aku bahagia, Wi." lirih Dena langsung mendapat usapan lembut di tangannya.


"Kamu berhak bahagia." balas Dewi membalas senyuman Dena.


Dena segera mengalihkan pandangannya. Ia menoleh ke arah Cahya yang tampak nervous dengan tangan sedikit memucat. Dena bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Cahya yang duduk di atas tempat tidur. Mereka sengaja menggunakan kamar kosong di lantai atas sebagai ruang untuk make up dan berganti pakaian.


Dena menggenggam tangan Cahya mencoba memberi kehangatan. Cahya menatap Dena dengan sebuah senyuman di bibirnya.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sahh!!!"


Senyuman mereka langsung melebar saat mendengar satu kata yang teramat sakral. Cahya langsung memeluk Dena erat. Gadis itu juga membalasnya.


Tidak lama kemudian Alina tampak masuk ke dalam kamar itu. Tujuannya hanya satu, yaitu menjemput sang putri.


"Selamat, Sayang. Kamu sudah menjadi seorang istri sekar. Bukan juga seorang istri, tetapi kamu juga sudah menjadi seorang ibu untuk Dena. Mama cuma mau mengucapkan kata maaf. Maaf atas segala kesalahan yang sudah Mama perbuat kepada kamu. Maafkan keegoisan Mama ini."


"Mama gak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan Mama. Sekarang kita lupakan semuanya yang sudah berlalu."


Alina menganggukkan kepalanya menatap Cahya penuh haru. "Sudah selesai. Ayo kita ke bawah." ajak Alina mengulurkan tangannya.


"Ayo!" sahut Dena menggandeng lengan Cahya. Mereka berjalan menuruni anak tangga dengan Cahya yang berada di tengah sedangkan Dena dan Alina ada di sisi kanan dan kirinya. Di belakangnya ada Dewi dan juga Vina, sepupunya.


Begitu sampai di tempat ijab qabul, semua orang menatapnya kagum. Terkecuali dengan Wira yang malah tampak menyibukkan dirinya di kursinya. Kepala pria itu menunduk, tidak berani menatap wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Setelah penantian yang sangat panjang, akhirnya ia melepas status dudanya.


Dena dan Alina mengantarkannya sampai ke depan kursi. Lalu keduanya langsung menjauh.


"Silahkan ditanda tangani buku nikahnya." seru penghulu yang menikahkan keduanya. Karena ayah kandung Cahya sudah tiada, maka wali nikah diganti dengan penghulu. Sedangkan ayah sambungnya tidak bisa menjadi wali nikah karena tidak memiliki hubungan darah.

__ADS_1


Pasangan suami istri yang baru menikah itu langsung mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangan mereka di secara bersamaan.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Dipersilahkan kepada mempelai untuk memasangkan cincin di jari pasangannya."


"Dan dilanjut dengan mempelai wanita untuk mencium punggung tangan suaminya."


Wira mengambil cincin nikah mereka di kotak cincin disusul dengan Cahya. Saat ini Wira masih belum berani menatap sang istri. Pria itu terlalu gugup dan gerogi.


Tangan mereka gemetar saat memasang cincin di jari manis secara bergantian. Cahya menundukkan kepalanya untuk mencium punggung tangan suaminya. Setelah selesai, kini bergantian, Wira memegang bahu istrinya lalu memberanikan diri mendongakkan kepalanya.


Deg


Jantungnya seakan berhenti berdetak. Desiran darahnya mengalir cepat membuatnya terlena.


"Silahkan mempelai pria untuk mencium kening istrinya." tegur pak penghulu membuat Wira langsung tersadar. Dengan gugup ia mendekatkan wajahnya lalu mengangkat tangan kanannya dan diarahkan tepat di ubun-ubun istrinya. Pria itu meramalkan do'a kebaikan untuk rumah tangga mereka. Setelah itu, Wira melesak mendekat. Perlahan-lahan bibirnya mengenai kening Cahya.


Sama halnya dengan Wira, kini Cahya juga merasakan desiran aneh di dadanya. Jantungnya berdetak dengan cepat.


"Wooooooo..." sorakan ramai serta tepukan ramai di belakang mereka membuat Wira tersadar dan lekas menjauhkan wajahnya. Pipi Cahya merah merona, andai tidak memakai blush on, sudah dipastikan merah di pipinya itu terlihat jelas.


Keduanya saling menatap dan melempar senyum canggung. Seakan-akan baru kepergok melakukan suatu hal yang tidak baik.


โ€ขโ€ขโ€ข


Malam harinya tepat pukul 7 malam, rupanya acara masih berlangsung dengan meriah. Banyak para tamu undangan yang datang dan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai pengantin. Termasuk seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan milik Wira. Mereka cukup bahagia karena melihat bos mereka sudah menemukan kebahagiaannya, dan awalnya mereka tidak menyangka bahwa wanita yang akan menjadi istri bos mereka adalah karyawan yang bekerja di perusahaannya.


Dena juga tidak lupa mengundang teman-teman sekelasnya untuk merayakan pernikahan papanya. Kolam di belakang rumahnya sudah disulap sedemikian rupa hingga membuat penampilannya tampak indah dengan diterangi banyak lampu hias yang berkelap-kelip dengan warna random.


Suasananya riuh karena dipenuhi oleh suara-suara teman-teman Dena. Berbeda dengan di depan kediamannya, acara memang masih berlangsung. Namun, Dena lebih memilih tempat khusus untuk teman-temannya berkumpul dan bersantai. Mereka terpisah dengan para tamu undangan lainnya.


Mungkin di kolam belakang rumah Dena itu memang dikhususkan untuk anak muda berkumpul.


"Hei, Na! Sini dong..." teriak seorang pemuda sembari melambaikan tangannya ke arah Dena yang saat itu berbincang dengan teman perempuannya.


"Eh! Gue ke sana duluan ya? Kalian nikmatin aja acaranya malam ini. Have fun."


"Oke, Na."


Dena mendekati sekumpulan pemuda yang berkumpul di dekat gazebo.


"Sini duduk dulu dong! Lama gak ketemu ya? Apa kabar lo? Tau-taunya langsung dapat undangan nih."


Dena langsung duduk di kursi kosong. "Baik aja. Kalian gimana? Masih satu universitas kan?" tanya Dena.

__ADS_1


"Ya gitu deh. Kita mah gak bakal bisa dipisahin." pemuda itu merangkul bahu teman-temannya.


Dena hanya terkekeh melihatnya.


"Sebenernya gue masih cinta sama lo."


Dena mematung dengan bibir terkatup rapat. Wajahnya berubah menjadi tegang. Tidak seperti tadi yang lepas-lepas saja.


"Hahaha, becanda, Na. Gue becanda kok. Serius amat sih." pemuda itu mencubit pipi Dena gemas yang dibalas tepisan tangan oleh gadis itu.


"Mati lo kalo diliat papa gue, King." ucap Dena. Ternyata pemuda itu adalah Kingafiqq, mantan pacar Dena saat pemuda itu belum lulus sekolah. Yap, Dena juga mengundang para-para mantannya.


"Hehe, sorry. Gue udah move on kok sama lo."


"Bagus deh kalo gitu. Biar gue gak terbebani." balas Dena.


"Haiiii, Denaaa..." pekik Reza langsung menghampiri gadis itu. Reza adalah teman sekelasnya. Pemuda itu langsung melingkar tangannya di bahu Dena.


"Apasih teriak-teriak. Gue gak budeg ya!" balas gadis itu ketus. "Ini juga tangan jangan asal nyelonong." Dena langsung menepis tangan Reza hingga terlepas dari bahunya.


"Jailahh. Masih aja ketus. Nih babang Reza bawain martabak. Spesial kesukaan neng Dena." gurau pemuda itu seketika membuat Dena bergidik geli.


"Makanan di rumah gue banyak, Za."


"Gak apa-apa. Ini beda loh, rasa kacang dan coklat."


"Bagiin aja ke yang lain."


"Yang lain udah pada kenyang."


"Gue juga kenyang banget, Za. Kenyang dengerin cerewetan lo itu." balas Dena langsung melenggang pergi dari sana.


"Lah, lah. Na, mau kemana?"


"Ke depan. Nyambut tamu." teriak Dena tanpa menghentikan langkahnya.


Dena berjalan melewati jalan yang sedikit gelap karena itu ditutupi oleh gorden membuat cahaya lampu tidak dapat menutupi seluruh ruangan. Sengaja gadis itu mengatur dekorasinya karena ia berpikir akan lebih asik jika tempatnya tidak terlalu terang oleh lampu.


Gadis itu berjalan tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Tiba-tiba ia merasa tangannya ditarik masuk ke dalam gorden besar yang menjuntai panjang. Seakan tau Dena pasti akan berteriak, orang tersebut langsung menutup mulut Dena menggunakan telapak tangannya.


.


.

__ADS_1


.


siapa ya๐Ÿค”


__ADS_2