
Setelah menimbang-nimbang dan memikirkan semalaman. Akhirnya Fairel memberanikan diri untuk mendatangi kediaman Dena untuk memberikan kado sekaligus untuk menyampaikan beberapa untaian kalimat yang sudah terpikirkan selama semalaman.
Tampak sebuah motor scoopy berhenti di halaman rumah yang tampak menjulang megah. Pengendara motor tersebut adalah Fairel. Pagi ini ia tampak lebih rapi dari biasanya. Tangannya memegang sebuah kado kecil untuk ia berikan kepada Dena sebagai kado ulang tahun gadis itu yang ke-18 tahun.
Ting tong
Fairel memencet bel rumah itu.
Ting tong
Dua kali sudah Fairel memencet tombolnya, namun, belum juga ada sahutan dari dalam. Dan ke-tiga kalinya baru pintu dibuka.
"Eh, Den Arel. Masuk, Den." ucap Mbok Jum menyambut kedatangan Fairel.
"Eh! Nggak usah, Mbok. Oh ya, ini kok sepi ya, Mbok?" tanya Fairel.
"Lohh... emangnya Aden gak tau ya?" ujar Mbok Jum membuat Dena keheranan.
"Tau apa, Mbok?" tanya Fairel bingung.
"Itu loh, Den. Non Dena kan hari ini mau berangkat ke Paris. Emangnya Aden gak tau ya?"
Deg
Aliran darah di sekujur tubuh Fairel sekana berhenti mengalir. Terkejut. Pemuda itu terkejut mendengar ucapan Mbok Jum.
"Bukannya berangkatnya lima hari lagi ya, Mbok?" ucap Fairel memastikannya.
"Aduh! Mbok ya nggak tau toh, Den. Taunya hari ini Non Dena berangkat. Tadi berangkatnya bareng Nyonya." beritahu Mbok Jum.
"Kalau Om Wira, Mbok?"
"Tuan ada di dalam lagi siap-siap."
"Siapa, Mbok?" Wira tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil merapikan sedikit pakaiannya.
"Den Arel, Tuan." jawab Mbok Jum.
"Rel." panggil Wira.
"Om." ucap Fairel.
"Cari Dena ya?" tanya Wira tepat sasaran. Fairel langsung menganggukkan kepalanya.
Pria itu tampak menyingsing sedikit ujung jasnya untuk melihat jam di pergelangan tangannya. "Bentar lagi pesawat take off." gumam Wira.
"Kenapa, Om?" kepo Fairel.
"Owh itu, enggak. Pesawat yang ditumpangi Dena bentar lagi take off. Mungkin sekitar satu jam lagi."
Deg
Sekali lagi! Sekali lagi jantung Fairel berdetak cepat.
"Om mau kemana?" tanya Fairel cepat.
"Mau ke bandara lah, jemput istri Om."
"Arel ikut. Boleh, Om?"
Wira sempat memandang Fairel ragu. Namun, sesaat ia menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Rel. Om juga mau nganterin Dena walaupun nanti sebentar."
Keduanya sudah duduk di kursi mobil masing-masing. Fairel mulai panik. Motornya ia simpan di kediaman Dena, sedangkan saat ini ia nebeng kepada Wira. Tangannya tidak lepas memegang kado kecil yang sudah ia siapkan tadi pagi.
"Kamu kenapa, Rel? Kok kayak panik gitu?" Wira menoleh sebentar untuk memastikan Fairel baik-baik saja. Karena wajah pemuda itu sudah pucat pasi.
"Maaf, Om. Om bisa ngebut gak?" bukannya menjawab, Fairel malah meminta hak lain.
"Oke, gak masalah." jawab Wira tanpa menarug curiga.
Pria itu langsung menginjak pedal gas mobil dan otomatis kelajuannya langsung bertambah.
__ADS_1
"Oh iya, Om lupa, Rel. Semalam Dena ada nitipin sesuatu ke Om. Dia minta tolong kasih ke kamu."
"Apa itu, Om?" tanya Fairel.
Wira mengedarkan pandangannya. "Tolong kamu buka laci dashboard. Kalau gak salah tadi pagi Dena nyimpan di situ." Fairel langsung membuka laci dashboard mobil itu dan mengambil barang yang dimaksud Wira.
Alis dan kening Fairel mengerut sempurna saat melihat barang yang ada di tangannya. Pemuda itu langsung menatap Wira. "Om, bisa ngebut lagi gak?" pinta Fairel. Tangannya menggenggam kuat benda tersebut.
"Kenapa emangnya, Rel?"
"Ini penting, Om."
"Oke, kamu pegangan yang erat. Om akan ngebut sekarang."
Fairel memegang kuat hand grip mobil Wira saat pria itu melaju.
Perjalanan mereka memakan waktu hampir satu jam. Fairel mulai gelisah. Begitu mobil berhenti, pemuda. itu langsung turun tanpa mengucapkan satu kata pun.
Fairel berlari menerobos kerumunan dan orang yang berlalu lalang.
Brukkk
Tanpa sengaja ia menabrak seorang pria hingga barang-barangnya berjatuhan.
"Maaf, Mas." Fairel menelungkupkan kedua tangannya seraya meminta maaf. Tanpa menunggu reaksi dari pria itu, Fairel berlari.
"Woyyyy!!" teriaknya tanpa digubris oleh Fairel.
Fairel terus berlari, tidak perduli dengan tanggapan orang-orang ramai. Ia berhenti saat berada di kursi tunggu bandara, namun, ia tidak menemukan keberadaan seseorang yang ia cari. Fairel berputar dengan nafas yang menderu kasar. Panik, ia seketika panik.
"Lohhh, Rel. Kamu ke sini?" seru seorang wanita yang baru datang.
Fairel langsung mengalihkan pandangannya melihat wanita itu. Keringat tampak mengucur di dahinya.
"Haaahhhhh... hahhhh.... Tante..." nafasnya terengah.
"Kamu sendirian?"
"Dena?" Cahya tampak terdiam. Meneliti wajah Fairel. Wanita itu seperti berpikir.
"Baru aja take off." lanjutnya berbohong.
"A- apa?" seketika Fairel merasakan sesak. Seolah oksigen di sekitarnya habis dalam waktu satu detik. Fairel mematung sempurna dengan tangan yang menggenggam sebuah kado kecil dan sebuah benda yang tadi Wira berikan untuknya.
"Rel."
"Arel."
Berulang kali namanya dipanggil, namun, pemuda itu seakan mati rasa. Terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Rel!"
Fairel terlonjak kaget saat lengannya di guncang oleh wanita itu.
"Kamu kenapa? Ada yang salah?".
"D- dena beneran udah berangkat?" lirih pemuda itu dibalas anggukan oleh Cahya.
"Kenapa? Kamu kayak kaget gitu? Bukannya semalam Dena udah ngasih tau kamu ya kalau hari ini dia berangkat. Penerbangannya dipercepat, katanya dia mau ngurusin berkas-berkas di sana. Oh ya, tadi pagi dia juga titip salam ke Tante untuk kamu."
"Dia gak ngasih tau Arel, Tante."
"Loh kok?"
Saat itu juga Wira tampak berjalan ke arah mereka. Pria itu baru saja sampai setelah memarkirkan mobilnya. Ia bingung saat melihat Fairel tidak ada di sekitarnya.
"Kamu kenapa lari-larian, Rel?" tanya Wira langsung menempatkan posisinya di samping istrinya.
"Gak apa-apa, Om." jawab Fairel.
"Beneran?"
"Bener, Om."
__ADS_1
"Ya sudah."
"Dena udah berangkat?" tanya Wira menatap istrinya.
"Udah kok barusan." jawab Cahya membalas tatapan Wira.
"Yahhh... padahal belum ngucapin selamat tinggal."
"Gak apa-apa. Kan bisa nanti telfon atau vc. Tadi Dena nitip salam sama kamu."
"Wa'alaikumsalam. Emang ya gadis itu bener-bener. Masa tiba-tiba mempercepat penerbangannya?"
"Ya siapa yang tau kan."
"Yaudah deh. Udah terlanjur juga. Kita pulang ya?" Cahya mengangguk.
"Rel, ayo pulang." ajak Wira. Namun, Fairel menggelengkan kepalanya.
"Terus, nanti kamu pulang naik apa kalau gak bareng Om?"
"Arel bisa pulang naik taksi, Om. Om dan Tante pulang aja dulu. Arel masih ada urusan."
"Ya udah kalau itu mau kamu. Om dan Tante pulang ya? Nanti kalau ada apa-apa kabarin."
"Iya, Om."
Wira dan Cahya langsung pergi. Meninggalkan Fairel sendiri di kursi tunggu.
Ia menatap nanar ke arah depan. "Seminggu penuh gue janji buat nemenin lo kemanapun lo mau. Tapi, baru dua hari lo udah pergi?" lirih Fairel sendu.
Fairel mengeratkan pegangannya pada kado dan sebuah benda di tangannya. "Gue punya kejutan buat lo. Gue udah mikirin ini semalaman."
"Apa penolakan dari gue itu membuat lo sakit hati dan memilih pergi tanpa berpamitan sama sekali? Apa susah buat lo ngucapin selamat tinggal?"
"Na, kemanapun lo pergi. Gue selalu ada di sisi lo."
"Lo pengen banget kan denger langsung kalimat ini yang keluar dari mulut gue?"
"Bohong gue suka lo sebagai sahabat. Gue bohong, Na. Gue sakit karena gue udah bohong."
"Gue... suka sama lo... bukan sebagai sahabat. Gue suka sama lo sebagai pasangan." bibir Fairel bergetar kuat, membuatnya langsung menggigit bibir bawahnya menahan sesak.
"Gue bakal nebus kesalahan gue di waktu yang akan datang. Itu janji gue buat lo, Na." Fairel menarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan perlahan.
"Makasih untuk waktunya. Gue harap lo gak benci sama gue. Selamat tinggal, Na. Gue tunggu kepulangan lo."
Dengan langkah berat Fairel meninggalkan tempat itu. Berusaha untuk tidak menangis, namun, hatinya terasa sangat sesak dan nyeri. Fairel memegang meremas kuat dua barang di tangannya.
Sedangkan di tempat tadi, setelah Fairel pergi. Tampak seorang gadis keluar dari persembunyiannya.
"Gue gak akan pernah benci sama lo, Rel. Gue hanya kecewa dengan diri gue sendiri. Semuanya udah terlambat."
Nyatanya gadis itu belum berangkat, ia hanya mengulur waktu.
"Janji lo gue pegang." lirihnya sebelum akhirnya melangkah pergi karena pesawat sebentar lagi akan take off.
END
.
.
.
Alhamdulillah. Setelah berbulan-bulan novel ini berjalan, akhirnya sekarang sampai di pengujungan. Aku, selaku penulis novel ini mengucapkan banyak terima kasih karena udah mengikuti kisahnya dari awal. Kecewa. Satu kata yang mungkin akan kalian berikan. Tapi, di sini aku mutusin buat nulis alurnya begini. Yup, memang agak keluar dari judulnya. Tapi, kalian gak usah sedih. Cerita Dena dan Fairel belum mencapai akhir dari ceritanya. Ini hanya sebagian ya, cuma setengah dari kisah remaja mereka.
Dena dan Fairel akan kembali lagi dengan versi dewasa๐ฅฐ Tentunya dengan cerita yang mungkin lebih menarik. Mereka akan terus bersama setiap harinya.
See you next time. Aku harap kalian sabar nunggu kelanjutan kisah mereka. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Bocoran ya ๐๐
__ADS_1