Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 28


__ADS_3

Wira menatap datar ke arah wanita yang kini menempati kasurnya. Ya, laki-laki itu diminta putrinya untuk membawa Cahya masuk ke dalam ruangan pribadinya tempat ia beristirahat. Sebenarnya laki-laki itu ingin meletakkan Cahya ke atas sofa saja, namun ketika mendapati putrinya yang menatap dirinya tajam beserta perintah, ia bisa apa?


Sementara Dena dengan setia membantu mengolesi hidup Cahya dengan minyak kayu putih sembari sesekali mengipasinya. Sudah lebih dari 10 menit namun belum ada tanda-tanda wanita itu terbangun. Dena dibuat khawatir, sementara Papanya terlihat bodoamat.


Salah siapa sudah menjelek-jelekkan dirinya di belakang, sudah begitu curhat dengan putrinya. Itu sih sebelas duabelas. Laki-laki itu juga sedikit kesal lantaran persoalan berkas yang dikerjakan Cahya sedikit salah. Biarpun sedikit tapi Wira tidak membiarkan itu. Ia sangat teliti, tidak suka yang namanya keteledoran maupun kecerobohan.


"Kalo terjadi apa-apa sama Kak Cahya... Papa dalam masalah!!" ancamnya sembari menatap tajam Papanya yang duduk anteng di kursi single.


"Kok Papa sih? Papa gak melakukan apa-apa loh!" sangkal Wira tidak terima disalahkan oleh putrinya.


"Pokoknya Papa salah." nada bicaranya sudah berbeda, membuat Wira mengalah saja dari pada nanti diabaikan.


"Iya, Papa salah. Udah puas, hem?"


"Belum."


Wira memijit pelipisnya. Kepalanya pening. Masalah sekecil itu bisa saja membuat dirinya dalam masalah besar. Semuanya gara-gara wanita sialan itu! Batin laki-laki itu yang kini sudah memasang aura permusuhan.


"Eunghhhh..." lenguhan pelan terdengar dari arah kasur. Dena langsung meneliti.


"Kakak udah bangun?" tanya Dena sembari merapikan anak rambut Cahya yang menutupi sedikit wajahnya.


Lama Cahya terdiam sambil mengerjapkan kedua bola matanya. "Kakak ada di mana, Dek?" tanya Cahya dengan suara seraknya.


"Ada di kamar Papa, Kak. Tadi Kakak pingsan."


"Owh."


"APA!!!??" pekik Cahya yang tiba-tiba langsung terlonjak bangun dari tidurnya. Tubuhnya sempoyongan karena bangkit tiba-tiba. Karena belum menguasai tubuhnya dengan benar, alhasil wanita itu hampir terjungkal ke belakang.


"Aaaakkkkhhhh..."

__ADS_1


Brukk


"Ah, so sweet banget Papa. Lama menjomblo ya jadinya refleks. Hahahaa... " celetuk gadis itu tertawa menyadarkan keduanya.


"M-ma-af, P-pak." Cahya langsung berdiri tegak, melepaskan dirinya dari pelukan bosnya. Apa-apaan itu! Umpat Cahya sembari menahan malu. Bukan dirinya saja yang berada di dalam ruangan itu, namun ada juga Dena yang menatapnya mengerling.


"Ya." balas Wira berusaha sedatar-datarnya. Lima belas tahun menjomblo dan tidak pernah menyentuh wanita sama sekali membuatnya kaku.


"Papa santai dong. Jangan grogi gitu, hehe." gadis itu hapal betul gelagat Papanya dalam segala situasi termasuk saat ini. Dari yang ia lihat Papanya itu grogi.


Wira melototi putrinya yang enteng-enteng saja mengucap kalimat itu.


"Kakak, ngapain?" tanya Dena melihat Cahya mondar mandi tidak jelas.


"Pintunya mana? Kakak mau ke luar." Cahya bertanya karena sedari tadi ia bolak-balik mencari pintu keluar tapi tidak menemukannya. Maklum saja, kamar itu adalah ruang rahasia yang hanya diketahui oleh Wira dan putrinya termasuk Steve.


Cahya dibuat merinding, baru kali ini ia berdekatan dengan bosnya itu. Lagian ia juga karyawan baru, sebelumnya Cahya pernah bekerja di perusahaan lain namun ia berhenti karena perlakuan di sana sangat-sangat buruk. Lalu mencoba melamar pekerjaan di kantor Wira dan ternyata ada membuka lowongan pekerjaan di bagian administrasi. Sangat beruntung bukan?


"Aku gak tau, Kak. Tadi masuknya aja bareng Papa. Ya kan, Pa?" Wira hanya mengangguk mengikuti saja.


"Trus... Kakak keluarnya gimana?" tanya Cahya frustasi. Bisa-bisa ia dipecat ini.


"Tuh... minta tolong ke Papa."


Cahya ikut melirik kode Dena. Seketika ia merinding, bosnya itu terlalu menyeramkan dan sedikit meresahkan.


"Kamu bisa kan, Dek? Kenapa harus Pak Wira?"


"Kuncinya ada ke Papa, Kak." bohong Dena. Padahal tinggal pencet tombol yang tersembunyi di balik buku-buku tebal saja sudah langsung otomatis terbuka.


"Aishh! Pak..." panggil Cahya sesaat.

__ADS_1


Merasa tidak dijawab, Cahya kembali memanggil sembari menekan sabar yang teramat. "Pak Wira..."


"Ya?"


Dena hanya diam menyimak. Gadis itu malah dengan tenangnya berbaring di kasur dengan kepala ia sandarkan ke headbord.


"Tolong buka pintunya, Pak. Saya mau keluar, banyak yang harus saja kerjakan sekarang---"


"Brisik. Minggir!" Wira mendekat sambil menggeser tubuh Cahya yang menghalangi dirinya. Wanita itu hanya mendengus kesal. Sungguh apes hidupnya.


Cahya meneliti dan ia baru tau. Ternyata gadis itu berbohong kepadanya. Awas saja! Tapi ngomong-ngomong Cahya juga tidak tega kalau mengomeli Dena.


Begitu pintu terbuka otomatis, Cahya langsung beranjak lalu berpamitan.


Selepas kepergian Cahya, Wira mendekati Dena, laki-laki itu duduk di sisi kasur.


"Kamu kok nakal, Sayang? Ada apa, hm?"


Dena hanya tersenyum menanggapi. "Gak pa-pa kok, Pa. Udah sore ya? Papa mau pulang gak?"


"Boleh. Lagian Papa hari ini gak ada jadwal meeting."


"Yaudah, pulang yuk, Pa!" ajaknya sembari bangkit, mengajak Papanya pulang.


Keduanya keluar dari ruangan presdir bersama-sama. Tidak ingin membuat putrinya kelelahan, Wira menawarkan untuk menggendong Dena.


"Gak usah, Pa. Dena jalan aja, gak capek kok. Lagian udah deket juga."


"Humm... iyadeh kalau gitu."


Wira pulang lebih awal dari jadwal biasanya. Berpesan pada Steve agar menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2