Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 69


__ADS_3

Toilet adalah sebuah alasan yang tepat yang banyak sekali orang-orang gunakan sebagai alasan entah itu sedang sedih dan lain-lain. Perasaannya kini diselimuti kegelisahan yang melanda. Tidak kuat menahan perasaan sesak di dadanya, gadis yang sudah berusia 17 tahun itu akhirnya menumpahkan air matanya tepat di depan wastafel toilet perempuan. Sepi, oleh karena itu dirinya berani menangis di tempat umum.


"M-mama..." lirih gadis itu bahkan sampai menggigit bibir bawahnya untuk meredakan tangisnya yang sepertinya tidak kunjung berhenti. Malah semakin lama ia semakin merasakan sesak yang membuatnya menangis sesegukan tanpa suara.


Meski tumbuh tanpa kasih sayang ibu, hal itu tidak membuatnya melupakan sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Selama 16 tahun lamanya, ia hanya bisa memandangi foto almarhum mamanya. Mencoba menerima takdir yang telah Tuhan gariskan di hidupnya. Andai kata Dena diberi pilihan, maka, ia lebih memilih untuk menjadi anak yang terlahir dari keluarga sederhana namun dengan orang tua yang lengkap.


Seseorang masuk ke dalam toilet membuat Dena lekas menghapus air matanya dan menarik nafasnya dalam untuk memberi ketenangan hatinya. Suara pintu toilet tertutup membuat Dena penasaran siapakah yang berada di dalam? Mungkin saja karyawan di kantor papanya.


Dena masih betah berlama-lama di depan wastafel. Melihat tampilan dirinya dari pantulan kaca. Matanya sedikit bengkak, membuatnya ragu untuk keluar segera.


Lima menit kemudian terdengar suara pintu toilet dibuka. Lalu suara langkah kaki seperti melangkah menuju wastafel, tempatnya berada sekarang.


Dena berdiri tepat di depan cermin dengan kepala sedikit menunduk hingga orang tersebut tidak tau siapa dirinya. Suara air keran mengalir deras tepat di sampingnya saat seseorang itu mencuci tangannya.


Posisi Dena yang menunduk juga membuatnya tidak bisa melihat siapakah orang tersebut. Dirinya terlalu malu untuk menampakkan wajahnya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Duluan ya, Mbak." ujar wanita itu bersiap-siap untuk pergi. Namun, ada yang salah di telinga Dena. Ia seperti mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Tidak ingin membuatnya mati penasaran, akhirnya Dena berbalik dan mengangkat wajahnya untuk melihat suara siapakah itu.


"Kak..." kata Dena pelan.


Sontak sang wanita berbalik badan. Ia menatap terkejut ke arah Dena. Ya, wanita tersebut adalah Cahya. Langsung saja ia berjalan cepat mendekati Dena dan memegang kedua bahu gadis itu.


"Ya ampun. Kakak kira tadi karyawan di sini. Eh ternyata kamu." seru Cahya reflek mengelus kepala Dena dengan pelan.


"Hehe." gadis itu hanya menyengir. Dalam sesaat, suasana hatinya langsung berubah seketika. Dena merasakan rasa tenang dan hangat yang menyelimuti hatinya. Rasa khawatir, gelisah, tidak terima, sesak yang sebelumnya bersarang di hatinya kini telah sirna.


Cahya menangkap raut wakah berbeda dari anak bosnya itu. Tangannya langsung menyentuh ujung dagu Dena dan menaikkannya sedikit hingga ia bisa melihat wajah Dena dari dekat.


"Kamu nangis?" tebak cahya yang melihat bekas air mata mengalir di pipi gadis itu. Selain itu juga, mata Dena tampak bengkak sedikit.


Dena langsung menyentuh ujung matanya. "Ah, enggak. Cuma kelilipan doang, Kak." jawab gadis itu.

__ADS_1


Cahya menggelengkan kepalanya berulang kali. "No! Ini bukan kelilipan ya. Ga ada kelilipan yang bikin hidung jadi merah."


Segera Dena menangkup pipinya sambil menoleh ke arah cermin untuk memastikan bahwa perkataan Cahya itu benar ataukah bohong. Namun, yang ia lihat memanglah benar. Ujung hidungnya memerah. Masuk akal juga.


"Kenapa? Cerita sama kakak." tanya Cahya lembut sambil tangannya memegang kedua sisi pipi gadis itu.


Dena mendudukkan kepalanya. Ia ragu. Tapi, hatinya tidak bisa berbohong kalau saat ini ia butuh teman curhat. Dena ingin menumpahkan segala kegelisahannya saat ini.


•••


Sekarang keduanya sudah berada di taman yang masih satu wilayah dengan area perkantoran.


"Sekarang cerita sama kakak. Ada apa?" Cahya berpikir kalau Dena tidak baik-baik saja saat ini karena adanya masalah dalam hubungan asmara. Biasanya kan anak seumuran Dena sangat menonjol dalam masalah percintaan anak remaja. Bukankah itu adalah hal yang biasa? Dan mungkin saja saat ini Dena membutuhkan teman curhat. Pikirnya.


"Kamu putus sama pacar?" tebak Cahya.


Dena menggelengkan kepalanya.


"Terus?"


"Papa ngenalin seorang wanita ke Dena."


Akhirnya Cahya paham dengan kegaualan Dena sekarang. Ia pikir gadis itu galau karena percintaan anak remaja. Wanita itu mengelus rambut Dena dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga Dena. "Ya bagus dong kalau papa ngenalin cewek ke kamu. Berarti papa kamu benar-benar serius dan siap untuk menjadikannya sebagai ibu sambung kamu." ujar Cahya mencoba untuk bijak. Meskipun ia tau, saat Dena berkata begitu hatinya langsung mencelos.


Mencelos: (Atau yang biasa disebut sedih atau kecewa.)


Kalau Cahya menjadi Dena. Pasti ia juga akan merasakan hal yang sama. Hatinya juga akan ikut menentang, namun hanya bisa ia ungkapkan dalam diam.


"Ini semua salah Dena. Awalnya Dena minta ke papa. Tapi, pas papa udah ngenalin wanita, hati Dena berkata beda. Dena gak suka, Kak. Mereka selalu sok-sokan merebut perhatian Dena. Dena nyesel udah minta ke papa." curhat Dena dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Cahya bisa ikut merasakan kepedihan hati Dena. Pikiran dan hatinya bertentangan lawan.


"Tapi, Dena juga gak tega liat papa yang sekarang. Papa juga masih muda kok, gak tua-tua amat." Cahya langsung tergelak seketika. Saat sedih pun gadis itu bisa melawak dengan perkataannya.

__ADS_1


"Dena kasian liat papa. Kayaknya papa butuh seorang pendamping. Gitu juga dengan Dena yang butuh sosok ibu. Dena pengen jadi anak-anak di luaran sana. Tiap pagi mereka selalu dibangunin tidur. Trus disiapin sarapan pagi, siapin baju ganti. Yang paling utama Dena pengen ada temen ngobrol. Dena bosen sendirian terus tiap pulang sekolah." nafas Cahya langsung tercekat. Sebegitu dalamnya kah rasa kepedihan hati Dena dibalik sifat cerianya yang ternyata mengandung banyak kepedihan hati.


"Tapi, kenapa yang datang selalu aja gak bener. Mereka gak bisa ngambil hati Dena saat Dena pertama kali melihatnya. Malahan Dena langsung ilfeel." ucap Dena sangat jujur sekali. Bahkan ia tidak sungkan untuk mengatakan hal buruk tentang wanita yang datang kepada papanya.


"Dena pengen banget punya mama kayak kakak. Perhatian, penyayang, baik, apa adanya. Sama satu lagi cantik. Walaupun gak pakai make up. Tapi, kayaknya gak mungkin hehe. Kakak pasti udah punya kriteria laki-laki yang bakal dijadiin pendamping buat kakak." tutur Dena lalu menyengir menatap wajah Cahya yang tampak menegang.


Andai Dena tau kalau saat ini Cahya sudah menaruh sedikit hatinya kepada bosnya itu. Tapi, ia juga sadar bahwa itu semua tidak mungkin. Akan banyak sekali tantangan dan pro kontra nantinya. Kedekatan mereka selalu melibatkan Dena. Selalu tidak akur jika dihadapkan hanya berdua.


Cahya menarik nafasnya dalam. Ia langsung menumpukkan kedua tangannya di punggung tangan Dena. "Pesan kakak. Kamu harus coba belajar membuka hati. Jangan dilihat saat melihat pas pertama kali. Pelan-pelan, nanti kamu akan menerima kehadirannya. Jangan terlalu dingin atau garang. Coba kamu pikirkan lagi. Harus dari sini, jangan mendengar perkataan orang lain." tunjuk Cahya pada dada gadis itu.


"Gitu ya, Kak?" tanya Dena yang dibalas anggukan kepala oleh Cahya.


Saat asik mengobrol, keduanya dikejutkan oleh suara Wira yang datang ke arah mereka bersama seorang wanita di sisinya.


"Sayang, kamu ke mana aja? Katanya tadi ke toilet, kenapa sampai sekarang belum balik juga?" seru Wira yang sebelumnya sudah khawatir. Ia langsung melirik ke arah Cahya dengan sengit.


"Mau saya potong gaji kamu? Kerjaannya nyantai terus." sarkas Wira langsung to the point.


Cahya tidak menanggapi ucapan bosnya yang selalu dingin. Ia segera berpamitan kepada Dena karena harus kembali bekerja. "Kakak balik lagi ya ke dalam? Ingat pesan kakak tadi."


"Oke. Makasih atas waktunya, Kak. Semangat." balas Dena menunjukkan kepalan tangannya.


"Sama-sama, cantik." Cahya mengacak pelan rambut Dena sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.


"Jangan terlalu dekat sama dia." tegur Wira langsung kepada putrinya.


Dena langsung mengernyit dahinya bingung. Sudahlah, ia semakin bertambah kesal kepada papanya. Niat hati ini memperbaiki segalanya, eh malah ambyar saat Wira berkata seperti itu.


.


.

__ADS_1


.


Cahya👀 mana yg dukung Cahya sama Wira, atau Wira sama Jihan👀


__ADS_2