Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 23


__ADS_3

Dua minggu terbiasa bangun pagi membuat Dena sedikit terbiasa. Bahkan sang Papa sempat terkejut begitu mendatangi kamar putrinya. Kasur yang sudah rapi lalu tubuh yang sudah bersih berbalut seragam sekolahnya. Hari ini gadis itu mulai memasuki sekolah di semester keduanya. Yang jelas kelasnya tetap sama dan juga beberapa anak lainnya.


Dena turun dengan menggendong tas punggung kecil yang ia sampirkan di sebelah punggungnya. Membiarkan tas itu bergerak tidak beraturan seiring dengan langkah kakinya menuruni anak tangga.


Tampak beberapa pelayan di rumahnya membungkukkan badan hormat saat melihat anak majikannya melangkahkan kakinya menuju anak tangga terakhir.


"Pagi, Non." sapa mereka kompak. Pelayan yang berjumlah tiga orang itu tersenyum sambil berdiri di ujung tangga menyambutnya.


Senyum pagi gadis itu begitu merekah. Membalas balik senyumam para pelayanannya.


"Pagi, semuanya." ujarnya ikut menganggukkan kepala lalu berlalu menuju meja makan untuk menyantap sarapan.


"Papa udah turun, Bik?" tanya Dena sambil berjalan.


"Belum, Non. Mungkin sebentar lagi turun."


"Oke, Bik." jawabnya sebagai respon. Lalu menarik kursi meja makan dan duduk, membuka ponsel pintarnya sembari menunggu sang Papa turun.


Tidak lama terdengar suara derap langkah sepatu yang bergesekan dengan lantai. "Selamat pagi, anak Papa." sapa Wira langsung mengecup pucuk kepala Dena.

__ADS_1


"Pagi, Papa."


"Semangat bener anak Papa. Ada apa nih?" tanya Wira sembari mendudukkan bokongnya ke atas kursi.


"Ada Papa di depan aku. Wajahnya yang tampan rupawan tapi sayangnya duda perawan. Hahahahahha." gadis itu tergelak sendiri saat mengucapkan kalimat itu dengan nada sebuah lagu.


"Duda perawan? Emangnya ada?" tanya Wira dengan polosnya.


"Ada kok. Nih di depan aku."


"Wah! Udah berani ya ngehina Papa sendiri? Mau Papa kirim lagi ke kampung Kakek?" ancam Wira yang belum tau kalau seandainya Dena dikirim lagi ke kampung Kakeknya, gadis itu malah senang. Wkwk.


"Kamu gak takut kalau Papa kirim ke kampung Kakek?" tanya Wira terkejut. Anaknya sekarang benar-benar sudah berubah. Sedikit membawa perubahan baik dalam kehidupannya. Bangun pagi, membiasakan diri membereskan tempat tidur sendiri, dan bahkan ya... yang masak makan malam kemarin itu Dena. Ya, anaknya seorang pengusaha yang cukup terkenal bernama Prawira Wirawan. Seorang duda yang ditinggal pergi oleh mendiang istrinya. Mengasuh seorang putri kecil yang tumbuh kembang sampai sebesar iniini seorang diri.


"Hehe, engga kok. Malahan aku lebih takut ke Papa. Takut Papa rindu aku, takut Papa digodain cewek-cewek di luaran sana. Pokoknya Dena takut lebih ke Papa." sangkal Dena membuat sang Papa kalah telak.


"Sekarang yang kamu takutkan dari Papa selain itu apa?" tanya Wira seraya memijat pelipisnya. Satu senjata ancamannya sudah hilang lenyap.


"Hehe, takut Papa jatuh miskin. Nanti aku jadi gelandang dong? Gak asik yah, nanti muka ku yang super glowing ini jadi kucel. Trus tidur di depan toko orang atau gak di kolong jembatan. Wah wah! Enggak mau yah jangan sampe." jawab Dena mendramatis.

__ADS_1


Wira semakin meminit pelipisnya. Seketika kepalanya pening tidak karuan. Mau membalas tapi dirinya sudah kehabisan kata-kata dan itu ulah putrinya sendiri.


Pelayan yang berdiri di ambang pintu dapur berhubungan dengan meja makan hanya terkikik mendengar obrolan majikannya. Sungguh! Itu semua adalah hiburan untuk mereka. Dua minggu lalu mereka dibuat kesepian karena tidak ada lagi candaan seperti sekarang.


"Eh! Kebanyakan ngomong nih. Papa sih, nanti aku telat gimana? Cepet makan sarapannya, Pa. Abis itu Papa langsung ke kantor. Biarin aku berangkat sendiri bareng supir. Awas ya! Jangan ikutin aku sampe sekolah." ancam gadis itu dengan berani. Mengabaikan tatapan melongo dari Papanya.


"Awas nanti kemasukan laler mulutnya mangap gitu." tegur Dena tanpa perasaan.


Dena benar-benar berangkat sendiri bersama supir yang mengemudi mobil. Sesampainya di sekolah, Dena langsung berjalan menuju kelasnya. Kelas 11 IPA2 yang terkenal dengan porsi otaknya.


Sesampainya di kelas, Dena langsung duduk di tempat biasanya. Di pojok kiri sampingan dengan jendela. Tempat duduknya agak sedikit belakang. Dena sungguh betah itu. Sebagian teman kelasnya sudah ada di tempat dan sebagian juga ada yang masih belum datang.


.


.


.


alhamdulillah bisa dobel up hari ini, ๐Ÿค—๐Ÿค—makasih buat yg masih stay di sini nungguin ceritanya berlanjut ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2