
Kini rumah Kakek Hari sudah dipenuhi gelak tawa dengan kehadiran teman-teman Dena. Setelah bertemu sapa dengan Dewi, keduanya pun mengumpulkan teman-temannya yang lain.
Cahya sedang berkutat di dapur bersama dengan Dena dan teman-teman perempuannya sedangkan temannya yang laki-laki berada di ruang tamu ditemani dengan Papanya, Wira. Dan untuk pertama kalinya juga mereka bertemu dengan Wira, begitu juga sebaliknya. Wira sempat salut dengan pertemanan mereka, dan laki-laki itu juga akhirnya tau siapa yang namanya Arel. Sosok pemuda yang memiliki wajah yang tampan, mempunyai jiwa pemberani.
Sementara Dena bukannya membantu, dirinya malah asik bercerita bersama Risty, sedangkan Dewi dan Anna tampak membantu Cahya. Mereka sedang membuat acara kecil-kecilan sebagai sambutan kedatangan Dena.
"Ck! Na, mending lo buatin minum sana. Lo juga Ris, punya temen gadis bawaannya gosip mulu." tegur Anna membuat keduanya berhenti tertawa.
"Gak mau." tolak Dena mentah-mentah sambil tertawa.
Risty melirik Dena dengan tatapan arti, membuat alis Dena naik seketika.
"Anna lagi pms, awal lo kena semprot." bisik Risty pelan agar tidak terdengar oleh Anna.
Dena hanya membulatkan mulutnya seperti membentuk huruf O. Reflek dia tersenyum menyengir lalu bangkit dari duduknya sebelum mendapat amukan dari temannya.
Dena pun akhirnya menuruti perkataan Anna yang menyuruh untuk membuat minuman. Saat sedang fokus, tiba-tiba Papanya datang. Rupanya laki-laki itu langsung masuk ke dalam kamar mandi yang terletak tidak jauh dari dapur.
"Sayang, buatin Papa kopi dong." pinta Wira setelah menyelesaikan urusannya sebentar. Laki-laki berdiri di samping Dena sambil tangannya mengumpulkan anak rambut Dena lalu mengikatnya pada sebuah karet getah yang diambil di gantungan paku.
"Kalau di dapur tuh rambutnya diikat, jangan diuraikan gini, nanti kemasuk ke makanan atau minuman." tegur Wira mendapat anggukan kecil dari Dena.
"Iya. Papa tunggu di depan aja, nanti Dena kasihin kopinya." balas Dena sambil menutup ceret air, lalu mengambil gelas dan toples kopi untuk membuat kopi.
Wira hanya mengangguk lalu pamit undur diri. Laki-laki itu juga sempat membalas sapaan dari teman-teman Dena. Tidak sengaja netra matanya bertemu dengan Cahya yang saat itu juga tidak sengaja melihatnya. Sontak Cahya memutuskan kontak matanya dan memilih fokus pada pekerjaannya. Sedangkan Wira pun langsung bertolak ke ruang tamu.
"Selesai." ucap Cahya setelah mencicipi rasa masakannya. Wanita itu tengah membuat mie rebus dipadukan dengan potongan singkong berukuran sedang. Uap panas dari kuahnya langsung mengepul di udara, serta bau khas masakannya langsung menguar di hidung mereka.
Dena langsung mendekat, menilik isi di dalam panci itu.
__ADS_1
"Kayaknya enak." ujar Dena sambil membayangkan rasanya seperti apa.
"Jauhan dikit, Na. Ntar iler lo netes di sana."
"Dihhh! Mana ada." jawab Dena dengan cepat sambil memandang Dewi dengan wajah ditekuk.
"Udah, jangan cemberut. Ayo bawa ke depan." lerai Cahya.
Mereka pun menurut. Dena membawa ceret air, Dewi dan Anna membawa mangkuk dan sendok, Risty membawa penyedap rasa seperti kecap dan saos, sedangkan Cahya membawa panci itu.
"Kak, itu nanti suruh Papa aja yang bawanya. Masih panas soalnya takut ketumpahan." seru Dena melarang Cahya yang baru saja akan mengangkat kedua gagang panci dengan beralas serbet dapur untuk melindungi dari panasnya panci yang masih mengepul itu.
"Gak pa-pa, Dek. Kakak bisa kok." balas Cahya keras kepala.
"Bandel banget, udah, itu Kakak bawa kopi Papa aja di atas meja." omel Dena membuat Cahya mau tidak mau menuruti.
Keduanya pun menyusul karena sebelumnya Dewi dkk sudah duluan membawa peralatannya.
"Mana makanannya?" tanya Wira sambil meneliti.
"Ada di dapur, Papa ambil gih." suruh Dena. Wira pun menuruti perintah sang putri.
Sesampainya Dena tadi sambil meletakkan ceret air, teman-temannya langsung rebutan untuk menuangkan air. Alhasil rusuh pun terjadi.
"Brisik banget kalian tuh! Bisa gak sih ngantri satu-satu." akhirnya Anna buka suara. Bawaan pms, moodnya jadi tidak teratur.
Baik Dicky dan Rafael langsung bungkam, mereka langsung duduk tegak dengan cangkir di tangannya masing-masing.
"Mampus." gumam Risty menertawakan teman-temannya.
__ADS_1
"Pinter. Ayo anak ayam, ngantri ngantri. Sini gue tuangin air ke gelas kalian masing-masing." sambung Dena menahan tawa lalu mendekatkan ceret air yang lumayan besar itu ke depannya.
"Gue dulu, Na." sahut Dicky dengam cepat menyodorkan cangkirnya.
"Iya gitu, pinter." Dena bagaikan Ibu yang mengatur anak-anaknya. Dirinya menuangkan air ke gelas Dicky dan Rafael.
Tiba-tiba Wira datang sambil membawa panci yang berukuran lumayan besar. Laki-laki itu meletakkannya di tengah-tengah lingkaran mereka, sebelumnya ia memberi alas di bawah panci itu. Laki-laki itu pun duduk di tempat yang kosong yang kebetulan bersebelahan di samping kanan Cahya. Sementara di samping kirinya itu ada Dewi, Risty, dan Anna. Dena? Gadis itu memilih duduk di samping kiri Cahya. Jadilah wanita itu diapit oleh keduanya yang mengandung status Papa dan anak.
"Lo mau juga, Rel?" tawar Dena ragu sambil melirik Fairel di sampingnya. Posisi mereka yang membentuk lingkaran, apalagi Fairel yang duduk di paling ujung dari lingkaran teman-temannya. Alhasil pemuda itu berada di samping Dena.
Bayangkanlah jika seorang perempuan yang sudah lama tidak bertemu dengan pujaan hatinya dan akhirnya sekarang dipertemukan. Ya, seperti itulah Dena sekarang. Tangannya sampai tremor saat menawarkan Fairel minuman.
Fairel tidak menjawab, melainkan hanya menyodorkan cangkirnya ke arah Dena sambil memandang gadis itu lekat. Sambil Dena menuangkan air ke gelas Fairel, yang lainnya sudah menuangkan mie rebus ke mangkuknya masing-masing. Dimulai dari Dewi yang bersebrangan dengan Wira lalu berurutan berputar melawan arah jarum jam.
Sampailah di mana saatnya Fairel mengambil jatahnya. Pemuda itu mengambil dan menuangkan mie rebus ke dalam mangkuknya dengan hati-hati karena memang masih panas.
"Eh!" Dena tersentak saat pemuda itu mengisi mangkuknya.
"Segitu udah?" Dena hanya mengangguk ragu.
Perlakuan Fairel mencuri perhatian yang lainnya. Apalagi Wira yang sudah seperti CCTV. Jika pemuda lain dekat dengan Dena, dirinya akan marah. Tapi, kenapa sekarang rasanya tidak? Malah Wira seperti melihat dirinya dulu sewaktu muda yang persis sama memperlakukan istrinya sebelum mereka menikah dulu. Tapi, dia tersadar kalau istrinya itu sekarang sudah tenang di alam sana.
"Makasih, Rel." Fairel hanya mengangguk tipis dengan senyumannya setipis kertas. Dena seperti melihat sosok Fairel yang berbeda. Apakah itu hanya perasaannya saja? Apakah Dena harus bertanya? Tidak! Tidak! Dan apakah dirinya harus menanyakan hal itu kepada teman-temannya, namun, kalau dirinya bertanya pastilah akan malu. Apalagi kalau mendengar godaan dari teman-temannya.
.
.
.
__ADS_1
hayo yang bisa nebak Fairel itu sebenarnya kenapa🤔aku juga bingung Fairel lagi kenapa dan ada apa🤣 wkwk lama juga ya ngetiknya dari jam 11.47 sampai jam 12.57🤣