Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 40


__ADS_3

"Siapa sih?!" gadis itu bertanya dengan raut wajah membingungkan sekaligus penasaran. Orang mana yang tidak penasaran kalau ditelfon oleh nomor asing. Mungkin sebagian orang ada yang memblokirnya.


"Arel."


"Owh." gadis itu mengangguk-angguk mengerti. Dirinya masih belum konek. Sesaat ia membelalakkan kedua bola matanya.


"Kok bisa?" pekik gadis itu.


"Gue kan manusia."


"Hehe, iya tau kalo lo itu manusia. Yang bilang hantu siapa coba?"


"Nggak ada."


"Oh ya. Dapet nomor gue dari mana? Trus ngapain nelfon?" tanya gadis itu beruntun.


"Biasa. Emang salah ya kalo gue nelfon? Lo udah gak mau temanan lagi?"


"Eh! Bukan gitu, Rel. Heran aja gitu. Lo jangan salah paham gitu lah." jawab Dena gelagapan sendiri.


"Kalo salah paham... lo mau jelasin?"


"Iyalah. Yakali enggak, kan bisa memperkeruh suasana."


"Oh ya. Lo masih ujian ya?" tanya Fairel membuka topik pembicaraan. Tidak apa lah sedikit mengambil waktu.


"Iya. Lo pasti udah kelar kan ujiannya? Niat mau nyambung apa enggak? Kalo mau nyambung, mau kuliah di mana?"


"Belum kepikiran sih. Masih bingung juga. Sedangkan Dicky dan Rafael, baru aja mau daftar kuliah. Masih milih-milih sih tempatnya di mana."


"Segera putuskan, Rel. Buat masa depan lo juga kan? Kalo mau langsung kerja ya silahkan. Bisa juga kan kuliah sambil kerja sampingan?"


"Emang iya."


"Kakek gimana, Rel? Lo sering main ke rumah Kakek kan? Bantuin Kakek?"

__ADS_1


"Aman. Gue selalu mampir kok. Kemarim Kakek sempat sakit. Tapi sekarang udah sembuh kok alhamdulillah."


"Kakek sakit? Alhamdulillah kalo udah sehat. Tapi, kenapa gak nelfon rumah sih? Bikin khawatir aja." omel Dena khawatir saat mendengar bahwa Kakeknya sempat jatuh sakit. Sepertinya keputusan sang Papa untuk membawa Kakeknya ke Jakarta itu tepat sekali. Sekalian faktor umur, Kakek juga sendirian, tidak ada yang menemani hari-hari tuanya.


"Mungkin Kakek gak mau liat cucu kesayangannya khawatir. Bukan begitu, Cu?" ledek Fairel memperagakan. Ia langsung tertawa membuat Dena cemberut di sana.


"Ish! Resek banget sih."


"Hahahaha... becanda, Na, canda. Gue tutup telfonnya ya? Mau belajar kan? Yang semangat belajarnya semoga nanti hasilnya memuaskan. Aamiin."


"Aamiin, Rel. Makasih."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tutt


Nafasnya menghela lega. Pembicaraan sesingkat itu mampu membuat hatinya berdesir. Sesingkat itu waktu yang bisa membuat hatinya senang. Hanya dengan orang yang sederhana.


"Hayo... kenapa senyum-senyum gitu. Hati-hati loh ntar kesambet." ujar seseorang yang kini sudah berada di hadapannya. Ia sampai tidak sadar bahwa ada orang lain yang memasuki kamarnya.


"Astaghfirullah, Papa ih!" gadis itu mengelus dadanya pelan guna menetralisirkan rasa terkejutnya.


"Kenapa senyum-senyum sendirian?" tanya Wira ikut duduk di sisi kasurnya.


"Papa kok udah pulang?" tanya Dena mengalihkan pembicaraan.


"Lah... kan waktunya Papa pulang. Emang sih setengah jam lebih awal dari biasanya."


"Haaa?? Emangnya ini udah jam berapa? Astaghfirullah, lupa asar." ia kembali terlonjak. Meloncat dari kasurnya lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara Wira hanya tersenyum menggeleng. Ia yang mengerti langsung keluar dari kamar putrinya.


Sekitar jam setengah enam, gadis itu keluar dari kamarnya. Langsung menuju kolam renang tempat ia bersantai sepertinya biasanya. Gadis itu membawa beberapa tumpukan buku untuk ia pelajari. Sejenak ia tenggelam pada buku-buku itu.

__ADS_1


Suara azan magrib membuyarkan lamunannya. Kemudian ia kembali masuk membawa tumpukan buku itu ke kamarnya. Langsung mengambil wudhu dan menemui Papanya yang sepertinya sudah menunggu di ruang khusus sholat dan ibadah lainnya.


Tiga rakaat diimami oleh Papanya. Mengucap salam seraya menoleh kanan kemudian kiri. Lalu setelahnya berdo'a, seperti biasa dipimpin oleh Papanya.


Wira membalikkan tubuhnya sempurna sesusai kata Aamiin itu terucap. Mengulurkan tangannya untuk Dena salami.


Keduanya tidak langsung beranjak dari tempat, seperti biasa sedikit bercerita tentang hari yang dijalani.


"Gimana ujiannya? Lancar kah?" tanya Wira.


"Alhamdulillah lancar, Pa."


"Duduknya sama siapa? Cewek atau cowok?"


"Cowok, Pa, adek kelas Dena."


"Wuih! Ganteng gak? Jangan diembat lagi ya? Selesain dulu sekolahnya. Kalau masih tetep ngeyel bakal Papa nikahin."


"Ish! Jahat kali lah. Masa masih muda mau dinikahin. Emang calonnya udah ada?" tanya Dena ikut menggoda.


"Ada dong. Anak temen Papa banyak kok. Mereka pasti mau." jawab Wira berbangga hati.


"Gak mau, hehe. Mereka jelek, kalo puk cakep Dena juga gak mau."


"Lahhh... kenapa gak mau? Ganteng kok. Mantan-mantan kamu aja pada ganteng-ganteng."


"Trus kalo ganteng kenapa Papa neror mereka. Mainnya curang!"


"Mana ada Papa curang. Itu tuh cuman mau mengantisipasi aja. Udah, yuk keluar? Makan malam dulu abis itu Papa temanin belajar. Langsung aja nanti ke ruang tengah, bawa buku-buku pelajaran besok."


"Iya, Papa." jawab Dena. Keduanya kini sudah keluar dari ruangan yang tidak pernah sekalipun gelap gulita. Selalu ada cahaya yang menerangi. Kalau siang pasti ya cahaya asli dari alam. Kalau malam sudah pasti cahaya dari lampu.


.


.

__ADS_1


.


Kasih semangat dong🤣


__ADS_2