Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 11


__ADS_3

Dena diajak oleh ketiga teman barunya berkeliling desa. Lebih tepatnya mereka mengunjungi rumah satu sama lain. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ketiganya sudah sangat akrab seperti sudah mengenal lama.


"Berapa lama lo di sini, Na?" tanya Anna.


"Waktu libur cuman di kasih waktu dua minggu. Sedangkan gue di sini baru seminggu berarti sisa seminggu lagi abis itu baru pulang."


Anna mengangguk-angguk paham. Saat ini mereka berempat berasa di rumah Dewi. Kebetulan orang tua Dewi tidak ada di rumah, jadi, mereka lebih sedikit leluasa.


Risty berbaring di lantai beralas karpet, gadis itu hanya menjadi pendengar setia.


"Oh ya. Kalian satu angkatan sama Arel ya?" tebak Dena yang langsung mendapat anggukan. Ternyata dirinya menjadi adik kelas.


"Umur kalian rata-rata berapa sih?"


"Kalo Dewi itu paling tua di sini. Hahahaa..."


"Eh! Lo... kalo ngomong suka asal." sahut Dewi tidak terima.


"Bener kok. Lo. Paling tua diantara kita-kita. Lo kan 18, sedangkan gue sama Risty aja baru 17."


"Itu masih muda woyyy lo katain udah tua. Kalo tua tuh udah ubanan, jalannya ngebungkuk, trus pakai tongkat."


"Itu bukan tua lagi tapi nenek-nenek. Buahahaaa..." tawa Risty pecah.


Dena hanya menggeleng melihat keakraban ketiganya. Feelingnya tidak salah lagi, mereka adalah teman type setia menerima apa adanya, saling melengkapi satu sama lain. Dena bersyukur akan hal itu. Tidak seperti teman-teman nya di kota. Mereka hanya butuh disaat perlu.


"Gue tebak, lo pasti masih 16 kan?" ucap Anna.


Dena hanya mengangguk iya, karena memang itu benar.


"Dedek gemoy woyy." celetuk Anna yang langsung mencubit pipi Dena gemas. Sementara yang menjadi korban hanya pasrah diperlakukan.


"Tega banget lo, An. Kasian tau ga sih." protes Dewi yang langsung menarik tangan Anna.


"Kok lo yang sewot sih? Tuh liat! Orangnya aja gak protes."


"Tau lah. Lo tuh..." Dewi tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ehh! Woyyy... kenapa pada ribut sih ini?" Risty langsung bangkit melerai keduanya. Sudah tidak asing lagi baginya kalau melihat keduanya berdebat walau hanya masalah kecil. Dirinya adalah penengah untuk keduanya.


"Dia tuh!" keduanya saling tunjuk menunjuk, menyalah satu sama lain.


"Kalian berdua! Gak usah lo lo an. Minta maaf cepet!" titah remaja itu.


Keduanya menurut. Saling menjabat tangan lalu mengucapkan kata maaf.


"Nah bagus." Risty kembali berbaring, melihat televisi yang menyala menayangkan film kartun Spongebob.


"Lo sini aja sama gue, Na. Biarin mereka berdua." ucap Risty lagi sambil menepuk di sebelahnya.


"Abis ini mau ke mana?" tanya Dewi ikut berbaring.


"Ke kebun teh aja gimana?" saran Anna.


"Boleh juga. Lagian kan ada tuh gubuk kecil buat kita nyantai biasanya."

__ADS_1


"Lo gak keberatan kan, Na?"


"Enggak kok. Gue ngikut kalian aja mau ke mana." balas Dena.


"Oke deh."


Setengah jam mereka berbaring sambil menonton. Mereka memutuskan untuk langsung berangkat ke perkebunan teh di ujung sawah.


Mereka berjalan kaki sambil sesekali tertawa bercanda. Di pertengahan jalan mereka tidak sengaja bertemu dengan Dicky. Sontak mereka memanggil kecuali Dena.


"Kalian? Ada apa?" tanya Dicky yang saat itu membawa beberapa balok kayu di pundaknya.


"Lo ngapain bawa kayu sebanyak itu?" tanya Anna balik.


"Oh ini. Mau buat rumah pohon di belakang rumah Rafa." jawab Dicky.


"Wuih! Asik. Kita boleh ikut gak?" sahut Dewi antusias.


"Beneran mau ikut? Yakin?"


"Yakin seribu persen."


"Yaudah. Ayok!" ujar Dicky mengizinkan.


Mereka para gadis berjalan mengikuti dari belakang. Tidak sampai 10 menit akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah bernuansa sederhana. Dicky langsung mengarahkan mereka untuk berjalan melalui samping rumah yang terhubung ke belakang.


Di belakang rumah Rafael cukup luas dengan banyak pepohonan. Salah satunya pohon mangga, ada banyak macam juga seperti pohon kelapa, rambutan, duku. Kebetulan sekarang musim buah jadi semua pepohonan di sana rata-rata berbuah lebat.


Dena cukup terkesima melihatnya. Pemandangan yang sangat menyejukkan. Netra matanya terhenti saat melihat dia orang pemuda yang tengah berkutat di sebuah pohon yang cukup besar. Yang satunya di bawah, Dena kenal itu adalah tuan rumah yaitu Rafael. Dan satunya lagi berada di atas.


"Na, sini!"


Gadis itu tersentak. Rupanya dirinya tertinggal di belakang, sedangkan ketiga temannya sudah duduk nangkring di kursi kayu berukuran panjang.


Lekas Dena mendekati teman-temannya. Duduk di potongan batang kelapa yang dijadikan kursi karena kursi yang diduduki ketiga temannya sudah penuh.


"Kalian masuk ke dalam ya? Bantuin buat cemilan." ujar Dicky yang datang ke arah mereka.


"Hmmm... oke!"


Mereka masuk ke dalam rumah Rafael dengan Anna yang menuntun karena kebetulan gadis itu cukup akrab dengan Rafael.


Mereka masuk ke dalam melalui pintu belakang yang langsung terhubung dengan dapur.


"Tante." ujar Anna begitu melihat Mama Rafael di dapur.


"Anna? Eh! Rame toh." ujar perempuan di cukup terkaget saat melihat Dena, Dewi, dan Risty yang muncul dari balik tubuh Anna.


"Iya, Tante. Gak pa-pa aku bawa temen-temen ke sini? Disuruh Dicky buat bikin cemilan."


Anna menyalami tangan perempuan itu sopan, diikuti Dena dkk.


"Gak pa-pa kok. Tante malahan suka kalau kalian main ke sini."


"Oh ya. Ini siapa? Kok Tante baru pernah liat?"

__ADS_1


"Dena, Tante. Cucu Kakek Hari." balas Anna mewakili.


"Oalah. Tante baru tau. Kenalin Tante Mamanya Rafael."


"Hehe, iya, Tante." Dena menyengir sambil mengangguk.


"Kalian mau buat apa? Kebetulan ini ada tepung sama tempe."


"Itu aja, Tante. Boleh deh."


"Yaudah. Kalian buat aja ya cemilannya. Anggap aja ini rumah sendiri. Bahan-bahannya ada di kulkas, ambil aja."


Mama Rafael hanya berdiri melihat sesekali mengajak mereka mengobrol. Tidak terasa kini mereka sudah selesai berkutat di dapur. Sedikit simpel. Gorengan bakwan, tempe, dan minumannya es teh. Mereka langsung membawanya keluar dan memanggil ketiga pemuda yang berkutat di pohon yang akan dijadikan rumah pohon.


"Kalian kapan sampainya?" tanya Rafael kaget.


"Dari tadi ini juga." balas Dewi.


"Kok gue gak sadar ya?"


"Yaiyalah. Lo tadi kan lagi sama Arel. Kalian istirahat dulu."


"Ini kalian yang bikin?" Rafael terkesima, pemuda itu langsung mengambil gorengan tapi tangannya langsung ditepis oleh Anna.


"Cuci tangan dulu. Banyak kuman." tegurnya yang langsung dibalas cengiran oleh Rafael.


Mereka berkumpul di bundaran meja kayu. Para lelaki hanya duduk di potongan batang kayu sementara yang cewek duduk di kursi.


"Punya gue, Ky!" gerutu Risty saat Dicky mengambil gorengan tempe di tangannya. Semua atensi langsung tertuju pada mereka.


"Lo ambil aja lagi, banyak kan tuh." kilahnya.


"Lo tuh!"


"Apa? Gue ganteng ya?" ujarnya dengan pede.


"Gantengan Rafa dari pada lo."


"Masa?"


"Hmmm..."


Di saat keduanya berdebat, beda lagi dengan Dena.


"Na, ambilin minum dong." pinta Fairel.


"Iya, bentar." gadis itu langsung menuangkan es teh ke dalam gelas lalu memberikannya pada pemuda itu.


"Makasih, Na. Baik deh."


"Gue kan selalu baik. Lo aja yang jahat."


"Kapan gue jahatin lo, Na? Perasaan nggak deh."


"Banyak... pas waktu awal ketemu sampai nyunsep di parit."

__ADS_1


"Itu kan udah lama, Na. Jangan diungkit lah."


__ADS_2