
Sedari pulang kuliah tadi Dewi terus mengomel lantaran karena ulah Dena waktu lalu membuatnya didekati oleh kakak tingkatnya. Bagaimana tidak, si Ridwan yang waktu itu sempat berkenalan dengan Dena kini malah memintanya untuk didekatkan kepada Dena. Dan bagaimana Ridwan bisa kenal dengannya? Jadi, waktu dulu saat Dena menjemputnya, tidak lama setelah Dena berkenalan dengan Ridwan, Dewi datang kepadanya dan langsung mengajak Dena untuk pulang. Dewi yang saat itu tengah malu langsung menarik tangan Dena menjauhi kumpulan kawanan Ridwan yang setiap hari selalu nongkrong di anak tangga. Jadi, saat Dewi melewati tangga itu, Ridwan selalu memberhentikannya hanya karena ingin bertanya siapakah dirinya sampai bisa dekat dengan Dena.
"Lo tau gak, Na? Gara-gara lo itu, gue jadi diteror. Tiap hari, tiap waktu bahkan tiap jam, menit, banyak pesan yang masuk di WA gue. Entahlah, gue juga bingung kenapa tuh orang bisa-bisanya tau nomor gue. Gue jadi takut kalau mau berangkat kuliah, dia selalu cegat gue pas di tangga." curhat Dewi rasanya ingin menangis.
Dena yang merasa sebagai pelaku pun hanya mengulum senyumnya. "Mungkin emang dia tertarik sama lo kali, Wi. Secara lo kan cantik ya. Jadi, ya gitu deh." balas Dena.
"Tertarik apaan. Orang isi chatnya semuanya nanya-nanya tentanh elo. Untung ya gue masih baik gak kasihin nomor ponsel lo ke dia."
"Gak papa, gak papa. Kasihin aja." sambung Dena menantang.
"Lo, bener-bener deh!" Dewi bahkan sampai menjambak rambutnya sendiri karena respon Dena malah seperti itu. Rasanya seperti ngomong dengan rival yang bertolak belakang dengan pemikirannya.
"Udah, gak usah stress. Nanti lo jadi gila. Mending nih ya, gimana kalau besok kita nongrom di cafe tempat Arel kerja. Lo udah pernah ke sana belum?"
Sontak Dewi melepaskan cengkraman tangannya di rambutnya itu dan menatap Dena lalu menggelengkan kepala. "Belum, si Arel aja gak pernah ngajakin gue. Sama sepupu sendiri juga pelit banget."
"Nah! Ya udah, mending kita ke sana aja."
Dewi terdiam sambil berpikir sejenak. Kemudian akhirnya menganggukkan kepala ragu. "Mungkin bisa, Na. Kalau untuk kedepannya lagi mungkin gue gak bisa karena udah mau ambil kerja sampingan juga."
"Ummm... kasian sahabat gue. Yang sabar ya, sini sini peluk." Dena merentangkan kedua tangannya ke hadapan Dewi seakan-akan meminta Dewi untuk memeluknya.
Dewi yang peka langsung menerima rentangan tangan Dena, keduanya sama-sama berpelukan dengan posisi duduk di atas kasur.
"Udah. Lo gak papa kan gue tinggal? Siang gue kerja trus malamnya kuliah. Gak mungkin kan gue terus-terusan enak-enakan di rumah orang."
Dena melepaskan pelukannya. Karena tidak ingin membuat Dewi merasa tidak enak hati dan tersinggung, akhirnya Dena mengangguk pelan. Sebenarnya tidak apa kalau Dewi hanya kuliah saja, ia akan membujuk papanya.
"Gimana baiknya aja, Wi. Gue berharap lo itu jadi kakak gue. Karena gue udah nyaman banget sama lo, Wi. Lo itu dewasa, beda sama temen-temen yang lainnya. Cara berpikir lo itu yang bikin gue nyaman. Sebaliknya juga gitu, gue berharap lo bisa anggap gue sebagai adek dan papa gue sebagai orang tua lo. Mau kan, Wi?"
Dena, si gadis yang selalu dimanja oleh sang papa rupanya sangat mengharapkan seorang kakak. Sosok yang lebih tua darinya yang tentu saja yang lebih dewasa.
Dewi menatap Dena haru. Ia hanya pendatang baru yang sangat beruntung bisa mendapatkan orang-orang yang begitu tulus kepadanya. Mulai dari Dena dan orang sekitarnya dan teman-teman kampusnya yang rupanya sangat menerima kehadirannya yang berasal dari kampung dengan kondisi keluarga sederhana.
"Na, gue di posisi sekarang aja udah beruntung banget. Apalagi yang barusan lo bilang, gue merasa ini berlebihan. Untuk yang lo bilang kalo lo berharap gue bisa jadi kakak lo, gak perlu lo pinta, Na. Karena lo udah gue anggap bagian dari keluarga gue. Makasih, Na. Makasih banyak karena udah hadir di hidup gue."
Suasana malah berubah menjadi mellow yang membuat Dena berurai air mata. Lekas ia menyeka air matanya yang hampir menetes melewati pipi mulusnya. Ia memberikan senyum kepada Dewi. "Sama-sama, Wi. Oke, kalau gitu kita gak boleh manggil lo-gue lagi. Sekarang kan udah jadi adek kakak, gak sopan dong ya kalau manggilnya pake lo-gue."
Dewi ikut tersenyum melihatnya. Tangannya langsung mengacak rambut Dena. "Oke, adek manis. Sekarang lo- eh maksdunya, sekarang kamu tidur siang. Kakak mau ke kamar ngerjain tugas."
__ADS_1
"Oke, semangat, Kak Dewi!" balas Dena sambil tertawa receh saat berkata seperti itu. Rasanya aneh dan terasa asing. Tapi, kalau dibiasakan maka akan terbiasa.
Sebelum keluar dari kamar Dena, Dewi masih sempatnya mengelus pucuk kepala Dena. Umur mereka yang hanya terpaut dua tahun tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berbagi kasih. Bukankah satu keberuntungan bagi Dena. Ia sudah memiliki seorang kakak perempuan, dan terutama seorang papa yang begitu menyayangi. Lalu, apakah ada yang kurang bagi Dena? Ya! Jelas ada! Ia butuh seorang ibu untuk membangunkannya setiap pagi, membuatkan sarapan, makan siang, mengingatkannya untuk beribadah, dan yang lebih pentingnya seorang ibu yang akan mendampingi papanya disegala kondisi baik suka maupun duka.
•••
Sesuai janji kemarin siang, Dena dan Dewi langsung bertolak ke cafe dekat kampus. Tidak hanya mereka saja, melainkan bertambahnya formasi. Ridwan dan kawan-kawan yang memaksa ikut.
Saat sedang menjemput Dewi tadi, Dena tidak sengaja bertemu dengan Ridwan. Yang awalnya hanya sapa menyapa eh malah berujung nongkrong bersama.
Kedatangan mereka rupanya mencuri atensi pengunjung di sana. Bagaimana tidak, hanya Dena yang yang seragamnya berbeda. Memakai seragam pramuka sedangkan Dewi, Ridwan dan kawan-kawannya memakai almamaternya masing-masing.
Tiba-tiba Dena mengangkat tangannya ke atas. "Mas, pesanan saya mau diantar sama barista yang baru itu ya." pinta Dena sambil menunjukkan seorang pemuda yang berdiri di dekat mesin espresso tengah sibuk meracik kopi sehingga kedatangan mereka tidak disadari.
"Baik, Kak. Silahkan ditunggu pesanannya."
"Makasih, Mas."
"Sama-sama, Kak."
"Syutt, kamu kenal sama barista baru itu?" bisik Ridwan yang duduk di sampingnya.
"Ampun, sepupu gue keren banget." gumam Dewi sambil melihat barista itu. Disaat-saat sedang sibuk, dia terlihat sangat tampan. Apalagi wajahnya yang serius, malah membuatnya bertumpuk-tumpuk tampan.
"Lo bilang apa?" serbu Roni, teman Ridwan yang selalu menjadi babu.
"Ah, eh! E-enggak." balas Dewi tergagap.
"Eh guys! Gimana kalo kita foto-foto dulu. Mumpung lagi ganteng nih, apalagi ada bidadari di samping yang lebih cantik." seru Ridwan memberi usulan yang langsung mendapati sorakan dari teman-temannya.
"Wan, muka lo emang ganteng. Tapi, masih di standar woy." pekik Yoan meledek.
"Sial! Gue tuh emang ganteng dari lahir ya, kata emak gue. Ya gak, Na?"
Dena yang merasa namanya dipanggil langsung tersentak. Ia hanya membalasnya dengan anggukan sembari menyengir.
"Nah, tuh! Dena aja bilang gue ganteng."
"Halah! Lo gak liat ekspresi Dena sih. Keliatan banget kalo tertekan. Jangan suka maksa, Wan." kata Galang ikut menimbrung.
__ADS_1
"Pulang dari sini lo gue tendang, Lang. Jangan harap lo masuk circle gue lagi." ancam Ridwan langsung membuat Galang gelagapan.
"Eh, eh! G-gak kok, Wan. Gue becanda d-doang kok."
"Halah, gak nerima alasan apapun itu. Intinya, lo ga--"
"Permisi, pesanan datang." sela seorang waiters cafe berjenis kelamin laki-laki sambil meletakkan beberapa cangkir di atas meja mereka.
"Eh! Mas, Mas. Pesanan si cantik mana?" tanya Ridwan membuat waiters itu bingung.
"Si cantik?" tanyanya.
"Maksudnya cewek yang duduk di samping saya, Mas."
"Owh, itu. Masih diracik, Mas. Tadi saya bilang itu pesanan spesial dari kakak ini yang juga akan diantar langsung oleh barista baru."
Ridwan yang masih mencerna hanya bisa mengangguk ragu.
"Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu, kakak dan abang. Selamat menikmati layanan di cafe ini."
"Siap, Mas." jawab mereka serentak.
"Kenapa pengen banget kalo pesanannya diantar oleh barista itu, Na?" tanya Ridwan setelah menyeruput kopinya.
"Enggak papa, Bang. Pengen liat aja gimana layanan karyawan barunya." jawab Dena.
"Owh gitu. Kirain kenal. Kamu gak boleh kenal sama cowok lain selain aku, Na. Aku udah suka sama kamu pas pertama kali ketemu. Kamu mau gak jadi pacar aku, Na?"
Uhukkk
Atensi di meja nomor lima yang diduduki oleh Dena dan kawan-kawan langsung teralihkan saat mendengar suara batuk dari seseorang.
.
.
.
emmm, gemes sama yang batuk, pengen ditium😂😅ganggu suasana aja ya gak, kan Dena belum jawab. Harusnya setelah Dena jawab iya, baru deh si anu tuu boleh batuk🤣
__ADS_1