Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 76


__ADS_3

Setelah 5 hari dirawat di rumah sakit, Wira memaksa untuk pulang karena merasa sangat bosan dengan suasana rumah sakit. Siapa sih yang mau berada di ruangan yang berbau obat-obatan dalam jangka waktu yang lama. Pasti tidak mau kan? Setelah berulang kali membujuk dokter yang menanganinya, akhirnya Wira sudah diperbolehkan pulang asal tetap menjaga kesehatannya terutama di bagian bahunya yang mengalami keretakan sedikit. Dan Wira juga harus rajin check up ke rumah sakit.


Awalnya Dena tidka setuju kalau sang papa pulang sebelum benar-benar sembuh. Dirinya hanya takut kalau terjadi hal yang buruk kepada papanya. Namun, setelah meyakinkan sang putri, akhirnya Dena mengalah saja.


Hari ini adalah hari kedua kepulangan Wira dari rumah sakit. Pria itu juga sudah bisa berjalan normal, namun, hanya bahunya saja yang masih dalam tahap pemulihan.


Setelah pulang dari sekolah, seperti biasa Dena selalu menemani sang papa. Saat ia sekolah, yang menemani papanya adalah Jihan. Sampai saat ini, wanita itu juga belum menemukan jalan keluar dari masalahnya saat ini. Ia hanya bisa berdo'a kalau masalahnya cepat teratasi dan bayi yang ada di dalam kandungnya itu segera mendapatkan pertanggungjawaban dari ayahnya.


Saat tengah mengobrol di dalam kamar bersama papanya, tiba-tiba pintu diketuk oleh pelayan rumahnya.


"Ada tamu di depan, Non." ujar pelayan rumahnya.


"Siapa, Bik?" tanya Dena penasaran. Tumben dirinya kedatangan tamu di siang hari. Dan Dena merasa sangat jarang menerima tamu.


"Bibik gak tau, Non."


Dena menghela nafasnya panjang. "Ya udah, Dena turun sekarang."


"Baik, Non."


"Siapa?" tanya Wira yang ikut penasaran.


Dena mengangkat kedua bahunya ke atas. Jangankan sang papa, ia juga bingung.


"Dena ke depan dulu ya, Pa?"


"Iya, Sayang." balas Wira mengangguk.


Gadis itu pun segera beranjak dari tempatnya dan langsung turun ke lantai bawah. Begitu sampai di ruang tamu, Dena melihat sosok yang sangat ia kenali sedang duduk membelakanginya. Tanpa sadar gadis itu tersenyum dan semakin melangkah mendekat.


"Hei." sapa Dena langsung duduk di yang sama.


"Eh! Udah turun ternyata."


"Huumm... tumben, lo gak kerja, Rel?" ya, sosok yang sangat Dena kenali adalah Fairel.


"Kerja. Cuma, cafe tutup lebih awal." jelas Fairel. Dena pun hanya manggut-manggut saja. Namun, kini pandangannya teralih ke sebuah paper bag di samping Fairel.


Seakan tau kalau Dena melihatnya, Fairel segera mengambil paper bag itu lalu memberikannya kepada Dena. "Cemilan. Buat Om Wira juga." kata Fairel.


Dena menerimanya dengan ragu. Ia membuka kecil paper bag itu. "Wahhh! Martabak. Ini mah kesukaan papa. Lo tau dari mana?" tanya Dena berbinar.


"Oh ya?" balas Fairel terkejut. Dena pun menganggukkan kepalanya.


"Asal beli aja tadi. Lo gak suka?"


"Suka kok. Semua makanan juga gue suka." balas Dena lalu menatap pemuda itu sesaat.


"Tapi, badan lo gini-gini aja perasaan." ucap Fairel seakan meledek.

__ADS_1


"Sekali lagi lo ngomong gitu, lo yang gue makan, Rel."


"Iiiihhhhh, takuttttt!!!" Dena langsung tergelak pelan melihat ekspresi Fairel. Sangat jarang Fairel bertingkah lebay begitu.


"Mending kita langsung ke atas aja. Lo kasih ini langsung ke papa." suruh Dena yang masih tertawa sedikit.


Fairel mengangguk menurut. Lagi pula, ia datang ke sini juga untuk menjenguk keadaan Wira apakah sudah lumayan membaik atau belum.


Fairel berjalan tepat di belakang Dena. Ia hanya mengikuti langkah kaki gadis itu yang akan membawanya menemui Wira.


"Masuk, Rel." ujar Dena sembari membuka pintu kamar milik papanya.


"Assalamu'alaikum, Om." seru Fairel begitu masuk ke dalam.


Wira yang saat ini memainkan ponselnya langsung mendongak. Begitu melihat Fairel datang, ia segera menyimpan ponselnya di kasur sisinya.


"Eh, Fairel. Wa'alaikumsalam."


"Apa kabar, Om? Lukanya udah sembuh?" tanya Fairel berdiri di sisi kasur. Lalu, tidak lama ia duduk di kursi yang telah Dena sediakan untuknya.


"Alhamdulillah. Udah lumayan. Eh! Kamu gak kerja, Rel?" tanya Wira.


Fairel menggelengkan kepalanya. "Cafe tutup lebih awal, Om. Oh ya, Arel ada bawain makanan buat Om."


Dena langsung memberikan paper pag itu kepada Fairel karena sebelumnya ia lah yang memegang paper bag itu.


"Ini, Om. Semoga suka." ujar Fairel memberikan paper bag itu kepada Wira. Pria yang bersandar di sandaran kasur pun menerimanya lalu membukanya.


Pemudi itu hanya menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Sayang, buatin minum gih buat Arel." kata Wira kepada putrinya.


"Oke, Pa." Dena yang duduk di sisi kasur pun langsung beranjak. Fairel hanya memandang kepergian gadis itu.


Fairel langsung tersadar saat seperti ada yang memperhatikan. Ia segera mengalihkan pandangannya. "Silahkan dimakan, Om." ucap Fairel seakan kepergok.


"Kamu juga, Rel. Oh ya, ada yang pengen Om omongin sama kamu. Mumpung Dena lagi ke belakang."


Mendengar itu membuat Fairel langsung mendekatkan kursinya. Wira hanya meliriknya sekilas, kini sekarang ia sudah membuka isi paper bag itu dan mengambil satu potongan martabak dan memberikannya kepada fairel.


"Makasih, Om." Fairel menerimanya dengan sungkan.


"Begini, Rel. Mengingat usia kamu sudah cukup untuk belajar tentang bisnis. Jadi, Om mengajak kamu untuk bekerja sama. Kamu masih bisa memikirkannya dua kali. Jika kamu mau, Om bersedia mengajari dan membimbing kamu. Pertama kalinya Om akan memberikan kamu berkas-berkas lama yang sudah tidak terpakai. Kamu bisa mempelajarinya terlebih dahulu. Kalau respon kamu bagus, Om akan memberikan sedikit pekerjaan buat kamu. Jika mau tidak mau juga tidak masalah. Semuanya tergantung kamu, Om hanya menawarkan apa yang Om punya."


Fairel cukup terkejut dibuatnya. Dibawa ke sini saja ia sudah cukup senang, apalagi diberi tawaran yang begitu menggiurkan. Tapi, sekarang ia masih bingung. Mungkin Fairel bisa memikirkannya dua kali, seperti apa yang Wira katakan sebelumnya.


"Apa bisa Om kasih waktu untuk Arel memutuskannya?" tanya Fairel.


"Tidak masalah. Kalau kamu siap, Om juga siap untuk mengajari kamu. Jika kamu cukup baik dalam menjalani itu, Om menawarkan kamu untuk bekerja di kantor Om."

__ADS_1


Fairel menundukkan kepalanya. Jujur, ia masih belum percaya diri. Takut-takut kalau membuat Wira kecewa kepada dirinya. Tapi, bukankah kedatangan Fairel ke sini untuk merubah status kehidupannya? Ia ingin menaikkan derajatnya dan membuktikan kepada mendiang ibunya bahwa kini ia bisa sukses dengan kerja keras dan keringatnya. Mengingat itu membuat Fairel sadar. Ada sesuatu yang membuat hatinya bergejolak. Ya, Fairel ingat dengan ibunya yang ditinggalkan oleh ayahnya. Fairel ingat perjuangan ibunya dulu dalam mendidiknya.


Ketika satu-satunya semangat yang ia punya, malah meninggalkan. Membuat pribadi Fairel menjadi liar. Dulu Fairel adalah anak yang baik, tidak suka berbuat onar. Namun semenjak ia ditinggalkan oleh sang ibu, ia menjadi pribadi yang liar. Suka keluar malam dan balap-balapan. Tidak sering pemuda itu tawuran dengan anak usia sebayanya.


Ceklek


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Dena masuk sambil membawa nampan berisi minuman.


"Ngobrolin apa? Serius banget kayaknya?" ujar Dena menghancurkan suasana.


Fairel melirik Wira, begitu juga sebaliknya. Wira malah mengedipkan matanya sebelah, memberikan kode kepada Fairel agar tutup mulut. Fairel yang melihat itu pun menganggukkan kepalanya kecil.


"Oke, fine. Main rahasia-rahasiaan sekarang!" sindir Dena mengerucutkan bibirnya ke depan.


.


.


.


**Dena: Thor, tahun baru ke mana?


Author: Nggak ke mana-mana, Na. Lagi mikirin hidup yang gini aja.


Dena: Lah, gak asik nih author.


Author: Diem deh lu. Nih gua lagi pusing mikirin alur cerita kalian. Mau ya gue bikin sad ending?


Dena: //langsung kelabakan. Setdah thor thor, sensi amat. Jangan dibikin sad ending lah. Kasian nasib kita semua. Iya gak, Rel?


Dena: Rel, lo kok gak nyaut. Arell, yuhuu. Lo di mana?


Fairel: Dalem, Sayang**.


Author: Heh! Apaan sayang-sayangan.


Dena: Sayang sayang pala lu peyang. Kapan kita jadiannya, lu udah manggil gue sayang. Gue aduin ke papa ya! 😒


Fairel: Tahun depan gue halalin. Gue cari duit dulu buat maharnya.


Author: Halu!!! Lo mau ngelawan alur, Rel!!


Author: Relll, Fairel. Jailahh kabur tuh anak ke mana. Gue sumpahin ya tahun depan lu kagak jadi nikah.


Fairel: Sttttt... kita nikah lari aja, Na. Author nya sensi


Dena: Ayokkk!!!


😭😭😭😭wehhh saya gabut bangett. Tahun baru otaknya malah buntu😭😭

__ADS_1


Pusing mikirin alurnya mau gimana🤣🤣bentar lagi sekolah weh🌝🌝papayo Dena Fairel, kita bakal jarang ketemu yah🤣🤣


Woilah maapkeun kegabutanku 😭😭🙏🏼


__ADS_2