
Hari hari telah berlalu, tidak terasa lusa adalah jadwal kepulangan Dena ke kota Jakarta. Gadis itu sudah amat rindu dengan suasana rumah, apalagi rindu dengan sang Papa.
Hari-hari Dena lewati dengan penuh warna. Dengan kehadiran teman-teman barunya membuat Dena tidak kesepian. Pagi ini seperti biasa gadis itu membantu Kakeknya ke dapur. Sudah beberapa hari ini Dena turun langsung ke dapur, memasak tanpa bantuan sang Kakek. Meskipun rasa masakannya lumayan, tapi, hal itu itu membuat Dena menyerah. Kakek juga tidak mempermasalahkan akan hal itu. Baginya wajar saja kalau cucunya itu tidak pandai dalam hal memasak. Perlahan-lahan dengan belajar giat pasti nanti akan terlatih.
Dena mematikan kompor gas yang menyala. Gadis itu menuangkan masakannya ke dalam wadah bersih. Lalu meletakkannya mangkuk itu ke atas meja makan. Di atas meja makan sudah tertata beberapa lauk dan juga nasi.
Kakek datang dari arah kamar lalu langsung mengambil duduk di meja makan menunggu cucunya selesai di dapur.
"Dena, lusa kan udah mau pulang ya?" tanya Kakek begitu Dena mengambil duduk di hadapannya.
"Hmmm... iya, Kek." jawab gadis itu.
"Besok ikut Kakek ya? Kita nyari oleh-oleh buat kamu bawa ke sana."
Dena hanya menganggukkan patuh. Ia mengambilkan nasi ke dalam piring Kakeknya baru setelah itu dirinya. Rasanya tidak rela meninggalkan Kakeknya sendirian di rumah sederhana ini.
"Kakek." panggil gadis itu seraya mendongak.
"Iya, Sayang?"
"Kakek mau gak ikut Dena ke Jakarta?" tawar gadis itu. Kalimat yang ribuan kali di ucapkan olehnya maupun sang Papa. Ribuan kali menawarkan, saat itu juga ribuan kali ditolak.
"Kakek di sini aja, Sayang. Kakek udah betah di sini, berbaur dengan para warga."
"Tapi, Kek. Kakek sendirian di sini." gadis itu menatap penuh harap.
"Gak pa-pa, Sayang. Kakek di sini aja. Kamu jangan khawatir."
__ADS_1
"Tapi, Kek--"
"Udah, udah. Makan dulu sarapannya. Nanti abis itu kamu boleh main lagi sama temen-temen." potong Kakek menyuruh Dena agar segera menyantap sarapannya.
Dena hanya menghela nafasnya panjang. Sangat susah membujuk sang Kakek. Sudah berbagai cara dilakukan tapi hasilnya tetap sama. Gadis itu pasrah, menerima keputusan Kakek. Kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda akibar obrolannya tadi.
Menatap wajah Kakeknya. Kerutan di wajah tidak membuat senyum tulusnya surut. Begitu menenangkan jika melihatnya. Itulah yang Dena lakukan.
Berkomunikasi hanya melalui telfon biasa, maklum Kakeknya tidak bisa menggunakan android, hanya telfon rumah yang tersedia. Maka dari itu baik Wira maupun Dena sudah berulang kali membujuk Kakeknya agar ikut ke kota. Supaya bisa untuk dipantau, kalau rindu tinggal memeluk saja tanpa terhalang jarak.
Selesai sarapan, Dena membereskan meja makan. Mencuci piring kotor lalu setelahnya baru kembali ke kamar. Gadis itu memutuskan untuk membersihkan diri.
Keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkapnya. Menemukan sang Kakek membawa parang menuju belakang rumah.
"Kakek mau ke mana?" tanya Dena.
"Dena ajakin temen-temen gak pa-pa kan, Kek?" tiba-tiba ide itu terlintas di kepalanya.
"Iya, gak pa-pa."
"Bentar ya, Kek. Dena siap-siap dulu." gadis itu langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Menggantikan bajunya lagi. Lengan panjang dan juga topi agar terhindar dari teriknya matahari nanti kalau sudah menjelang siang.
"Kakek, Dena udah siap nih." teriak Dena sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Eh! Kakek udah di luar ya, hehe." Dena hanya menyengir menemukan sang Kakek yang sudah menunggu dirinya di teras.
"Kakek duluan."
__ADS_1
"Iya deh, Kek, iya. Naik sepeda ya, Kek?"
"Jalan kaki. Kamu mau naik sepeda?"
Dena menggelengkan kepalanya berulang kali. "Nggak, Kek. Dena cuman tanya aja. Yaudah, yuk, Kek!" ajaknya duluan, berlarian dengan riang di jalanan membuat Kakeknya hanya menggelengkan kepala.
Sesuai perkataannya, Dena mengajak teman-temannya. Gadis itu menyimpang ke rumah Risty, lalu setelah itu ke rumah Anna dan terakhir Dewi. Di perjalanan mereka tidak sengaja bertemu Fairel dkk yang asik nongkrong di warung.
Kakek tidak keberatan saat cucunya mengajak teman-temannya. Menjemput mereka satu per satu. Lagi pula kebun Kakek berada di paling ujung. Berdekatan dengan sawah.
"Asik! Rame..." ujar gadis itu semangat. Tertawa lepas sambil berlarian.
"Seneng amat, Neng?" goda Dewi.
Gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman khasnya. Senyuman itu yang membuat seorang pemuda gagal fokus. Senyum yang sudah 1 minggu lebih ini ia lihat. Gadis itu yang selalu merepotkannya. Seperti waktu lalu, Dena meminta Fairel untuk mengambilkannya ikan dengan memancing, menyuruhnya membantu Kakek yang saat itu berada di sawah, dan masih banyak lagi.
"Kek, besok Dena aja temen-temen gak pa-pa kan?" tanya Dena yang berada di hadapan Kakeknya, gadis itu berjalan mundur.
"Jalannya jangan gitu, Sayang!" tegur Kakek sedikit khawatir.
"Hehe." Dena menyengir lalu membetulkan arah jalannya.
"Boleh ya, Kek?" tanyanya sekali lagi.
"Iya, iya. Boleh kok." jawab Kakek membuat gadis itu memekik gembira.
Senyum yang menular ke semua orang. Itulah Dena, menularkan senyumnya kepada orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
"Diem, Na. Jalannya yang kalem." pemuda itu menarik tangannya agar Dena berjalan diam tanpa banyak tingkah.